INTERVAL

Hadiah Ramadan dari TelusuRI

Perkenalan dengan www.telusuri.id membuat baling-baling kepenulisan saya kembali lepas landas. Awalnya tahu dari iklan di majalah TEMPO, pengujung 2024. Saya lantas rutin mengirim artikel pendakian gunung dan tema lainnya ke redaksi TelusuRI.

Perpustakaan 400 di Jalan Brigjen Dharsono kerap saya sambangi untuk sekadar membaca TEMPO. Siang itu saya asyik membuka lembarannya, sampai di sebuah halaman pertengahan sebelah kanan, potret seorang wanita sedang menenun jadi latar iklan dengan taklimat: “Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.”

Saya pandangi pariwara tersebut dan muncul ketertarikan. Apalagi saya sedang gencar naik gunung. Kalau zaman SMA dulu, saya menuliskan cerita petualangan di Rindu Alam Zine, bolehlah sekarang mencoba di telusuri.id.

Saya kian antusias karena telusuri.id memberi ruang cerita panjang (bisa berseri), dengan banyak foto bahkan video. Tentu saja kisah perjalanan akan seru, karena penulis mengisahkan detail pengalamannya serta destinasi yang dikunjungi.

Tidak kalah penting, telusuri.id bebas iklan! Pembaca diajak menyelami suguhan cerita, tanpa terganggu seliweran advertising. Sementara di media online arus utama, konsentrasi membaca bakal buyar ketika “si komo lewat”. Ada jeda pula untuk balik ke halaman semula. Jempol dibuat repot tutup sana-sini.

Kiri: Iklan TelusuRI di majalah TEMPO. Kanan: Sahabat saya Yanganto (42), masih menyimpan media petualangan yang saya buat masa sekolah dulu (2001-2003). Terbit dalam empat edisi/Mochamad Rona Anggie

Kurasi Ketat

Sebelumnya, saya terbiasa menulis untuk koran. Membangun kalimat dengan satu-dua-tiga kata, titik. Sedikit koma. Mengefektifkan kolom, agar pembaca lekas menangkap maksud tiap kalimat. “Melupakan” susunan subjek, predikat, objek, dan keterangan (SPOK). Menghindari kata depan dan hubung. Intinya biar tidak njelimet.

Tapi rupanya, beda di telusuri.id. Layar digital tidak sama dengan lembaran koran. Saya sempat kaget saat naskah pertama dikirimkan, mendapat koreksi dari editor. Tentu saya senang bisa belajar lagi, lantas menyesuaikan gaya penulisan. Artikel Teman Rinjani pun tayang 24 November 2024, usai menanti 63 hari.

Yang juga khas dari telusuri.id, kiriman naskah via surat elektronik (surel) akan direspons sepekan kemudian. Balasannya bikin harap-harap cemas, kadang langsung dikabari tanggal sekian tayang—ini membuat kita bungah. Ada kalanya diberi saran perbaikan atau melengkapi informasi—ini menguji tekad penulis

Sementara lain waktu dengan sekian penilaian, diputuskan artikel tidak lolos kurasi. Penyampaiannya dengan bahasa lembut dan tidak menjatuhkan. Sesaat boleh jadi kita kecewa—padahal sudah nulis panjang. Tapi yakinlah, kesempatan berkarya di telusuri.id tetap besar. Kuncinya satu: jangan menyerah. Angkat penamu, kawan! 

Tantangan berikutnya tak kalah sengit: menunggu naskah rilis. Lamanya bisa tiga sampai empat pekan. Bahkan naskah saya, Mendaki Ciremai di Akhir Pekan, Banyak Pendaki Wangi dan Tektok, butuh 105 hari untuk dipublikasikan. Lamanya karena saya harus merevisi naskah, sesuai saran editor. Ditambah antrean naskah siap tayang dari kontributor se-Indonesia.

Saya kerap menandai kalender untuk setiap jadwal rilis naskah. Biar tidak lupa. Apalagi jika memuat wawancara dengan pihak lain, saya segera mengabari narasumber pas tulisan terbit. Agar mereka turut senang pula. 

