Pilihan EditorTravelog

Aku Mengumpat dan Bercerita di Jalan MH. Thamrin

“Hahaha.. sial kelewatan!”

Aku mengumpat sekaligus menertawakan kebodohanku, ketika tersadar telah melewati halte Transjakarta Bank Indonesia. Aku pun turun dan keluar dari halte Transjakarta Tosari ICBC, terpaut 1 kilometer lebih dari tujuan awalku dan memilih untuk berjalan saja.

Dari depan kantor Kedubes Jerman aku mulai berjalan ke arah Utara. Di sebelah kiri, menjulang Menara BCA setinggi 230 meter dan memiliki 56 lantai. Bangunan ini mempunyai struktur material komposit berupa bahan baja dan beton, sehingga mempunyai kemampuan adaptif dalam menerima getaran. Di tahun 2016 pernah ada kepanikan yang dipicu oleh teriakan warga pada saat Car Free Day yang mengatakan Menara BCA bergoyang dan akan roboh. Padahal gedung bergoyang itu daya lentur dari material komposit untuk meredam getaran.

Cerita dari Jalan MH. Thamrin hingga Bundaran HI

Jalan MH. Thamrin yang kulalui ini dibangun tahun 1949 atas prakarsa pemerintahan sipil Hindia Belanda/NICA. Bertujuan untuk menyambungkan kawasan pemerintahan dan bisnis di Koningsplein (sekarang kawasan Medan Merdeka), Noordwijk (Jl. Juanda) dan Risjwijk (Jl. Veteran) dengan area pengembangan kota baru di Selatan, Kebayoran. Melintang dari Utara ke Selatan, dari Bundaran Patung Kuda di Jl. Merdeka Barat sampai di Bundaran Patung Pemuda Membangun atau bundaran air mancur Senayan.

Aku pun melewati Hotel Mandarin Oriental,  menyeberangi Jl. Imam Bonjol dan berhenti di depan Pos Polisi. Aku duduk di salah satu bangku taman, menikmati riuh lalu lalang kendaraan di Bundaran Air Mancur Hotel Indonesia (Bundaran HI) yang dikelilingi gedung gedung menjulang angkuh ke angkasa.

Bundaran HI

Bundaran HI/indocropcircles.wordpress.com

Di tengah Bundaran HI yang oleh penggemar teori konspirasi disebut sebagai simbol Illuminati karena menggambarkan Eye of Horus ini terdapat monumen dengan patung di atasnya. Bundaran dan monumen ini dibangun oleh Soekarno dalam rangka penyelenggaraan Asian Games 1962. Sketsa 2 patung muda mudi dengan tangan kanan melambai dan tangan kiri menggenggam seikat bunga dibuat oleh Henk Ngantung yang pada saat itu menjabat sebagai wakil gubernur DKI Jakarta dan dikerjakan oleh pematung andalan Soekarno, Edhi Sunarso. Monumen dan patung ini menghadap ke Utara menggambarkan  penyambutan tamu tamu Asian Games yang datang dari bandara Kemayoran.

Penyelenggaraan Asian Games 1962 di Jakarta sebenarnya banyak mendapatkan kritikan dari masyarakat, bahkan Hatta pun ikut protes. Beliau mengatakan biaya penyelenggaraannya tidak sesuai dengan keadaan ekonomi Indonesia pada saat itu. Tetapi Soekarno dengan ambisinya mengangkat nama, harkat, dan martabat bangsa Indonesia di mata internasional dan menginginkan Indonesia sebagai mercusuar dunia menganggap Asian Games ini sebagai momen untuk menunjukkan itu semua.

“Ya, memberantas kelaparan memang penting, tetapi memberi jiwa mereka yang telah tertindas dengan sesuatu yang dapat membangkitkan kebanggaan—ini juga penting,” Kalimat tersebut menunjukkan keegoisan Soekarno akan pentingnya kebanggaan nasional pada saat itu.

