Sesaat lagi Lebaran Idulfitri 1447 H tiba. Terlepas apa pun hasil sidang isbat resmi pemerintah, apakah akan Lebaran bareng atau berbeda dengan putusan sejumlah lembaga keagamaan—Muhammadiyah dan Ponpes NU Al Falah Ploso Kediri menetapkan 1 Syawal 1447 H pada 20 Maret 2026—sebaiknya disikapi dengan bijaksana. Sebab, masing-masing memiliki metode tersendiri dengan landasan ilmu sama-sama sahih, dan ini sudah biasa terjadi di Indonesia sehingga tidak perlu capek-capek diperdebatkan.
Justru yang membuat tahun ini menarik, ada satu “jembatan” yang diharapkan bisa menjadi penjaga harmoni di tengah perbedaan: Hari Raya Nyepi. Pergantian Tahun Baru Saka 1948 bagi umat Hindu ini jatuh pada tanggal 19 Maret 2026. Momen langka serupa pernah terjadi pada tahun 1961. Hari Raya Idulfitri 1388 H tanggal 21 Desember 1961, empat hari sebelum Natal. Lalu Hari Raya Idulfitri 1421 H tanggal 27 Desember 2000, dua hari setelah Natal.
Melalui Catur Brata Penyepian, Nyepi mensyaratkan kesunyian dan jeda yang harus dihormati untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia atau mikrokosmos) dan Bhuana Agung (alam semesta atau makrokosmos). Saat Nyepi, seluruh elemen masyarakat tidak boleh beraktivitas selama 24 jam—kecuali pelayanan rumah sakit—termasuk bandara sekalipun. Tradisi takbiran keliling di malam Lebaran pun sebaiknya tidak dilakukan untuk menghormati Nyepi berlangsung di Bali.
Keheningan dalam peringatan Nyepi sepatutnya bukan dianggap sebagai antitesis perayaan Lebaran yang meriah, melainkan bagian dari perjalanan merefleksi diri dalam memaknai kembali Idulfitri, sebagai peningkatan kualitas keimanan seseorang setelah berpuasa Ramadan sebulan penuh.
Memang, kenyataan di lapangan kadang belum tentu seindah yang diangankan. Hari besar keagamaan yang berdekatan memberikan tantangan tersendiri. Keselarasan makna Nyepi-Idulfitri diuji ketika ribuan orang dan kendaraan harus mempertebal kesabaran di jalur penyeberangan Bali–Banyuwangi, beberapa hari lalu. Umat Hindu ingin lekas sampai Bali agar bisa beribadah Nyepi, dan sebaliknya, umat Islam ingin segera tiba di Jawa supaya bisa merayakan Lebaran bersama keluarga.

Harmoni yang harus diperjuangkan
Pada Minggu (15/3/2026), terjadi kemacetan sangat parah—bisa dibilang horor—sepanjang lebih dari 30 kilometer di jalan nasional Jembrana, selepas kota Negara menuju Pelabuhan Gilimanuk. Tingginya mobilitas masyarakat maupun kendaraan niaga yang hendak meninggalkan Bali, baik itu menggunakan motor, mobil, bus, maupun truk, menyebabkan antrean panjang hampir 24 jam demi menunggu giliran masuk kapal. Kapasitas pelayanan tidak memadai dan keterbatasan armada membuktikan kinerja pengelola—ASDP Indonesia Ferry dan Kementerian Perhubungan—tidak maksimal karena kurangnya mitigasi.
Akibatnya, belasan pemudik dikabarkan pingsan karena kelelahan dan cuaca terik saat menunggu giliran masuk kapal. Momen mudik yang mestinya disambut suka cita, berubah menjadi penderitaan. Di sisi Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, juga terjadi antrean cukup panjang meski tidak separah Gilimanuk.
Ketabahan tingkat tinggi juga harus dirasakan pemudik yang mengalami kemacetan puluhan kilometer di Jalan Lintas Timur ruas Palembang Jambi pada 16–17 Maret lalu. Ribuan pemudik juga berjejalan menunggu giliran masuk kapal di Pelabuhan Ciwandan, Banten, menuju Lampung, yang diperparah keberadaan calo tiket. Ini belum menghitung pilu dan duka karena kecelakaan yang terjadi di jalur mudik Tol Trans Jawa.
