Travelog

Berburu Ikan Hias Pasar Muara Bandung

Jika di Jakarta, aku mengenal Pasar Ikan Muara Angke untuk membeli ikan yang akan dikonsumsi, sedang di Kota Bandung aku mendapati Pasar Ikan Hias Muara. Kawasan ini adalah tempatnya para penikmat ikan hias karena menyediakan beragam ikan hias yang sudah ada sejak tahun 1980-an. Sementara pengambilan nama Muara, sesungguhnya diambil dari sebuah Komplek Perumahan Muara terletak di Jalan Peta, Kota Bandung.

Keindahan ikan-ikan itu terpampang di kolam, aquarium dan juga plastik-plastik yang berisi air dan di dalamnya. Ada pula yang ikan tergantung pada gerobak, berjejer di sepanjang jalan dan trotoar. Mengunjungi tempat ini sebaiknya mulai pukul 09.00 WIB karena para penjual ikan hias sudah siap menjajakan jualannya hingga sore hari.

Salah satu lapak yang menjual ikan hias
Salah satu lapak yang menjual ikan hias/Deffy Ruspiyandy

Aku merasa senang jalan-jalan ke tempat ini, selain tidak dipungut biaya, juga rasanya mengasyikkan melihat ikan-ikan hias yang ada. Lalu lalang orang yang melihat ikan-ikan itu menjadi sebuah potret yang kentara. Hal ini menjadikan Pasar Ikan Muara sebagai primadona, khususnya untuk mereka yang punya hobi memelihara ikan hias.

Jalan Peta sendiri tidak hanya menempatkan pasar ini sebagai pasar khas dan unik tetapi berjarak kurang lebih 1,5 km ke arah barat terdapat pula Pasar Burung Sukahaji. 

Aku mendengar kawasan ini dari teman-teman dan saudaraku serta kukenal juga saat berselancar di mesin pencari Google. Sebenarnya aku sering melewati dan melihat kerumunan orang yang asyik melihat jenis-jenis ikan yang akan dibelinya untuk dipelihara di rumah. Sekali lagi aku memang tidak sengaja untuk datang ke tempat itu karena tak ada hubungan dengan hobiku sendiri.

Ikan hias yang disimpan di kolam dari terpal
Ikan hias yang disimpan di kolam dari terpal/Deffy Ruspiyandy

Kali ini lain ceritanya. Aku memang sengaja mendatangi kawasan itu tetapi bukan untuk membeli ikan hias melainkan sekedar jalan-jalan saja menikmati hari libur. Tak mengherankan walaupun sedang diberlakukan PPKM Level 4 di kotaku, namun orang-orang yang hobi terhadap ikan hias tampak antusias memadati pasar khas yang ada di Kota Kembang ini. Kulihat tidak saja kaum pria, tetapi kaum wanita pun tampak lalu-lalang dan membeli ikan hias yang disukainya. Bisa mungkin ia sendiri penggemar ikan tersebut, mungkin bisa juga untuk anaknya atau memang ada suami isteri yang sama-sama penyuka ikan hias juga. 

Menariknya, di sini tersedia ikan-ikan hias yang sedang tren saat ini seperti ikan cupang, ikan koi, ikan koki, ikan arwana, ikan louhan, dan beberapa jenis ikan hias lainnya. Pembelinya bukan saja datang dari seputaran Kota Bandung tetapi mereka datang dari luar kota juga seperti Jakarta, Bogor, Depok atau Sukabumi bahkan dari luar Jawa barat pun ada yang sengaja datang mencari ikan sekaligus jalan-jalan di Kota Bandung. 

Harga-harga ikan yang ditawarkan di sini termasuk murah, dari harga Rp5000,- sampai Rp30.000,- untuk ikan-ikan hias biasa. Namun ikan-ikan hias yang ekslusif tentunya memiliki nilai harga yang terbilang jauh lebih mahal. Tak sekedar menyediakan ikan hias semata, tersedia pula pakan ikan, aquarium kaca, batu-batu untuk di aquarium, pohon penghias tempat menyimpan dan peralatan pendukung untuk mereka yang menggemari ikan-ikan hias itu. Aku yakin pasar ini mampu memenuhi kebutuhan mereka dan jika sudah datang ke sini maka mereka akan asyik melihat ikan-ikan hias di sepanjang jalan kurang lebih 300 meter.

Lapak penjualan ikas hias di trotoar
Lapak penjualan ikas hias di trotoar/Deffy Ruspiyandy

Letak Pasar Ikan Muara termasuk wilayah yang strategis. Tak jauh dari sana, siapapun bisa mendapati Museum Sri Baduga dan juga Taman Tegallega. Bahkan untuk menuju Terminal Leuwi Panjang pun cukup mengeluarkan uang Rp2.000,- dengan angkutan kota. Kawasan yang berada di Jalan Peta ini menjadi rangkaian sebuah jalan panjang dan lurus dengan mengambil nama yang terkait organisasi atau lembaga yang terkait perjuangan kemerdekaan di negeri ini. Dimulai Jalan Peta sendiri, kemudian ada Jalan BKR, Jalan Pelajar Pejuang dan berakhir di Jalan Laswi.

Ketenaran Pasar Ikan Hias Muara ini justru mampu mengalahkan nama Komplek Perumahan Muara itu sendiri. Jika ingin mengenal komplek tersebut maka cukup menanyakan pasar ikan hias ini karena dengan sendiri orang dari manapun akan diberi patokan pasar ikan tersebut. Bahkan selain kendaraan pribadi, banyak angkutan kota yang lewat ke kawasan ini. Aku pun bersyukur karena dengan menggunakan angkutan kota yang ongkosnya hanya Rp4.000,- saja. Kalau haus dan ingin membeli minuman, tinggal mencari Jalan Inhoftank. Ada Es Cendol Elizabeth di sana. Wah jadinya terasa komplit jalan-jalan kali ini.

Mengunjungi Pasar Ikan Muara Bandung hatiku sedikit terhibur. Terasa menyenangkan dan menyejukkan hati ketika melihat ikan-ikan hias itu hidup di air,  pemandangan yang tak kunikmati sebelumnya. Memang aku bisa melihat ikan-ikan hias di aquarium milik teman atau tetanggaku. Namun cerita menjadi lain ketika aku datang langsung ke tempat penjualan ikan hiasnya. Selain banyak ikan hias yang bisa kulihat juga menyadarkanku jika di Kota Bandung ternyata banyak tempat yang sungguh rugi jika dilewatkan begitu saja. Setelah puas, aku pun pulang ke rumah dengan menggunakan angkutan kota berwarna kuning.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Suka jalan-jalan dan kumpul dengan teman-teman. Penulis artikel yang juga suka nulis ide cerita di sebuah televisi swasta.

Suka jalan-jalan dan kumpul dengan teman-teman. Penulis artikel yang juga suka nulis ide cerita di sebuah televisi swasta.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Sepenggal Kisah di Balik Pembangunan Sirkuit Mandalika

    Travelog

    Singgah ke Masjid Tiban

    Travelog

    Jejak Tsunami Aceh di Monumen Kapal PLTD Apung

    Travelog

    Mengenal Lebih Dekat Kehidupan di Tepian Waduk Jatigede

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Worth reading...
    Situs Duplang, Peninggalan Nenek Moyang Zaman Megalitikum