TRAVELOG

Merekam Jejak Kejayaan Perusahaan Genteng Soka di Kebumen

Perjalanan ini berawal dari rasa penasaran saya mengenai jejak keberadaan perusahaan genteng Soka “Aboe Ngamar” di Dukuh Soka, Kecamatan Pejagoan, Kabupaten Kebumen. Butuh waktu sekitar 3,5 jam perjalanan dari Yogyakarta.

Panorama persawahan dan perkebunan sepanjang Jalan Daendels, pesisir selatan Jawa, senantiasa menemani perjalanan menuju Kebumen. Simpang tiga Jalan Ronggowarsito dan Jalan Soka Petanahan menjadi titik awal perjalanan ini.

Eksplorasi bekas perusahaan genteng Soka bersama komunitas Roemah Toea (Ibnu Rustamadji)
Eksplorasi bekas perusahaan genteng Soka bersama komunitas Roemah Toea/Ibnu Rustamadji

Masa Lalu Soka

Merujuk informasi rekan dari Kebumen, Sigit Asmodiwongso, melalui Regeering Almanak 1884 yang dimilikinya, diketahui jika Soka atau Sokka dulunya adalah wilayah kawedanan di bawah Kecamatan Pejagoan, Kabupaten Karanganyar, Karesidenan Kedu. Sekitar 13 kilometer di barat Kabupaten Kebumen. Ia menambahkan, jika merujuk Aanvragen voor de oprichting van de Suikerfabriek op Java, di tahun 1908 wilayah kawedanan Soka akan didirikan pabrik gula seluas 600 bahu oleh J.C.L.J. van Deun setelah mendapat izin residen Kedu pada 10 Maret 1908.

Kami menduga, izin tersebut sejatinya izin sewa, pembukaan dan pengelolaan lahan wilayah kawedanan Soka untuk perkebunan tebu seluas 600 bahu oleh Pabrik Gula Kebumen di Jalan Pemuda, dekat Stasiun Kebumen. Eksistensi Halte Soka menjadi bukti izin rencana tersebut meski sebenarnya kurang representatif untuk perkembangan pabrik gula.

Selain untuk penumpang dan stasiun transit, seiring waktu Stasiun Soka juga sebagai batu loncatan kesuksesan perusahaan genteng Soka sebagai moda pengiriman ke luar Kabupaten Kebumen, sampai mencapai puncaknya tahun 1935. Tahun yang sama, status pemerintahan Kabupaten Karanganyar Kebumen diubah menjadi Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen. 

Sementara itu, kawedanan Soka diubah menjadi Dukuh Soka, Desa Kedawung, Kecamatan Pejagoan, Kabupaten Kebumen. Kehidupan masyarakatnya berubah. Namun, perusahaan genteng Soka, termasuk perusahaan genteng ‘Aboe Ngamar’ yang eksis sebelum perubahan status tersebut, masih tetap bertahan.

Gedung utama perusahaan (Ibnu Rustamadji)
Gedung utama perusahaan/Ibnu Rustamadji

Masa Lalu Perusahaan Genteng dan Batu Bata Soka

Puncak kejayaan perusahaan genteng Soka terjadi tahun 1917, seiring melejitnya perusahaan genteng Aboe Ngamar yang mampu memproduksi 500.000 genteng dan 1.000.000 batu bata dalam seminggu. Bahan bakunya berupa tanah liat dari sawah di wilayah Soka. Mungkin, karena tanah inilah, memicu van Deun ingin mengelola tanah wilayah Soka menjadi perkebunan tebu.

Setahun kemudian, merujuk Het Nieuws van den Dag voor Nedherlandsch-Indie tanggal 5 September 1918, bertajuk Vereenigde Steenfabrieken Keboemen Soka S.S.W.L, terdapat agen perusahaan genteng Soka sebagai penyedia genteng dan batu bata untuk Jakarta dan sekitarnya oleh L.Th. Haasman di Kebon Sirih, Jakarta, di bawah pengawasan direktur Ambaachtschool Keboemen. Sekolah teknik Kebumen ini mengusung slogan “werkt niet langer met dure en slechte bouwmaterialen”; tidak lagi menggunakan bahan murah dan buruk.

Dua tahun kemudian, merujuk Algemeen Handelsblaad bertanggal 4 September 1920,  diketahui pemerintah Hindia Belanda (Indonesia) mulai mendirikan Vereenigde Indische Thickelerken atau Perusahaan Hindia Pembuat Ubin. Dipimpin oleh tuan Schoon untuk mengendalikan perusahaan genteng di Soka, Kebumen, dan Moeara Ogan, Palembang, termasuk ekspansi produk.

