Interval

Merekonstruksi Kisah dan Menggali Fakta Sejarah Ki Ageng Tarub (1)

Di Desa Tarub, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, terdapat sebuah makam yang diyakini tempat bersemayam seorang tokoh besar pada zamannya, yang populer dengan nama Ki Ageng Tarub. Menurut sejumlah literatur, pada masa kecilnya Ki Ageng Tarub bernama Kidang Telangkas dan setelah menginjak remaja dikenal dengan nama Jaka Tarub. Keberadaan tokoh ini dinisbatkan dengan cerita rakyat (legenda) tentang Jaka Tarub yang menikah dengan seorang bidadari dari kahyangan.

Versi makam Jaka Tarub sendiri diketahui tidak hanya di Desa Tarub yang berada di wilayah Grobogan. Makam Ki Ageng Tarub juga diklaim berada di Dusun Pacanan, Desa Montok, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan, Madura. Ada juga yang mengaku berada di Desa Widodaren, Kecamatan Gerih, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. 

Bahkan di Jawa Tengah sendiri, selain di Grobogan, makam Ki Ageng Tarub juga diklaim ada di Desa Sani (Pati), Desa Tarub (Karanganyar), Desa Tarub (Adiwerna, Tegal), dan di Desa Bulupitu (Kutowinangun, Kebumen). Namun, menurut penelitian Ambar Widyawati pada 2003, sebagaimana dikutip KRT Priyohadinagoro (2010) dalam blog kiagengtarub.blogspot.com, disebutkan bahwa makam Ki Ageng Tarub yang asli adalah makam yang berada di Desa Tarub, Tawangharjo, Grobogan.

Setiap tahun, tiap tanggal 15 Safar dalam penanggalan Jawa, haul Ki Ageng Tarub diperingati secara meriah dengan adanya kirab gunungan hasil bumi oleh warga Desa Tarub. Haul dihadiri pejabat pemerintah kabupaten (pemkab) dan sejumlah petinggi trah Keraton Surakarta Hadiningrat. Di antaranya yang pernah hadir adalah Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Wandansari, GKR Ayu Koes Indriyah, dan GKR Galuh.

Setiap peringatan Hari Jadi Kabupaten Grobogan, pusara Ki Ageng Tarub juga masuk dalam agenda ziarah ke makam para leluhur oleh Pemkab Grobogan. Selain makam Ki Ageng Tarub, saat perayaan hari jadi tersebut, bupati Grobogan bersama unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan pejabat di lingkungan pemkab juga berziarah ke makam Ki Ageng Getas Pendowo, Ki Ageng Selo, dan Pangeran Puger—bupati Grobogan pertama.

  • Merekonstruksi Kisah dan Menggali Fakta Sejarah Ki Ageng Tarub (1)
  • Merekonstruksi Kisah dan Menggali Fakta Sejarah Ki Ageng Tarub (1)

Legenda Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari

Masyarakat Grobogan sendiri sejak dulu telah mengenal legenda Jaka Tarub dan tujuh bidadari yang mandi di sebuah telaga. Salah satu dari bidadari tersebut, selendang atau pakaiannya diambil dan disembunyikan oleh Jaka Tarub. Sehingga sang bidadari tidak bisa kembali ke kahyangan. Bidadari yang diketahui bernama Dewi Nawangwulan itu kemudian dinikahi oleh Jaka Tarub. 

Di Desa Tarub, Tawangharjo, makam Jaka Tarub dan sendang telaga itu bisa dinapaktilasi terlepas dari validitasnya. Dalam laman Pencatatan pada situs warisanbudaya.kemdikbud.go.id, tercatat cerita Jaka Tarub versi Yogyakarta dan Grobogan—yang sebenarnya secara alur cerita mirip bahkan boleh jadi memang sama. 

Secara garis besar, cerita legenda Jaka Tarub dan tujuh bidadari versi masyarakat Grobogan dapat diceritakan sebagai berikut:

Syahdan, di Pedukuhan Tarub, pernah hidup seorang anak muda bernama Jaka Tarub. Ia memiliki kegemaran berburu burung perkutut di hutan.

