ITINERARYNUSANTARASA

Puthu Lanang: Kudapan Legendaris yang Terus Eksis

Selepas magrib, ketika udara Malang mulai dingin dan lampu-lampu kota menyala, saya menemani seorang teman dari Jakarta menyusuri kuliner malam. Ia sedang menginap di sebuah hotel yang lokasinya tidak jauh dari Jalan Jaksa Agung Suprapto. Pilihan pun jatuh pada Puthu Lanang, jajanan tradisional yang namanya sudah lama menjadi bagian dari cerita kuliner kota ini.

Kami tiba ketika tempat itu baru saja buka. Namun, suasana sepi yang biasanya menyertai awal jam operasional sama sekali tidak kami temukan. Antrean pembeli justru sudah mengular di depan sebuah kedai sederhana di Gang Buntu.

Di tengah kerumunan itu, seorang pria bergerak cepat melayani pembeli bersama beberapa karyawan. Dialah Siswoyo, penerus usaha Puthu Lanang. 

Tangannya seolah tak pernah berhenti: mengambil pesanan, membungkus jajanan, menambahkan kelapa parut dan gula merah, sekaligus menerima pembayaran. Gerakannya cekatan, seperti seseorang yang telah puluhan tahun menyatu dengan ritme pekerjaan tersebut.

Antrean pelanggan Puthu Lanang di Malang (Laily Nihayati)
Antrean pelanggan Puthu Lanang di Malang/Laily Nihayati

Bermula dari Gerobak Pikulan

Puthu Lanang memiliki perjalanan panjang. Usaha ini dirintis oleh Supiah bersama suaminya, Abdul Jalal, tahun 1935. Pada masa awal, keduanya berjualan kue putu dengan gerobak pikulan, berkeliling dari satu tempat ke tempat lain.

Ketika kemudian menetap di kawasan Celaket, masyarakat mengenalnya sebagai Puthu Celaket. Nama tersebut bahkan sempat begitu populer sehingga digunakan oleh sejumlah penjual puthu lain.

Perjalanan usaha keluarga itu kemudian diteruskan oleh Siswoyo, putra Supiah. Sejak masih sekolah, ia sudah membantu ibunya berjualan. Pada 1985, ketika masih muda dan telah menempuh pendidikan tinggi, Siswoyo akhirnya memutuskan meneruskan usaha keluarga tersebut.

Pilihan itu bukan sekadar meneruskan pekerjaan orang tua. Ia juga mengembangkan usaha dengan menerima pesanan untuk katering, restoran, hotel, hingga tumpeng jajanan pasar.

Nama Puthu Lanang sendiri baru digunakan pada awal 2000-an. Menurut cerita Siswoyo, nama Puthu Lanang tercetus dari percakapan sederhana dalam keluarga. Saat itu ibunya belum memiliki cucu laki-laki. Siswoyo kemudian mengusulkan nama “Puthu Lanang”. Dalam bahasa Jawa, lanang berarti laki-laki. Nama itu sekaligus dianggap sebagai pasangan dari istilah puthu ayu yang lebih dahulu dikenal.

Nama Puthu Lanang kemudian dipatenkan pada 2003 dengan bantuan seorang pelanggan yang berprofesi sebagai notaris. Dari Puthu Celaket, nama Puthu Lanang akhirnya menjadi identitas yang melekat hingga sekarang.

Siswoyo (kiri) cekatan melayani pesanan pembeli (Laily Nihayati)
Siswoyo (kiri) cekatan melayani pesanan pembeli/Laily Nihayati

Hangatnya Puthu dari Tabung Bambu

Yang membuat saya dan sahabat saya rela ikut mengantre malam itu tentu bukan sekadar namanya yang legendaris. Aroma yang keluar dari proses memasak menjadi godaan tersendiri.

Puthu dibuat dari tepung beras yang dimasukkan ke dalam tabung-tabung bambu kecil. Di tengah adonan disisipkan gula merah, kemudian dikukus menggunakan uap panas.

Dalam hitungan beberapa menit, puthu matang. Uap mengepul membawa aroma khas bambu, tepung beras, dan gula merah. Puthu kemudian dikeluarkan dari cetakan dan disajikan bersama parutan kelapa.

Puthu Lanang juga memiliki puthu berwarna hijau yang menggunakan pandan sebagai pewarna alami. Teksturnya pulen dan lembut. Ketika digigit, gula merah di bagian tengah memberikan rasa manis yang legit, sementara kelapa parut menghadirkan gurih yang menyeimbangkannya.

Kesederhanaan bahan menjadi kekuatannya. Tidak ada krim, saus, atau topping kekinian. Hanya tepung beras, gula merah, kelapa, dan aroma bambu dari proses pengukusan. Namun, dari bahan-bahan sederhana berkualitas itulah kenangan dibangun.

Aneka lupis, cenil, klepon dan puthu pandan yang menggugah selera (Laily Nihayati)
Aneka lupis, cenil, klepon dan puthu pandan yang menggugah selera/Laily Nihayati

Aneka Jajanan Pendamping Puthu

Meski namanya merujuk pada puthu, tempat ini juga menjual berbagai jajanan pasar, seperti lupis, cenil, dan klepon. Keempatnya memiliki karakter masing-masing, tetapi dipertemukan oleh rasa manis dan gurih kelapa serta gula merah.

