TRAVELOG

Moyo Hilir dan Orang-Orang yang Hidup dari Laut

Perjalanan menuju Moyo Hilir bermula bukan dari niat berwisata. Agenda pekerjaan membawa saya ke wilayah ini dengan sebuah rangkaian kegiatan yang berkaitan soal penelitian lingkungan dan pembacaan aspek sosial budaya masyarakat pesisir. 

Tugas itu terdengar teknis di atas kertas, tetapi laut segera mengajarkan bahwa tidak semua hal bisa dipahami lewat laporan dan tabel semata. Hari-hari awal dihabiskan dengan berpindah dari satu pulau ke pulau lain. Perahu kayu kecil menjadi kendaraan utama. Ombak tidak selalu ramah, angin kadang berubah tanpa aba-aba. 

Setiap pulau menghadirkan wajah yang berbeda, tetapi menyimpan cerita yang serupa bahwa laut sebagai ruang hidup, bukan sekadar lanskap. Hutan mangrove, garis pantai, rumah panggung, dan dermaga kecil menjadi penanda bahwa manusia dan alam di wilayah ini tumbuh saling bergantung.

Perjalanan itu membuka banyak percakapan. Perahu terus bergerak. Pulau-pulau kecil tertinggal di belakang. Laut Teluk Saleh terbentang luas, seolah menjadi halaman pembuka sebelum cerita utama dimulai. 

Saat itulah Moyo Hilir muncul dalam perjalanan bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai simpul dari berbagai cerita yang sebelumnya saya temui terpisah-pisah. Moyo Hilir menyambut tanpa gegap gempita. Dermaga Teluk Prajak berdiri sederhana. Perahu-perahu nelayan bersandar rapat, sebagian baru kembali dari laut. Lampu-lampu kecil masih menyala meski matahari mulai naik. Pemandangan itu menyerupai lentera-lentera kecil—cahaya sederhana yang tidak dimaksudkan untuk menarik perhatian, tetapi memastikan hidup terus berjalan.

Laut di Moyo Hilir tidak hanya hadir sebagai objek penelitian atau destinasi wisata. Laut menjadi ruang sosial, ruang budaya, dan ruang pendidikan pertama bagi banyak anak. Ritme hidup di sini mengikuti pasang surut, bukan kalender kerja. Pengetahuan tentang angin dan arus diwariskan lebih awal daripada pelajaran membaca. Dari sinilah cerita Moyo Hilir benar-benar bermula bukan dari angka produksi atau data resmi, melainkan dari perahu kecil, tubuh-tubuh yang akrab dengan laut, dan cara hidup yang dibentuk oleh hubungan panjang antara manusia dan alam.

Aktivitas nelayan dan hasil tangkapan kerang yang menghidupi masyarakat Moyo Hilir/Adipatra Kenaro Wicaksana

Laut sebagai Ruang Gerak Hidup

Pukul tiga pagi, ketika sebagian besar rumah di Kecamatan Moyo Hilir masih memeluk sunyi, laut justru mulai ramai. Lampu-lampu kecil dari perahu kayu dan fiber bergerak perlahan meninggalkan dermaga, membelah air yang masih gelap. Inilah jam kerja nelayan one-day fishers Moyo Hilir, nelayan skala kecil yang hidupnya diatur oleh pasang surut, bukan jam kantor.

Mereka berangkat sebelum azan Subuh, dan kembali ketika matahari mulai naik sekitar pukul enam hingga tujuh pagi. Hasil tangkapan pagi itu tak pernah pasti. Kadang cukup untuk dijual ke tengkulak dan warga desa, kadang hanya cukup untuk dapur keluarga.

Namun, dari ritme sederhana inilah, Moyo Hilir justru mencatatkan dirinya sebagai salah satu kekuatan perikanan di Kabupaten Sumbawa. Menurut data Dinas Perikanan Tahun 2022, dari total 10.639 nelayan di Kabupaten Sumbawa, Kecamatan Moyo Hilir hanya memiliki 497 nelayan. Angka yang tampak kecil. Namun, ironi statistik justru muncul di sini pada tahun 2021 dan 2022, ketika hasil perikanan Moyo Hilir menempati posisi kedua tertinggi di seluruh kabupaten, dengan total produksi mencapai 105.505,05 ton.

Angka itu bukan sekadar statistik di atas kertas. Ia adalah akumulasi dari kerja subuh, tangan yang kasar oleh tali pancing, dan laut yang terus-menerus dibaca oleh naluri nelayan.

Di Desa Batu Bangka, keramba jaring apung bukan lagi pemandangan asing. Di atas laut yang tenang, rangka-rangka keramba milik pemerintah dan swasta terapung, menjadi ruang pembesaran ikan kerapu. Modal awal berasal dari pemerintah daerah, tetapi pengelolaannya diserahkan kepada kelompok nelayan setempat. Ini bukan hanya soal ikan, tetapi juga soal transfer kepercayaan, bahwa nelayan bukan sekadar objek bantuan, melainkan subjek pengelolaan sumber daya.

Tak jauh dari sana, keramba budi daya kerang mutiara milik perorangan juga berdiri. Pemiliknya berasal dari Lombok, tapi telah lama berdomisili di Batu Bangka. Laut Moyo Hilir, pada titik ini, bukan hanya ruang ekonomi lokal, melainkan juga ruang perjumpaan lintas wilayah.

