TRAVELOG

Menelusuri Jejak Aliran Sungai Bengawan Solo Lawas di Perbatasan Sukoharjo-Klaten

Ekspedisi kali ini berada di perbatasan Kampung Sonorejo di Kabupaten Sukoharjo dan Kampung Sidowarno di Kabupaten Klaten, guna melacak jejak Sungai Bengawan Solo kuno yang memisahkan kedua kampung lawas tersebut. Lanskap kedua kampung layaknya kampung sekitar pada umumnya. 

Namun, jika dilihat melalui citra peta satelit, tampak dua aliran Bengawan Solo masing-masing lurus dan berkelok memisahkan kedua kampung. Aliran Bengawan lawas memiliki bentang alami berkelok-kelok, yang meski kini masih terlihat, hanya saja sudah kering hingga sebagian areal dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. 

Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan Bengawan baru, yang beraliran deras dengan bentang alami yang lurus dan lebar. Pesanggrahan Langenharjo di Kabupaten Sukoharjo, menjadi titik awal penelusuran saya bersama Heri Priyatmoko. 

Jembatan perbatasan Sidowarno (Klaten) dan Sonorejo (Sukoharjo) di atas Sungai Bengawan lawas (Ibnu Rustamadji)
Jembatan perbatasan Sidowarno (Klaten) dan Sonorejo (Sukoharjo) di atas Sungai Bengawan lawas/Ibnu Rustamadji

Tiga Banjir Besar Pengubah Aliran Sungai Bengawan Solo

Bukaan sempadan sungai lawas memiliki alur berkelok, menjadi pertanda khusus eksistensi sungai Bengawan tempo dulu. Menurut Heri Priyatmoko, penyebab pelurusan aliran Bengawan lawas adalah tiga banjir besar yang terjadi pada abad ke-18 hingga pertengahan abad ke-19, serta kerusakan hutan di hulu sungai yang puncaknya terjadi pada tahun 1966. 

Ia menambahkan, kerusakan sudah terjadi sejak pemerintah kolonial Belanda di Kota Surakarta menjalankan kebijakan cultuurstelsel. Akibatnya, hutan di hulu Bengawan lawas dibuka sebagai perkebunan oleh perusahaan Belanda maupun masyarakat, yang menimbulkan dampak luar biasa.

Seperti banjir dan longsor di Aceh lalu yang disebabkan pembalakan liar di hulu, tentu memicu bencana yang tidak terduga. Begitu pun yang terjadi di Bengawan lawas. Seiring bertambahnya debit air dan tumpukan sampah dari hulu yang hanyut, tentu ketinggian air meningkat dan membuat tanggul rapuh dan bisa jebol kapan saja.

Tanggul tanah yang dipadatkan tetap jebol jika tidak kuat menahan tinggi muka dan derasnya arus air. Konsekuensinya, wilayah rendah menjadi korban. Seluruh Kota Surakarta kebanjiran karena posisinya yang lebih rendah dari Bengawan. Hal ini sesuai dengan narasi Heri mengenai masa lalu Kota Surakarta yang awalnya adalah rawa di Desa Sala (Solo dalam pelafalan bahasa Jawa sekaligus singkatan penyebutan Surakarta), yang kemudian ditimbun oleh Keraton Kartasura untuk didirikan Keraton Kasunanan Surakarta.

“Rawa ditimbun, jalur air hanya Bengawan lawas ini. Disusul tiga banjir besar. Kehancuran parah akibat itulah salah satu pertimbangan diluruskannya Bengawan lawas,” ungkapnya.

Akibat banjir, Bengawan lawas akhirnya diluruskan oleh Pemerintah Kota Surakarta, bekerja sama dengan Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Klaten sebagai pemangku wilayah sungai pada tahun 1980–1990. Hal tersebut akibat dari banjir besar tahun 1966 dengan ketinggian sekitar empat meter, hampir menyamai tinggi air banjir di Kota Surakarta tahun 1861.

Batas ketinggian air banjir tahun 1861 diabadikan dengan prasasti batu marmer di sisi kiri gerbang depan Benteng Vastenburg. “Hoogste Waterstand op den 24 Februari 1861”, yang artinya “Batas Ketinggian Air (banjir) pada 24 Februari 1861”. Dahsyatnya bencana tersebut diabadikan dalam lukisan oleh Raden Saleh, yang diberi judul Schilderij van de watersnood te Solo in 1861.

Kabar banjir besar 23 Februari 1861 dari Sabtu pagi hingga Minggu pagi tersebut, tertuang dalam surat telegram di surat kabar De Oostpost: letterkundig, wetenschappelijk en commercieel nieuws-en advertentieblad tanggal 15 Maret 1861. Selain itu juga dikabarkan melalui surat kabar Semarangsch Advertentie-Blad, Vrijdag, 1 Maart 1861, No. 9.

Sebagai konsekuensi pelurusan, banyak lahan permukiman turut terdampak. Pesanggrahan Langenhardjo menjadi salah satu kawasan yang terdampak dengan kehilangan sekitar 40% lahan, termasuk pohon beringin kembar di halaman depan. Tanggul sungai Bengawan baru setinggi tiga meter di depan pesanggrahan merupakan saksi megaproyek pelurusan sungai Bengawan lawas.

Prasasti batas ketinggian banjir 1861 di Benteng Vastenburg (Ibnu Rustamadji)
Prasasti batas ketinggian banjir 1861 di Benteng Vastenburg/Ibnu Rustamadji

Megaproyek dan Ancaman Bencana yang Mengintai

Pelurusan aliran sungai tentu menyisakan pekerjaan rumah yang tidak mudah untuk diselesaikan. Selain memicu bencana lain, juga merusak ekosistem alami sungai dan daerah aliran sungai (DAS) sekitarnya. Satu bencana yang hampir setiap tahun terjadi yakni banjir dan kerusakan perlahan tanggul penahan tepi Bengawan baru.

Selain itu, pencemaran limbah cair dari industri tekstil, peternakan, rumah tangga, dan industri alkohol di hulu Bengawan lawas turut memperburuk dan mempercepat munculnya bencana selain banjir. Bencana tersebut datang secara perlahan, mengikuti zaman dan gaya hidup masyarakat hulu dan hilir Bengawan. 

Semakin tidak terkendalinya kebiasaan buruk masyarakat, tentu semakin mempercepat datangnya bencana. Ibarat bom waktu, yang suatu saat bisa meledak dan menghancurkan apa pun di sekitarnya. Aliran Bengawan baru sekarang mulai kembali mengalir ke Bengawan lawas. Aneh jika terdapat aliran air, tetapi tidak diketahui di mana hulunya. 

Setelah kami telusuri, hulu aliran air di Bengawan lawas berada di Sidowarno, Klaten. Meski alirannya tidak terlalu deras, tetapi jika terus-menerus tentu akan kembali menghidupkan Bengawan lawas. Kami menduga aliran tersebut berupaya mengambil dan menghidupkan kembali aliran Bengawan lawas.

Aliran Bengawan lawas dari selatan di sisi Kampung Sonorejo, Sukoharjo (kiri) dan di sisi Kampung Sidowarno, Klaten/Ibnu Rustamadji

Meski begitu, sebagian aliran Bengawan lawas kini telah beralih fungsi sebagai lahan pertanian, hunian, pergudangan, dan lapangan sepak bola. Bencana kecil, jika tidak diantisipasi sejak awal tentu berbahaya. Tidak jauh dari kedua sungai, terdapat kampung lawas Telukan, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, yang sering terkena banjir luapan kedua Bengawan sejak abad ke-18. 

“Seperti namanya, Telukan, kepanjangan dari kata teluk yang artinya cekungan. Bisa kamu lihat di sekitar pasar hingga SPBU Telukan, posisinya lebih tinggi dari kampung di seberangnya yang dekat Bengawan lawas. Setiap tahun banjir dan lama surutnya,” jelasnya.

Ia menduga, Telukan dahulunya cekungan sebagai kolam retensi atau banjir kanal Bengawan lawas untuk mengendalikan debit air. Namun, hal tersebut menurutnya masih perlu kajian mendalam terutama mengenai masa lalu Telukan. 

“Mungkin dulunya, Telukan ini rawa seperti Kedung Lumbu (tempat Keraton Kasunanan berada). Kedung (dalam bahasa Jawa) artinya kolam penampungan air dan lumbu merujuk pada tanaman talas. Jadi, rawa yang dipenuhi talas,” ungkapnya. 

Ia menambahkan, jika rawa sebagai penampungan limpahan air sungai ditimbun, tentu air akan mengalir ke wilayah yang lebih rendah di sekitarnya. Penggalan dua lirik lagu Bengawan Solo karya Gesang berbunyi, “bengawan Solo riwayatmu kini, sedari dulu jadi perhatian insani”; dan di musim hujan air meluap sampai jauh tampaknya masih relevan menggambarkan Bengawan Solo kini. 

Salah satu sisi aliran Bengawan lawas yang kini jadi lapangan sepak bola Padas Mas di Kampung Sudimoro, Sukoharjo (Ibnu Rustamadji)
Salah satu sisi aliran Bengawan lawas yang kini jadi lapangan sepak bola Padas Mas di Kampung Sudimoro, Sukoharjo/Ibnu Rustamadji

Belajar Merawat Alam dengan Memahami Bengawan Solo

Belum lama ini seluruh dunia memperingati hari bumi dengan misi our power, our planet. Banyak hal yang bisa dilakukan sebagai bagian aksi menjaga bumi, salah satunya menjaga keberadaan dan kualitas air sungai. Tidak mengubah lanskap DAS, tidak membuang dan mendirikan hunian ilegal di bantaran atau tanggul sungai sangat membantu menjaga alam, termasuk Bengawan Solo.

Selain itu, memitigasi ancaman bahaya Bengawan pun dapat dilakukan untuk menjaga keselamatan masyarakat setempat agar tidak menjadi korban. Bengawan dan masyarakatnya adalah satu kesatuan. Keduanya harus saling menjaga, supaya tetap terjaga keharmonisannya. 

Bengawan lawas tidak serta-merta adalah sungai mati. Bengawan adalah sungai yang ditidurkan akibat pelurusan, dan suatu saat bisa kembali menjadi sungai hidup. Debit air yang secara perlahan mengalir, menjadi bukti jika air meminta jalannya kembali di Bengawan lawas. Hal tersebut tidak bisa dimungkiri, sehingga masyarakat harus mampu beradaptasi dan hidup berdampingan dengan Bengawan lawas.

Bengawan lawas ditumbuhi eceng gondok berdaun hijau segar, menjadi tanda bahwa di dalam sungai menyimpan air cukup tinggi. Bengawan lawas sejatinya merupakan laboratorium hidup yang strategis untuk memahami ekosistem dan masyarakat sekitar sungai terpanjang di Jawa Tengah itu, yang berhilir di pantai utara Jawa, tepatnya di wilayah Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Semoga saja, Bengawan Solo dan masyarakatnya, bisa hidup berdampingan dan senantiasa aman.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Rifqy Faiza Rahman

Seorang penulis perjalanan, pemerhati ekowisata, dan Content Strategist di TelusuRI. Penikmat kopi. Gemar mendaki gunung demi gemintang, matahari terbit dan tenggelam.

Rifqy Faiza Rahman

Seorang penulis perjalanan, pemerhati ekowisata, dan Content Strategist di TelusuRI. Penikmat kopi. Gemar mendaki gunung demi gemintang, matahari terbit dan tenggelam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Menyusuri Bunker Setono, “Lorong Opium” di Kampung Laweyan Surakarta