TRAVELOG

Melacak Jejak Stasiun NISM Bringin yang Kian Nestapa

Kehidupan masyarakat Desa Bringin, Kecamatan Bringin, tak ubahnya desa lain di Kabupaten Semarang. Semakin memasuki jalan desa, keramaian semakin menjadi akibat alunan musik dangdut dari kios persewaan speaker, tepat di seberang Stasiun Bringin yang kian renta dan sunyi. Terbengkalai, tidak seperti jejeran toko diseberangnya. 

Tidak tampak lagi masyarakat atau pegawai perusahaan kereta api yang lalu lalang seperti saat stasiun tersebut masih aktif. Hanya hawa sepi dan dingin yang menemani eksistensi Stasiun Bringin hingga sekarang. Tembok gedung utama stasiun mulai berlubang, roboh dan lapuk seiring waktu. Bahkan, di beberapa sisi dimanfaatkan warga sebagai sarang burung walet.

Sisa kejayaan stasiun tersebut memang sengaja dibiarkan begitu saja hingga hilang kemewahannya, meskipun masih menyimpan cerita masa lalunya yang mewah. Stasiun tersebut diketahui milik jawatan kereta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) Den Haag. 

Tampak timur Stasiun Bringin yang diselimuti semak-semak liar (Ibnu Rustamadji)
Tampak timur Stasiun Bringin yang diselimuti semak-semak liar/Ibnu Rustamadji

Faktor Awal Pendirian Stasiun NISM Bringin

Pendirian Stasiun Bringin berawal dari perusahaan perkebunan komoditas ekspor termasyhur di Salatiga. Berdasarkan informasi rekan, Tjahjono Rahardjo, melalui Piagem van Getas tertanggal 13 Februari 1828 yang dimilikinya, diketahui perusahaan tersebut bernama Landbouw Onderneming Getas atau Perusahaan Perkebunan Getas. 

Piagem van Getas ini MoU kerja sama pendirian sekaligus pengelolaan Perusahaan Perkebunan Getas antara tiga bersaudara, yakni Joseph Loewi, Cornelis Hamar de la Brethonièr, dan Pangeran Purbaya oleh Sunan Pakubuwana X di Keraton Kasunanan Surakarta,” ungkapnya.

Ia menambahkan, isi piagam tersebut mengenai wasiat Sunan Pakubuwana X kepada ketiganya untuk dapat bekerja sama mengelola perkebunan yang telah dibagikan dalam Perusahaan Perkebunan Getas. Landbouw Onderneming Getas yang resmi didirikan pada 25 Rabiul Akhir Alip 1755 (dalam kalender Islam) atau 10 Januari 1828 (kalender Masehi).

Hal tersebut dilakukan supaya tidak terjadi perebutan wilayah perkebunan dan menjaga kepercayaan satu sama lain. Lokasi Perusahaan Perkebunan Getas berada di Desa Popongan, Kecamatan Bringin, tepat di tengah antara wilayah Desa Tuntang, Salatiga, dan Desa Bringin, Kecamatan Bringin. Jalur kereta menuju Stasiun Bringin membelah areal perkebunan Getas. 

Mereka bekerja sama mengelola komoditas pertamanya, yaitu kopi, yang didatangkan Johannes Agustinus Dezentje dari Ampel, Kabupaten Boyolali. Ia adalah pengusaha perkebunan kopi dan teh terbesar di Vorstenlanden Kota Surakarta. Namun, karena serangan virus karat daun dan kondisi tanah yang tidak baik, pohon kopi akhirnya mati. Akibatnya, tahun 1860 perusahaan mengalami kerugian. 

Sebagai upaya bertahan hidup, perusahaan tersebut mulai mengembangkan pohon karet dan jati hingga sukses memperluas areal perkebunan hingga perkebunan Nobo, Gubug, dan Gogodalem tanggal 4 April 1871. Di hari yang sama, Stasiun Bringin mulai didesain oleh NISM sekaligus memicu kebangkitan kembali Perusahaan Perkebunan Getas—kini PTPN IX Kebun Getas Salatiga.

Tampak depan Stasiun Bringin tahun 2021 (kiri) dan 2026/Ibnu Rustamadji

Masa Lalu yang Terlupakan

Masa lalu keberadaan Stasiun Bringin tidak lepas dari kebijakan NISM Den Haag yang membuka jalur kereta api, bekerja sama dengan Landbouw Onderneming Getas yang didirikan pada 10 Januari 1828. NISM mendapat konsesi pembangunan Stasiun Bringin, setelah selesainya pembangunan jalur kereta dari Stasiun Ambarawa menuju Stasiun Kedungjati pada 21 Mei 1871.

Selain sebagai stasiun transit kereta antara Stasiun Ambarawa dan Stasiun Kedungjati, Stasiun Bringin juga didesain untuk mengangkut komoditas perdagangan dan perkebunan. Tiga tahun pasca kesuksesan Perusahaan Getas dan mendapat persetujuan pembangunan dari pemerintah Hindia Belanda, Stasiun Bringin akhirnya dibangun pada 21 Mei 1873.

Stasiun Bringin dibangun usai peresmian pembukaan jalur kereta api dari Kota Semarang menuju Vorstenlanden (Kota Surakarta dan Yogyakarta) tahun 1867, serta jalur kereta dari Kabupaten Ambarawa ke Kecamatan Kedungjati tahun 1871. Upacara “pencangkulan pertama” pembangunan jalur kereta pertama dimulai pada 7 Juni 1864 dan upacara dimulainya pembangunan pada 10 Agustus 1867 dilaksanakan Baron Sloet van de Beele. 

Adalah Ludolph Anne Jan Wilt Baron Sloet van de Beele, Gubernur Jenderal Hindia Belanda sekaligus ketua dewan pengawasan perusahaan kereta api negara dan inisiator pembangunan jalur kereta pertama di Hindia Belanda. Tjahjono menambahkan jika Raja Chulalongkorn dari Thailand sempat berkunjung ke Bringin, menyaksikan proses pembangunan jalur kereta dan stasiun.

Jalur kereta arah Stasiun Tuntang-Ambarawa (kiri) dan arah Stasiun Kedungjati/Ibnu Rustamadji

Menuai sukses 29 tahun kemudian, tahun 1902 Stasiun Bringin direnovasi total oleh NISM agar tampak lebih baik dan efisien. Bangunan didominasi kayu jati yang diproduksi langsung di wilayah Kecamatan Bringin. Sederhana, tetapi bagi warga Bringin, tidak kalah mewah dengan Stasiun Kedungjati dan Stasiun Ambarawa.

Lantas siapakah sosok di balik kejayaan perusahaan kereta api NISM tersebut? 

“Ir. Jan Philip de Bordes, insinyur kepercayaan NISM Den Haag yang dipercaya sebagai teknisi pembangunan jalur kereta api pertama di Hindia Belanda,” ungkap Tjahjono.

Ia menambahkan, J.P. de Bordes lahir di Amsterdam 7 Juni 1817, wafat di Den Haag 5 Januari 1899. Awal kariernya adalah perwira militer, tetapi tidak lama kemudian ia bekerja di biro arsitek Amsterdam, lalu melanjutkan pendidikan spesialisasi teknik transportasi kereta api dan lulus sebagai insinyur kereta api.

Setelah lulus, J.P. Bordes pergi Austria tepatnya di Semmeringbahn dan Bennern hingga ke India, tepatnya di Bhor Gat, untuk mempelajari sistem perkeretaapiannya. Hingga akhirnya ia ditugaskan ke Hindia Belanda awal tahun 1863. Pada tanggal 17 Juni 1864, dimulailah perencanaan pembangunan jalur kereta api pertama dan stasiun NIS oleh NISM di Pulau Jawa.

Sebagai inisiator sekaligus insinyur jalur kereta api pertama di Hindia Belanda, J.P. Bordes bekerja dari kantor NISM Den Haag (Kedutaan Besar Afrika Selatan di Den Haag), karena kantor NISM Kota Semarang (Lawang Sewu) belum dibangun. Ia hanya sebentar di Hindia Belanda, lalu tidak lama kemudian kembali bekerja dari Den Haag. 

Stasiun Bringin sejatinya dibangun sebagai stasiun transit antara Stasiun Kedungjati menuju Stasiun Ambarawa dan sebaliknya, dengan satu jalur kereta utama yang kini telah putus total. Akibatnya, Stasiun Bringin akhirnya punah dan hancur seiring waktu menyisakan bangunan induk, rumah dinas, menara air, dan gudang sejak ditutup tahun 1970.

Tembok ruang utama stasiun di sisi timur (Ibnu Rustamadji)
Tembok ruang utama stasiun di sisi timur/Ibnu Rustamadji

Monumen yang “Hidup Segan Mati Enggan”

Kondisi Stasiun Bringin saat ini sangat layak disebut monumen yang “hidup segan mati enggan”. Ibarat pepatah, habis manis sepah dibuang. Dicampakkan begitu saja setelah puluhan tahun memberikan yang terbaik untuk industri kereta api. Masyarakat sekitar menyebutnya stasiun angker, karena lama terbengkalai dan tidak ada yang berani beraktivitas di sekitarnya.

Namun, daripada faktor gaib, bagi saya lebih tampak kesan mewahnya dengan cerita masa lalu maupun gaya arsitektur dan sisa arkeologis lainya yang tersisa. Angker, bagi saya, jika secara tiba-tiba Stasiun Bringin dihancurkan secara mendadak lalu digantikan gedung stasiun baru.

Tidak hanya saya yang merasakan, tetapi juga masyarakat Bringin dan para pemerhati masa lalu. Kondisi bangunan induk stasiun memang sudah tidak karuan, tetapi tetap kokoh. Peron besar depan dan belakang dibangun besar untuk mengakomodasi para penumpang yang akan beraktivitas di Bringin. Pengatur sinyal buatan Alkmaar pun masih dapat dijumpai di peron belakang.

Stasiun Bringin dilengkapi menara air untuk penampungan sebelum dialirkan dengan pipa air lalu disalurkan ke dalam ketel lokomotif. Kereta api yang melintasi Stasiun Bringin kala itu bermesin uap. Tidak jauh dari menara air terdapat gudang penyimpanan hasil komoditas perkebunan sekitar Bringin dan sisi timur stasiun, yakni rumah dinas kepala stasiun.

Campur aduk rasanya menyaksikan betapa mengenaskan Stasiun Bringin saat ini. Stasiun yang dulunya mewah kini tinggal menunggu nasib, akibat disengsarakan oleh generasi sebelumnya. Hilangnya sebuah warisan masa lalu tentu berdampak buruk tidak hanya untuk generasi saat ini, tetapi juga generasi selanjutnya yang harus menanggung konsekuensi pertanggungjawaban. 

Akankah warisan Stasiun Bringin di masa depan bernasib lebih baik atau malah hilang?


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Ibnu Rustamaji

Biasa dipanggil Benu. Asli anak gunung Merapi Merbabu. Sering nulis, lebih banyak jalan-jalannya. Mungkin pengin lebih tahu? Silakan kontak di Instagram saya @benu_fossil.

Ibnu Rustamadji

Biasa dipanggil Benu. Asli anak gunung Merapi Merbabu. Sering nulis, lebih banyak jalan-jalannya. Mungkin pengin lebih tahu? Silakan kontak di Instagram saya @benu_fossil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Melacak Jejak Eksistensi Landhuis dan Makam Oriental di Kota Semarang dan Salatiga