Moyo Hilir dan Orang-Orang yang Hidup dari Laut
Suasana perkampungan di Desa Batu Bangka/Adipatra Kenaro Wicaksana

Nelayan, Identitas, dan Mobilitas

Nelayan di Moyo Hilir bukan kelompok yang homogen. Di Desa Batu Bangka, sebagian nelayan berasal dari suku Samawa, masyarakat lokal yang sejatinya adalah petani, tetapi menjadikan laut sebagai pekerjaan sambilan. Namun, mayoritas nelayan yang sepenuhnya menggantungkan hidup pada laut berasal dari suku Bajo, Bugis, Buton, dan Lombok.

Perjumpaan etnis ini menciptakan dinamika sosial yang unik. Bahasa bercampur, tradisi saling bernegosiasi, dan laut menjadi bahasa bersama. Tidak ada sekat kaku antara “pendatang” dan “pribumi”. Yang ada hanyalah siapa yang berangkat paling pagi dan siapa yang paling sabar membaca arah angin.

Di Moyo Hilir, tidak terdapat pranata adat yang secara khusus mengatur atau melarang aktivitas penangkapan ikan. Baik itu dari sisi wilayah tangkap, alat tangkap, maupun asal nelayan. 

Laut bersifat terbuka. Siapa pun boleh datang, dan siapa pun boleh melaut. Akibatnya, tidak sedikit nelayan dari luar daerah yang menangkap ikan di perairan Moyo Hilir.

Situasi ini menciptakan dua wajah sekaligus, yakni keterbukaan ekonomi di satu sisi, dan potensi tekanan sumber daya di sisi lain. Namun, hingga kini, laut Moyo Hilir masih bertahan sebagai ruang hidup yang relatif produktif.

  • Moyo Hilir dan Orang-Orang yang Hidup dari Laut
  • Moyo Hilir dan Orang-Orang yang Hidup dari Laut

Dermaga yang Menjadi Pintu Cerita

Dermaga Teluk Prajak di Desa Batu Bangka memiliki peran ganda. Ia adalah lokasi pendaratan ikan, sekaligus pintu masuk wisata. Setiap pagi, dermaga ini menjadi ruang transaksi ikan ditimbang, ditawar, dan dibagi. Namun, ketika matahari naik lebih tinggi, wajah dermaga berubah.

Wisata Prajak Trip mulai bergerak. Perahu-perahu nelayan yang pagi tadi digunakan untuk menangkap ikan, kini mengantar wisatawan. Aktivitasnya beragam, bisa snorkeling di perairan jernih, memancing di titik-titik favorit nelayan, atau menikmati hidangan laut di restoran apung yang berdiri di atas keramba kerapu.

Dermaga ini juga menjadi gerbang menuju Wisata Dangar Ode, serta pelabuhan penghubung ke Taman Wisata Perairan Pulau Liang dan Pulau Ngali. Di sini, perikanan dan pariwisata tidak berjalan saling menyingkirkan, tetapi justru saling menopang.

Nelayan menjadi pemandu. Perahu menjadi moda wisata. Laut menjadi ruang belajar bagi pengunjung, tentang bagaimana manusia hidup berdampingan dengan alam. Ketika cuaca buruk, nelayan saling mengingatkan untuk tidak memaksakan diri. Tidak ada jaminan asuransi, tetapi ada solidaritas yang bekerja diam-diam.

Anak-anak tumbuh dengan aroma laut. Mereka tahu perbedaan angin, tahu kapan ayahnya pulang lebih cepat, dan tahu kapan ikan hanya akan tersisa di piring, bukan di pasar. Laut mengajarkan ketidakpastian sejak dini.

Namun, di balik itu, Moyo Hilir menunjukkan bahwa perikanan skala kecil tidak identik dengan keterbelakangan. Dengan jumlah nelayan yang relatif sedikit, wilayah ini mampu menghasilkan produksi perikanan yang sangat besar. Kuncinya ada pada kombinasi antara tangkap dan budi daya, serta adaptasi terhadap peluang wisata.

Moyo Hilir, dengan segala keterbatasan dan potensinya, memperlihatkan satu hal penting: laut bukan sekadar sumber daya, melainkan relasi. Relasi antara manusia, alam, dan masa depan.

Ketika perahu-perahu kecil itu kembali ke dermaga saat matahari mulai tinggi, mereka membawa lebih dari sekadar ikan. Mereka membawa cerita tentang bagaimana laut masih bisa dihidupi, tanpa harus ditaklukkan.

Dan di Moyo Hilir, cerita itu masih terus berlayar.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Adipatra Kenaro Wicaksana

Lulusan S1 Kesehatan Masyarakat dengan Ilmu Terapan Kesehatan Lingkungan, Sesekali menjaga lingkungan agar tetap sehat, sambil mencoba untuk tetap ingat kapan terakhir kali menyiram tanaman di rumah.

Adipatra Kenaro Wicaksana

Lulusan S1 Kesehatan Masyarakat dengan Ilmu Terapan Kesehatan Lingkungan, Sesekali menjaga lingkungan agar tetap sehat, sambil mencoba untuk tetap ingat kapan terakhir kali menyiram tanaman di rumah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Kisah Letwurung dan Emplawas, Menjaga Warisan hingga Mengingat Perlawanan