Lupis dibuat dari beras ketan yang dibungkus daun pisang. Cenil memiliki tekstur kenyal dan warna-warni, sedangkan klepon menyimpan gula merah di dalam bulatan adonannya.

Bagi pelanggan yang sulit memilih, tersedia pula menu campuran. Puthu, lupis, cenil, dan klepon disajikan dalam satu porsi. Masing-masing porsi dibanderol Rp18.000 saja. 

Selain penjualan harian, Puthu Lanang menerima pesanan dalam jumlah besar. Tumpeng jajanan pasar menjadi salah satu bentuk pengembangan usaha yang dikerjakan untuk berbagai keperluan, mulai dari acara keluarga hingga kebutuhan instansi, perusahaan, hotel, dan berbagai kegiatan lainnya.

Dengan demikian, Puthu Lanang tidak hanya hadir sebagai kudapan malam. Ia juga menjadi bagian dari berbagai perayaan.

Setia bertahan di tempat yang sama (Laily Nihayati)
Setia bertahan di tempat yang sama/Laily Nihayati

“Jual Mau, Beli Mau”

Di balik keberlangsungan usaha itu, keluarga Puthu Lanang memegang satu prinsip: “jual mau, beli mau”. Maknanya sederhana, tetapi dalam. Apa yang dijual harus layak dibeli dan disantap oleh keluarga sendiri.

Prinsip tersebut diterapkan dalam pemilihan bahan dan proses pembuatannya. Kelapa harus segar, bahan-bahan berkualitas, dan pengolahan dijaga tetap bersih. Bahkan ketika harga bahan naik, kualitas tidak boleh dikorbankan.

Boleh jadi, prinsip inilah yang membantu Puthu Lanang mempertahankan pelanggan dari generasi ke generasi. Pelanggannya pun datang dari berbagai daerah, termasuk mereka yang pernah tinggal di Malang kemudian kembali setelah bertahun-tahun.

Ada kisah menarik tentang pelanggan yang datang lintas generasi. Orang tua yang dulu membeli Puthu Lanang kemudian mengenalkan jajanan tersebut kepada anak-anak mereka.

Sejumlah tokoh terkenal juga pernah mencicipinya. Menurut cerita Siswoyo, pada era 1980-an Presiden Soeharto pernah memesan puthu dan memintanya datang ke Cendana untuk membuatnya. Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri hingga Jokowi juga disebut pernah menjadi pelanggan.

Namun, ketenaran itu tidak membuat Siswoyo tergoda mengubah usaha menjadi bisnis besar. Beberapa tawaran kerja sama, termasuk membuka usaha di Jakarta, pernah datang, tetapi tidak diambil. Pertimbangannya sederhana: puthu paling nikmat disantap ketika masih segar.

Bagi Siswoyo, menjaga cita rasa dan kepercayaan pelanggan jauh lebih penting daripada sekadar memperbesar nama usaha. Pilihan tersebut mungkin terlihat konservatif di tengah dunia kuliner yang gemar berekspansi. Namun, justru di situlah keistimewaan Puthu Lanang.

Hingga kini, Puthu Lanang konsisten menjaga orisinalitas rasa, bahkan kedainya pun tetap berada di tempat yang sama, yakni di kawasan Jalan Jaksa Agung Suprapto, Gang Buntu. Tidak membuka cabang di mana pun. 

Kualitas rasa yang autentik dan terus terjaga (Laily Nihayati)
Kualitas rasa yang autentik dan terus terjaga/Laily Nihayati

Bertahan di Tengah Perubahan Kota

Malang terus berubah. Jalan-jalan semakin ramai, bangunan baru bermunculan, dan pilihan kuliner semakin beragam. Namun, di sebuah gang kecil di kawasan Celaket, tradisi membuat puthu masih berlangsung dengan cara yang nyaris sama seperti puluhan tahun lalu.

Malam itu, saya melihat pembeli datang silih berganti. Ada yang membeli untuk disantap saat itu juga, ada pula yang membawa pulang beberapa bungkus.

Di tengah antrean, Siswoyo tetap bergerak cepat bersama karyawannya. Ia tampak seperti bagian tak terpisahkan dari Puthu Lanang—usaha yang telah menjadi rutinitas hidupnya sejak kecil.

Hampir satu abad sejak Supiah dan Abdul Jalal memulainya, Puthu Lanang masih mempertahankan identitasnya: resep, kualitas bahan, cara pengolahan, dan rasa. Bukan dengan mengikuti seluruh perubahan zaman, melainkan dengan menjaga hal-hal yang dianggap penting.

Mungkin itulah rahasia jajanan tradisional untuk bertahan. Ia tidak perlu tampil mewah agar dikenang. Cukup hadir dengan rasa yang konsisten, aroma yang akrab, dan sedikit cerita dari masa lalu.

Di Malang, cerita itu masih mengepul hangat dari tabung-tabung bambu Puthu Lanang.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Laily Nihayati

Mantan jurnalis yang masih suka nulis dan healing tipis-tipis .

Mantan jurnalis yang masih suka nulis dan healing tipis-tipis .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Resto Sambat Luwe, Nikmatnya Bersantap di Tepi Sawah