Rentetan masalah dan insiden di episode mudik tahun ini kian membuka bobroknya sistem dan manajemen mudik oleh pemerintah. Bahkan tak sedikit ruas jalan rusak belum tuntas diperbaiki. Banyak kalangan mengira kurang optimalnya pelayanan mudik tahun ini adalah imbas efisiensi anggaran demi program-program prioritas yang populis.
Padahal, tren penurunan jumlah pemudik yang 6,9% lebih rendah dari tahun 2025, tidak menyurutkan para perantau menjalankan tradisi mudik tahun ini.1 Di bawah bayang-bayang menipisnya stok atau kenaikan subsidi BBM akibat perang Amerika Serikat-Israel versus Iran dan melambatnya perekonomian di akar rumput, jalur-jalur mudik tetap saja terasa sesak oleh serbuan kendaraan beragam moda.

Di tengah romantisme mudik dan seretnya belanja masyarakat, bagaimanapun, mudik merupakan salah satu indikator pergerakan ekonomi. Lembaga Riset IDEAS (Institute for Demographic and Affluence Studies) memprediksi potensi perputaran ekonomi mudik selama Ramadan-Nyepi-Idulfitri tembus lebih dari 400 triliun rupiah. Uang mudik mengalir dari kota hingga ke pinggiran desa, bisa menstimulus pendanaan infrastruktur kerakyatan (pasar lokal, rumah warga, jalan) dan pendidikan anak-anak.2
Di Indonesia, ketika akses transportasi yang layak belum dijangkau banyak lapisan masyarakat, maka tradisi mudik beriringan dengan risiko keselamatan yang tinggi. Kita banyak mendengar kabar pemudik menggunakan sepeda motor, sendirian maupun berboncengan dengan banyak barang, melintasi jalanan antarkota antarprovinsi bahkan lintas pulau. Segala rintangan sesulit apa pun, rela dihadapi demi menjaga apa yang disebut Muslikh Amrullah sebagai hubungan emosional dengan kampung halaman, yang tak akan pernah terkikis oleh ruang dan waktu. Berkumpul dengan keluarga besar setidaknya sekali dalam setahun adalah obat terampuh untuk menjaga nyala asa di tanah perantauan.
Kerinduan yang terpupuk lewat momen mudik, dan secara “kebetulan” bersamaan dengan Hari Raya Nyepi-Idulfitri yang diharapkan berjalan harmonis, semestinya diakomodasi negara untuk menciptakan ruang perjalanan mudik yang aman, nyaman, dan bermakna. Terlepas persiapan maupun modal perjalanan setiap orang yang beragam, negara tak boleh abai dengan kewajiban pelayanan maksimal kepada publik. Ada titipan pajak rakyat di tiap-tiap kementerian yang mesti “dikembalikan” secara layak demi kemaslahatan orang banyak, bukan dikorbankan untuk segelintir kepentingan.
Sebab, perjalanan mudik semestinya menyenangkan dan membahagiakan. Sekalipun harus duduk berjam-jam di bus, kereta, motor, atau mobil berkilo-kilometer jaraknya.

Saatnya kembali murni, setidaknya dalam diri
Barangkali, jangan-jangan pemerintah atau pihak berwenang kurang—atau enggan—memahami filosofi mudik itu sendiri. Kacamata birokrasi mungkin sekadar menganggap mudik sebagai program di atas kertas, dengan keluaran fisik berupa perbaikan jalan, mudik gratis, diskon tiket pesawat—yang tetap kita apresiasi; sedangkan kacamata pemudik melihat tradisi turun-temurun itu sebagai perjalanan penting untuk kembali ke akar, pulang ke tempat mereka dilahirkan, atau setidaknya tumbuh besar di kampung halaman.
Sebagian pemudik mungkin menganggap kinerja pemerintah dalam mengelola arus mudik-arus balik sudah cukup. Namun, berkaca pada semrawutnya penyeberangan Gilimanuk–Ketapang, kita tahu mestinya pemerintah bisa bekerja lebih baik dari itu.
Penetapan libur dan cuti bersama Nyepi-Idulfitri sudah diketok palu jauh-jauh hari. Seyogianya ada cukup waktu untuk menyusun rencana dan antisipasi matang menghadapi lonjakan demikian. Kehadiran Menteri Perhubungan di Banyuwangi dengan private jet, lalu serangkaian kegiatan seremonial tak penting di Ketapang–Gilimanuk jelas saja disambut hujatan pemudik.
