Itinerary

6 Fakta Menarik tentang Pulau Padar yang Lagi Ngehits

Akhir-akhir ini foto Pulau Padar banyak beredar di media sosial. Foto-fotonya menggoda banget sampai-sampai banyak yang jadi tertarik buat ke sana. Nah, 6 fakta menarik tentang Pulau Padar ini bakal bikin kamu lebih ngebet buat ke sana.

1. Berada dalam areal Taman Nasional Komodo

pulau padar

Perahu-perahu berlabuh di pesisir Padar via SkyGrapher.id/Sigit Hasnaro

Pulau ini berada dalam kawasan Taman Nasional Komodo, perairan barat Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Karena berada di kawasan taman nasional, kamu nggak bisa sembarangan di sana. Kalau belum ngerti aturan, coba deh browsing dulu soal apa yang boleh dan nggak boleh kamu lakukan di kawasan taman nasional.

Buat ke sini, kamu mesti cari cara buat ke Labuan Bajo dulu. Banyak cara buat ke Labuan Bajo. Kamu bisa naik pesawat, naik kapal, atau ngeteng naik bis nyambung menumpang kapal ferry. Dari Jakarta, naik pesawat cuma beberapa jam, tapi kalau ngeteng bisa sekitar tiga hari!

2. Pulau ketiga terbesar di Taman Nasional Komodo

pulau padar

“Seascape” sekitar Padar via SkyGrapher.id/praditya adhi kurniawan

Dari tiga pulau utama di Taman Nasional Komodo, Pulau Padar menduduki posisi terakhir soal luas wilayah, setelah Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Kalau dilihat dari atas, sebagaimana Pulau Komodo dan Rinca, pulau ini bentuknya abstrak nggak beraturan.

Letaknya dekat Selat Lintah yang memisahkan Komodo dan Rinca. Selat Lintah ini dikenal punya arus yang kekuatannya lumayan. Jadi, pas naik perahu ke sana kamu mesti siap-siap kalau sewaktu-waktu gelombang jadi besar.

3. Lebih dekat dari Pulau Rinca ketimbang dari Pulau Komodo

Lokasi Pulau Padar ini di antara Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Jadi, kalau dari Labuan Bajo, kamu bakal lewat Pulau Rinca dulu sebelum tiba di Pulau Padar. Lanjut ke timur, baru kamu tiba di Pulau Komodo.

Tapi Pulau Padar lebih dekat ke Pulau Rinca dibandingkan ke Pulau Komodo. Jika dari Komodo perlu waktu maksimal 2 jam, dari Rinca paling hanya sekitar 1,5 jam. Nah, kalau sudah tahu waktu tempuhnya, ‘kan kamu bisa memperkirakan bagaimana rute yang paling sesuai buat kamu.

4. Pernah jadi lokasi pembuangan komodo-komodo “nakal”

pulau padar

Lanskap Padar via SkyGrapher.id/Wisnu Sulistio

Kamu pasti pernah dengar berita tentang komodo yang menggigit pengunjung Taman Nasional Komodo atau penduduk setempat. Tapi, kamu pernah bertanya-tanya nggak treatment apa yang dilakukan pada komodo-komodo bermasalah itu?

Liputan6 melansir bahwa ada masanya ketika komodo-komodo bermasalah itu “dibuang” ke Pulau Padar. Nggak main-main, katanya ada sekitar tujuh komodo yang ada di pulau ini. Jadi, kalau mau trekking mending sama pemandu lokal, ya!

5. Situs Warisan Dunia UNESCO

Nuansa Pulau Padar ini agak beda dari pulau-pulau lain. Saking uniknya, kalau kamu kebetulan ketiduran di Pulau Padar terus tiba-tiba kebangun, mungkin kamu bakal ngerasa sedang di planet lain. Nah, bentang alamnya yang unik ini bikin Pulau Padar dimasukkan UNESCO sebagai salah satu dari situs Warisan Dunia.

Bersama dengan Pulau Komodo dan Pulau Rinca, Pulau Padar ternyata sudah dikukuhkan sebagai Warisan Dunia sejak lebih dari 25 tahun yang lalu, yakni tahun 1991.

6. Trekking ke puncak bukit sekitar 45 menit sampai 1 jam

pulau padar

“Golden sunrise” di Pulau Padar via SkyGrapher.id/Anton Chandra

Spot paling instagrammable di Pulau Padar adalah puncaknya. Dari sana kamu bakal melihat “pelana” yang menghubungkan dua bagian Pulau Padar, yang diapit sama pesisir-pesisir berpasir putih. Kalau mau dapat foto yang keren maksimal, kamu mesti udah di puncak pas sore hari waktu matahari hampir jatuh di cakrawala barat.

Trekkingnya juga sebenarnya nggak lama-lama amat, cuma sekitar 45 menit sampai satu jam. Nggak apa-apa lah ngeluarin keringat dikit buat menyaksikan pemandangan yang cakep abis. Tipsnya, kalau jalan siang-siang mending kamu pakai topi. Jangan lupa juga buat bawa sepatu trekking—jangan nekat pakai high heels!

Jadi kapan ke Pulau Padar?


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
ItineraryNusantarasa

Santapan yang Lahir dari Kesengsaraan

Itinerary

Desa Muncar dan Kopi Temanggung

Itinerary

Memahami Lebih Dalam tentang Permakultur

Itinerary

5 Destinasi Budaya 'Memorable' ala Jovita Ayu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *