Hasrat petualangan orang kota tersalurkan di Desa Payung, Kecamatan Rajagaluh, Kabupaten Majalengka. Mereka bisa berenang di sungai berair jernih, kemah di perbukitan hutan pinus, dan mendaki ke puncak Ciremai.
Kali Cinangsi dan Sungai Cikadongdong berhulu di Gunung Ciremai. Airnya turun meliuki bebatuan. Tidak terlalu deras dan dalam. Aman untuk anak-anak. Beberapa waktu lalu, saya merasakan jeburan di Cinangsi. Airnya dingin. Segar banget!
Sebelumnya, saya melintasi pula jembatan di atas Sungai Cikadongdong, yang sejak 2017 dimanfaatkan pemuda setempat untuk mengoperasikan river tubing; mengarungi sungai dengan ban karet. Sukses. Viral. Wisatawan berdatangan.


Bahkan di 2019, omzet Cikadongdong River Tubing tembus Rp2,1 miliar. Sebuah kebanggaan bagi warga Desa Payung. Salah satu konseptor tamasya basah-basahan itu, Asep Rahmat S merinci, 80 persen pendapatan masuk kantong pengelola, 10 persen operasional, dan 10 persen kas.
Ramai pengunjung Sungai Cikadongdong menginspirasi penduduk untuk menjajakan aneka kuliner. Bahkan ada yang membuka kedai kopi bernuansa alam, persis di pinggir jembatan. Sebuah fenomena menarik: satu destinasi wisata menghidupi banyak individu.
“Sekarang omzet Cikadongdong River Tubing Rp60–70 juta per bulan,” beber Asep senang.
Namun, dia dan rekan lainnya tak lekas puas. Mereka haus kreasi. Ingin terus memberdayakan warga desa. Banyak potensi ekowisata yang belum tergarap di sana. “Kami bersyukur diberi bentang alam yang diminati wisatawan. Perlu kerja keras untuk mengembangkan setiap peluang,” kata lelaki yang pada 2023 terpilih sebagai Kepala Desa Payung di usia 29 tahun. Termuda kedua se-Kabupaten Majalengka.


Kopi Arabika dan Kuda
Asep menerangkan, ladang pertanian di desanya biasa ditanami bawang, jagung, dan labu (besar). Ketiga komoditas itu andalan sepanjang tahun. Belakangan penduduk tertarik menyemai kopi, karena diuntungkan secara geografis—memiliki lahan di ketinggian 1.000–1.500 mdpl—dan lagi bisnis kopi kini menggiurkan.
“Mereka menanam jenis arabika,” ujarnya.
Menyaksikan antusiasme warga berkebun kopi, ide pengembangan ekowisata pun menguat di kepala Asep. Ia melirik area berumput luas menuju blok Kebon Raja—titik awal pendakian Ciremai—untuk dijadikan sentra ekosistem kopi.
Cita-cita Asep, ingin buah kopi yang ditanam petani lokal dipasarkan di wilayahnya. Hulu ke hilir. “Dari musim tanam, panen, sampai roasting dan menyeduh kopinya, langsung di Desa Payung. Biar pengunjung terkesan,” tuturnya.


Asep juga punya rencana “gila” lainnya untuk mengundang turis domestik dan mancanegara ke desanya. Di dekat kawasan budi daya arabika Payung akan dibikin lintasan berkuda serta area ketangkasan domba. “Kebetulan saya juga punya kuda dan gemar petualangan berkuda,” kata anggota Mapala Bharawana Unjani.
Guna mewujudkan niatan itu, Asep siap berkolaborasi dengan pihak lain. Sebagai kuwu, ia ingin ada sesuatu yang berdampak pada penguatan ekonomi warga. Tak terkecuali perbaikan infrastruktur yang terkoneksi dengan ladang penduduk, dia menyebut bagian dari legacy-nya.
Penuh optimisme, Asep mengajukan anggaran peningkatan kualitas jalan ke anggota DPR RI. Pemkab Majalengka menyokong pula. Cairlah Rp12 miliar untuk perbaikan jalan sepanjang enam kilometer. “Biar mobilitas petani bawa sayur lebih lancar,” ucapnya semringah.
Rupanya, orang kota tertarik pula tinggal di Sadarehe; sebuah cantilan (cikal-bakal pemekaran dusun baru) yang dikenal sebagai jalur premium menuju puncak Ciremai. “Sadarehe itu nama cantilan, bloknya Badakdua,” jelas Asep. “Orang kota ke sini cari udara dingin.”
Salah seorang yang rutin berkunjung ke Sadarehe adalah Herpi Janeko (43). Penghuni kompleks Citraland Kota Cirebon itu, saban pekan menghabiskan waktu di Saung Helen; bangunan terpencil di lereng Ciremai yang dikelilingi hutan lebat.
“Belum ada listrik di sana,” kata Herpi lalu menerangkan saung itu milik temannya, yang membeli tanah dari sesepuh Desa Payung, Haji Amir. “Langit malam bertabur bintang, mendekat ke api unggun. Airnya sedingin es. Wah, seru banget!” tutur pebisnis kebab itu menceritakan pengalaman menginap di Saung Helen.




Berkah Jalur Pendakian
Tren kegiatan alam terbuka lima tahun terakhir, membawa berkah bagi masyarakat Desa Payung. Terlebih sejak jalur Trisakti Sadarehe dibuka pada 25 Agustus 2022, desa di kaki Ciremai itu kian dikenal pendaki Nusantara yang hendak ke puncak Ciremai.
Rerata sepekan ratusan petualang menjejakan kaki di Payung. Mereka penasaran menjajal rute baru menuju atap Jawa Barat. Terobsesi melihat langsung keindahan savana Kawah Burung, satu-satunya padang rumput di perjalanan menggapai titik 3.078 mdpl. Sebab, empat jalur pendakian lainnya (Palutungan, Linggarjati, Linggasana, dan Apuy), tidak memiliki sabana. Ditambah hamparan edelweis di lereng curam antara Pos 7 dan Pos 8, yang katanya paling menawan saat musim mekarnya, jadi keunggulan jalur Trisakti Sadarehe.
Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) selaku pengelola pendakian, mempromosikan Trisakti Sadarehe sebagai jalur istimewa. Hanya petualang tangguh yang siap menyongsong trek Sadarehe. Lokasinya tersembunyi. Biaya transportasi, akomodasi, dan SIMAKSI jadi tantangan tersendiri.
Kuwu Asep mengiyakan kehadiran wisatawan berimbas positif bagi perekonomian warga. Lanskap Desa Payung yang dikitari perbukitan, dan berada persis di lereng gunung, memikat pehobi olahraga asah betis.




Truk mengantar pendaki dari BC Sadarehe ke Kebon Raja (kiri). Tiap pekan ratusan pendaki berdatangan ke BC Sadarehe di blok Badakdua, Desa Payung, untuk mendaki Gunung Ciremai/Mochamad Rona Anggie
Kesadaran ekowisata masyarakat pun meningkat. Penduduk menyambut baik para pendaki. Mereka menyulap rumahnya menjadi home stay, dan membuka warung makan. “Biaya menginap sama, per malam Rp25.000,” info dari Asep.
Pengurus base camp (BC) Sadarehe menggandeng pula sopir truk dan pikap untuk mengantar pendaki ke titik pendakian di blok Kebon Raja. Muncul istilah “anggun”, angkutan gunung. Tarif antarjemput ke Kebon Raja Rp60.000. Biasanya kendaraan terbuka itu dipakai mengangkut sayur-mayur serta pupuk.
“Pemilik mobil senang, ada penghasilan tambahan,” ujar Asep.
Pemuda Desa Payung lainnya, terang dia, merangkap porter dan pemandu. Mereka tergabung dalam koperasi Trisakti Tunas Ciremai. “Kami setor Rp600–700 juta per tahun ke TNGC sebagai penerimaan negara bukan pajak (PNBP),” bebernya.


Belum Menarik Retribusi
Walau tempat rekreasi bermunculan di desanya, Asep belum memungut retribusi. Perlu payung hukum semisal peraturan desa (Perdes) atau lebih kuat lagi peraturan bupati (Perbup), bila mau menerapkannya.
Asep ingin kelak destinasi wisata di sana memberi kontribusi ke kas desa. Jika Perbup yang mengesahkan Desa Payung sebagai kawasan wisata terbit, baru pihaknya leluasa menarik retribusi.
“Bahkan jangka panjangnya, bagaimana Desa Payung turut meningkatkan pemasukan asli daerah (PAD) Kabupaten Majalengka,” harapnya.
Asep mencontohkan jalur trekking paling anyar, Cidewata Hill, pengelolaannya berkongsi dengan TNGC. Usai mendapat lampu hijau, warga membenahi jalan setapaknya. Menyiapkan penunjuk arah, dan membangun gazebo, musala serta toilet di area puncak (1.178 mdpl).
“Ada pemasukan buat pengurus base camp, tapi bukan untuk desa,” kata pengagum pejuang hak adat Zapatista, Subcomandante Marcos itu.
Foto sampul: Aliran Sungai Cikadondong yang membelah Desa Payung digunakan untuk rekreasi river tubing (Mochamad Rona Anggie)
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Tinggal di Kota Cirebon. Kerap mengulas isu lingkungan, budaya, dan pariwisata. Ayah lima anak ini hobi mendaki gunung sejak 2001, dan tak bosan memanggul carrier hingga sekarang.


