NUSANTARASATRAVELOG

Dari Sapeken ke Sangsit

Siang itu, Jumat (15/5/2026), matahari tepat berada di atas kepala saya. Dari corong masjid di dekat Pelabuhan Sangsit, Buleleng, Bali, suara khotbah terdengar lantang. Pada saat yang sama, kapal dari pulau seberang yang ditunggu-tunggu masyarakat akhirnya tiba setelah menuntaskan perjalanan 12 jam mengarungi lautan.

Setiap tiga kali dalam seminggu, warga memadati Pelabuhan Sangsit. Senin, Rabu, dan Jumat adalah hari yang paling dinanti. Sebab, pada hari-hari tersebut kapal-kapal dari Pulau Sapeken, pulau yang ada di gugusan kepulauan Madura, Jawa Timur, dijadwalkan datang dan berlabuh di Sangsit.

Kapal kargo berlabel KM Mutiara Biru merapat sambil membawa peti-peti berisi ikan segar hasil tangkapan para nelayan di sekitar Pulau Sapeken. Selain ikan segar, Pate (58), seorang kapten kapal, bersama dua awak kapal lainnya juga turut mengangkut ikan lepet kering yang akan menjadi bahan utama membuat sudang lepet. Kedatangan mereka membawa harapan bagi para pembuat sudang lepet di Desa Sangsit.

Selepas salat Jumat, aktivitas di pelabuhan kembali riuh. Sejumlah warga mengambil gerobaknya masing-masing. Proses bongkar muat pun dimulai. Satu demi satu peti berisi ikan segar diturunkan. Termasuk sekarung besar ikan lepet kering. Dengan jasa porter, ikan kering itu diantar ke depan pintu rumah pelanggannya. Begitulah riwayat ikan kering itu sampai ke tangan-tangan pembuat sudang lepet.

Perahu-perahu nelayan bersandar di pesisir Pantai Sangsit (Bandem Kamandalu)
Perahu-perahu nelayan bersandar di pesisir Pantai Sangsit/Bandem Kamandalu

Hubungan Antarpulau

Tidak jauh dari Pelabuhan Sangsit, langkah yang penasaran menuntun saya menyusuri sebuah gang. Berbekal informasi yang didapat dari orang-orang di pelabuhan, saya bertandang ke rumah Ani (70). Di bawah naungan pohon mangga, Ani dan koleganya Luh Sri (80) tampak berjibaku di halaman rumah. Tok… tok… tok… Begitulah bunyi alat pemukul yang dipegang oleh Ani dan Luh Sari saling bersahutan. Ternyata, mereka sedang memukul-mukul ikan kering di atas batu, salah satu proses paling penting dalam membuat sudang lepet. Keduanya tampak begitu piawai dalam urusan pukul-memukul itu. 

Sudang lepet adalah ikan asin khas Desa Sangsit, dibuat dari ikan lepet atau orang Sulawesi mengenalnya dengan sebutan ikan roa (Hemiramphus sp.). Walau secara citra ikan asin ini begitu melekat dengan Sangsit, ternyata bahan utamanya didatangkan langsung dari Pulau Sapeken dan pulau-pulau kecil di sekitarnya.

“Melimpahnya hasil tangkapan di wilayah Kepulauan Madura membuat warga mahir membuat ikan kering,” tutur Ani sambil tangannya tetap fokus memukul-mukul ikan kering. 

Obrolan yang panjang membawa saya berkenalan lebih dekat dengan Ani. Ternyata, ia memiliki hubungan yang erat dengan Pulau Sapeken. Sebelum menekuni pembuatan sudang lepet di Sangsit, Ani lebih banyak menghabiskan waktu di Pulau Sapeken. Di sana ia bekerja sebagai pembuat dan pemasok kebutuhan ikan lepet kering bagi orang-orang di Desa Sangsit. Pekerjaannya di Sapeken dilanjutkan oleh sang anak yang sampai saat ini masih menjadi pemasok ikan lepet kering baginya dan para pembuat sudang lepet lain.

Sosok Luh Sri (kiri), terampil mengolah ikan lepet sejak muda. Ani (kanan) menunjukkan dua ikat ikan lepet kering/Bandem Kamandalu

Pengetahuan yang diperoleh Ani dalam membuat sudang lepet tentu tidak terlepas dari proses belajar bersama warga sekitar, termasuk bersama Luh Sri. Sebagai warga asli Sangsit, Luh Sri telah mewarisi keterampilan membuat sudang lepet secara turun-temurun. Luh Sri bercerita, keterampilannya membuat sudang lepet telah diperoleh sejak muda. “Dulu biasanya beli ikan lepet kering langsung dari perahu lalu digantung di dapur. Nanti diambil ikan kering itu, pukul-pukul sendiri,” ujar Luh Sri sambil menerka-nerka ingatannya. 

Dinamika mereka menjadi menarik ketika berbicara soal transfer pengetahuan, khususnya dalam mengolah pangan lokal. Relasi keduanya mewakili dua wilayah geografis yang sama sekali berbeda, tetapi saling berkaitan dalam rantai sistem pangan. 

Hubungan yang telah terjalin antara warga Sapeken dan Sangsit selama berpuluh-puluh tahun melalui jalur laut menghasilkan produk pangan yang bertahan hingga kini. Secara tidak langsung, hal ini menunjukkan bahwa keberadaan pangan lokal tidak terlepas dari hubungan antara satu wilayah dengan wilayah yang lain. Selayaknya hubungan antara warga Sapeken dan Sangsit.

Proses memukul sudang lepet (Bandem Kamandalu)
Proses memukul sudang lepet/Bandem Kamandalu

Sudang Lepet dan Strategi Bertahan Hidup

Di tengah obrolan antara kami bertiga, Ani tiba-tiba menghentikan pekerjaannya, meninggalkan saya dan Luh Sri yang masih sibuk memukul-mukul ikan kering. Ani masuk ke rumahnya, membawa beberapa ikan lepet yang sudah dipipihkan. Aroma gurih khas ikan asin mendadak tercium semerbak sampai di halaman. Rupanya ia sedang menggoreng sudang lepet.

Ia kembali ke halaman, tangan kanannya membawa piring berisi sudang lepet, lalu menyodorkannya ke saya. Meminta saya untuk segera mencicipi. Sudang lepet itu mendarat sempurna di mulut saya, rasanya tak begitu asin, tapi yang paling berkesan adalah teksturnya yang sangat garing dan kriuk (renyah).

“Itu kalau gak dipukul-pukul dulu ikan keringnya gak enak, keras dia seperti kayu bakar,” kelakar Luh Sri saat saya pertama kali mencicipi sudang lepet. Setelah saya pelajari, proses pukul-memukul itu mirip seperti tahapan dalam pembuatan dendeng. Tujuannya tidak lain agar serat-serat pada daging menjadi lebih tipis sehingga akan garing ketika digoreng.

Sensasi garing dan renyah itulah yang menjadikan sudang lepet begitu diminati. Banyak orang yang memburunya sebagai buah tangan ketika berkunjung ke desa ini. Namun, sebelum menjadi oleh-oleh yang punya nilai jual tinggi, sudang lepet adalah makanan sehari-hari warga Sangsit. Hal ini dikonfirmasi melalui cerita Luh Sri.

Luh Sri sedang menjemur ikan lepet kering (Bandem Kamandalu)
Luh Sri sedang menjemur ikan lepet kering/Bandem Kamandalu

“Dulu gak ada yang jual seperti ini (ikan kering yang sudah dipipihkan). Orang-orang di sini biasanya beli beberapa, atau kalau yang kaya mereka beli satu ikat ikan kering lalu digantung di dapur. Kalau pas gak ada lauk, baru ambil beberapa ikan kering itu lalu dipukul-pukul sendiri,” tuturnya.

Sembari menghabiskan sudang lepet yang tersisa di piring, obrolan kami bertiga juga mulai mencapai ujungnya. Saya termenung. Di balik selembar sudang lepet yang tipis ternyata menyimpan cerita yang begitu kaya. Sudang lepet menjadi pintu masuk untuk berkenalan dengan sistem pangan yang saling terhubung antarpulau. 

Lebih dari itu, sudang lepet juga menyimpan pengetahuan dan ingatan soal strategi bertahan hidup. Bagaimana manusia mengupayakan agar ikan yang ditangkap dapat bertahan lama sekaligus menjadi cadangan yang selalu dapat diandalkan di kala perut lapar.

Tak terasa hari semakin sore, Ani dan Luh Sri mulai mengemasi peralatannya. Saya pun berpamitan, menjabat tangan mereka dan mengucapkan terima kasih untuk semua cerita ini.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Bandem Kamandalu

Bandem Kamandalu, sejak kuliah mulai menemukan hidup dalam
tulisan. Saat ini bertumbuh di Nuturang, ruang belajar yang berfokus soal isu-isu arkeologi, antropologi, dan sejarah.

Bandem Kamandalu

Bandem Kamandalu, sejak kuliah mulai menemukan hidup dalam tulisan. Saat ini bertumbuh di Nuturang, ruang belajar yang berfokus soal isu-isu arkeologi, antropologi, dan sejarah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Overtourism dan Ketenangan di Desa Penglipuran