Liang Bua telah lama berdiri kokoh sebagai bagian penting dalam lini masa sejarah peradaban manusia. Gua megah yang terletak di Desa Liang Bua, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai ini, menjadi titik balik penting arkeologi global sejak penemuan fosil manusia kerdil, Homo floresiensis.
Namun, pesona Liang Bua tidak sekadar sisa-sisa peradaban masa lampau. Di balik dinding-dinding batu karangnya, denyut kehidupan masyarakat adat setempat terus berputar, bertransformasi melalui tangan-tangan kreatif generasi muda yang menolak melupakan akar budaya mereka.
Pada Agustus 2025, dalam sebuah agenda kerja, saya akhirnya menjejakkan kaki untuk pertama kali di Liang Bua. Saya berkesempatan menyaksikan bagaimana wilayah ini bersolek dengan luar biasa di bawah inisiasi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Liang Bua. Anak-anak muda setempat tidak hanya merawat Liang Bua, mereka juga menghidupkan Liang Galang, sebuah gua eksotis lain yang letaknya tak jauh dari situs utama.
Selain bergotong-royong menata kawasan dengan membangun akses dan membangun fasilitas pengunjung, mereka juga mendirikan Mbaru Tiba. Bangunan penerima tamu ini mengadopsi arsitektur rumah adat Manggarai yang khas.
Setiap pelancong yang datang dipakaikan busana adat Manggarai, diterima secara sakral di Mbaru Tiba, lalu dipandu menyusuri relung gua sambil mendengarkan narasi budaya. Dalam setiap kunjungan ke sana, setiap pengunjung juga dimanjakan oleh sajian olahan pangan lokal.
Pokdarwis Liang Bua sendiri terdiri dari belasan anggota, mencakup pengurus, pemandu, divisi kuliner, dan kebersihan. Kini pokdarwis diketuai oleh Igen atau yang akrab disapa Bang Tigor, dengan Deni sebagai wakil. Secara kolektif, pokdarwis menjadi motor penggerak utama dalam pengelolaan Liang Bua serta Liang Galang sampai sekarang.




Kondisi rumah rusak akibat gempa di Desa Liang Bua (kiri) dan Golo Manuk/Dokumentasi Bang Tigor
Kala Flores Diguncang Pagi Buta
Namun, alam seolah ingin mengingatkan manusia akan batas kekuatannya. Sabtu pagi (15/8/2026), jarum jam baru menunjukkan pukul 05.58 WITA ketika gempa tektonik bermagnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores. Berdasarkan data resmi BMKG, pusat gempa berada di wilayah laut, sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, dengan kedalaman dangkal 15 kilometer. Gempa ini dipicu oleh aktivitas Sesar Naik Busur Belakang Flores (Flores Back-Arc Thrust), sebuah patahan aktif yang melintang di utara Pulau Flores. Guncangan ini terasa sangat destruktif, termasuk di daratan Manggarai.
Saya terbangun dengan ketakutan yang luar biasa pagi itu. Rumah bergetar hebat, memicu kepanikan yang membuat warga langsung berhamburan berlarian ke luar, dan setelahnya kerusakan besar terlihat jelas di berbagai tempat. Isak tangis seketika memecah kesunyian pagi, meratapi rumah-rumah warga yang roboh total dan retak berkeping-keping. Hari itu, Flores benar-benar didera duka yang mendalam.
Hingga 20 Agustus 2026, BMKG mencatat rentetan gempa susulan (aftershocks) sebanyak 3.422 kejadian. Secara keseluruhan di Flores, bencana ini telah merenggut setidaknya 73 korban jiwa dan memaksa hampir 60.000 warga mengungsi ke tenda-tenda darurat.
Sore hari pasca-gempa utama, di tengah jaringan internet yang hilang timbul, sebuah pesan singkat dari Bang Tigor masuk ke ponsel saya. Pesan itu hanya berisi informasi yang menyayat hati: “Ancur mbaru lite (rumah kami hancur).”
