TRAVELOG

Seabad Cerita dari Rumah Tjokroaminoto

Di tengah permukiman Peneleh, Surabaya, sebuah rumah tua dengan pagar kayu berwarna hijau masih berdiri menghadap jalan kampung. Atap gentengnya tampak kusam, sementara dinding putih dan tiang-tiang kayu di bagian depan memperlihatkan usia bangunan yang tidak lagi muda. Sebuah bendera merah putih berkibar di halamannya.

Rumah tua yang terletak di Jalan Peneleh Gang VII Nomor 29–31 itu merupakan bekas kediaman H.O.S. Tjokroaminoto. Aku mengunjunginya pada 11 Oktober 2026. Untuk masuk, pengunjung dikenakan tiket sebesar Rp10.000 yang dapat dibayar melalui QRIS setelah melakukan pemesanan dan mengisi buku tamu lewat situs web Tiket WIsata Surabaya.

Nama Tjokroaminoto tentu tidak asing dalam sejarah Indonesia. Pemimpin Sarekat Islam itu dikenal sebagai guru bagi sejumlah tokoh pergerakan, termasuk Sukarno. Rumahnya bahkan menjadi tempat pertemuan dan pergaulan para pemuda yang kelak memiliki jalan politik berbeda.

Kisah para tokoh tersebut memang menjadi daya tarik utama rumah ini. Di luar itu, ada perjalanan panjang bangunan yang tidak kalah menarik untuk ditelusuri. Rumah Tjokroaminoto telah mengalami beberapa kali perubahan fungsi, termasuk ketika digunakan sebagai fasilitas umum warga selama hampir setengah abad sebelum akhirnya menjadi museum.

Ruang tamu Museum H.O.S. Tjokroaminoto di Surabaya (kiri). Seorang pengunjung mengamati deretan foto dan dokumentasi sejarah pergerakan Sarekat Islam/Rizky Triputra

Rumah Tua dan Para Penghuni

Memasuki ruang depan, aku menjumpai beberapa kursi kayu mengelilingi meja bundar berlapis marmer di permukaannya. Di belakangnya terdapat lemari rendah dan sederet foto tokoh pergerakan nasional. Langit-langit kayu berwarna cokelat serta lantai tegel kekuningan membuat suasana rumah terasa berbeda dari museum modern.

Menurut informasi Pemerintah Kota Surabaya, bangunan ini diperkirakan berdiri sejak 1870-an. Artinya, rumah tersebut telah berusia lebih dari satu abad dan sudah ada jauh sebelum Tjokroaminoto dikenal sebagai pemimpin pergerakan.

Tjokroaminoto tinggal bersama istrinya, Soeharsikin, dan anak-anak mereka. Sebagian ruangan kemudian dimanfaatkan sebagai tempat indekos bagi pelajar yang menempuh pendidikan di Surabaya.

Rumah tersebut bukan sekadar tempat menumpang tidur. Para penghuni juga mengenal kegiatan politik melalui pergaulan dengan Tjokroaminoto dan tamu-tamunya. Mereka hidup ketika pemerintah kolonial masih membatasi kedudukan masyarakat bumiputra dalam berbagai bidang.

Di salah satu ruang pamer, aku menemukan dokumentasi perkembangan Sarekat Islam, termasuk foto kegiatan organisasi pada 1914 dan 1916. Perkumpulan yang berkembang dari Sarekat Dagang Islam itu kemudian menjadi gerakan massa dengan pengaruh luas.

Di bawah kepemimpinan Tjokroaminoto, perjuangannya tidak hanya menyangkut perdagangan, tetapi juga kedudukan politik dan hak masyarakat bumiputra. Kongres Nasional Sarekat Islam pada 1916 menjadi salah satu tonggak penting perkembangan gagasan kebangsaan.

Aku juga melihat dua set pakaian yang dipajang dalam lemari kaca. Pertama adalah yang dikenakan Sukarno semasa sekolah di HBS Surabaya dan lainnya adalah pakaian kongres milik Tjokroaminoto.

Tangga besi menuju kamar indekos Sukarno di bagian loteng Museum H.O.S. Tjokroaminoto (kiri). Suasana kamar indekos Sukarno di bagian loteng/Rizky Triputra

Menaiki Loteng Sukarno

Bagian yang paling membuatku penasaran adalah kamar indekos Sukarno. Untuk mencapainya, aku harus melewati tangga besi berwarna hijau yang sempit dan curam.

Di atas terdapat ruangan dengan lantai kayu dan langit-langit rendah pada beberapa bagian. Beberapa tikar tergelar di lantai, sementara sebuah jendela kecil berada di salah satu dinding. Tidak banyak perabotan yang terlihat. Ada lemari kecil dan papan bertuliskan “Kamar Soekarno”.

Kondisi kamar yang serba terbatas itu rupanya bukan sekadar cara pengelola museum menggambarkan kehidupan masa lalu. Sukarno sendiri pernah mengeluhkan keadaan tempat indekosnya.

Dalam autobiografi Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang disusun Cindy Adams, ia mengenang bahwa “semua kamar sama melaratnya”. Penghuni yang datang lebih dahulu memperoleh kamar sedikit lebih baik, sedangkan kamarnya sendiri tidak memiliki jendela ataupun pintu.