Suatu hari, seperti biasa, Jaka Tarub pergi berburu burung perkutut di hutan. Saat Jaka Tarub berada di tengah hutan, langkahnya seketika terhenti karena sekonyong-konyong ia melihat tujuh perempuan jelita yang sedang mandi di telaga. Kiranya perempuan-perempuan itu adalah para bidadari yang turun dari kahyangan.

Pada saat itulah, Jaka Tarub tertarik melihat kecantikan mereka, sehingga diam-diam mengambil pakaian salah satu bidadari yang tengah mandi itu. Dan pakaian itu adalah milik seorang bidadari yang bernama Dewi Nawangwulan. 

Dewi Nawangwulan tak bisa kembali ke kahyangan karena pakaiannya diambil oleh Jaka Tarub. Ia pun ditinggal teman-temannya kembali ke kahyangan. Jaka Tarub keluar dari persembunyianya dan menghampiri Dewi Nawangwulan yang sedih karena tak bisa kembali ke kahyangan. 

Dari sinilah kemudian terjalin kisah cinta antara Jaka Tarub dengan Dewi Nawangwulan. Karena tak bisa kembali ke kahyangan, Dewi Nawangwulan akhirnya bersedia diperistri oleh Jaka Tarub. Jaka Tarub sangat bahagia memiliki istri seorang bidadari.

Di masyarakat Pedukuhan Tarub, Jaka Tarub dikenal sebagai seorang petani yang tekun. Sejak kehadiran istrinya yang seorang bidadari, hasil panen padi Jaka Tarub semakin melimpah, seperti tak pernah berkurang. Rahasianya ternyata berasal dari kemampuan Dewi Nawangwulan yang bisa menanak nasi, hanya dari secangkir padi tapi sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan makan dalam sehari. Hanya saja, Dewi Nawangwulan berpesan agar Jaka Tarub jangan sampai masuk ke dapur saat dirinya memasak. 

Pesan istrinya itu selalu dipegang teguh oleh Jaka Tarub, hingga hidup mereka pun dikaruniai kebahagiaan. Apalagi setelah Dewi Nawangwulan melahirkan seorang anak perempuan jelita seperti paras ibunya.  Oleh Jaka Tarub, anak itu diberi nama Dewi Nawangsih. 

“Nawang” diambil dari nama istrinya, Sedang “sih” berarti kasih atau cinta. Nama putrinya itu menyiratkan kebesaran cinta Jaka Tarub kepada istrinya. Sayang, kebahagiaan keluarga itu kemudian dirusak oleh aksi Jaka Tarub yang melanggar janjinya. 

  • Merekonstruksi Kisah dan Menggali Fakta Sejarah Ki Ageng Tarub (1)
  • Merekonstruksi Kisah dan Menggali Fakta Sejarah Ki Ageng Tarub (1)

Dikisahkan, setiap kali Dewi Nawangwulan memasak di dapur, ia selalu dibantu teman-temannya dari kalangan bidadari. Itulah rahasia Dewi Nawangwulan bisa menanak nasi dari secangkir beras sehingga bisa menjadi nasi satu bakul penuh, komplet dengan lauk pauknya. 

Namun, hari itu menjadi hari yang nahas, karena saat Dewi Nawangwulan sedang memasak di dapur dengan dibantu oleh teman-teman bidadarinya, tiba-tiba Jaka Tarub masuk. Para bidadari itu pun kaget dan kemudian beterbangan kembali ke kahyangan dan tidak akan pernah kembali lagi untuk membantu Dewi Nawangwulan. 

Dewi Nawangwulan pun sedih bukan kepalang. Ia menangis tersedu-sedu. Sejak kejadian itu, kehidupan keluarga Jaka Tarub berubah drastis. Dewi Nawangwulan tak lagi menikmati hidup seperti sebelumnya. Hari-harinya dipenuhi kemurungan dan kelesuan. Dalam waktu tak lama, persediaan padi di lumbung mulai menipis. 

