TRAVELOG

Mengapa Pasar Klitikan Legen Klaten Masih Bertahan sampai Sekarang?

Masih pagi, baru aja sampai di pintu masuk, sudah disambut hal unik saja.

“Dibeli, Mas. Korek cuma lima ribu dapat empat. Monggo-monggo, Mas!” lontar seorang pedagang.

Tentu itu mengherankan bagiku dan temanku—Luthfi namanya—sewaktu mau masuk ke pasar klitikan, yang lebih dikenal dengan nama Pasar Legen di Bonyokan, Jatinom, Klaten (14/5/26). Murah sekali. Biasanya korek di warung-warung dijual Rp2.500 per buahnya, batinku.

Itu adalah suatu tiba-tiba yang mengagetkan kami, setelah sebelumnya saat perjalanan dari Boyolali terkena musibah. Motor kami terpeleset oli tumpahan di tikungan jalan yang membuat jaket Luthfi sampai sobek. Sialan! Tapi, malah menjadi mengasyikkan. Mungkin peribahasa “sudah jatuh tertimpa tangga” perlu saya ubah, karena setelah kena musibah malah dapat rezeki harga korek murah, ha-ha-ha.

Lantas aku pun langsung membeli. Lumayan, untuk merokok bisa awet lama. Walaupun kadang korek jadi incaran teman saat di tongkrongan. Setidaknya, masih ada tiga simpanan penggantinya.

Setelah empat korek berhasil masuk ke sakuku, kini aku semakin percaya diri, seolah membayangkan diri sebagai orang terkaya saat di tongkrongan. Kepercayaan diri itu juga terbawa ketika aku akan segera melanjutkan perjalanan. Dengan penuh antusias dan badan yang tegap, kami pun segera melangkahkan kaki dengan mantap untuk mengitari pasar.

Pedagang korek di depan pintu masuk utara Pasar Klitikan Bonyokan (Danang Nugroho)
Pedagang korek di depan pintu masuk utara Pasar Klitikan Bonyokan/Danang Nugroho

Mengitari Pasar Klitikan Bonyokan

Lapangan tampak sesak, hamparan tanah dipenuhi lapak para pedagang yang begitu banyak. Terik matahari pagi yang mendekati siang itu tak menguburkan semangat mereka. Kami pun segera memulai dari bagian tengah.

Bagian tengah dipenuhi lapak para pedagang yang menjual perabotan rumah tangga, ada sikat, sarung tangan, asbak, spons, perkakas, dan alat-alat pertanian. Tak hanya itu, ada juga aksesoris untuk fashion pengunjung, yakni kacamata dan sandal. Namun, itu masih terlalu sedikit jika digunakan sebagai aksesoris. Untuk melengkapi fashion agar terlihat kalcer, perlulah para pengunjung itu menjelajah ke pasar bagian timur.

Namun, sebelum ke sana, aku yang membawa empat korek ini, dengan kepercayaan diri yang begitu mantap, terpikat oleh salah seorang pedagang yang jualan pipa rokok. Sepertinya ini pilihan yang tepat untuk melengkapi paket sebatku, batinku.

Lantas, aku lekas menghampiri lapak itu bersama Luthfi. Harganya bervariasi, dari Rp30.000—100.000-an yang berbahan kayu, hingga Rp300.000-an yang berbahan tulang. Aku lebih tertarik pada pipa kecil yang berbahan kayu, lebih ringan, dan selain itu juga efisien jika dipakai buat sebat sambil mabar MOBA dengan teman.

Dengan tawar-menawar yang begitu alot, dari yang mulanya Rp35.000, aku dapat mencapai kesepakatan dengan harga Rp20.000. Lumayan, kepotong Rp15.000. 

Lucunya, aku melihat Luthfi menyeringai. Lalu kujawab dengan mata kedip satu. Lantas, setelah itu, kami pun pamit pergi melanjutkan perjalanan. Dengan suara perlahan, “Rezeki wes ono sing ngatur, lik!” kelakarku pada Luthfi.

