TRAVELOG

Melacak Jejak Charlie Chaplin di Garut 

Kereta Serayu yang berangkat dari Stasiun Pasar Senen, Jakarta, ke arah Jawa Tengah, sudah kembali melaju saat saya sampai di Stasiun Cibatu, Garut. Matahari sangat terik, Mei 2022 tengah hari. Seorang petugas stasiun berdiri di pintu gerbang menuju keluar. Saat itu, Stasiun Garut belum beroperasi. Meski sudah terbangun, tetapi belum diresmikan. Jadi, satu-satunya akses ke Garut menggunakan kereta adalah Stasiun Cibatu.

Stasiun ini punya sejarah panjang. Dibuka pertama kali pada 14 Agustus 1889, pada masa kolonial Stasiun Cibatu merupakan primadona lantaran menjadi tempat pemberhentian wisatawan Eropa yang ingin pelesir di Garut. Bahkan, beberapa tokoh terkenal dunia pernah “mendarat” di stasiun ini. Haryoto Kunto dalam Seabad Grand Hotel Preanger 1897-1997 menulis, antara 1935–1940 Stasiun Cibatu kerap ramai dengan taksi hingga mobil mewah limosin milik hotel-hotel di Garut, seperti Hotel Papandajan, Villa Doltje, Hotel Belvedere, Hotel Van Hengel, Hotel Bagendit, Villa Pautine, dan Hotel Grand Ngamplang.

Dari Stasiun Cibatu, saya harus naik ojek online untuk menuju lokasi tempat saya menginap selama beberapa hari. Jarak dari stasiun ke tempat penginapan kira-kira 20 kilometer. Cukup jauh. Lokasi menginap saya berbentuk indekos, dengan banyak pintu. Harganya cukup murah untuk sekadar beristirahat dan merencanakan jalan-jalan, hanya Rp125.000 per malam.

Stasiun Cibatu di Garut pada 2022 (Fandy Hutari)
Stasiun Cibatu di Garut pada 2022/Fandy Hutari

Jejak Charlie Chaplin

Garut mendapat julukan “Swiss van Java” karena panoramanya yang indah. Popularitas Garut terangkat berkat seorang fotografer perempuan Eropa bernama Margarethe Mathilde “Thilly” Weissenborn atau Thilly Weissenborn. Lewat studio foto miliknya, yakni Foto Lux, Thilly banyak membuat foto keindahan alam, bangunan, dan jalan sekitar Garut. Selain dicetak dan dijual secara langsung, foto-foto karyanya itu dibuat ilustrasi kartu pos, yang menyebar ke Eropa.1

Tokoh dunia yang pernah menjejakkan kaki di Stasiun Cibatu adalah Georges Clemenceau. Dia merupakan pendiri surat kabar La JusticeL’Aurore, dan L’Homme Libre. Clemenceau pun pernah menjadi Perdana Menteri Prancis pada 1906–1909 dan 1917–1920.2 Tentu saja, yang paling diingat, bahkan dikenang hingga kini, adalah komedian sekaligus bintang film Charlie Chaplin.

Charlie Chaplin, yang bernama asli Charles Spencer Chaplin, dikenal dunia lewat film-film bisunya, seperti A Woman of Paris (1923), The Circus (1928), City Lights (1931), dan The Gold Rush (1936). Dia pertama kali berangkat ke Batavia dari Singapura pada 28 Maret 1932. Setelah perjalanan singkat di Batavia, Chaplin melanjutkan pelesiran ke Garut. Di Garut, Chaplin menginap di Hotel Villa Dolce. Dari Garut, dia langsung ke Surabaya. Tak diketahui tempat wisata apa saja yang dikunjungi Chaplin di Garut pada 1932.3

Pesona alam Garut ternyata sudah membius Chaplin. Pada 1936, dia kembali ke kota itu. Kali ini, Chaplin membawa tunangannya, Paulette Goddard, dan ibu dari Paulette. Paulette yang juga seorang aktris Amerika Serikat adalah calon istri yang ketiga Chaplin, usai bercerai dengan Mildred Harris dan Lita Grey. Mereka terbang dengan Qantas Line dari Singapura, dan tiba di bandara Tjililitan (Cililitan)—atau sekarang bandara Halim Perdanakusuma—pada 22 Maret 1936 pukul 09.30. Chaplin pun pergi bersama tiga perwakilan pers, perwakilan dari firma Maclaine Watson—yang merupakan agen Qantas—dan pemandu asal Malaysia dari Michael’s Travel Office. Di Batavia, Chaplin menyantap sarapan di Hotel des Indies.

Sekitar pukul 11.00, Chaplin dan rombongan menuju Bandung menggunakan mobil, melalui Puncak. Di Bandung, Chaplin menghabiskan menghabiskan satu hari dan menginap di Hotel Preanger. Kisah singkat Chaplin menginap di Hotel Preanger bisa dilihat di museum kecil di lantai bawah hotel itu.

Potret Charlie Chaplin saat di Garut (Foto Istimewa oleh detikJabar)
Potret Charlie Chaplin saat di Garut/Foto Istimewa oleh detikJabar

Kemudian, dilanjutkan dengan kunjungan ke Garut menggunakan kereta. Chaplin turun di Stasiun Cibatu, Garut pada 24 Maret 1936. Lantas, melanjutkan perjalanan ke Grand Hotel Ngamplang untuk menginap. Dia tiba di hotel itu sekitar pukul 16.00. Tak seperti di tempat lain, di Garut Chaplin bisa menikmati ketenangan yang sangat dia cari. Tak ada kerumunan orang di depan hotelnya, tidak ada wartawan, hanya suara jangkrik yang terdengar.

Pada Rabu, 25 Maret 1936 pagi, Chaplin, Paulette, dan ibunya pergi ke Kawah Kamojang. Mereka ditemani seorang pemandu. Namun, perjalanan mereka terganggu dengan sebuah pohon yang tumbang menutupi jalan ke arah kawah, dekat Hotel Radium. Mereka harus menunggu pohon itu disingkirkan dari jalanan sekitar 15 menit. Chaplin memanfaatkan waktu menunggu penyingkiran pohon itu di Hotel Radium milik seorang Eropa bernama Hacks.

Setelah itu, mereka kembali melanjutkan perjalanan ke Kawah Kamojang. Puas menikmati kawah Kamojang, sekitar pukul 12.00 mereka kembali ke Hotel Radium untuk beristirahat sebentar. Di Hotel Radium, Chaplin dan lainnya menikmati seporsi stroberi dengan krim kocok. Chaplin sempat menyampaikan keheranannya kepada Hacks, mengapa tidak banyak turis mengunjungi Kawah Kamojang yang indah.

Tak lama, seorang pemandu memberi tahu kepada Chaplin ada tempat lain yang harus dilihat. Lantas, mereka pun dibawa tur ke Danau Leles dan Situ Bagendit. Puas berada di Garut, Chaplin melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta, Surabaya, dan Bali.4

Pintu gerbang menuju padang golf Ngamplang (Fandy Hutari)
Pintu gerbang menuju padang golf Ngamplang/Fandy Hutari

Lokasi Singgah Chaplin 

Tidak semua lokasi yang dikunjungi Chaplin, berhasil saya datangi. Hanya beberapa lantaran keterbatasan waktu. Pertama-tama, saya berusaha mencari penginapan Chaplin, Grand Hotel Ngamplang dari berbagai literatur. Sampailah kesimpulan lokasi yang sekarang menjadi kawasan Lapangan Golf Flamboyan Ngamplang. Lapangan ini dibangun pada 1912. Dahulu, menjadi tempat hiburan dan rekreasi bagi bangsawan Eropa dan tentara Belanda.5

Tampak pepohonan rindang berdiri di sekitarnya. Di bawah, hamparan lapangan golf sangat hijau. Hotel yang diduga menjadi tempat beristirahat Chaplin, masih berdiri. Namun, sudah kosong. Saya juga tidak bisa memastikan apakah gedung yang saya datangi itu benar-benar Grand Hotel Ngamplang. Sebab, bangunannya sudah lebih modern dibandingkan bangunan sisa masa kolonial. Apa mungkin bangunannya sudah dihancurkan, lalu dibangun gedung baru?

Dalam artikel yang dimuat di pikiran-rakyat.com6 disebutkan, pada 1942—saat Jepang menduduki Indonesia—bangunan hotel dan sanatorium dibakar warga Garut karena diduga menjadi tempat persembunyian tentara Belanda. Kemudian pada 1977, Lapangan Ngamplang diambil alih Korem 062 Tarumanegara. Setelah itu diberi nama Lapangan Golf Flamboyan.

Situ Cangkuang dari atas bukit (kiri) dan Situ Bagendit dari depan saat pembatasan sosial pandemi Covid 19 pada 2022/Fandy Hutari

Saya bisa melihat Danau Leles—yang sekarang bernama Situ Cangkuang—dari atas  sebuah bukit, tak jauh dari lokasi Candi Cangkuang berdiri. Ketika itu, ramai wisatawan yang menikmati keindahan alam sekitar situ, menggunakan perahu bambu atau disebut getek. Disebut Danau Leles karena letaknya ada di Kecamatan Leles, Kabupaten Garut.

Menurut Bambang Budi Utomo7, terdapat tiga pulau kecil di sekitar Situ Cangkuang. Situs Candi Cangkuang ada di salah satu pulau itu, yang berukuran 16,5 hektare. Dua pulau lainnya masing-masing 6,4 hektare dan 6,3 hektare, berbentuk agak bulat. Menurut Bambang, lokasi Situ Cangkuang terletak di sebuah lembah subur yang dialiri sungai-sungai dengan ketinggian sekitar 600-an meter di atas permukaan laut, dikelilingi rangkaian perbukitan.

Sayangnya saat ke Situ Bagendit, yang juga dikunjungi Chaplin, kawasan wisata itu masih ditutup karena aturan pembatasan sosial pandemi COVID-19. Jadi, saya hanya bisa melihat keadaan sekitar situ dari pinggir jalan. Saya juga tak sempat mengunjungi Kawah Kamojang, yang ada di Gunung Kamojang, perbatasan Kabupaten Garut dan Kabupaten Bandung, yang letaknya kira-kira 30 kilometer dari penginapan karena keterbatasan akses.


Foto sampul: Keadaan sekitar tempat yang dahulu diduga hotel tempat Chaplin menginap di Ngamplang, Garut (Fandy Hutari)


  1. Pikiran-rakyat.com. “Ternyata Ini Awal Mula Garut Dijuluki Swiss van Java,” dalam pikiran-rakyat.com, 2 Oktober 2017. Diakses pada 16 Januari 2025. (https://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/pr-01286911/ternyata-ini-awal-mula-garut-dijuluki-swiss-van-java-410647?page=all) ↩︎
  2. Kompas.com. “Jejak Charlie Chaplin di Stasiun Cibatu,” dalam 5 September 2010. Diakses pada 16 Januari 2025. (https://regional.kompas.com/read/2010/09/05/10255574/Jejak.Charlie.Chaplin.di.Stasiun.Cibatu). ↩︎
  3. Bataviaasch niewsblad, 1 April 1932; Soerabaijasch handelsblad, 29 Maret 1932; dan Soerabaijasch handelsblad, 31 Maret 1932. ↩︎
  4. Bataviaasch nieuwblad, 23 Maret 1936 dan De Indische courant, 30 Maret 1936. ↩︎
  5. Lailatul, Anjani. “Lapangan Golf Flamboyan Ngamplang: Tempat Olahraga dan Keindahannya,” dalam infogarut.id, Agustus 2024. Diakses pada 16 Januari 2025. (https://infogarut.id/lapangan-golf-flamboyan-ngamplang-tempat-olahraga-dan-keindahannya#:~:text=Lapangan%20Golf%20Flamboyan%20Ngamplang%20dibangun,tentara%20Belanda%20pada%20masa%20penjajahan). ↩︎
  6. Ryadi, Rizky. 2022. “Mengenal Sejarah Grand Hotel Ngamplang yang Ada di Garut, Artis Dunia Pernah Menginap di Sini,” dalam beritakkb.pikiran-rakyat.com, 20 Juli 2022. Diakses pada 16 Januari 2025. (https://beritakbb.pikiran-rakyat.com/pariwisata/pr-965057711/mengenal-sejarah-grand-hotel-ngamplang-yang-ada-di-garut-artis-dunia-pernah-menginap-disini?page=all) ↩︎
  7. Utomo, Bambang Budi. 2004. Arsitektur Bangunan Suci Masa Hindu-Budha di Jawa Barat. Jakarta: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, hal. 59-61. ↩︎

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Fandy Hutari

Jurnalis, tinggal bersama istri di Jakarta. Gemar membaca dan jalan-jalan.

Jurnalis, tinggal bersama istri di Jakarta. Gemar membaca dan jalan-jalan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Jejak Perlawanan Bung Karno di Bandung