Langit masih gelap. Angin tak berembus. Kami tiba di titik 3.078 mdpl. Belum banyak pendaki muncak. Mereka mengandalkan sorot headlamp untuk foto di tugu triangulasi.
Pukul 04.08 WIB itu, rasi orion menghiasi langit utara. Salah satu anak kembar saya, Rean Carstensz Langie (16), setia mengawal ayahnya. Setelah mendokumentasikan pendaki yang bergantian pose depan plang penanda puncak, kami mencari pojokan. Menyelinap di sela cantigi sambil ngemil roti dan susu.
Waktu berjalan lambat. Kalau angin bertiup, selesai! Batin saya. Harap-harap cemas, semoga situasi tak berubah. Gelap masih mengurung. Pendaki yang menapaki puncak kian bertambah. Pengalaman tahun lalu, saya bareng Rean dan adiknya, Muhammad Kaldera (10), menggapai puncak Ciremai dalam gemuruh angin dan dekapan kabut. Pastinya suhu anjlok. Dingin banget! Dan akhirnya bergegas turun. Menghindari serangan hipotermia.
Tapi pada summit attack Ahad (16/8/2026), cuaca bersahabat. Kami melangkah dari tempat kemah di Pos 6 Pesanggrahan pukul 02.05 WIB. Jam segitu baru sedikit pendaki yang bersiap ke puncak. Tak ada jadwal mutlak, pukul berapa harus summit attack. Estimasi dari ranger yang bertugas, sekitar tiga jam perjalanan dari Pos 6 ke tanah tertinggi Jawa Barat.
“Pastikan stamina fit. Sebelum muncak, gantungkan logistik di pohon! Jangan sampai tenda kalian disatroni ‘bagas’,” kata ranger lewat pengeras suara, mengingatkan bahaya serbuan babi hutan nan ganas, yang bisa menghancurkan tenda. Tergiur mencicipi sisa makanan pendaki.


Refleksi Diri
Waktu subuh tiba. Di tengah riuh pendaki, saya dan Rean salat berjemaah. Menghadap barat; kiblat, yang arahnya kami ketahui dari kompas di ponsel. Kami bersuci dengan tanah di puncak—tayamum. Perlu kegigihan melepas jaket dan bandana pelindung kepala, lantas mengusapkan serpihan tipis tanah ke wajah dan kedua lengan sampai siku.
Memang benar, tak ada angin. Namun tetap saja, saat pelindung tubuh dibuka, taring dingin lekas menerkam kulit. Segera kami tunaikan ibadah. Allahuakbar… Kedua tangan terangkat untuk memulai salat dua rakaat.
Selepas salam, saya beristigfar dan berzikir. Kalbu terasa tenang. Tak lupa sujud syukur, mencium tanah puncak Ciremai nan dingin. Di titik tertinggi Jawa Barat, saya lafalkan kalimat tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir. Memuji kebesaran-Nya. Menyanjung Sang Pencipta. Berterima kasih di usia 41 tahun, masih diberi kesempatan menziarahi puncak-puncak gunung. Semoga nikmat sehat ini bermanfaat untuk banyak kebaikan.
Memang benar—buat saya pribadi dan mungkin kebanyakan petualang lainnya—ketika kita tengah berada di alam terbuka, kedekatan dengan Allah azza wa jalla begitu terasa. Refleksi diri muncul. Segala angkuh luruh. Siapalah kita? Tidak ada daya, upaya, dan kekuatan melainkan atas pertolongan-Nya.




Panggung Sunrise
Pendaki terus berdatangan. Keceriaan terdengar di setiap sudut. Pelataran pinggir kawah dipenuhi manusia. Mendekati pukul 05.00, semburat kemerahan muncul. Tirai semesta tersibak. Gradasi jingga, ungu, dan kuning-keemasan perlahan mewarnai langit. Cantik sekali!
Di kejauhan, di antara panggung sunrise, menyembul puncak tertinggi kedua di Pulau Jawa: Slamet (3.428 mdpl). Para pengelana antusias menyambutnya. Kamera ponsel di tangan atau yang dicengkeram tripod, berusaha membingkai kelahiran sang surya di ufuk timur.
Selamat pagi Indonesia!


Makna Kemerdekaan
Sejak zaman SMA dulu (2001–2003), saya rutin ikut memeriahkan 17-an di puncak Ciremai. Namun, setelah berkeluarga dan mendaki bersama anak-anak, memilih naik di tanggal 15 Agustus, besoknya muncak, lalu turun gunung. Menghindari antrean jika nanjak pada 16 Agustus.
Tahun 2025, libur peringatan proklamasi kemerdekaan ada di hari biasa (weekday). Sehingga, pendakian di 15 Agustus relatif sepi. Tapi kemarin (2026), karena bertepatan libur akhir pekan, sampai di base camp Cadas Poleng jalur Palutungan, saya kaget! Ramai pendaki liburan weekend sekaligus bersiap merayakan 17 Agustus. Saya terkekeh sendiri. Niat nyari sepi, ketemu rame… Ya, sudah, tetap semangat!
Pagi menjelang. Mentari menyinari kaldera Ciremai. Luasnya setengah kilometer. Kedalaman kawah 250 meter. Jantung berdebar kalau kita melongok ke bawah. Ngeri! Beberapa insiden pernah terjadi: pendaki jatuh dan tewas seketika. Karena itu ada plang pengingat agar pendaki tidak berdiri pinggir bibir kawah. Khawatir pijakan ambrol atau badai menerjang, nyawa melayang.
Dua jam lamanya kami di puncak. Pukul enam lebih, saya putuskan bergerak turun. Kami menembus keramaian pendaki. Hingga di dekat tugu puncak ST Burhanudin (Jaksa Agung) yang urang Majalengka, sekelompok pendaki tengah pose mengibarkan bendera komunitas mereka: Purpala alias “Pura-pura Pencinta Alam”. Sontak saya tertegun. Mengenang memori masa sekolah dulu: Purpala Cirebon yang lahir di puncak Pangrango tahun 2002.




Foto bendera pink Purpala Cirebon di puncak Ciremai via Apuy tahun 2003 (kiri) dan bersama tim Purpala Sukabumi/Mochamad Rona Anggie
“Saya pinjam benderanya, ya!” lalu foto memegang panji biru tua. Sementara pataka Purpala saya dan kawan-kawan berwarna pink bergambar Gunung Ciremai diapit dua udang: simbol “Cirebon kota udang”.
Tak lama datang Ketua Purpala yang bermarkas di Sukabumi, Jem (44). Kami bersalaman erat dan saling mendukung aktivitas alam bebas yang dilakoni.
“Senang bisa jumpa tim Purpala lain,” ucap saya lantas meminta nomor ponsel Kang Jem, untuk menyambung silaturahmi sesama anak negeri.
Momen 17-an begitu berarti di kalangan pendaki. Pengingat jika bangsa ini sudah sekian lama merdeka. Semoga pemimpin kita senantiasa ingat pengorbanan para pahlawan. Tidak mengkhianati setiap darah yang tertumpah untuk Merah Putih. Berkacalah wahai para pejabat. Jangan korupsi uang negara.
Puncak-puncak gunung berseri, lautan tertawa riang, mengucap: “Selamat Ulang Tahun ke-81, Dirgahayu Indonesiaku!”
Salam lestari!
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Tinggal di Kota Cirebon. Kerap mengulas isu lingkungan, budaya, dan pariwisata. Ayah lima anak ini hobi mendaki gunung sejak 2001, dan tak bosan memanggul carrier hingga sekarang.