Sukarno bahkan membutuhkan penerangan pada siang hari karena kamarnya begitu gelap. Perabotannya hanya berupa meja yang sudah goyah, kursi kayu, tempat menggantung pakaian, serta sehelai tikar. Tidak tersedia kasur maupun bantal.

Pengakuan itu cukup menggelitik. Rumah yang sekarang menjadi museum dan dikunjungi orang dari berbagai daerah ternyata pernah dianggap jauh dari nyaman oleh salah satu penghuninya sendiri.

Sukarno datang ke Surabaya untuk bersekolah di Hogere Burgerschool (HBS) pada 1916. Selain memperoleh pendidikan formal, ia berkesempatan mengenal para aktivis yang kerap bertamu ke rumah Tjokroaminoto.

Meski begitu, kondisi loteng yang kulihat sekarang tentu tidak bisa disamakan seluruhnya dengan keadaan seabad lalu. Museum menggunakan sejumlah replika dan penataan ulang untuk menggambarkan kehidupan para penghuninya.

Setelah turun, aku memasuki kamar pribadi Tjokroaminoto. Di sana terdapat tempat tidur berkelambu putih, lemari besar bercermin, dan perlengkapan rumah tangga. Ruang ini mengingatkanku bahwa sebelum dikenal sebagai tempat pergerakan politik, bangunan tersebut juga merupakan rumah tinggal sebuah keluarga seperti pada umumnya.

Tilam dan perabotan di Kamar tidur H.O.S. Tjokroaminoto (Rizky Triputra)
Tilam dan perabotan di Kamar tidur H.O.S. Tjokroaminoto/Rizky Triputra

Perjalanan Rumah setelah Ditinggalkan

Dokumentasi Museum Surabaya juga menyebutkan bahwa rumah Peneleh dijual oleh Tjokroaminoto pada 1921. Sejak itu, bangunan tersebut tidak lagi menjalankan peran yang sama seperti ketika ia masih menetap di sana.

Puluhan tahun kemudian, tepatnya pada 1958, Sukarno kembali mengunjungi bekas tempat indekosnya. Ketika itu ia sudah menjabat Presiden Republik Indonesia. Dokumentasi museum menyebutkan bahwa Sukarno menyampaikan keinginan untuk mengambil alih rumah tersebut, yang baru terealisasi pada 1968.

Menariknya, bangunan itu tidak langsung berubah menjadi museum. Selama 1968–2016, rumah justru dimanfaatkan sebagai fasilitas umum warga sekitar.

Hampir lima puluh tahun bukan waktu yang singkat. Sayangnya, informasi mengenai kegiatan warga selama periode tersebut belum banyak dijelaskan dalam pameran. Padahal, kisah itu dapat menunjukkan bagaimana bangunan peninggalan sejarah tetap digunakan setelah masa pergerakan nasional berlalu.

Barulah pada 2016 rumah tersebut disiapkan menjadi museum. Pemkot Surabaya kemudian meresmikannya pada 27 November 2017, ketika Tri Rismaharini menjabat wali kota.

Sedikitnya terdapat 143 koleksi yang berkaitan dengan kehidupan Tjokroaminoto dan pergerakan nasional di rumah ini. Sebagian merupakan benda asli, sedangkan sebagian lainnya digunakan sebagai pelengkap untuk menggambarkan suasana masa lalu.

Orang datang ke sini umumnya ingin melihat bekas kamar Sukarno atau mengenal Tjokroaminoto sebagai guru para tokoh bangsa. Aku pun semula demikian. Namun, kunjungan kali ini justru memperlihatkan bahwa rumah tersebut mempunyai kisahnya sendiri.

Ia pernah dihuni, dijual, digunakan masyarakat, lalu dipelihara sebagai museum. Selama lebih dari satu abad, rumah Peneleh telah berganti fungsi mengikuti zamannya. Riwayat bangunan itulah yang membuatnya menarik untuk terus dikunjungi.


Referensi:

Adams, C. (2014). Bung Karno: Penyambung lidah rakyat Indonesia. Yayasan Bung Karno.
Marihandono, D., Juwono, H., Tangkilisan, Y. B., & Tjahjopurnomo, R. (2015). H.O.S. Tjokroaminoto: Penyemai pergerakan kebangsaan dan kemerdekaan. Museum Kebangkitan Nasional. https://repositori.kemendikdasmen.go.id/18473/.
Musea Surabaya. (2025, 30 Juni). Perjalanan Rumah H.O.S. Tjokroaminoto. https://musea.surabaya.go.id/sejarah-rumah-hos-tjokroaminoto/.
Pemerintah Kota Surabaya. (2017, 27 November). Walikota resmikan Museum HOS Tjokroaminoto. https://surabaya.go.id/id/berita/15525/walikota-resmikan-museum-hos-tjokroaminoto.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Rizky Triputra

Rizky Triputra sering menulis dari perjalanan dan perjumpaan kecil di jalan. Sesekali mendaki gunung, lebih sering belajar menunggu. Bermukim di Indonesia, tetapi pikirannya kerap tersesat di antara hutan, kopi, dan pertanyaan yang tidak minta segera dijawab.

Rizky Triputra

Rizky Triputra sering menulis dari perjalanan dan perjumpaan kecil di jalan. Sesekali mendaki gunung, lebih sering belajar menunggu. Bermukim di Indonesia, tetapi pikirannya kerap tersesat di antara hutan, kopi, dan pertanyaan yang tidak minta segera dijawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Mencari Teduh di Hutan Jati Cileungsi