Travelog

Vakansi Sehari ke Pulau Giligenting

Sehari setelah lebaran ketupat, aku, Ibna, dan Gusti bervakansi ke Pulau Giligenting—salah satu pulau di antara 126 pulau yang ada di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Selain tertarik untuk menikmati keasrian pantainya, akses yang lebih mudah dibanding pulau-pulau lain adalah alasan utama kami mengapa memilih Pulau Giligenting sebagai destinasi liburan.

Beberapa hari sebelumnya, aku dan Ibna sempat merembukkan rencana liburan ini kepada Fai dan Romzul. Mereka bersilaturahmi ke rumah kami di hari yang sama, tetapi dalam waktu yang berbeda. Namun, Fai memutuskan tidak ikut karena suatu kendala. Sejak awal Fai memang menjawab ragu-ragu.

Romzul lain lagi. Penyair cum Madridista itu tidur kebablasan sehabis nonton pertandingan tim sepak bola kesayangannya melawan Manchester City. Delapan kali kutelepon selama pukul 07.30–09.00 tetap saja tak ada respons. Untunglah ada Gusti dan Ummul yang menyatakan siap ikut ketika kucoba hubungi, meskipun Ummul juga gagal pada akhirnya.

Terpaksa kami berangkat bertiga dengan menanggung rasa tidak enak pada Romzul. Mau bagaimana lagi, cuma hari itu (18/04/2024) satu-satunya kesempatan berlibur saat momen lebaran tahun ini. Hari berikutnya kami akan disibukkan dengan aktivitas masing-masing, sedangkan Romzul sendiri bakal segera balik ke Jogja untuk jangka waktu yang tak tentu lamanya.

Vakansi Sehari ke Pulau Giligenting
Aktivitas awak perahu menaikkan motor penumpang di pelabuhan Tanjung/Daviatul Umam

Berlayar ke Giligenting

Pukul 09.15 aku dan Ibna berangkat dari rumah. Sementara Gusti yang rumahnya tak jauh dari pusat kota akan menunggu kami di Saronggi. Setelah bertemu, kami meneruskan perjalanan bersama-sama.

Dari pertigaan Saronggi, kami meluncur ke arah timur. Mungkin sekitar 15 kilometer sebelum akhirnya tiba di pelabuhan Tanjung pada pukul 10.33. Di sana tampak orang-orang sudah bersantai di tubuh perahu bersama kendaraan roda duanya.

Lalu seorang lelaki bertopi menagih uang tiket pada kami sebesar Rp15.000 per orang. Para petugas pelabuhan lantas menaikkan motor kami ke atas perahu dengan melewati titian papan kayu. Upah angkutnya sebesar Rp3.000 per motor. Setelah memastikan si kuda besi aman, kami menyusul naik dan memutuskan duduk di buritan. Tak berselang lama, mesin perahu menyala dan berangkat sepuluh menit kemudian.

Ini sensasi anyar bagiku karena baru pertama kalinya naik perahu dalam jarak tempuh yang cukup jauh. Sebelumnya hanya terbiasa menyeberang Kalianget–Talango PP yang butuh waktu lima sampai tujuh menit saja.

Kemudian seorang awak perahu meminta lagi karcis sekaligus ongkos motor sebesar Rp10.000. Aku tidak kaget, sebab memang begitulah peraturan berikut tarifnya menurut seorang teman yang pernah ke Giligenting. “Itu sudah terbilang murah,” imbuhnya.

Di tengah pelayaran, kami tidak banyak mengobrol. Kalaupun bercakap tiada topik penting yang kami bicarakan. Sebatas gurauan receh belaka. Sesekali mengabadikan momen untuk dipamerkan di akun media sosial kami. Sesekali pula ombak menerkam lambung perahu dengan amat kasar, membuat tubuhku hampir kehilangan keseimbangan. Bila sudah demikian, aku akan memegang tulang tepian geladak atau dinding perahu kuat-kuat. Beda halnya Ibna dan Gusti yang terlihat anteng-anteng saja menyikapi situasi tersebut.

Sepintas terbayang perjuangan para nelayan di antara ganas gelombang dan amuk badai. Sejak subuh hingga sore hari mereka tahan banting dalam kerasnya tantangan. Walaupun terkadang laut tidak memberinya apa-apa selain rasa lelah, mereka tetap tak jera untuk kembali mengarungi samudra. Begitu terus-menerus seperti yang digambarkan D. Zawawi Imron dalam sebuah puisinya, Kita Berlayar.

Kita tetap berlayar
melunasi hutang yang belum terbayar
Dahaga dan lapar
kobarkan di tiang layar

Persis bunyi larik ketiga dalam bait itu, perutku keroncongan lantaran sedari pagi cuma diisi camilan. Beruntung aku tidak pusing atau mabuk laut. Tapi, saking senangnya menikmati pelayaran, lapar tidak terlalu mengusik suasana hati. Isi kantung (dompet) yang sebetulnya juga sangat tipis, yang terkadang membayang, tidak begitu kuhiraukan. Aku lebih suka menghambakan uang demi kesejahteraan rohani daripada bertindak sebaliknya.

Bertamu ke Rumah Sri

Layar ponsel menerakan angka 11.20 ketika perahu yang kami tumpangi berlabuh di dermaga. Artinya, dari pelabuhan Tanjung ke Giligenting memakan waktu kurang lebih 37 menit. Siang itu langit sedikit kusam. Tidak seperti di tengah segara yang tampak berseri-seri dengan sapuan awan putih tak beraturan.

Aku dapat melihat jelas sebuah tulisan “Pantai Sembilan” yang terpancang di atas sebujur tembok. Pantai yang acap kudengar namanya itu ternyata berada di kawasan pelabuhan. Sudah sejak lama aku ingin menginjakkan kaki di atas hamparan pasir putihnya. Namun, kami terlebih dahulu bergegas menuju rumah Sri, kawan nongkrong kami—si paling dermawan. Dia warga asli Giligenting. Tak etis rasanya jika kami sebatas piknik tanpa bertamu ke rumahnya.

“Pengin beli apa gitu dulu, Gus. Aku lapar banget,” ucapku setelah kami menghentikan laju motor sejenak dengan mesin tetap menyala.

“Oke, ayo!” tanggap Gusti.

“Kamu mau makan juga?”

“Enggak, kenyang. Tadi udah makan di Saronggi.”

Ibna juga bilang kenyang. Maka, saat kami menemukan lapak makanan di samping kantor Kecamatan Giligenting, cuma aku seorang yang menyantap semangkuk mi ayam bakso. Ibna dan Gusti duduk menunggu di gardu. Sebenarnya sempat terpikir olehku untuk makan bersama di rumah Sri. Pasti dihidangi makanan berat, pikirku. Ya, seyakin itu. Sayangnya perut tak bisa diajak kompromi.

Benar saja, di rumah Sri kami ditawari makan. Kami tahu betul kemurahan hati Sri. Beberapa kali kami ditraktirnya makan di kafe. Namun, karena kami kompak bilang kenyang dengan alasan baru saja makan, Sri percaya dan takluk. Sebagai bentuk penghormatan yang agak brutal, kami mencicipi apa saja dari sekian jenis makanan ringan serta minuman yang tersuguh di atas meja.

“Enaknya mau dibawa ke mana, nih, anak-anak?” Gusti meminta pertimbangan Sri. Anak-anak yang dia maksud tak lain aku dan Ibna. Dia berlagak begitu karena dia sudah berkali-kali ke Giligenting. Kemungkinan dia banyak tahu tempat-tempat eksotis di pulau itu.

“Mending ke Pantai Kahuripan,” saran Sri dengan wajah pasi.

“Lebih asyik mana dibanding Pantai Sembilan?” tanyaku.

“Kahuripan, lah! Pantai Sembilan udah kurang terawat sekarang.” Kalau penghuni Giligenting sendiri sudah menyatakan demikian, otomatis otak kami langsung tersugesti.

Aku tidak tahu seberapa lama kami di rumah anak Fatayat itu. Yang jelas, perbincangan kami tidak panjang lebar dan berlarut-larut. Maklum, Sri masih dalam proses sembuh dari demamnya. Itu sebabnya dia tidak bisa menemani kami jalan-jalan. Andai saja dia sedang sehat walafiat, tentu akan beda cerita.

Vakansi Sehari ke Pulau Giligenting
Ibna berpose di jembatan bambu Pantai Kahuripan/Daviatul Umam

Berpelesir ke Kahuripan

Beranjaklah kami dari rumah Sri menuju Pantai Kahuripan. Dengan bantuan Google Maps yang rada ngawur, kami melewati jalan aspal rusak, berliku, menanjak, hingga sempat kesasar ke bibir pantai berkerikil entah apa.

Menariknya, akses ke Kahuripan cukup puitis. Di sisi kiri-kanan jalan, berjajar pohon Plumeria rubra yang dahan-dahannya menjulang liar dan rindang. “Ketidakterurusan” pohon ini justru menciptakan panorama yang khas, seperti memasuki terowongan alami. Berpagar batang-batang kekar, beratap rimbun daun-daun, serta minim cahaya. Sial, aku tidak kepikiran memotretnya.

Sesampainya di Kahuripan, hal pertama yang kudapati adalah lanskap yang tak terlalu menggoda, tetapi juga tidak menimbulkan penyesalan. Kotoran sapi bertebaran di mana-mana. Dan kebetulan memang ada beberapa sapi di tepi pantai, memamah rumputan sembari menyimak debur gelombang. Jadi, pantai ini terbuka gratis bagi siapa saja, apa pun wujudnya.

Selain itu, tiada ciri mencolok dari pantai ini ketimbang sejumlah pantai yang pernah kusambangi. Tebing tinggi berbatu, daratan merimba didominasi pohon-pohon kuda, jembatan bambu yang menjulur ke batu danawa di lautan, tak cukup kuat memikat apalagi menjadi alasan untuk dirindukan.

Waaaw… Airnya sangat biru!” seru Ibna. Lagi-lagi itu bukan sebuah keunikan. Pantai Ponjuk Timur di pulauku juga biru sekali airnya.

Sebagaimana wisatawan pada umumnya, kami sibuk berswafoto dan merekam aksesori jagat raya. Memang, zaman digital telah banyak mengubah cara pandang. Dalam menikmati sebuah vista, kami lebih cenderung melihat melalui mata kamera daripada menghayatinya sepenuh jiwa.

Vakansi Sehari ke Pulau Giligenting
Spot foto yang tak terurus di Pantai Sembilan/Daviatul Umam

Bertandang ke Pantai Sembilan

Kendatipun Pantai Sembilan dinilai kurang terawat oleh Sri, aku tetap penasaran akan salah satu pantai termasyhur di Sumenep ini. Lebih baik melihat satu kali daripada mendengar seribu kali; kiranya adagium itu akan selalu segar di kepalaku.

Pukul setengah empat, kata Gusti, perahu bakal berhenti beroperasi. Masih ada sisa waktu setengah jam lagi untuk sebatas jingkrak-jingkrak di Pantai Sembilan. Namun, Gusti menampik. Barangkali dia sudah kelewat bosan saking seringnya ke pantai itu. Dia menungguku dan Ibna di dermaga.

Sementara itu kami berdua berjalan kaki menyisir garis pantai. Ajaib! Kami bebas tiket  yang harusnya Rp5.000 per orang. Tak ada satu pun makhluk yang menegur kedatangan kami. Syukurlah.

Pasir nan putih rupanya tak sehalus pasir Lombang. Belum lagi udaranya. Meski ditanami beragam pohon hias, rasa gerah tak dapat dihindari. Matahari sore amat menyengat. Keringat merembes. Kami tak betah menyusuri pasirnya. Jika memaksakan diri berlama-lama di bibir pantai, mungkin kami akan segosong ikan pindang.

Bagaimanapun bentuk setiap tempat wisata, termasuk pantai, memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing. Pantai ini punya nilai unggul dengan fasilitasnya yang cukup memadai: gubuk penginapan, wahana rumah apung, banana boat, gazebo, dan berbagai jenis spot foto. “Coba lihat, airnya sangat bening!” Ibna menambahkan.

Vakansi Sehari ke Pulau Giligenting
Sampah-sampah berserakan di kawasan Pantai Sembilan/Daviatul Umam

Adapun dari sekian pantai (atau objek wisata lainnya) yang pernah kukunjungi selalu punya satu kesamaan yang urgen: ada saja umat manusia yang hobi mencemari lingkungan. Seolah sampah memang sepantasnya dibuang di mana saja. Seolah semua tempat adalah tempat sampah.

Sayang sekali kami tak bisa menyaksikan suasana sunset di pantai ini. Selepas foto-foto sebentar, kami lalu balik menghampiri Gusti di dermaga. Berkerumun bersama orang-orang yang hendak menggunakan jasa perahu ke pelabuhan Tanjung. Masih dengan tarif yang sama, kami kembali berlayar dan pulang.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Daviatul Umam, lahir dan tinggal di Sumenep, Madura. Menulis puisi dan prosa. Alumni Pondok Pesantren Annuqayah ini kini bergiat di Komunitas Damar Korong dan Malate Artspace, Sumenep. Buku puisinya yang telah terbit bertajuk Kampung Kekasih (2019). Bisa disapa di Instagramnya: @daviatul.umam.

Daviatul Umam, lahir dan tinggal di Sumenep, Madura. Menulis puisi dan prosa. Alumni Pondok Pesantren Annuqayah ini kini bergiat di Komunitas Damar Korong dan Malate Artspace, Sumenep. Buku puisinya yang telah terbit bertajuk Kampung Kekasih (2019). Bisa disapa di Instagramnya: @daviatul.umam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Semangkuk Coto Makassar dan Kerinduan dalam Perantauan