Interval

Bagaimana “Jantung Pariwisata” Indonesia Menghadapi COVID-19?

Sudah sejak lama, jauh sebelum COVID-19 masuk Indonesia, Bali disebut-sebut sebagai jantung pariwisata Indonesia. Berkat keindahan alam dan modal budaya yang dimiliki, Bali mampu menggaet jutaan turis dari berbagai belahan dunia setiap tahunnya.

Jumlah tersebut terus mengalami kenaikan. Menurut situs NusaBali.com, pada bulan Juli [2019] terhitung kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) ke Provinsi Bali sebesar 604.480 kunjungan. Tepat pada bulan Agustus 2019 jumlah wisman mengalami peningkatan sebesar 7,8 persen dari bulan sebelumnya (Hasan, 2019). Dengan jumlah kunjungan tersebut Bali mampu mencetak rupiah sebesar 225 triliun dari sektor pariwisata, menyumbangkan devisa tertinggi kedua di bawah sumber daya alam (Bagus, 2019).

Namun, meruyaknya pandemi global COVID-19 seakan mengoyak jantung pariwisata Indonesia itu. Tingkat kunjungan turis luar negeri ke Bali anjlok sampai 95%. Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, I Putu Astawa, menyebutkan bahwa kunjungan wisatawan tercatat hanya berkisar 500 orang per hari. Padahal, biasanya jumlah kunjungan wisatawan mampu menembus angka 10,5 ribu orang per hari di waktu normal, seperti pada periode tahun lalu (CNNIndonesia, 2020).

Bali pun sepi wisman. Sebuah berita Liputan6.com mengunggah sebuah foto Bandara I Gusti Ngurah Rai yang nyaris seperti kuburan, tak berpenghuni (Divianta, 2020). Penjarakan sosial (social distancing) dan imbauan untuk di rumah saja membuat Bali semakin lengang. Sektor pariwisata Provinsi Bali menjadi lesu. Sejumlah stimulus memang telah sigap disiapkan pemerintah untuk membangkitkan sektor pariwisata. Nyatanya, upaya tersebut tidak mampu untuk membendung dampak negatif dari pandemi COVID-19 (Mutiah, 2020).

Poster tentang virus corona COVID-19 di lorong Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah, Denpasar, Bali, 18 Maret 2020 via TEMPO/Johannes P. Christo

Direktur World Travel and Tourism Council (WTTC), Gloria Guevara, mengatakan wabah ini telah menghadirkan ancaman cukup serius terhadap industri pariwisata di Indonesia. Diperkirakan sekitar 50 juta orang karyawan yang bekerja di industri pariwisata akan meninggalkan pekerjaan mereka. Namun, ia mengatakan bahwa pariwisata punya kekuatan untuk mengatasi tantangan ini (BBC.com, 2020).

Meskipun demikian, tidak ada alasan lagi bagi pemerintah Indonesia untuk bertindak terbata-bata dalam merumuskan suatu kebijakan. Otoritas harus bekerja dengan sigap untuk memberikan penanganan aktual dalam menekan dampak negatif COVID-19 terhadap sektor pariwisata. Ironisnya, banyak berita di portal daring saya temui yang mencatat kelambanan pemerintah dan para aktor lainnya dalam merespons imbas negatif COVID-19. Bahkan sebagian dari mereka cenderung mengentengkan situasi pandemi ini.

Bali justru tampak berada pada dua langkah lebih di depan dalam merespons dan menangani COVID-19 ketimbang pusat. Bukti nyatanya, Bali sampai saat ini masih belum menerapkan sistem PHK bagi para pekerja di sektor pariwisata. Para pengusaha sektor pariwisata lebih memilih untuk memberikan setengah gaji kepada karyawannya daripada harus melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal untuk mencapai titik seimbang pendapatan dan pengeluaran. Bagi mereka PHK massal justru akan melumpuhkan industri pariwisata itu sendiri. Sebagai dukungan, Pemerintah Provinsi Bali mengimbau secara tegas para pengusaha hotel dan sektor pariwisata untuk tidak melakukan PHK meskipun terjadi penurunan kunjungan wisatawan (BBC.com, 2020).

Di samping itu, upaya Gubernur Provinsi Bali, I Wayan Koster, dalam menekan angka kasus COVID-19 dinilai lebih efektif ketimbang penerapan sistem Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Salah satu cara yang dilakukan pemerintah Bali adalah melakukan tes sampel secara cepat dan sigap.

Sekurang-kurangnya ada tiga indikator keberhasilan itu yakni (1) rata-rata kasus positif COVID-19 di Bali per 4 Mei 2020 hanya tercatat tujuh orang per hari, jauh lebih rendah daripada DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Banten; (2) tingkat kesembuhan pasien COVID-19 mencapai sekitar 58,67%, jauh di atas rata-rata nasional yang hanya 16,86% dan global di angka 32,10%; (3) jumlah pasien yang meninggal di Bali hanya 1,48% persen, jauh di bawah rata-rata data nasional yang berada di angka 7,46% persen dan global 7,04% (Pratiwi, 2020).

Kecilnya angka-angka tersebut tentu berperan besar dalam meniupkan angin segar bagi pariwisata Bali.


Sumber

BBC.com. (2020, Maret 14). Virus corona: Sekitar 50 Juta Orang akan Kehilangan Pekerjaan di Sektor Pariwisata Akibat Pandemi. Diakses Mei 10, 2020.

CNNIndonesia.com. (2020, April 4). Wabah Corona, Kunjungan Turis Asing ke Bali Anjlok 95 Persen. Diakses Mei 10, 2020.

Divianta, D. (2020, Februari 14). Tanggapan Gubernur Koster Soal Pemberitaan Bali Jadi Kota Hantu Akibat Virus Corona. Diakses Mei 10, 2020.

Hasan. (2019, Oktober 04). Agustus 2019, Kunjungan Wisman ke Bali Naik. Diakses Mei 10, 2020.

KabarNusa.com. (2019, Desember 01). Gubernur Koster: Capai Rp. 255 Triliun, Bali Penyumbang Devisa Kedua Tertinggi. Diakses Mei 10, 2020.

Mutiah, D. (2020, Maret 23). Sektor Pariwisata Nyaris Tumbang Akibat Corona Covid-19, Menparekraf Masih Siapkan Solusi. Diakses Mei 10, 2020.

Pratiwi, A. N. (2020, Mei 10). Cara Gubernur Bali Tekan Kasus Covid-19 Lebih Efektif dari PSBB? Kini Jadi Sorotan Media Asing. Diakses Mei 10, 2020.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang.

Tita Aulia

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang.
Artikel Terkait
Interval

Turisme, Cahaya, dan Pencarian yang (Tak) Sederhana

IntervalPilihan Editor

Suka Duka di Balik Panen Raya

IntervalPilihan Editor

NuArt Talks dan Renungan Menjelang Hari Anak Nasional

Interval

Lelana, dll.: Melacak Akar Sosiohistoris “Perjalanan” Hari Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *