Travelog

Berziarah ke Makam Ki Ageng Kebo Kenongo

Aku mengingat kembali, saat pertama kalinya aku datang ke tempat ini. Kala itu aku masih menjadi seorang siswi SMA yang duduk di kelas 10, masih baru-barunya menikmati masa putih abu-abu. Waktu itu, aku meyakinkan diri untuk pertama kali datang ke makam orang yang memiliki sejarah penting bagi peradaban Nusantara, khususnya masyarakat Jawa yakni Ki Ageng Kebo Kenongo.

Perlawatan ini berawal dari tugas sejarah yang harus aku selesaikan bersama teman-teman satu kelompok. Tugas tersebut yakni mendatangi tempat bersejarah di lingkungan sekitar dan mendokumentasikannya untuk bahan presentasi di depan kelas. Penelitian kecil-kecilan ala anak SMA ini mendorong kami untuk belajar langsung dengan para sejarawan yang ada di sekitar kampung. 

Dengan berbekal tugas ini, aku dan teman-teman mencari tempat bersejarah sebagai objek riset. Aku dengan percaya diri menyarankan tempat bersejarah yang berada tidak jauh dengan kampungku, masih berada di Kabupaten Boyolali. Tepatnya di Desa Jembungan, Kecamatan Banyudono.

Meski sekolahku berada di Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo yang berbatasan langsung dengan kabupaten Boyolali, tetapi hanya aku yang merupakan warga Boyolali. Jadi tidak banyak yang tahu seluk-beluk akan tempat ini, termasuk aku yang hanya mendengar hingar-bingarnya kisah dan gethok tular dari warga sekitar. Beruntungnya seluruh teman satu kelompok mengiyakan saranku. Tanpa pikir panjang aku langsung merujuk ke makam Ki Ageng Kebo Kenongo.

Sebenarnya masih banyak tempat bersejarah yang ada di sekitar Kecamatan Banyudono, sebut saja Pemandian Pengging, Umbul Sungsang, Makam Yosodipuro, Masjid Ciptomulyo, Makam Empu Supo, Gajah Putih, Umbul Kendat, Situs Lingga Yoni, dan yang lainnya. Namun, sayangnya waktu itu aku juga baru mengenal Banyudono dan arah jalan yang kutahu hanya Makam Ki Ageng Kebo Kenongo ini.

Kecamatan Banyudono
Kecamatan Banyudono/Rosla Tinika Sari

Bertandang untuk Pertama Kalinya

Sesampainya di sana aku dan seluruh anggota kelompokku disambut oleh gapura biru bertuliskan “Makam Ki Ageng Kebo Kenongo” yang dituliskan dengan huruf latin.

Di sekitar makam Ki Ageng Kebo Kenongo terdapat banyak makam kerabat dekatnya. Di samping itu, kompleks pemakaman ini juga digunakan sebagai area pemakaman umum. Aku yang saat itu juga baru pertama kalinya datang ke pemakaman ini  juga tidak jauh berbeda dengan temanku yang lain, sama-sama tidak mengerti harus dengan siapa mencari informasi sejarah di balik sosok Ki Ageng Kebo Kenongo.

Yang kupahami kalau datang ke makam untuk mencari tahu segala sesuatu informasi di area pemakaman maka mesti mencari sang kuncen (juru kunci). Lalu kupilih untuk bertanya dengan seorang masyarakat yang menunjukkan agar aku mendatangi rumah juru kunci yang tidak jauh dari area pemakaman.

Rupanya kediaman juru kunci hanya berada di sisi selatan tembok pembatas area pemakaman. Sayangnya aku lupa nama beliau karena sudah sekitar 4 tahun lamanya pertemuan itu terjadi. Padahal waktu itu, kami sempat berkenalan sebelum berbincang lebih jauh.

Halaman depan bangunan makam Ki Ageng Kebo Kebongo
Halaman depan bangunan makam Ki Ageng Kebo Kebongo/Rosla Tinika Sari

Beliau lalu mengajak kami menuju makam Ki Ageng kebo Kenongo. Dibukalah pintu dari sebuah bangunan yang menjadi tempat dimakamkannya bapak dari Joko Tingkir itu. Sebelum mengajak kami masuk pada sebuah bangunan tempat makam Ki Ageng Kebo Kenongo berada, beliau menceritakan garis keturunan Ki Ageng Kebo Kenongo sambil mengarahkan tangannya pada silsilah keluarga yang letaknya berada di sebelah barat pintu masuk. 

