Travelog

Berkuda di Ngulahan Park

Ngulahan Park berada di Ngulahan, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah. Saat itu, aku bersama keluarga menaiki motor menuju ke tempat yang baru dibuka bulan Maret – April  2022 lalu ini. Kami melewati jalan yang tidak begitu berkelok, suasana tampak astri, hijau. Membuat mata terbelalak keluar menikmatinya.

Ku amati banyak sekali rombongan keluarga yang turut serta dalam mengunjungi tempat ini, mulai dari naik motor, rombongan bermobil, naik kereta-keretaan, dan Tossa. Terlihat jelas wajah pengunjung yang antusias karena rasa penasarannya. Ngulahan Park buka pada pukul 08.00-17.00, biaya parkirnya Rp5.000 untuk sepeda motor.

Kartu parkir Ngulahan Park/Chusnul Chotimah

“Baru buka Mbak, sebelum puasa. Tapi selalu ramai tanpa sepi pengunjung,” kata seorang ibu penjual sosis bakar yang merupakan penduduk asli sana. Maklum, dengan suasana syahdunya; hamparan sawah yang menghijau, serta berada di bawah bukit menambah saya semakin nyaman di sini. Sebuah potret kehidupan, bahwa manusia juga ingin meluapkan rasa jenuh setelah beraktivitas atau sekadar berjalan jauh sejenak dari rumitnya pikiran yang tak bertepi.

Gapura Desa Ngulahan Park/Chusnul Chotimah

Setelah memasuki gapura “Selamat Datang di Desa Ngulahan” pengunjung seorang bapak parkir menyambutku. Ia membantu memarkirkan kendaraan. Kemudian, sebelum berkeliling, pengunjung bebas memilih beristirahat sejenak di gazebo atau kursi batu yang tersusun rapi di lapangan. Sambil beristirahat, pengunjung bisa sambil menikmati hilir mudik hewan yang di sana, ada burung unta atau rombongan burung merak dengan bulunya yang sangat menarik. Di tengah lapangan juga terlihat kolam ikan buatan dengan pancuran kecil. 

Terbilang masih muda dibanding wisata lainnya, tempat didirikan oleh desa setempat dan dikelola oleh desa. Ku amati daya tariknya terletak pada aktivitas berkuda. Pengunjung rela mengantri untuk menjajalnya.

Pengunjung berpose sambil naik kuda/Chusnul Chotimah

“Lebih dari 100, Mbak, yang rela antri untuk menaiki kuda dalam sehari,” kata penjaga tiket kuda. Kuda berkeliling mengelilingi kawasan wisata dengan sangat santai. Pengunjung tak perlu takut, karena disediakan pendamping. Sedang pengunjung yang menaiki kuda bisa menikmati suguhan wisata yang ada.

Rasa penasaranku menghampiri. Lalu aku keluarkan kocek Rp15.000 untuk mencoba aktivitas menunggang kuda, meski antre tapi tak masalah. Menaiki kuda terasa seperti sedang menjalani setiap drama kehidupan. Meskipun jalan yang begitu mulus, tetap saja ada rasa takut tersendiri. Takut nanti akan terjatuh, takut kalau di tengah jalan ada halangan dan rintangan. Namun, semua hanya ketakutan belaka yang harus kita yakini. Bahwa sesuatu yang ditakuti, kalau yakin dan percaya pasti semua akan berhasil. Yang terpenting saat kuda melaju, kita tetap berpegang tangan yang erat.

Burung merak yang bisa berfoto dengan pengunjung/Chusnul Chotimah

Bukan itu saja, di Ngulahan Park juga ada kebun binatang mini dengan berbagai jenis binatang, seperti monyet, burung kakak tua, dan lainnya. Burung kakak tua juga berkicau meramaikan kebun binatang. Sedangkan monyet seakan sedang beratraksi ketika pengunjung melihat secara langsung. Untuk burung merak dan burung unta tidak dikandang, jadi pengunjung bisa berinteraksi secara langsung.

Kolam renang Ngulahan Park/Chusnul Chotimah

Setelah itu, sorot mataku tertuju pada keluarga yang terlihat bahagia. Mereka membawa tikar kemudian menggelarnya sebagai alas. Keluarga tersebut bercengkrama serta menyantap bekal bersama. Bagi yang tidak membawa bekal dari rumah, para penjual sudah turut menjajakan dagangannya di sepanjang jalan. Mulai dari rujak, aneka sosis, es dan lain sebagainya. Jika merasa belum puas setelah keliling berkuda dan kebun binatang mini, pengunjung juga berenang di kolam yang tersedia. Di sini juga tersedia pusat oleh-oleh.  Harganya terjangkau. Pengunjung bisa membelinya di depan gapura masuk.

Waktu seakan bergerak cepat, langit begitu gagahnya serta mentari yang begitu terangnya. Lapangan yang dibuat untuk berteduh pengunjung, berubah menjadi panas. Pengunjung harus mencari tempat untuk berteduh. “Tempat ini cocok untuk anak-anak, mereka bisa bermain serta mengenal beragam jenis hewan. Namun, karena jumlah kunjungan meningkat beberapa waktu terakhir, pengunjung lain bisa mencari mencari waktu yang tepat untuk berkunjung supaya lebih nyaman,” kata seorang pengunjung dengan dua orang anak. 

Akhirnya setelah berkeliling, kami memutuskan untuk pulang dan melanjutkan perjalanan kembali.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Chusnul Chotimah tinggal di Lasem-Rembang, menyukai hobi menulis, jalan-jalan serta berbisnis. Mengajar adalah pekerjaan saya. Tetap rendah hati dan jangan lupa bersyukur. Cukup sekian semoga senang dengan tulisan saya.

Chusnul Chotimah tinggal di Lasem-Rembang, menyukai hobi menulis, jalan-jalan serta berbisnis. Mengajar adalah pekerjaan saya. Tetap rendah hati dan jangan lupa bersyukur. Cukup sekian semoga senang dengan tulisan saya.
    Artikel Terkait
    Arah SinggahTravelog

    Jalan Berliku Bli Komang Hadapi Perubahan (1)

    Arah SinggahTravelog

    Merdeka Dimulai dari Sepetak Halaman

    Arah SinggahTravelog

    Gelora Semangat Konservasi Karang Pemuda Penida

    Arah SinggahTravelog

    Wahyu dalam Pengolahan Sampah Lembongan

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Menyelisik Sejarah Jenang Kudus di Museum Jenang