Ketika persediaan padi makin menipis, terkejutlah Dewi Nawangwulan karena mendapati pakaiannya yang hilang dulu. Tahulah ia sekarang, jika pakaiannya itu ternyata dicuri oleh suaminya dan disembunyikan di bawah timbunan padi. Akhirnya, dengan mengenakan pakaiannya itu, Dewi Nawangwulan memutuskan kembali pulang ke kahyangan. 

Dewi Nawangwulan segera terbang menuju ke kahyangan. Meninggalkan Pedukuhan Tarub, juga meninggalkan Jaka Tarub dan seorang putri jelita yang masih bayi. Sesaat sebelum terbang, Dewi Nawangwulan berpesan kepada Jaka Tarub: bila sewaktu-waktu Nawangsih menangis karena merindukan ibunya, Jaka Tarub diminta menggendong Nawangsih ke luar rumah dan membawanya ke dekat pohon pisang, karena ia akan datang untuk menemui putrinya yang sangat dicintainya.

Legenda Jaka Tarub dalam Karya Seni

Begitulah kisah legenda Jaka Tarub dan Dewi Nawangwulan yang sangat masyhur dan merupakan cerita rakyat yang dituturkan leluhur masyarakat Grobogan dari generasi ke generasi.

Cerita legenda Jaka Tarub dan tujuh bidadari itu juga dapat dibaca di buku yang berjudul Punika Serat Babad Tanah Jawi Wiwit Saking Nabi Adam Doemoegi ing Taoen 1647 yang disusun oleh W. L. Olthof di Leiden, Belanda, pada 1941. Buku ini sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan diterbitkan dalam edisi hard cover oleh penerbit Narasi, Yogyakarta (cetakan pertama, 2014) dengan judul Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647.

Kemasyhuran legenda Jaka Tarub dan tujuh bidadari itu menginspirasi banyak seniman lukis yang secara imajinatif memvisualkannya ke dalam lukisan-lukisan yang indah. Di antaranya maestro pelukis Indonesia, Basuki Abdullah, yang membuat lukisan bertajuk Jaka Tarub.

Lukisan Basuki Abdullah itu kemudian menginspirasi pelukis asal Grobogan, Eko Supa, untuk membuat lukisan berjudul Spirit Selendang. Lukisan karya Eko Supa ini termasuk lukisan yang dipamerkan dalam Pameran Temporer Museum Basoeki Abdullah bertema “Spirit Potret” pada 2018. 

Pada pameran tersebut, Eko Supa bersama sekitar 30 seniman lukis se-Indonesia. Bagi yang lukisannya terpilih, diminta untuk melukis karya maupun karakter Basoeki Abdullah dengan eksplorasi sesuai aliran dan imajinasi masing-masing.

Saat itu Eko Supa membuat lukisan karikatur yang menggambarkan Basoeki Abdullah masuk ke dalam lukisan Jaka Tarub—sebuah lukisan yang pernah dibuat Basoeki Abdullah berdasarkan legenda Jaka Tarub dan tujuh bidadari. Dalam lukisannya, Eko Supa menggambarkan karakter Basoeki Abdullah yang mengambil selendang bidadari, sehingga karya lukisannya itu diberi judul Spirit Selendang dan terpajang di katalog galeri pameran tersebut. 

Tak hanya dalam lukisan, cerita legenda Jaka Tarub dan tujuh bidadari juga diadaptasi ke dalam berbagai karya seni lainnya, mulai dari cerita komik, drama, hingga film. Hal ini membuktikan kemasyhuran cerita rakyat yang sangat populer dan melegenda.

(Bersambung)


Referensi

Priyohadinagoro, KRT. (2010, April 17). Situs Makam KI Ageng Tarub. Ki Ageng Tarub Blogs. https://kiagengtarub.blogspot.com/2010/04/situs-makam-ki-ageng-tarub.html.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Badiatul Muchlisin Asti Penulis lepas di media cetak dan online, menulis 60+ buku multitema, pendiri Rumah Pustaka BMA, dan penikmat (sejarah) kuliner tradisional Indonesia

Badiatul Muchlisin Asti Penulis lepas di media cetak dan online, menulis 60+ buku multitema, pendiri Rumah Pustaka BMA, dan penikmat (sejarah) kuliner tradisional Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Potret Tradisi Barikan di Desa Godan Grobogan