Pemerintah mesti tahu, mudik bukan sekadar berangkat dan pulang begitu saja. Bagi perantau, entah dekat atau jauh dari rumah, Lebaran adalah momen sakral, yang banyak dari mereka setengah mati memperjuangkan kehadirannya, bahkan tak sedikit yang harus menahan tangis dan rindu karena terpaksa melewatkannya.
Dalam fragmen sejarah, Singgih Aji Purnomo, Dosen STAI Al Amanah Al-Gontory Banten, mengungkap keterikatan mudik dengan budaya Hindu-Buddha di masa lampau. Tradisi kembali ke rumah leluhur di masa itu dilakukan untuk menghormati roh nenek moyang, agar keseimbangan kosmik terjaga. Bagi umat Hindu Bali, padanan mudik terjadi saat Galungan dan Kuningan, yang meyakini turunnya roh leluhur untuk mengunjungi kerabat mereka.3
Ketika akhirnya Islam masuk Nusantara, tradisi mudik menjadi adaptif dan tidak serta-merta menghapus budaya nenek moyang. Masyarakat membubuhi ritus mudik dengan makna baru yang sejalan dengan esensi Idulfitri, yakni kembali ke fitrah, kembali ke kemurnian. Singgih berpendapat mudik merupakan manifestasi fisik dari perjalanan spiritual dan ziarah yang bukan ke Makkah-Madinah, melainkan ke mikrokosmos keluarga dan kerabat sendiri. Momen ini kerap dipandang sebagai pintu maaf yang senantiasa terbuka sekaligus pembuktian bakti sebagai anak.
Dalam filosofi Jawa, mudik juga merupakan gambaran tetirah atau retret sementara, memulihkan keseimbangan jasmani-rohani yang selama 11 bulan atau lebih tercampur dengan jiwa materialisme atau individualisme perkotaan yang kering dan serba cepat. Tradisi mudik memberi kesempatan untuk menegaskan identitas diri yang murni sebagai anak desa, sekalipun secara fisik bekerja atau berkarier di kota.
Untuk itulah, jika pelayanan mudik maksimal, negara sesungguhnya telah berperan penting dalam memberikan ketenangan dan kesehatan jiwa bagi rakyatnya. Apalagi kalau jatah libur dan cairnya tunjangan hari raya sepadan dengan kerja keras tanpa kenal henti sepanjang tahun.
Bagaimana dengan Anda? Tahun ini ikut mudik atau cukup dengan berlebaran di rumah saja tanpa ke mana-mana? Apa pun itu, semoga Ramadan, Nyepi, dan Idulfitri tahun ini bisa menjadi piweling bahwa setidaknya ada sisi suci dan murni di dalam diri kita. Ini adalah kesempatan bagus untuk merajut harmoni yang mungkin sempat sengkarut. Sebab, kemajemukan adalah keniscayaan negeri ini, yang lagi-lagi harus selalu diperjuangkan.
Selamat Hari Raya Nyepi. Selamat Idulfitri. Mari hidup dengan menjunjung tinggi toleransi dan saling menghormati.
- Tahun 2024, jumlah pemudik 162 juta orang. Tren pemudik mengalami penurunan menjadi 154,6 juta orang pada 2025, lalu diproyesikan terus menurun menjadi 143,9 juta orang pada 2026. Data diolah oleh Katadata.co.id, https://katadata.co.id/infografik/69b73f4b4872d/infografik-mengapa-jumlah-pemudik-lebaran-terus-turun, 16 Maret 2026. ↩︎
- WartaEkonomi.co.id, “Ideas Prediksi Potensi Ekonomi Mudik Lebaran 2026 Tembus Rp417 Triliun”, https://wartaekonomi.co.id/read604744/ideas-prediksi-potensi-ekonomi-mudik-lebaran-2026-tembus-rp417-triliun, 17 Maret 2026. ↩︎
- NU Online Banten, “Mudik: Kembalinya Abadi”, https://banten.nu.or.id/opini/mudik-kembalinya-abadi-VjKhZ, 18 Maret 2026. ↩︎
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.


