Setelah nonton film Pesta Babi, jujur saya merasa malu ketika pemerintah datang ke Papua dengan membawa wacana ketahanan pangan. Padahal, sebagian besar masyarakat Papua adalah kaum pemburu-pengumpul. Rasanya, lucu sekali saat negara yang kebingungan sendiri mengurusi pangan sok mengajarkan program ketahanan pangan kepada orang-orang Papua yang sudah mandiri pangan sejak lama. Tanpa bergantung pada kondisi tanah, pupuk, atau musim.
Jika mau membuka mata, sebenarnya negeri ini tidak hanya bergantung pada beras atau nasi saja, tetapi juga punya banyak sumber pangan lain, salah satunya singkong. Meskipun bukan tanaman asli Indonesia, singkong adalah sumber karbohidrat yang gampang dibudidayakan. Bayangkan saja, kita bisa memperbanyak pohon singkong hanya dengan memotong batangnya menjadi beberapa bagian, lalu menancapkannya ke tanah. Setiap batang itu akan tumbuh menjadi pohon singkong.
Karena budi daya yang mudah, harganya di pasaran juga termasuk murah. Selain itu, tak hanya umbinya saja yang bisa dimakan, daunnya juga bisa dijadikan aneka sayur.


Tape Singkong Khas Bondowoso
Salah satu olahan singkong yang terkenal dan enak adalah tape singkong. Bicara soal tape, nama Bondowoso mencuat menjadi yang pertama untuk diperhatikan. Tape singkong dan Bondowoso seperti dua hal yang tak dapat dipisahkan. Teringat tape, pasti teringat Bondowoso, begitu pun sebaliknya. Tape sudah menjadi sebuah oleh-oleh khas yang tak boleh kelupaan jika mengunjungi Bondowoso.
Awal mula Bondowoso dikenal sebagai Kota Tape bermula pada era sekitar tahun 1970-an. Singkong dari Kecamatan Tamanan, yang ciri khasnya memiliki kadar air yang sedikit, mulai diolah menjadi tape oleh pedagang di pasar. Salah satu pionirnya adalah Tape 31. Jenama Tape 31 diambil dari nomor rumah sang pemilik.
Produk tapenya mulai dipasarkan sejak 1978, lalu viral pada tahun 1980. Popularitas inilah inilah yang memicu produksi tape semakin meningkat di Bondowoso seiring banyaknya produsen tape lain.
Tape singkong Bondowoso memiliki perbedaan dengan peuyeum. Meskipun saya tidak pernah makan peuyeum, menurut mereka yang sudah pernah makan peuyeum memiliki tekstur yang lebih padat dan kering, sedangkan tape lebih lembek dan manis. Selain itu, tape Bondowoso memiliki cita rasa legit, keset, dan aroma yang khas.
Jika kalian berkunjung ke Bondowoso, begitu memasuki wilayah kota, di pinggir jalan akan banyak ditemukan para penjual tape. Selain di wilayah kota, penjual tape juga banyak ditemui di Pasar Wringin yang terletak di rute menuju ke Besuki, Situbondo.


Kebanyakan para penjual itu menjual tape dengan bungkusan daun pisang sebagai kemasan bagian dalam, lalu dibungkus lagi dengan besek bambu sehingga ramah lingkungan. Selain itu, tingginya kandungan karbohidrat dalam tape bisa menjadikan tape sebagai salah satu alternatif pangan pengganti nasi.
Jangan dibayangkan tape bisa dimakan dengan lauk rendang seperti nasi. Jelas tidak masuk dan bakal aneh rasanya. Namun, kalau dilihat dari manfaat untuk memenuhi kebutuhan energi per harinya, tentu tape bisa menjadi salah satu makanan alternatif untuk memenuhi kebutuhan itu.
Tak hanya menjual tape singkong biasa, mereka juga menjual tape bakar. Memang terlihat sebagai inovasi yang sederhana. Hanya membungkus dan membakar tape yang telah matang satu per satu dengan daun pisang, lalu membakarnya di atas arang. Akan tetapi, siapa sangka, inovasi sederhana itu mampu membuat rasa dan nilai jual tape meningkat.
Secara rasa, teksturnya menjadi lebih padat, lebih manis, dan ada aroma asap yang bikin ketagihan. Jujur, saat menulis ini, air liur saya menetes membayangkan memakan sepotong tape bakar yang masih hangat. Rasa manis dan berasapnya langsung lumer memenuhi rongga mulut. Sayang, perjalanan dari rumah ke Bondowoso cukup jauh, bisa memakan waktu 1,5–2 jam dengan mengendarai motor.


Identitas yang Mulai Terlupakan
Untuk menegaskan identitasnya sebagai Kota Tape, Pemerintah Kabupaten Bondowoso juga membangun Tugu Tape. Tugu ini berbentuk tangan yang menjunjung tinggi sebuah besek bambu berisi tape.
Tugu itu memang tampak gagah dan menjulang, tapi di waktu bersamaan tampak kesepian. Seolah telanjur dibangun dan tidak menyisakan kebanggaan. Jika berkaca pada teman-teman saya yang orang asli Bondowoso, agaknya banyak di antaranya yang berkecil hati dengan julukan kota kelahiran mereka itu.
Padahal jika mau dikembangkan, tape bisa menjadi berbagai produk olahan lainnya, seperti prol tape dan suwar-suwir. Ironisnya, kedua produk ini lebih dikenal sebagai makanan khas Jember daripada Bondowoso yang merupakan pusat bahan bakunya.
Stigma tentang pembuat tape yang disebut pekerjaan tradisional adalah adalah salah satu penyebab pemuda Bondowoso enggan meneruskan profesi ini. Seperti halnya anak muda pada umumnya, yang terkadang lebih mementingkan penampilan dan citra keren daripada hasil yang pasti dalam membuka usaha.
Selain itu, dalam pencarian di internet saya menemukan berita, salah satu penyebab keengganan pemuda Bondowoso untuk meneruskan usaha pembuatan tape adalah kelangkaan dan mahalnya harga bahan baku. Namun, beberapa waktu lalu saat berselancar di Instagram, saya menemukan sebuah video yang bertentangan dengan hal itu.
Dalam video tersebut, seorang petani singkong wanita mengeluhkan harga singkong yang sangat murah, dia bahkan sampai meminta pemerintah untuk menstabilkan harga singkong. Namun, mengapa singkong yang berharga murah dari petani bisa mahal saat sampai di tangan konsumen?




Mungkin, karena adanya tengkulak yang menghubungkan petani dengan konsumen. Profesi tengkulak memang sangat penting bagi petani agar bisa memasarkan produk pertaniannya. Namun, di sisi lain, sering kali tengkulak mematok harga yang sangat murah saat mengambil dari petani dengan alasan harga pasaran sedang murah. Saat tiba di pasar, para tengkulak menjual kembali dengan harga lebih tinggi kepada para penjual, dengan alasan harga jual dari petani mahal.
Ini menjadi salah satu faktor mangapa petani susah sejahtera meskipun harga produk pertaniannya sedang mahal di pasaran. Di satu sisi, para produsen tape menjerit karena harga bahan baku tinggi.
Indonesia belum memiliki pasar yang memungkinkan para petani menjual langsung produknya kepada konsumen, seperti halnya di Eropa. Sebut saja Farmer’s Market di Inggris dan Bauernmarkt di Jerman dan Austria. Tentu, pasar itu tak berlangsung setiap hari. Namun, setidaknya jika diterapkan di Indonesia, para petani kita bisa sedikit mendapat penghasilan yang layak. Sebab, mereka bisa menentukan harga dan para konsumen juga bisa mendapat harga lebih rendah daripada harga pasaran.
Sayang, tampaknya para pemangku kekuasaan dan pembuat kebijakan kita enggan untuk memikirkan hal itu.
Referensi
Bappeda Jatim. (2013, 4 Oktober). Fermented of Cassava Bondowoso Manisnya Sampai Belanda. https://bappeda.jatimprov.go.id/2013/10/04/fermented-of-cassava-bondowoso-manisnya-sampai-belanda/.
Wahyudi, I. (2026, 2 Juni). Kini Terjepit Harga Bahan Baku, Nasib Tape Bondowoso Bikin Dilema Pengusaha. Radar Jember, https://radarjember.jawapos.com/bondowoso/2606020019/kini-terjepit-harga-bahan-baku-nasib-tape-bondowoso-bikin-dilema-pengusaha.
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Sigit Candra Lesmana, kelahiran Jember, 12 Maret 1992. Penulis lepas, beberapa tulisannya tersebar di berbagai media cetak maupun digital. Aktif berkegiatan di FLP Jember dan Prosatujuh. Dapat dihubungi melalui [email protected]