Beruntung Indonesia pada tahun 1958 mendapatkan harta pampasan perang (uang ganti rugi karena penjajahan) dari Jepang senilai USD 223,08 juta dalam bentuk barang modal dan jasa, yang kemudian digunakan oleh Soekarno untuk membiayai proyek mercusuarnya.

Bundaran HI

Bundaran HI, 20 Agustus 1971. Di kiri foto adalah Hotel Asoka.
Foto: Joost Evers/ANEFO/Arsip Nasional

Hotel Indonesia dan sejarahnya

Selain Bundaran Monumen Selamat Datang, Soekarno membangun Hotel Indonesia sebagai akomodasi untuk peserta Asian Games 1962 dari uang pampasan perang Jepang. Dibangun tahun 1959 dan selesai 3 minggu sebelum Asian Games 1962 dibuka.

Hotel setinggi 52 meter ini terdiri dari 2 bangunan: gedung Ramayana dan gedung Ganesha. Mempunyai 436 kamar dengan fasilitas: AC, kamar mandi lengkap dengan air dingin dan panas, dan telepon di setiap kamar yang dihubungkan dengan lima saluran. Dan menjadikan Hotel Indonesia sebagai hotel terbesar, termodern, termewah dan termahal pada saat itu. Sampai tahun 1969 dari awal pembukaannya, hotel ini menggunakan dollar sebagai alat pembayarannya.

Menelisik cerita Wisma Nusantara

Tepat di seberang Hotel Indonesia, masih menggunakan uang pampasan perang Jepang, Soekarno membangun gedung pencakar langit pertama di Indonesia, Wisma Nusantara, pada tahun 1964 dengan biaya USD 5,7 juta. Namun karena masalah dana dan pergolakan politik tahun 1965, pembangunan gedung terhenti. Baru di tahun 1972 pembangunan diteruskan kembali dan di tahun yang sama gedung 30 lantai setinggi 117 meter ini akhirnya selesai dan diresmikan oleh Soeharto bersamaan dengan dibukanya President Hotel (sekarang Hotel Pullman).

Dulu di depan Wisma Nusantara ada JPO (jembatan penyeberangan orang) menuju Plaza Indonesia yang dibongkar tahun 2018 oleh gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dan diganti dengan Pelican Crossing, zebra cross yang di-upgrade. Beliau juga menata ulang taman-taman yang ada di sana dan menambahkan instalasi seni berupa patung dari bambu yang menghebohkan karena mahalnya biaya pembuatannya dan kemudian diganti dengan instalasi seni lainnya berupa tumpukan tinggi batu karang yang tidak kalah menghebohkan juga.

Dulunya ada gedung bernama Wisma Warta

Sebelum ada Plaza Indonesia, dulu ada gedung bernama Wisma Warta di lokasi ini. Gedung berlantai 6 itu dibangun sebagai tempat kerja para wartawan lokal dan luar negeri yang meliput Asian Games Jakarta 1962. Wisma Warta dilengkapi dengan hubungan teleks dan telepon langsung ke Stadion Gelora Bung Karno, ruang peliputan dan konferensi pers. Tahun 1969 gedung ini direnovasi menjadi 8 lantai dan menjadi Hotel Asoka.

Pada tahun 1984 Hotel Asoka tutup dan dirubuhkan tahun 1985 karena lahan dan bangunannya dibeli investor dari Grup Bimantara yang akan membangun pusat perbelanjaan dengan harga USD 1000 per meter persegi. Dan pada 23 Juli 1991 pada bekas lokasi Wisma Warta diresmikan gedung perbelanjaan dan hotel yang dinamakan Plaza Indonesia oleh presiden Soeharto.

Bundaran HI

Bundaran HI/Daan

Biaya pembangunan, hasil rampasan?

Dari depan Hotel Pullman aku berjalan kembali menuju gedung Sarinah yang juga dibangun dari uang pampasan perang Jepang.

