TRAVELOG

Mengelilingi Jakarta sebagai Seorang Kutu Buku

Jakarta, sebuah kota yang namanya begitu harum bagi saya sejak kecil. Kota besar yang tentunya jauh lebih maju daripada Jember, kota kelahiran saya. Jakarta sering kali tampil sebagai sebuah kota impian untuk tinggal dengan segala fasilitas dan kemewahannya. Beberapa waktu lalu, tepatnya 20 Desember 2025, saya berkesempatan untuk mengunjungi kota ini. Sebenarnya, ini kali kesekian saya menapakkan kaki di kota metropolitan. Tapi kunjungan kali ini berbeda. Saya mengunjunginya sebagai seorang kutu buku yang siap menjelajahi tempat yang juga berjuluk kota literasi itu.

Seorang senpai (kakak kelas) berkata akan pergi ke Perpustakaan Jakarta dan Perpustakaan Nasional. Sebagai seorang kutu buku, kesempatan itu tentu tidak saya lewatkan begitu saja. Sebelum dia menyampaikan sebuah ajakan, saya sambar terlebih dulu, “Ajak saya, Senpai.” Beruntung dia tidakkeberatan. Seorang teman saya juga menyatakan ketertarikannya untuk ikut.

Sabtu pagi, sekitar pukul delapan, kami berangkat dari Cikeas, Bogor. Naik ojek mobil ke Stasiun Harjamukti, turun di Stasiun Cikoko lalu transit ke KRL menuju Stasiun Cikini. Saat transit di Cikoko, hujan turun, membuat udara menjadi sejuk.

Mengelilingi Jakarta sebagai Seorang Kutu Buku
Bagian dalam gedung PDS H.B. Jassin Jakarta/Sigit Candra Lesmana

Kunjungan Kedua ke Cikini

Sesampainya di Cikini, kami berjalan kaki kira-kira sejauh satu kilometer menuju Pusat Dokumen Sastra (PDS) H.B. Jassin yang ada di Taman Ismail Marzuki (TIM). Ini kali kedua saya berkunjung ke sini. Kali pertama saat secara mengejutkan cerpen saya masuk sepuluh besar lomba cerpen Piala H.B. Jassin 2025. Namun, pada kunjungan pertama saya belum berkesempatan untuk masuk ke dalam perpustakaannya. 

Begitu masuk, saya dibuat terpana oleh desain perpus yang tampak modern, minimalis, dan menyenangkan. Sangat berbeda dari citra perpustakaan di kota saya yang tampak pengap sekaligus membosankan. 

Pencahayaan dengan lampu berwarna kuning membuat suasana perpustakaan terasa hangat. Seakan menyambut semua orang yang datang untuk bersandar dalam pelukannya. Tak heran jika perpustakaan itu ramai pengunjung. Selain itu, koleksi buku yang dimiliki juga lengkap.

Senpai saya meminjam dua eksemplar buku, sementara teman saya meminjam satu buku. Saya yang bukan penduduk DKI Jakarta tidak bisa melakukan peminjaman. Namun, saya memang tidak berniat untuk meminjam buku, karena ada satu buku yang sudah saya incar dan akan ditemukan di tempat terakhir yang saya kunjungi.

Tampak depan akses masuk Perpusnas/Sigit Candra Lesmana

Merasakan Megahnya Perpusnas

Tujuan selanjutnya adalah Perpustakaan Nasional (Perpusnas). Sebelum bergeser ke sana, kami menyempatkan untuk makan siang. Semangkuk bakso mengisi perut saya kala itu. Rasanya cukup enak dan harganya relatif terjangkau untuk ukuran sebuah bakso yang dijual di kota besar.

Setelah kenyang, kami melanjutkan perjalanan ke Perpusnas yang ternyata letaknya tak terlalu jauh dari TIM. Sebenarnya, Senpai sempat menawarkan untuk berjalan kaki, tapi melihat dia yang tampak keberatan membawa banyak buku untuk dikembalikan ke Perpusnas, kami putuskan untuk naik bus saja. 

Sebelumnya saya belum pernah sekalipun ke Perpusnas. Bangunan mewahnya hanya saya lihat dari layar HP saja selama ini, dan lagi-lagi saya dibuat terperangah. Kami harus melewati sebuah bangunan klasik berstatus cagar budaya sebelum disajikan kemegahan arsitektur modern bangunan 24 lantai ini. Tentu, kami tak melewatkan kesempatan itu untuk mengabadikan momen melalui foto. Beruntung ada pengunjung yang mau memotret kami bertiga dengan imbalan kami juga mau memotret mereka.

Sebagai orang yang lahir dan besar di kampung, saya baru pertama kali masuk ke bangunan dengan jumlah lantai sebanyak itu. Pengunjungnya jauh lebih ramai daripada PDS H.B. Jassin, tampaknya begitu juga dengan koleksi bukunya. Koleksi buku terletak di lantai 22–24, jika saya tidak salah, sedangkan di lantai lain kata Senpai terdapat koleksi piringan hitam dan kaset.

