Travelog

Bertandang ke Kampung Santri Ciharashas

33 Kilo meter dilalui dari Cimahi, Kamis, 11 Februari tepat pukul 10.15 saya tiba di Kantor Desa Ciharashas, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Cuaca panas siang itu, membuat perjalanan saya yang didampingi Pendamping Desa Kecamatan Cipeundeuy, Yudistira Gumantri cukup berkeringat. Namun demikian ada kebahagiaan dalam hati karena kepenasaran soal Kampung Santri Ciharashas akan terbayar di hari itu.

Mampir di Kantor Desa Ciharashas, kami berdua mendapat penjelasan panjang lebar soal Kampung Santri Ciharashas yang tidak lama lagi akan dijadikan kawasan wisata. Kepala Desa Ciharashas, Japar Sidik menuturkan, ia bermimpi bahwa kelak Pesantren Al Mutaqien selain menghasilkan santri yang bersumber daya agama baik, juga bisa berdaya secara ekonomi dengan beragam pelatihan yang diadakan.

Ia juga berharap Pesantren Al Mutaqien akan menjadi kawasan wisata religi yang dapat menarik minat pengunjung karena selain mendapatkan sentuhan rohani, mereka akan mendapat pelatihan SDM, baik itu bahasa maupun pelatihan lainnya.

Keliling Kampung Santri Ciharashas

Mengunjungi Kampung Santri Ciharashas yang ada di Kampung Tugu pada siang hari, kami berkesempatan melihat langsung aktifitas santri menjelang dzuhur. Yang tidak pernah kami bayangkan adalah pondok pesantren dengan 229 santri tersebut akan mendukung terciptanya sebuah kawasan desa wisata.

Setelah sholat Ashar berjamaah, pimpinan Pondok Pesantren Al Mutaqien, Iman Saepuloh  mengajak kami melihat salah satu titik destinasi wisata di Kampung Tugu. Ini artinya ada keseriusan pondok pesantren untuk mensinergikan antara wisata religi dan wisata alam. Sore itu kami menuju bentangan sawah yang berundak. Sebagian padinya ada yang sudah dipanen, sebagian lagi sedang masa tanam.

  • kampung ciharashas
  • kampung ciharashas
  • kampung ciharashas
  • kampung ciharashas

Sawah ini berada kurang lebih 600 meter dari pondok pesantren. Namun, ketika berkeliling pesawahan tersebut, bentangan jalan untuk trekking mengelilingi undakan jika diukur jaraknya bisa lebih dari 1 km. Sepanjang pematang terdapat beberapa titik yang disediakan untuk wisatawan berswafoto.

Tak kalah asyik untuk dipandang, di barat laut berdiri dengan gagah tembok Bendungan Cirata. Letaknya berada diantara dinding pegunungan yang cukup curam. Di sudut lain, warna biru memancar dari langit di balik Waduk Cirata. Segala yang ada ini, membuat saya dan rombongan berlama-lama dalam menikmati sore. Bahkan saat matahari hampir tergelincir di ufuk barat, kami masih betah di sana.

Persis di ujung pesawahan, jurang membelah sekaligus menjadi pembatas Kampung Tugu  dan Kampung Ciharashas. Jurang tersebut tampaknya cukup curam, kami estimasikan sekitar 100 meter dalamnya. Sebagian tebing berwujud bebatuan dengan warna hitam, yang jika kamu memanjatkan akan tampak seperti pemandangan dalam film Cliffhanger.

Di dasar jurang mengalir Sungai Cileuleuy, bila ditarik ke barat daya dari poisi kami berdiri, di bawahnya mengalir Curug Enjong. Sayangnya, sore itu bukan waktu yang tepat untuk meneruskan perjalanan ke Curug Enjong. Selain tidak ada jalan untuk menuruni tebing, untuk menuju ke sana juga harus memutar jauh dari rute kami. Jadi, kami urungkan niat ke sana sore itu.

Jelang magrib, kami beristirahat sembari berdiskusi banyak soal rencana pembangunan beberapa titik di Kampung Santri Ciharashas yang akan ditujukan sebagai tempat wisata. 

Pikiran saya melayang jauh, mengkhayalkan nikmatnya makan siang di saung yang berada di sawah sawah, dengan menyantap tawes goreng crispy yang menjadi makanan unggulan, yang sempat kami santap siang hari sebelumnya. Lamunan saya terpecah saat adzan magrib berkumandang, memanggil para santri di pesantren tempat kami menginap.

Remaja berusia belasan tahun bergegas mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat magrib berjamaah. Setelahnya, sambil bersantap malam, kami mendengar lantunan musik hadrah, mengiringi lantunan puji-pujian yang menggema di sudut timur pesantren. Acara berlangsung sampai menjelang isya.

Sementara setelah isya, saya diajak pimpinan pesantren menuju rumah kepala desa. Warga sudah berkumpul di sana sebab acara rutin tawasulan senantiasa digelar pada Kamis malam. Acara tersebut semakin menggenapkan istilah Kampung Santri karena tidak hanya warga pesantren, namun kepala desa, dan warga di Kampung Tugu, serta aktivitas sehari-harinya memang religius namun sangat terbuka dengan perkembangan zaman dan teknologi. 

  • kampung ciharashas
  • kampung ciharashas
  • kampung ciharashas

Selepas tawasulan, warga berserta kepala desa kembali berdiskusi tentang pembangunan kawasan desa wisata. Perbincangan sangat hangat karena saya dan warga saling berbagi pendapat bagaimana kampung santri bisa mewujudkan keinginan tersebut, sementara potensi alam dan warga desanya sangat mumpuni.

Sehabis diskusi yang hangat itu, kami kembali ke pesantren. Di sana masih terlihat beragam aktivitas menarik dilakukan para santri, mulai dari mengulas kembali apa yang mereka dapatkan selama belajar, sampai kegiatan ngaliwet untuk merekatkan persaudaraan para santri.

Sambil menyaksikan kegiatan mereka, pikiran saya sudah melayang, membayangkan bagaimana perjalanan esok hari melihat potensi wisata lain di Desa Ciharashas, yaitu Curug Enjong. Ini juga yang membuat saya ingin beristirahat dengan segera menyelesaikan tulisan ini.

'Senior broadcaster' di Bandung dan konsultan komunikasi.

Morgen Indriyo Margono

'Senior broadcaster' di Bandung dan konsultan komunikasi.
Artikel Terkait
Travelog

Berjumpa dengan Hiu Paus di Probolinggo

Travelog

Camping Semalam di Gili Labak

Sampah KitaTravelog

Sampah di Sudut Kota Padang

Travelog

Menyusuri Pasar Ikan hingga Warung Makan di Jembatan Puri Sorong

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *