TRAVELOG

Lukisan Purba di Kepala Haeruddin

Sejumlah anak sedang berenang di sebuah kolam depan Leang Kassi, salah satu situs gua purbakala yang menyimpan lukisan cadas dalam kawasan karst Kampung Belae. Leang Kassi merupakan satu dari dua situs gua yang menjadi tanggung jawab Haeruddin, juru pelihara situs. Situs gua yang satunya bernama Leang Kajuara, berjarak sekitar 400 meter.

Menjumpai Haeruddin cukup mudah. Begitu berkunjung ke Kampung Belae dan menanyakan namanya, bisa dipastikan warga sudah mengenalnya dengan baik. 

Kantor para penjaga gua prasejarah di Pangkep berada di Kampung Belae, yang dikenal Rumah Informasi Balai Cagar Budaya. Saban pagi di hari kerja, Haeruddin dan penjaga gua lainnya akan berjumpa di sana untuk melakukan presensi, bercengkerama, dan bertukar informasi sebelum menuju lokasi situs gua masing-masing.

Anak-anak kerap berenang di kolam depan Leang Kassi (F Daus AR)
Anak-anak kerap berenang di kolam depan Leang Kassi/F Daus AR

Pewarisan Ingatan

Ayahnya, Ambo Kebo, dulu juga seorang juru pelihara gua purbakala. Sejak kecil Haeruddin kerap menemani ayahnya menyusuri sejumlah gua yang ada di Kampung Belae.

Setelah ayahnya pensiun, ia mulai mengambil peran dan melanjutkan tugas. Namanya tercatat sebagai tenaga honorer di Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sulawesi Selatan1 pada tahun 1982–1984, karena tahun 1985 tidak ada kelanjutan kontrak. Barulah di tahun 1993 kembali dibuka pintu tenaga honorer dan terangkat menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) tahun 2006.

Kini, Heruddin berusia 58 tahun2 dan sesaat lagi memasuki masa pensiun. Selama menjalani profesi sebagai juru pelihara gua yang menyimpan lukisan purba, ia telah kenyang dengan beragam tantangan. Utamanya tentang melakukan advokasi penyadaran kepada warga mengenai keberadaan gua-gua di Kampung Belae yang dilindungi.

“Menjadi penjaga situs bagi saya jangan terlalu keras dan jangan juga terlalu lembek,” ucapnya.

Papan informasi seputar situs purbakala di depan Rumah Informasi di Kampung Belae/F Daus AR
Papan informasi seputar situs purbakala di depan Rumah Informasi di Kampung Belae/F Daus AR

Ia pernah dimintai keterangan oleh pimpinan di kantornya. Saat itu, ada warga yang membangun warung tenda di depan Leang Kassi. Pasalnya, aktivitas warung dan pelanggan di warung itu sangat dekat dengan kawasan gua. Kekhawatiran adanya tindakan vandalisme di area gua yang dapat merusak situs menjadi alasan utama.

Haeruddin menerangkan, jika ia sendiri mengalami dilema. Menurutnya, ia bisa saja meminta warga itu berhenti atau memindahkan warungnya. Akan tetapi, ia tak cukup punya alasan secara legal karena tanah yang ditempati bukanlah area wilayah gua. Warga itu membangun warung di atas tanahnya sendiri.

Haeruddin memahami jika Daeng Ola, pemilik warung yang ia kenal baik, erat kaitannya dengan keberadaan kolam yang dialiri air langsung dari bukit karst, yang menjadi daya tarik orang-orang datang berenang. Daeng Ola memperoleh penghasilan dari pengunjung dengan menjual gorengan dan minuman seduh.

Berkaitan dengan itu pula, kekhawatiran unsur pimpinan di kantor Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Selatan juga dipahami dengan baik oleh Haeruddin. Anak-anak, termasuk pengunjung dari luar Kampung Belae, kerap datang berenang di akhir pekan. Aktivitas mereka tidak terkontrol dan merangsek masuk ke area leang tanpa izin. Misalnya, area gua dijadikan tempat untuk ganti baju atau pacaran muda-mudi.

Namun, Haeruddin punya solusi lain. Kepada Daeng Ola, Haeruddin menyampaikan, gua yang dijaganya itu dilindungi oleh pemerintah. Warga juga punya hak untuk membantu pemerintah dalam menjaga dan melestarikan jejak manusia zaman dulu yang tersimpan di dalam gua.

Pendekatan dialog Haeruddin menjadi kunci. Ia menyadari kalau tidak semua warga di Kampung Belae memahami peran dan fungsi dari sebaran lukisan purba di sejumlah gua.

Pengunjung di warung tenda milik warga di depan Leang Kassi tahun 2023 (F Daus AR)
Pengunjung di warung tenda milik warga di depan Leang Kassi tahun 2023/F Daus AR

Tantangan selama Bertugas

Kampung Belae terletak di Kelurahan Biraeng, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Di kawasan ini terdapat 27 titik situs prasejarah yang tersebar di gugusan karst. Setiap situs memiliki tinggalan arkeologi yang variatif, seperti gambar tangan, fauna, ikan, figur manusia, geometris, alat batu, fragmen tulang, moluska, sampah dapur, dan fragmen gerabah.

Kekayaan situs prasejarah di Kampung Belae menjadikannya sebagai kawasan geosite dalam taman bumi (Geopark) Maros-Pangkep. Haeruddin hanya salah seorang yang mengemban tugas menjaga area situs.

Area situs, yang berada di tepi jalan yang mudah dijangkau dan saban hari dilintasi warga, menjadi tantangan tersendiri baginya. Namun, dengan pendekatan dialog yang diterapkan, Haeruddin mendapat respek dari warga. Ia juga dianggap sebagai tokoh masyarakat Kampung Belae, sehingga pengaruhnya memiliki dampak langsung ke warga.

“Bulan Desember tahun 2023 ini saya sudah pensiun,” ucapnya. Jika dihitung, Haeruddin telah mengabdikan dirinya sebagai juru pelihara situs selama 32 tahun.

Sembari menjalani profesi sunyi ini, ia tetap bertani untuk mencukupi kebutuhan sandang dan papan keluarganya. Haeruddin menikah dengan Hasna dan dikaruniai delapan anak—tiga di antaranya meninggal.

Ady Supriadi, anak tertua, mengenang perjuangan ayahnya yang gigih agar anaknya tetap mendapat jaminan pendidikan. Ady masih mengingat betul masa-masa ketika bapaknya bekerja keras memenuhi kebutuhan pendidikan anaknya, dengan berjualan es keliling menggunakan becak.

“Hingga saya menyelesaikan jenjang sarjana, bapak masih tenaga honorer,” terang Ady. 

Ady mengingat pesan bapaknya, yang mendorong agar anak-anaknya tidak malu menjalani profesi, yang mungkin di mata orang dianggap pekerjaan rendahan.

“Jalani saja selama itu baik untuk diri sendiri dan tidak merugikan orang lain,” Ady menirukan pesan bapaknya yang selalu diucapkan di hadapan anak-anaknya.

Potret Pak Haeruddin tahun 2023 (kiri) dan aktivitas Pak Haeruddin saat monitoring di dalam kesunyian gua/F Daus AR

Profesi Sunyi

Jangan bayangkan Haeruddin saban pagi mengenakan setelan pakaian dinas lengkap dengan sepatu hitam mengkilap. Jangan bayangkan pula di Rumah Informasi ada ruang khusus penjaga gua lengkap dengan meja dan kursi.

Sebaliknya, para juru pelihara seperti Haeruddin akan melakoni pekerjaan yang sunyi. Ia seperti berdialog dengan dirinya sendiri di tengah kesunyian gua. Pekerjaan mereka tidak membutuhkan interaksi yang ramai. Tidak ada kawan bicara layaknya melakoni sebuah pekerjaan pada umumnya. Mungkin ini yang membuat orang menganggap juru pelihara situs merupakan profesi yang agak aneh dan asing. Saat-saat seperti itulah Haeruddin terkadang mencoba menangkap aktivitas manusia yang mendiami gua di tapak ribuan tahun lampau.

Ia menyimpan hipotesisnya sendiri mengenai jenis lukisan yang ada di tiap gua, mengapa di leang ini lukisan berupa tangan dan di gua yang lain ada gambar rusa. Juga tentang warna lukisan, ada yang hitam dan kekuningan. Sebagai orang yang tidak menempuh pendidikan formal ilmu arkeologi, beberapa kepingan jawaban baru ia dengarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan. Ia mencuri dengar informasi yang disampaikan dalam percakapan ketika menemani para peneliti melakukan eksplorasi lanjutan.

Hal lain yang diakuinya ialah, sejauh menjalani profesinya jarang mendapat pengalaman mistik. “Niat kita kan ingin menjaga, bukan merusak,” ucapnya.

Namun, Haeruddin kerap mendengar cerita sejawatnya sesama juru pelihara, ketika sedang bercengkerama di Rumah Informasi. Kisah Amir, misalnya, juru pelihara Bulu Sipong 4. Amir pernah mengisahkan mengenai gejala mistik yang bakal tampak di area situs yang dijaganya. Katanya, jika sudah tercium aroma amis, maka pertanda ada penampakan makhluk halus.

Bagi Haeruddin, ia juga meyakini adanya entitas makhluk tak kasatmata. Ia menganggap biasa saja dan tak perlu khawatir karena di tempat mana pun pasti ada.

“Intinya kembali ke diri kita, bagaimana menyikapinya. Bagi saya, selama niat kita baik, maka hal seperti itu akan berlalu begitu saja,” tanggapnya.

Beberapa contoh lukisan purba di dinding gua Leang Kassi/F Daus AR

Pada satu kesempatan, ketika ada orang yang ingin melihat lukisan, Haeruddin menunjukkan lokasi lukisan cadas yang menempel di dinding atau langit gua. Ia juga menerangkan, laju kerusakan lukisan purba tak terhindarkan. Sejauh yang bisa dilakukan adalah tetap menjaganya dari gangguan langsung, seperti vandalisme.

Serakan dedaunan yang berguguran di area situs tak boleh dibakar karena asap pembakaran dapat memengaruhi ketahanan lukisan. “Sampah-sampah itu saya kumpul saja lalu dibuang,” tukasnya.

Ia mampu menjelaskan dan mengingat tinggalan artefak di setiap gua, baik yang menjadi area tugasnya maupun situs gua yang dijaga juru pelihara lain. Ini tentu wajar mengingat sejak kecil ia telah menemani ayahnya mengunjungi area situs yang ada di Kampung Belae.

Mentalitas dan kesadaran akan warisan prasejarah itu kini juga mulai menurun ke Ady. Anak sulungnya itu malah mampu mengembangkan hipotesis tersendiri di luar nalar penelitian akademis. Ady mampu menarasikan hipotesis relasi sebaran lukisan purba dari beberapa gua3.

Sejak kecil, Ady juga sering mengikuti bapaknya dan berjumpa dengan peneliti, baik dari dalam atau luar negeri yang datang ke Kampung Belae. Meski Ady tidak mengikuti ayahnya sebagai juru pelihara situs, ia dikenal baik di lingkungan para penjaga situs.

“Saya ini memang sudah tua, akan tetapi kalau masih diminta kesediaan menjaga situs tentu saya sanggupi,” ucap Haeruddin.

Kini hari-hari yang dijalani Haeruddin menjelang masa pensiun tetap sama seperti biasanya. Pagi hari bertandang ke Rumah Informasi dahulu, sebelum menengok dua leang yang diamanahkan kepadanya untuk dirawat.


  1. Pada tahun 2023 berganti menjadi Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX. Di tahun 2026 berubah lagi menjadi Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Selatan. ↩︎
  2. Wawancara dilakukan di tahun 2023, kini Haeruddin telah pensiun. ↩︎
  3. Simak dokumenter Ady Supriadi mengenai hipotesanya mengenai teka-teki lukisan purba di Kampung Belae di tautan: https://www.youtube.com/watch?v=NjOTthhOz3M. ↩︎

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

F Daus AR

F Daus AR terlibat kerja apa saja. Kontributor di sejumlah buku, seperti "Menarasikan Indonesia" (New Naratif-Insist Press: 2021) dan yang terbaru "Hanya Ada Babak, Tidak Ada Panggung" (Yayasan Makassar Biennale-Tanahindie: 2024). Berkhidmat di Rumah Saraung, ruang komunitas yang mendorong transformasi sosial anak muda di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan. Sila berkunjung ruang maya kami di rumahsaraung.com.

F Daus AR

F Daus AR terlibat kerja apa saja. Kontributor di sejumlah buku, seperti "Menarasikan Indonesia" (New Naratif-Insist Press: 2021) dan yang terbaru "Hanya Ada Babak, Tidak Ada Panggung" (Yayasan Makassar Biennale-Tanahindie: 2024). Berkhidmat di Rumah Saraung, ruang komunitas yang mendorong transformasi sosial anak muda di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan. Sila berkunjung ruang maya kami di rumahsaraung.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
3 Destinasi Wisata yang Wajib Dikunjungi di Kampung Merabu Kalimantan Timur