Setelah itu, kami dipersilahkan masuk dan mendengarkan penjelasan beliau tentang peran penting Ki Ageng Kebo Kenongo dalam pembangunan Keraton Pajang. Ditunjukkannya juga pada kami beberapa makam  kerabat dekat Ki Ageng Kebo Kenongo yang merupakan cucu dari Raja Brawijaya V (raja terakhir Kerajaan Majapahit). 

Dengan ramah beliau membagikan pengetahuannya pada kami semua—pengetahuan sejarah yang tidak terlepas dari kisah Pengging dan KI Ageng kebo Kenongo. Selain itu, beliau juga mengajak kami untuk mengarahkan pandangan pada tulisan-tulisan beraksara Jawa yang mengukir pada dinding bangunan. Ternyata ada beberapa prasasti yang ditulis sejak zaman Majapahit.

Dengan terbata-bata aku mencoba untuk mengeja tulisan yang terpampang di sisi dinding. Akan tetapi karena menggunakan bahasa Kawi (bahasa Jawa Kuno), aku tidak begitu memahami isi dan maksud tulisan tersebut lebih dalam. Beliau lalu menjelaskannya pada kami, arti dari kata demi kata yang tertuang dalam tiap tulisan tersebut.

Kijing makam Ki Ageng Kebo Kenongo
Kijing makam Ki Ageng Kebo Kenongo/Rosla Tinika Sari

Ada banyak yang merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit, tetapi juga ada tulisan berangka tahun abad ke-19 M yang juga menjadi penunjuk sejarah dari kompleks pemakaman ini.

Sayangnya untuk melihat makam secara langsung, pengunjung harus masuk ke dalam sebuah ruang lagi. Tampaknya tidak sembarang orang yang bisa masuk ke dalamnya, perlu ada pengawasan dan pendampingan dari juru kunci. Aroma kemenyan kembali menyeruak di sela pernafasanku, rasanya semakin menjadi lebih sunyi dari yang sebelumnya. Diperbolehkannya pula sedikit menyingkap kain yang menutup kijing Ki Ageng Kebo Kenongo.

Tak berapa lama, kami kemudian berpamitan. Senja hampir tiba.

Singgah Kembali ke Makam Ki Ageng Kebo Kenongo

Setelah cukup lama tidak bertandang ke makam Ki Ageng Kebo Kenongo, aku memutuskan untuk kembali berziarah. Pagi sekali sekitar pukul 5.30 WIB aku berangkat ke Pengging, dengan niat menelusuri sejarah di kawasan Pengging aku menyusuri setiap sudut yang bersejarah di tempat ini.

Belum ada pukul tujuh pagi, aku sudah tiba di sana. Aku memilih untuk singgah sejenak, melihat dari halaman depan makam tanpa memasukinya. Tidak enak juga kalau harus meminta juru kunci untuk membukakan pintu makam sepagi itu, tanpa tujuan yang jelas pula. Biasanya makam dikunjungi pada malam hari pasaran tertentu. 

Kubaca ulang tulisan yang melekat juga silsilah keluarga yang terpampang di dekat pintu arah masuk makam Ki Ageng Kebo Kenongo. Suasana sangat sepi bahkan hampir tidak ada orang lalu lalang saat itu, mungkin juga karena masih PPKM juga. Aku lalu memilih untuk segera pergi meninggalkan kompleks pemakaman Ki Ageng Kebo Kenongo. Melanjutkan perjalanan untuk menelusuri tempat bersejarah yang tidak jauh dari kawasan Pengging.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu
!

Sekarang aku tengah menjalani studi di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Teman-teman bisa mengunjungi akun instagramku @roslats_ untuk sekadar ngobrol atau berbincang-bincang mengenai berbagai hal.

Sekarang aku tengah menjalani studi di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Teman-teman bisa mengunjungi akun instagramku @roslats_ untuk sekadar ngobrol atau berbincang-bincang mengenai berbagai hal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Ziarah Sejarah ke Pulau Kelor, Cipir, dan Onrust