  • Mengelilingi Jakarta sebagai Seorang Kutu Buku
  • Mengelilingi Jakarta sebagai Seorang Kutu Buku

Para kutu buku seperti kami tampak hikmat dalam bacaannya masing-masing. Beberapa juga tampak merebahkan kepalanya di atas meja dan terlelap sebelum akhirnya bangun untuk melanjutkan petualangan pikirannya melalui buku. Hal yang tampak cukup menyenangkan mengingat angka minat baca di negeri ini begitu rendah. Mungkin karena banyaknya penduduk negeri ini, kutu buku sebanyak itu pun tak mampu mendongkrak statistik rata-rata minat baca.

Setelah melihat-lihat dan cari sana-sini, Senpai mengajak kami berdua ke lantai teratas. Dari balkon tampak dengan jelas pemandangan Monumen Nasional (Monas). Manusia yang mengunjungi Monas tampak seperti semut-semut kecil dari pandangan kami. Di sebelah Monas tampak berdiri megah Masjid Istiqlal yang berdampingan dengan Katedral Jakarta.

Saya pernah sekali mengunjungi Monas walaupun hanya melihatnya dari luar pintu gerbang. Cuaca panas saat itu membuat saya mengurungkan niat untuk masuk. Apalagi jarak dari pintu gerbang ke bangunan utama dengan api emas di puncaknya itu cukup jauh. 

Setelah puas melihat pemandangan pusat kota Jakarta dan juga mungkin pusat dari Indonesia itu sendiri, kami memutuskan untuk turun dan bergeser ke destinasi selanjutnya. Di sanalah destinasi terakhir dalam perjalanan kali ini.

Mengelilingi Jakarta sebagai Seorang Kutu Buku
Tampak luar toko buku POST Bookshop/Sigit Candra Lesmana

Mengunjungi POST Bookshop 

Tempat ini sebenarnya tidak ada dalam daftar tempat yang akan Senpai kunjungi. Saya yang ingin mengunjungi tempat ini sejak dulu, yaitu POST Bookshop, sebuah toko buku kecil di Pasar Santa, Jakarta Selatan (Jaksel). Dari Perpusnas, kami naik bus Transjakarta dan turun di depan gedung Kementerian PUPR, lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sejauh 1,4 kilometer menuju Pasar Santa.

POST Bookshop terletak di lantai tiga Pasar Santa. Pasar ini tampaknya menjadi magnet anak muda Jaksel untuk nongkrong. Banyak kedai yang menarik mereka untuk berkumpul di sana. Mulai dari kedai kopi, kedai burger, sampai kedai kaset retro pun ada. Kami sempat kesulitan mencari letak POST Bookshop, beruntung seseorang yang baik hati dari salah satu kedai kopi memberi arahan kepada kami.

Dari luar, POST Bookshop tampak seperti sebuah toko yang hangat. Buku pajangannya terpampang nyata melalui kaca besar bening dengan beberapa kata-kata yang tertempel di permukaannya. Salah satu yang sangat saya sukai dari POST Bookshop adalah koleksi bukunya adalah buku-buku yang tidak terbit dari penerbit arus utama. Bahkan, hampir sebagian besar adalah terbitan dari penerbit indie dan alternatif. POST Bookshop adalah oase bagi para kutu buku seperti saya yang sedikit bosan dengan koleksi buku dari penerbit mayor seperti yang terpampang di toko buku besar.

Sejumlah koleksi buku yang dijual di POST Santa (kiri) dan buku karya Katrin Bandel yang saya beli/Sigit Candra Lesmana

Sebenarnya, banyak dari koleksi POST Bookshop yang ingin saya bawa pulang, tapi seperti kebanyakan warga Indonesia, uang saya tak sebanyak itu. Buku terbaru karya Katrin Bandel yang akhirnya saya beli sudah cukup untuk membuat saya merogoh dompet dalam-dalam. 

Usai belanja buku setebal enam ratusan halaman itu, kami memutuskan untuk pulang. Berjalan kaki menuju halte Transjakarta terdekat, lalu menuju stasiun MRT terdekat. Perjalanan selama sehari mengelilingi Jakarta dari sudut pandang seorang kutu buku ini terasa melelahkan, tapi di sisi lain juga sangat menyenangkan.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Sigit Candra L

Sigit Candra Lesmana, kelahiran Jember, 12 Maret 1992. Penulis lepas, beberapa tulisannya tersebar di berbagai media cetak maupun digital. Aktif berkegiatan di FLP Jember dan Prosatujuh. Dapat dihubungi melalui [email protected]

Sigit Candra L

Sigit Candra Lesmana, kelahiran Jember, 12 Maret 1992. Penulis lepas, beberapa tulisannya tersebar di berbagai media cetak maupun digital. Aktif berkegiatan di FLP Jember dan Prosatujuh. Dapat dihubungi melalui [email protected]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Berselancar ke Zaman Megalitikum melalui Situs Kodedek