Salah satu upaya ekspansinya yakni mendirikan eene fabriek in het Keboemensche, een aan de lijn Soerabaja-Goendik en een bij Rangkasbetoeng. Perusahaan gabungan di Soka Kebumen tersebut ditargetkan memproduksi 2 juta genteng dan 1 juta batu bata setiap bulan untuk dikirim ke Australia, India, dan Britania Raya. 

Tidak sedikit arsitek dari negara tersebut bersedia menandatangani kontrak kerja sama dengan perusahaan demi mendapat pasokan genteng asli perusahaan selama waktu kontrak. Sebagai konsekuensi, produksi genteng dan batu bata meningkat pesat, berdampak positif kepada pemilik, pemegang saham dan bij dat bedrijf zijn ook vele inlanders, als deelende in winst, betroken mendapat keuntungan sesuai perjanjian. 

Reruntuhan oven pembakaran dan fondasi cerobong asap/Ibnu Rustamadji
Reruntuhan oven pembakaran dan fondasi cerobong asap/Ibnu Rustamadji

Hadji Aboe Ngamar, Saudagar Genteng dari Kebumen

Kejayaan perusahaan genteng Soka kembali bangkit seiring dengan suksesnya bisnis keluarga Hadji Aboe Ngamar tahun 1917. Merujuk Bataviasche Nieuwsblaad tanggal 17 Oktober 1920, didapati informasi bahwa Hadji Aboe Ngamar—masyarakat Soka mengenalnya Kaji Abu—merupakan pewaris sekaligus pemegang tongkat estafet perusahaan genteng yang dirintis sang ayah sejak 30 tahun sebelumnya. Sayang, tidak diketahui nama kedua orang tuanya. Awal mula didirikannya perusahaan tersebut berskala industri kecil, menempati halaman kediaman keluarga.

Seiring waktu, perusahaan tersebut dipindahkan ke belakang Stasiun Soka untuk meningkatkan produksi, mempermudah pengiriman dan pengawasan. Dalam perkembangannya, Kaji Abu berhasil een enorme uitbreiding aan gegeven atau melakukan ekspansi besar ke luar Jawa seperti Deli, Maluku, hingga ke mancanegara—salah satunya Jepang.

Pelanggan terbesar perusahaan Kaji Abu diketahui adalah pabrik gula se-Karesidenan Kedu yang notabene pemberi modal, perusahaan kereta api Staat Spoorweg (S.S) dan perusahaan kereta api Nederlands Indische Maatschappij (N.I.S.M). Stasiun Soka menjadi sarana transportasi pengiriman produksi, termasuk karyawan dari dan menuju perusahaan genteng Aboe Ngamar. Halte (Stasiun) Soka setiap harinya mempersiapkan 200 gerbong khusus untuk mengirim genteng dan batu bata untuk dikirim ke mancanegara melalui pelabuhan Kota Semarang.

Rumput-rumput liar menyelimuti tiga cerobong asap pembakaran dan ruang pembakaran (Ibnu Rustamadji)
Rumput-rumput liar menyelimuti tiga cerobong asap pembakaran dan ruang pembakaran/Ibnu Rustamadji

Berdasarkan surat kabar tersebut, untuk pemesanan tertentu mendapat pelayanan franco wagon Soka atau pengiriman gratis menggunakan gerobak. Perusahaan bekerja sama dengan Staats Spoorweg SS dengan jargon cepat, aman, dan murah. 

Meski kini kondisi perusahaan genteng Aboe Ngamar tampak seperti reruntuhan dan tidak banyak pekerja, sejatinya perusahaan tersebut masih aktif memproduksi genteng dan batu bata berskala kecil. Pemicu runtuhnya kejayaan perusahaan tersebut dipicu jumlah pekerja yang kian menua dan meningkatnya jumlah pesaing bisnis perusahaan genteng di Kebumen.

Ruang pembakaran yang ditumbuhi rumput liar, menjadi pemandangan lumrah selama mengabadikan setiap jengkal sisa perusahaan tersebut. Meski begitu, patut disyukuri jejak-jejak kejayaan Hadji Aboe Ngamar masih tampak meski kondisinya jauh berbeda seperti saat masa kejayaannya. 


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Ibnu Rustamaji

Biasa dipanggil Benu. Asli anak gunung Merapi Merbabu. Sering nulis, lebih banyak jalan-jalannya. Mungkin pengin lebih tahu? Silakan kontak di Instagram saya @benu_fossil.

Ibnu Rustamadji

Biasa dipanggil Benu. Asli anak gunung Merapi Merbabu. Sering nulis, lebih banyak jalan-jalannya. Mungkin pengin lebih tahu? Silakan kontak di Instagram saya @benu_fossil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Menyigi Taman Air Peninggalan Keraton Kasunanan Surakarta di Boyolali