Di balik jutaan dolar dari pampasan perang itu ada cerita menarik tentang 2 gadis Jepang yang pernah dekat dengan Soekarno. Salah satu syarat dikucurkan uang pampasan perang Jepang adalah menggunakan perusahaan perusahaan Jepang sebagai pelaksana proyek pembangunan.

Mengetahui Soekarno penyuka wanita wanita cantik. Pengusaha pengusaha Jepang menggunakan wanita Jepang untuk memuluskan lobi mereka untuk mendapatkan proyek. Yang pertama adalah Sakiko Kanase seorang model dan hostess, singkat cerita Sakiko Kanase diboyong ke Jakarta, diberi rumah di Menteng dan berganti nama menjadi Saliku Maesaroh. Ada juga cerita Sakiko dipanggil Nyonya Basuki dan menjadi pengajar anak anak ekspatriat Jepang.

Sayang hidup Nyonya Basuki berakhir tragis, dia bunuh diri dengan cara mengiris nadinya karena mengetahui Soekarno menikahi wanita Jepang lainnya.

Naoko Nemoto nama wanita itu, yang setelah masuk Islam dan dinikahi Soekarno berganti nama menjadi Ratna Sari Dewi. Para pengusaha Jepang diceritakan harus mendekati Dewi Soekarno bila ingin mendapatkan proyek di Indonesia. Cerita cerita ini dapat ditemukan di buku Sukarno, Ratna Sari Dewi, dan Pampasan Perang: Hubungan Indonesia-Jepang, 1951-1966 hasil tulisan Masashi Nishihara seorang profesor di Akademi Pertahanan Nasional Jepang.

Hotel Pullman ke Gedung Sarinah

10 menit waktu yang kuhabiskan berjalan dari Hotel Pullman sampai ke Gedung Sarinah.

Mal pertama di Indonesia yang memiliki tangga jalan (merk Hitachi tahun pembuatan 1964) pertama juga di Indonesia ini sedang berbenah. Pemerintah berniat akan mengembalikannya ke fungsi awal sebagai ritel yang mengedepankan pengusaha lokal dan UMKM. Karena hal itu, Mc Donald terpaksa menutup gerai pertamanya di Indonesia yang telah ada sejak 1991 di Sarinah. Di hari penutupannya ratusan orang berkumpul merayakan “perpisahan” dengan kenangan kenangan yang mereka pernah buat disana dan menghasilkan denda 10 juta rupiah buat manajemen Mc Donald karena melanggar Pembatasan Sosial Berskala Besar dari Satpol PP Pemda DKI Jakarta.

Gedung Sarinah

Gedung Sarinah/Daan

Nama gedung setinggi 74 meter dengan 55 lantai ini diambil dari nama pengasuh Soekarno sewaktu kecil, Sarinah, dibangun tahun 1962 dan diresmikan tahun 1966. Ide awalnya ketika terjadi pembicaraan di dalam mobil yang melaju di Jalan MH. Thamrin antara Soekarno dan gubernur DKI saat itu, Soemarno.

Soekarno bertanya mau dibangun apa di tanah kosong sepanjang Jalan Thamrin, pada waktu itu Soemarno menjawab ingin memiliki toserba (toko serba ada) yang modern, Soekarno pun menyetujui. Karena ketidakmampuan manajemen dalam mengelola perusahaan yang akhirnya merugi, pada tahun 1969 lantai atas disewakan untuk menjadi kasino dan tahun 1973, 3 lantai paling atas dijadikan hotel. 

Pemugaran gedung ini ditargetkan selesai Agustus 2021. Dan pada grand openingnya nanti akan ada kejutan dimana relief yang telah lama tertutup di lantai dasar gedung akan dibuka  dan dipertontonkan ke khalayak ramai.

JPO pertama di Indonesia

Aku menaiki jembatan penyeberangan orang (JPO) di depan gedung Sarinah untuk mencari tempat mengambil foto dengan pandangan yang lebih luas.