Melalui foto yang dikirimkan, kehancuran itu tampak begitu nyata. Rumah semipermanen rusak berat, dengan atap seng kanopinya ambruk total menyentuh tanah, sementara dinding batako dengan cat biru cerah yang biasa menyambut ramah para tamu kini telah runtuh menjadi gundukan puing yang berserakan tidak beraturan. Keretakan besar menjalar di tiang beton penyangga jendela kayu. Tak jauh dari sana, warga terdampak duduk di atas tanah kering, menatap nanar sisa tempat tinggal mereka di bawah langit sore yang mendung.
Setelahnya, Deni mengonfirmasi, dampak gempa di Desa Liang Bua jauh lebih masif dari dugaan awal. Dari data yang dikumpulkan, sedikitnya 230 jiwa yang terdampak di desa ini. Belum lagi, total kerusakan yang ditimbulkan mencapai total 79 rumah, dengan rincian 20 yang termasuk kategori rusak berat, 32 rusak sedang, dan 27 rusak ringan.


Solidaritas untuk Masyarakat Setempat
Di tengah situasi yang carut-marut, ketika napas pariwisata daerah lumpuh total, anak-anak muda Pokdarwis Liang Bua menolak untuk berpangku tangan. Sejak hari pertama usai guncangan hebat, belasan anggota komunitas ini memilih melepas seragam pemandu wisata mereka dan bertransformasi menjadi relawan kemanusiaan secara mandiri.
Bagi mereka, solidaritas bukanlah jargon pemanis saat rapat komunitas. Solidaritas menjelma menjadi peluh yang menetes ketika mereka memanggul karung-karung logistik menembus akses jalanan yang rusak. Menguras sisa anggaran kas organisasi yang tersisa, para pemuda ini menyisir reruntuhan untuk menyalurkan bantuan langsung berupa uang tunai, obat-obatan, sembako, dan berbagai kebutuhan mendasar lainnya.
Mereka berjalan kaki secara door-to-door, mendatangi satu per satu tenda pengungsian darurat. Di dalam posko yang sempit dan seadanya, mereka tidak sekadar mengulurkan materi. Bang Tigor, Deni, dan rekan-rekan lainnya meluangkan waktu untuk duduk bersama di atas tanah, memeluk erat para lansia serta anak-anak yang didera trauma, sekaligus memberikan edukasi kebencanaan agar warga menjauhi sisa-sisa bangunan yang retak.
Pasca-gempa, mereka sudah menyasar seluruh wilayah Desa Liang Bua. Semula, mereka hanya menjangkau Kampung Teras, Golo Manuk, dan Golo Molas. Meski sempat mengutarakan keterbatasan untuk menjangkau dua daerah sisanya, tetapi dengan usaha keras yang mereka lakukan, Kampung Langke dan Bere kemudian bisa dijangkau pada 20–21 Agustus 2026.
Bahkan, gerakan mereka juga diperluas hingga ke luar daerah administratif Liang Bua. Berbatasan langsung dengan wilayah Kecamatan Wae Ri’i, anak-anak muda ini juga mengunjungi dan membantu masyarakat di Rampasasa, Desa Wae Mulu, Kecamatan Wae Ri’i.
Meski demikian, pergerakan mulia ini masih harus berbenturan dengan tembok keterbatasan yang tebal. Kekuatan finansial swadaya mereka telah mencapai titik nadir. Skala kerusakan yang terlalu parah, dengan banyaknya korban yang terdampak, membuat napas finansial Pokdarwis kini kian tersengal-sengal.
Kondisi para pengurus sendiri sebenarnya sama memprihatinkannya. Bang Tigor dan kawan-kawan kini harus tidur berimpitan di dalam tenda pengungsian karena rumah mereka sendiri tidak lagi aman untuk ditempati. Destinasi Liang Bua dan Liang Galang pun terpaksa ditutup total untuk keamanan.
Berdasarkan penuturan Deni, tiang dan tembok samping kiri bangunan museum retak parah hingga plaster dindingnya runtuh. Sementara di Liang Galang, material batu berjatuhan di sekitaran area tersebut.




Pengurus Pokdarwis Liang Bua membersamai masyarakat desa terdampak gempa/Dokumentasi Pokdarwis Liang Bua
Berguru Ketabahan di Tenda Pengungsian
Tanpa adanya perputaran ekonomi dari wisatawan dan saldo kas yang telah habis, mereka kini hanya bertahan dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Di sela-sela keterbatasan itu, lewat akun media sosial pribadinya, Bang Tigor sempat melayangkan sebuah pesan terbuka yang mendalam kepada publik.
“Bencana alam ini telah meninggalkan duka yang mendalam. Kebutuhan warga terdampak masih sangat besar. Hingga saat ini, kami masih membuka ruang dan sangat membutuhkan bantuan serta donasi dari berbagai pihak. Uluran tangan Anda adalah tiang penyangga bagi mereka untuk membangun kembali harapan dan kehidupan yang luluh lantak.”
Kalimat lirih dari pemuda Manggarai tersebut bukanlah sekadar undangan donasi terbuka. Lebih dari itu, saya memaknainya sebagai sebuah sentilan moral bagi dunia luar. Liang Bua dan Liang Galang telah memberi dunia begitu banyak hal melalui sumbangan ilmu pengetahuan, sejarah, dan kehangatan budayanya. Kini, ketika rahim bersejarah itu terluka, maka mungkin sudah saatnya dunia mengembalikan energi baik itu kepada komunitas lokal yang sedang berjuang mempertahankan hidup di sekitarnya.
Di antara semua perjalanan kemanusiaan ini, pengalaman bertemu dan berada bersama warga yang terdampak justru memberikan tamparan kesadaran yang luar biasa bagi para pemuda Pokdarwis. Awalnya, mereka datang ke tenda pengungsian dengan membawa sedikit bantuan materi dan menyuntikkan semangat bagi para korban gempa yang sedang lara.


Namun, sekat-sekat ego langsung runtuh begitu mereka menginjakkan kaki di area pengungsian. Bukan keluh kesah atau ratapan putus asa yang menyambut mereka, melainkan senyuman tulus warga yang merekah hangat di tengah segala keterbatasan.
“Melihat senyuman tulus itu mengembang di tengah ruang tenda yang sempit, hati saya justru bergetar hebat,” tulis Bang Tigor.
Bagi seorang pegiat wisata yang biasa melihat kegembiraan komersial para pelancong, momen di posko pengungsian ini menjelma menjadi ruang kelas kehidupan yang tak ada duanya. Muncul sebuah gugatan batin yang mendalam dalam benak mereka: Bagaimana mungkin mereka yang baru saja diuji dengan kehilangan tempat tinggal dan harta benda, masih bisa mengukir senyum seikhlas itu?
Ketabahan luar biasa dari warga desa terdampak justru berbalik menjadi bahan bakar spiritual yang besar bagi para pemuda Pokdarwis Liang Bua untuk terus melangkah. Bencana alam mungkin telah meruntuhkan dinding-dinding batu dan beton tempat mereka bernaung. Namun, ia sama sekali tidak mampu meruntuhkan kokohnya pilar solidaritas, kemanusiaan, dan ketahanan budaya yang telah mengakar ribuan tahun di tanah Liang Bua.
Hingga hari ini, mereka memilih untuk tetap berjalan beriringan bersama masyarakat, merawat api kepedulian agar tidak padam di tengah gempa yang masih mengguncang bumi Flores hingga saat ini.
Foto sampul: Penyerahan bantuan oleh Pokdarwis Liang Bua kepada keluarga yang terdampak Gempa Flores (Dokumentasi Pokdarwis Liang Bua)
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Oswald Kosfraedi, saat ini berdomisili di Kupang. Gemar mengisi waktu luang dengan menulis dan mendengarkan lagu karya seorang musisi yang menginspirasi saya dalam menulis.