Lalu kami ke pasar sebelah timur, area yang memiliki peneduh tersendiri dari baja ringan dan galvalum. Aneka pakaian dijual di situ. Cocok sekali untuk melengkapi fashion kacamata dan sandal jika sudah dibeli di pasar bagian tengah. Tak hanya itu, jika menjelang lebaran tiba, tentu pasar klitikan bagian timur ini menjadi solusi untuk memenuhi salah satu kebutuhan primer manusia, yakni pakaian.

Luthfi berjalan di antara lapak pakaian di bagian timur pasar (Danang Nugroho)
Luthfi berjalan di antara lapak pakaian di bagian timur pasar/Danang Nugroho

Berlanjut, kami lekas berjalan ke bagian barat. Banyak sekali yang dijual di sini. Ada sepeda ontel, berbagai macam onderdil kendaraan, dan alat-alat elektronik bekas. Di sebelah barat bagian selatan, kami juga menemui pintu masuk, ternyata ada dua akses jalannya.

Sepelemparan batu dari pintu itu, kami menemui salah seorang pedagang perabot keliling yang terkenal dengan gaya penjualannya, yakni Lasono, atau yang akrab dikenal dengan nama Pak Cemplon. 

Gayanya unik dan lucu, tak heran banyak yang berdatangan ke lapaknya. Jualannya dengan cara menunjukkan dan memberi harga termahal pada suatu barang. Kemudian, harga akan semakin diturunkan hingga ada yang minat. Para pembeli yang mengelilinginya, tentu akan menunggu harga terendah dulu kemudian rebutan membelinya. Begitulah penjualan Pak Cemplon dari barang satu ke barang-barang lainnya. Saking uniknya, sampai-sampai viral dan berseliweran di media sosial.

Seusai melihat tingkah unik Pak Cemplon, azan Zuhur berkumandang. Beberapa lapak sudah mulai menggulung tikar. Tersadar sudah pada akan pulang, kami pun bergegas ke parkiran dan akan mempersiapkan diri balik ke kampung halaman.

Namun, ini yang sering terjadi dalam hidupku, jika sudah akan pulang dari suatu tongkrongan atau kunjungan, ada-ada saja obrolan yang mengasyikkan. Kami bertemu Pak Pri Suprapto, penjaga parkir pintu masuk utara. Di situlah banyak hal tentang Pasar Klitikan Legen diceritakan.

Potret Pak Cemplon yang sedang berjualan dikerumuni banyak orang (kiri) dan lapak onderdil di bagian barat pasar/Danang Nugroho

Eksistensi Pasar yang Tak Lekang oleh Zaman

Dewasa ini, jual beli online semakin masif. Namun, eksistensi Pasar Klitikan Legen ini, masih bertahan. Bertahannya pasar, didasari oleh banyak kemungkinan—bisa salah, bisa benar.

Pertama, pasar hanya buka ketika pasaran Legi saja dalam penanggalan Jawa, dan pasaran itu hanya terjadi lim hari sekali. Itu juga yang membuat nama pasar klitikan terkenal dengan nama Pasar Legen (Legi). 

“Ini pasarnya buka pasaran Legi aja, Mas. Selain itu nggak ada pedagang. Bukanya pun juga cuma sebentar, dari jam 7-an sampai Zuhur,” ungkap Pak Pri.

Namun, selain pasar klitikan, masih ada pasar lain yang buka pada pasaran Legi juga, yakni pasar sapi dan pasar burung. Maka dari itu, sebenarnya, Pasar Legen di sini tidak hanya mengacu pada klitikannya saja, tetapi juga mencakup pasar sapi dan burung juga.

Kedua, barang-barang di sini belum tentu ada di e-commerce (lokapasar). Barang di Pasar Klitikan Legen, tergolong unik, karena menghadirkan berbagai kebutuhan pasar. Dari barang baru hingga bekas, dari kebutuhan anak-anak hingga dewasa. Jika barang baru, mungkin itu bisa disaingi lokapasar. Namun, jika barang bekas tapi masih layak, tentu akan sulit disaingi. Sebab, kebanyakan lokapasar hanya menjual barang baru.

Pintu masuk pasar di bagian selatan (Danang Nugroho)
Pintu masuk pasar di bagian selatan/Danang Nugroho

Ketiga, barang yang murah dan berkualitas. Di Pasar Klitikan Legen, barang-barang memang murah, tetapi tidak murahan. Masih banyak barang baru juga. Untuk barang bekas, itu juga masih bagus dan bisa digunakan. Selain itu, barang-barang bekas itu juga bisa direparasi atau restorasi juga menjadi barang yang lebih mahal. Harganya menyesuaikan barangnya apa.

Keempat, interaksi secara langsung dengan pedagang. Nuansa transaksi dan negosiasi di Pasar Klitikan Legen ini dengan lokapasar tentu berbeda. Malah terkadang, jika tanya-tanya toko di lokapasar, yang jawab malah robot (AI). Berbeda dengan di sini, transaksi dan negosiasi bisa dirasakan langsung pembeli dengan penjual. Mungkin, sensasi seperti gontok-gontokan, alot-alotan harga barang, suara yang gemetar, serta trik-trik jitu dapat harga murah saat negosiasi lebih bisa dirasakan di sini secara langsung.

Itulah beberapa kemungkinan yang membuat Pasar Legen Klitikan masih eksis hingga kini. Namun, aku tak menyangkal kalau bakalan ada kemungkinan lain, karena eksisnya pasar ini tentu banyak sekali faktor-faktor yang memengaruhinya, tidak hanya keempat kemungkinan itu saja.

Lapak sepeda ontel antik (Danang Nugroho)
Lapak sepeda ontel antik/Danang Nugroho

Mengapa Pasar Klitikan Legen Bisa Ada?

“Dulunya cuma lapangan sini, Mas. Pedagangnya sedikit, cuma jual pakaian, sepeda ontel, sama kunci dan gembok saja,” ungkap Pak Pri.

Pasar ini muncul sekira awal 2006-an. Pemerintah Desa Bonyokan menata para pedagang untuk berjualan di tepian lapangan. Dengan tujuan agar lapangan tetap terawat dan masih bisa digunakan untuk olahraga.

Namun, berbeda dengan sekarang. Lapangan itu, bukan hanya bagian tepian saja, bagian tengah pun sudah tampak sesak oleh para pedagang. Lapangannya yang semula untuk kegiatan olahraga pun juga dialihkan ke utara pasar seberang jalan. Menandakan animo masyarakat untuk menjadikan tempat itu sebagai lahan khusus Pasar Klitikan Legen sangat tinggi.

“Itu pedagangnya makin bertambah terus, Mas. Bayar sewa juga,” ungkap Pak Pri. 

Katanya, pedagangnya tidak hanya dari Klaten saja, tetapi juga wilayah tetangga, seperti Boyolali, Sukoharjo, dan Surakarta.

Pedagang dan pengunjung yang datang dari luar Klaten begitu antusias dan banyak sekali. Pantas saja sejak pagi keramaian menyumut di pasar sangat terasa. Namun, kini, suara sahut-sahutan mereka kian lirih, menandakan hampir sedikit lagi sudah tak ada orang yang jualan. Lantas aku dan Luthfi segera memungkasi obrolan dengan Pak Pri.

“Terima kasih banyak informasinya, Pak. Kami pamit pulang dulu,” pungkasku.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Danang Nugroho

Danang Nugroho, lahir 2004 di Boyolali. Kini sedang menempuh pendidikan di Jogja. Suka berkelana serta menikmatinya. Dapat dihubungi via instagram @danang.kulo_real atau email [email protected].

Danang Nugroho

Danang Nugroho, lahir 2004 di Boyolali. Kini sedang menempuh pendidikan di Jogja. Suka berkelana serta menikmatinya. Dapat dihubungi via instagram @danang.kulo_real atau email [email protected].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Kampung Lele Boyolali: Pagar Sawah yang Berdampak Besar bagi Warganya