Tidak banyak yang tahu kalau jembatan ini adalah JPO pertama di Indonesia. Dibangun karena zebra cross yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan pejalan untuk menyebrang diabaikan oleh para pengendara yang malah menambah kecepatan untuk melewati pejalan yang mau menyeberang di zebra cross. Ini menyebabkan kecelakaan sering terjadi di Jalan MH. Thamrin pada saat itu.

Jembatan dengan panjang 15 meter dan tinggi 8 meter berbentuk seperti huruf H dengan 2 tangga pada masing masing sisi jalan sehingga totalnya 4 tangga. Diresmikan pada 21 April 1968 oleh Ali Sadikin, gubernur DKI pada saat itu, dan diberi nama Jembatan Kartini karena bertepatan dengan tanggal kelahiran RA. Kartini.

JPO Sarinah

JPO Sarinah/Daan

Dari atas jembatan aku memandang ke arah persimpangan Sarinah. Pada 14 Januari 2016 terjadi teror bom Thamrin yang dilakukan para teroris ISIS yang meledakkan bom di pos polisi di depan gedung Sarinah dan di parkiran Starbucks. Aksi polisi di peristiwa itu yang berseragam casual, mengenakan kemeja warna hitam dengan celana warna coklat khaki dan sepatu senada warna celana yang bermerek Gucci dan Adidas menjadi sorotan para netizen. Frasa ‘Polisi Ganteng’ pun viral pada saat itu.

Sementara halte bus TransJakarta yang berada di bawah JPO Sarinah pernah dibakar massa pada saat demo penolakan terhadap Omnibus Law tanggal 8 Oktober 2020.

Turun dari jembatan aku melewati beberapa kursi taman di depan gedung Sarinah. Di salah satu kursi taman itu beberapa tahun yang lalu temanku bernama Syukron pernah tidur dengan nyenyaknya. Padahal waktu itu jam pulang kantor, trotoar di sana padat oleh lalu lalang karyawan pulang kantor dan menunggu bis. Ntah apa yang ada dipikiran orang orang itu ketika melihat pemuda kumel dengan rambut keriting berkaos merah dan ranselnya enak-enakan selonjoran tidur menguasai bangku taman.

Jalan Kebon Sirih Raya hingga Jalan Thamrin

Dari Gedung Sarinah aku berjalan kembali dan sampai di perempatan Jalan Kebon Sirih Raya – Jalan Thamrin.

Di salah satu sudut perempatan tepatnya di sebelah kiri halte TransJakarta yang menuju ke arah Monas ada bangunan cagar budaya. Gedung berlantai 9 yang seluruh sisi bangunannya dipasang roster beton yang berfungsi sebagai penahan masuknya sinar matahari ini adalah gedung Bank Indonesia. Dibangun oleh arsitek kesayangan Soekarno, FX Silaban dari tahun 1958 sampai 1962. 

Sisi selatan komplek gedung Bank Indonesia langsung berbatasan dengan Jalan Budi Kemuliaan dan Bundaran Patung Kuda yang merupakan batas Jalan Thamrin dengan Jalan Merdeka Barat dan Jalan Merdeka Selatan.

Aku menghentikan langkah, mengernyitkan dahi dan baru menyadari telah sampai di Bundaran Patung Kuda.

Seharusnya di gedung Sarinah tadi aku belok ke arah Jalan Jaksa tempat kostku berada.

“SIAL! KELEWATAN LAGI!!”


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Lahir bulan September di Jakarta dan suka baca.

Daan Andraan

Lahir bulan September di Jakarta dan suka baca.
Artikel Terkait
Travelog

Hidup Produktif bersama Perpustakaan Bung Hatta

Travelog

Melawat ke Makam Kehormatan Belanda

Travelog

Coban Pelangi dan Kenangan Apik

Travelog

P4S Tranggulasi: Bukan Hanya Sekedar Kelompok Tani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *