Dalam kanon literasi gastronomi kita, dokumentasi sejarah makanan kerap terjebak dalam simplifikasi buku resep atau sekadar nostalgia rasa. Namun, buku Tahu Sejarah Tahu Sumedang karya M. Luthfi Khair A. dan Rusydan Fathy hadir sebagai artefak sosiologis yang jauh lebih mendalam. Ia tak sekadar mencatat proses penggorengan tahu, tetapi juga merekam memori kolektif sebuah bangsa yang terus bertransformasi.
Upaya pendokumentasian narasi kuliner ini memiliki nilai strategis. Sebab, ia menjadi pilar identitas di tengah derasnya arus globalisasi dan residu prasangka yang masih membekas dalam struktur sosial kita.
Bagi saya, buku ini memiliki posisi penting dan menarik dalam diskursus kebudayaan kita. Ia seolah menyambung tongkat estafet dari karya-karya besar seperti Nusa Jawa: Silang Budaya milik Denys Lombard atau Rijsttafel: Budaya Kuliner Indonesia Masa Kolonial karya Fadly Rahman dalam memotret perjumpaan budaya di Nusantara.


Meski tak terlampau tebal, tetapi isinya cukup berbobot karena menggunakan pendekatan ‘Kuliner Analitik’ yang tajam. Penulisnya berhasil mengubah data lapangan menjadi cerita yang menarik dan enak dibaca, mengajak kita melihat bagaimana sepotong tahu menjadi saksi bisu perjalanan sejarah selama seabad terakhir.
Mempertahankan sebuah warisan selama lebih dari satu abad di tengah gempuran modernitas yang serba instan bukanlah perkara yang mudah. Bertahan selama itu bukan sekadar pencapaian administratif, melainkan juga bukti keteguhan nilai yang sangat berharga di zaman sekarang. Keluarga Bungkeng, sebagai pelopor, telah membuktikan diri sebagai poros utama yang membentuk identitas Kota Sumedang.
Narasi buku ini membawa kita pada figur Ong Che Ciang (Suryadi), generasi keempat yang kini bertindak sebagai “penjaga gawang” amanah sejarah. Di tangan Suryadi, keberlanjutan bisnis Tahu Bungkeng bukan lagi soal kalkulasi laba-rugi semata, melainkan tentang menjaga ketulusan dan orisinalitas rasa yang telah dirintis sang kakek sejak tahun 1917.
Loyalitas keluarga ini terhadap kualitas menjadi antitesis terhadap ambisi ekspansi yang membabi buta. Keberlangsungan mereka adalah bukti bahwa sebuah entitas kuliner dapat bertahan melintasi zaman selama ia berpijak pada nilai-nilai kejujuran. Ketulusan inilah yang menjadi fondasi bagi terciptanya hibriditas rasa yang luar biasa.


Air dari Sumedang, Sari dari Cina
Hibriditas budaya dalam makanan adalah elemen pemersatu yang paling cair dan mudah diterima tanpa perlawanan. Di dalam sepotong tahu yang renyah, terjadi perjumpaan yang indah antara diaspora Tionghoa dengan lokalitas Tatar Sunda. Istilah “Tao Fu” yang dibawa dari daratan Tiongkok mengalami evolusi linguistik dan rasa saat bersentuhan dengan kearifan lokal Sumedang.
Manifestasi perjumpaan budaya ini lahir dari kolaborasi harmonis berbagai elemen esensial yang saling melengkapi. Keistimewaan mata air pegunungan Sumedang menjadi kunci utama yang menghasilkan tekstur lembut serta kegurihan autentik yang boleh jadi sulit direplikasi di tempat lain.
Fondasi kualitas tersebut kemudian dipadukan dengan pengetahuan teknis serta tradisi pengolahan kedelai dari Tiongkok yang dibawa oleh para perantau. Proses produksi ini pun menjadi semakin hidup berkat keterlibatan tenaga kerja lokal yang menciptakan ruang interaksi sosial organik di dalam dapur.
Sebagai pelengkap identitas, penggunaan bongsang atau keranjang bambu tradisional tidak hanya berfungsi sebagai kemasan atau wadah, tetapi juga memberikan aroma khas sekaligus mempertegas visual kearifan lokal yang melekat kuat pada produk ini. Filosofi “Air dari Sumedang, Sari dari Cina” menegaskan bahwa hibriditas tersebut menciptakan alat diplomasi sosial yang sangat kuat, menyatukan perbedaan identitas di atas satu piring yang sama.
Buku ini hadir dengan urgensi yang sangat relevan bagi situasi sosiopolitik kontemporer Indonesia. Buku ini terbit di tengah residu polarisasi yang dipicu oleh kontestasi politik—utamanya terkait memori pahit Pilkada DKI 2017 dan sentimen “Aseng” yang kerap digulirkan melalui hoaks “Cinaisasi”, dan sejarah kuliner menawarkan sebuah sanggahan gastronomi (gastronomic rebuttal) yang elegan.
Penulis menunjukkan bagaimana mengenal sejarah tahu Sumedang bisa membantu kita saling memahami dan menghapus prasangka antaretnis. Sebagai ‘protein rakyat’, tahu terbukti tetap eksis meski krisis ekonomi melanda. Ini adalah bukti nyata betapa besarnya peran komunitas Tionghoa bagi ketahanan pangan nasional.
Sebagai “piranti pemersatu kebinekaan”, tahu Sumedang mengingatkan kita bahwa apa yang kita nikmati sehari-hari adalah hasil rajutan lintas etnis yang telah harmonis selama berabad-abad. Mempelajari sejarah ini berarti meruntuhkan tembok segregasi dan menyadari bahwa keberagaman adalah fondasi utama dalam eksistensi bangsa kita.




Ong Che Ciang alias Suryadi, generasi keempat penerus tahu bungkeng yang menjadi cikal bakal tahu Sumedang (kiri) dan cuplikan tampilan Bab 7 yang mengupas filosofi “Air dari Sumedang, Sari dari China”/Instagram Tahu Bungkeng Sumedang
Dari Ketahanan Pangan hingga Ikon Kota
Keberhasilan Tahu Sumedang sebagai ikon kota bukan terjadi secara aksidental, melainkan melalui proses pemberdayaan masyarakat yang panjang. Dukungan pemerintah terhadap sektor industri kreatif skala kecil menjadi krusial agar warisan ini dapat naik kelas ke panggung nasional maupun internasional.
Industri tahu Sumedang telah membuktikan perannya sebagai kekuatan ekonomi dan sosial yang luar biasa bagi masyarakat. Sinergi dampaknya terlihat jelas melalui resiliensi ekonomi dan gizi, bahwa sektor ini menjadi tumpuan hidup bagi ribuan tenaga kerja lokal sekaligus sumber protein terjangkau yang menyelamatkan rakyat saat krisis moneter 1998 silam. Keberadaan industri ini juga memberikan legitimasi kuat bagi Sumedang sebagai “Kota Tahu”; sebuah identitas wilayah yang mampu menarik minat wisatawan dan secara otomatis menggerakkan roda perekonomian daerah.
Ke depannya, dengan sentuhan kreativitas dari para pelaku usaha, serta dukungan kebijakan yang strategis, tahu Sumedang memiliki potensi besar untuk beralih dari sekadar pangan lokal menjadi duta kuliner Nusantara yang siap bersaing di pasar global. Potensi ekonomi yang masif ini berakar pada kekayaan pengetahuan yang kini terdokumentasikan secara komprehensif sebagai sumber literasi bagi generasi mendatang.


Keunggulan Metodologi Kuliner Analitik
Buku Tahu Sejarah Tahu Sumedang memperluas cakrawala buku sejarah pada umumnya berkat metodologi ‘Kuliner Analitik’ yang diusung oleh PMB LIPI dengan dukungan LPDP dan Bekraf. Ini adalah bentuk hilirisasi riset yang sukses; sebuah diseminasi pengetahuan yang mampu menyederhanakan data akademis yang kaku menjadi prosa populer yang ringan dibaca.
Buku ini membuktikan bahwa riset ilmiah tidak harus mendekam di laci perpustakaan. Bagi pembaca yang mencari kedalaman makna di balik apa yang mereka konsumsi, buku ini adalah referensi yang sangat direkomendasikan.
Membaca karya ini adalah langkah kecil namun fundamental untuk memperteguh semangat persatuan bangsa. Pada akhirnya, melalui setiap gigitan tahu yang gurih, kita diajak untuk mencintai sejarah dan menghargai perbedaan sebagai sebuah anugerah yang abadi.
Judul: Tahu Sejarah Tahu Sumedang
Penulis: M. Luthfi Khair A. dan Rusydan Fathy
Penerbit: LIPI Press (Anggota Ikapi)
Tahun terbit: April 2021
ISBN: 978-602-496-192-3
Tebal: xxi + 156 hlm.
Catatan khusus: Koleksi Ilmiah Populer; tidak untuk diperjualbelikan
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Badiatul Muchlisin Asti Penulis lepas di media cetak dan online, menulis 60+ buku multitema, pendiri Rumah Pustaka BMA, dan penikmat (sejarah) kuliner tradisional Indonesia