Hadiah Ramadan dari TelusuRI
Hadiah untuk 15 penulis yang ceritanya jadi pilihan redaksi/Mochamad Rona Anggie

Termasuk 15 Cerita Pilihan

Rupanya, penantian tiga setengah bulan untuk penayangan karya di atas, berbuah manis. Perjalanan ke puncak Ciremai termasuk 15 cerita pilihan redaksi tahun 2025 yang dihimpun dalam buku Kisah-Kisah di Persinggahan.

Saat dihubungi administrator TelusuRI (SuriMin) via pesan pendek akhir Desember 2025, saya mengira hanya akan mendapat hadiah kaus saja. Tapi ketika diminta mengisi Google Forms, saya menerka: jangan-jangan mau dibukukan? 

Awal Februari 2026, saya kontak SuriMin. Menanyakan apa bingkisannya jadi dipaketkan. Kebetulan saya baru pindah rumah, dari kompleks Rajawali ke Permata di Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon. Sehingga sempat khawatir kiriman salah alamat. 

“Jadi kami kirimkan, Kak. Namun sekarang masih proses produksi. Akan kami kabarkan jika sudah terkirim, ya!” balasnya.

Di rumah, saya coba memilah sepuluh tulisan—dari 48 naskah yang dimuat telusuri.id kurun 2025—dan menebak salah satunya bakal terpilih dalam kumpulan cerita.

Begitu bingkisan tiba di hari ketiga Ramadan, 21 Februari 2026, buku dengan sampul bergambar seorang pejalan di pinggir danau, segera saya sambar. Ketika melihat daftar isi, ternyata perkiraan sepuluh tulisan itu meleset semua. Saya terkekeh sendiri.

Tentu sudah pertimbangan matang, redaksi memilih kisah pendakian menuju atap Jawa Barat di akhir pekan, sebagai karya antologi bareng 14 penulis lainnya. Saya senang dan berterima kasih.

Hadiah Ramadan dari TelusuRI
Tulisan saya di halaman 17-25 buku Kisah-Kisah di Persinggahan/Mochamad Rona Anggie

Membuka Ruang Kisah Aktual

Setiap tulisan yang saya buat memiliki tantangan tersendiri. Baik dari teknis penceritaan maupun pengumpulan bahan di lapangan. Teranyar saya berjibaku menghimpun data dan kisah aktual pendaki hilang di gunung. Demi menyajikan cerita hangat langsung dari narasumber yang terlibat proses pencarian.

Alhamdulillah, redaksi TelusuRI menaruh atensi atas ikhtiar demikian. Jadwal tayang pun menyesuaikan situasi terkini. Semisal artikel Cerita Penemuan Jasad Syafiq Ali di Gunung Slamet, Pilu Pendaki Hilang di Mongkrang, Wanadri Teruskan Pencarian, dan Jejak Survivor Bukit Mongkrang Berakhir di Sungai

Pada akhirnya, laporan yang sampai ke pembaca lebih runut dan komplet. Belum lagi didukung banyak foto, menjadikan cerita semakin menarik.    

Mantap TelusuRI! Memberi ruang penulis muda-tua untuk terus berkarya. Tidak terpengaruh “asal cepat dan pertama”, tetapi menyuguhkan kedalaman cerita serta kekuatan narasi. Tantangan bagi para penulis di tengah gempuran konten visual. 

Menulislah untuk melawan lupa! Agar setiap kisah tidak lenyap dilumat zaman. Salam petualangan!


Foto sampul: Ngabuburit menyerap oksigen segar di hutan kota. Menjajal kaus baru khas TelusuRI. Dipotret oleh Rizky Hadi yang pengabdiannya pernah diulas dalam Menyusuri Taman Kehati Harjamukti Kota Cirebon


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Mochamad Rona Anggie

Tinggal di Kota Cirebon. Kerap mengulas isu lingkungan, budaya, dan pariwisata. Ayah lima anak ini hobi mendaki gunung sejak 2001, dan tak bosan memanggul carrier hingga sekarang.

Mochamad Rona Anggie

Tinggal di Kota Cirebon. Kerap mengulas isu lingkungan, budaya, dan pariwisata. Ayah lima anak ini hobi mendaki gunung sejak 2001, dan tak bosan memanggul carrier hingga sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Mendaki Ciremai di Akhir Pekan, Banyak Pendaki Wangi dan Tektok