Arah SinggahTravelog

Silat Bajo dan Budaya yang Mulai Pudar

Sebuah jurus ditunjukkan Indar kepada saya. Tubuhnya melompat, menciptakan satu-dua pukulan kemudian diakhiri dengan kuda-kuda rendah dengan kepalan tepat mengarah ke depan. Indar Roma, salah satu pengajar panca di Dusun Mekko, mengungkapkan kekhawatirannya tentang jarangnya orang yang mau belajar silat kampung. Indar sendiri sudah belajar bela diri semenjak umur 15, dilatih langsung oleh neneknya, yang juga menguasai ilmu silat atau panca atau manca dalam bahasa Bajo. “Saya punya guru ada tujuh, dengan ilmu yang berbeda-beda,” terangnya.

Mewancarai pak Indar
Mewancarai Pak Indar/Arah Singgah

Ada lima jurus dalam panca yang wajib dikuasai oleh setiap orang yang belajar. Ada sekitar 10 orang yang belajar panca dengan Indar, tapi semua hilang-hilangan karena terdistraksi oleh berbagai kegiatan lainnya. Indar juga menerima panggilan dari tempat lain untuk melatih, seperti di Sagu atau Adonara.

“Kalau anak-anak yang butuh saya, silahkan. Saya tidak panggil, juga tidak minta. Pokoknya kalau dia butuh, dia datang,” ucap Indar. 

Anak-anak usia remaja lah yang menurut Indar masih nyaman untuk diajari. Sebabnya, tulang pada masa tersebut masih masa pertumbuhan, hingga tangan masih belum terlalu kaku dan keras untuk dilenturkan. “Kalau seperti bapak-bapak ini, tangan sudah susah. Karena dari awalnya itu dasar dulu, baru bunga-bunganya,” menunjuk pada tangan-tangan kaku Syukron dan saya. Sama seperti bela diri pada umumnya, penguatan fisik adalah dasar utama membangun pondasi tubuh yang kuat. Sambil menunjuk ke arah jemarinya, Indar menunjukkan geliat urat yang ada di tangannya. Tangan yang berbalut urat itu tetap kokoh meski terlihat kurus.

Sebagai orang Bajo, Indar juga disibukkan dengan kegiatan melaut. Barulah setelah melaut, Indar ada waktu luang untuk mengajari anak-anak yang tertarik. Di Mekko, total ada tiga orang yang sudah mempunyai kapabilitas untuk mengajar. Satu orang beraliran panca, dua orang lainnya beraliran kuntau.  

Di ujung dusun yang berbatasan dengan perusahaan mutiara, saya diajak Indar untuk mempraktikkan satu jurus. Sebenarnya saya yang minta diajari karena saya sendiri suka dengan silat-silat kampung. Dengan sebatang rokok yang menyala di mulutnya, dia mengajarkan saya satu jurus pertama. Satu pukulan, satu tendangan, dengan kuda kuda tumpu kaki belakang, maju menyerang. Indar menyuruh saya untuk menyarangkan satu pukulan ke dadanya. Sebelum pukulan itu mendarat, dia dengan cekatan menangkis dan memberikan serangan lututnya menuju bagian perut saya.

Seorang bapak tua bernama Tasman Sayatung, salah satu dari tiga orang Mekko yang ahli silat–selain Indar dan satu orang lagi yang saya lupa namanya—, juga memperagakan sebuah gerakan kuntau yang ia kuasai. Ada tiga jurus yang ia perlihatkan sebelum akhirnya menghela nafas panjang, terbatuk-batuk karena penyakit yang ia derita. Kuntau mengandalkan tangan kosong untuk membuat lumpuh lawan dengan sekali gerak. Bela diri, dalam arti yang sempit, menurutnya adalah sebuah persiapan yang diperlukan oleh semua orang untuk menghadapi marabahaya, bukan untuk gagah-gagahan. “Dia jual dulu baru kita beli,” ucapannya persis pesilat-pesilat Betawi yang terkenal dengan slogan lo jual, gua beli.

“Kalau di kuntau itu ada 12 jurus, tapi kita pakai enam saja.”

Seorang pendekar yang tangguh dari Pulau Parumaan mengeluarkan ekor dan kukunya untuk menyerang siapapun yang mengganggunya, menjelma bak seekor harimau yang siap mengoyak daging musuhnya. Tugasnya adalah menjaga perairan dari gerombolan bajak laut yang suka memeras pelaut-pelaut yang lewat. Konon, sudah puluhan orang yang sudah ia bunuh di masa lalu. Pendekar ini sekarang sudah tua dan sudah pensiun, menghabiskan masa tuanya beristirahat di rumah. Dia adalah orang Bajo yang masih mempraktikkan ilmu gaib, yang dalam khazanah keilmuan bela diri sekarang sudah mulai pudar untuk dipraktikkan.

“Kita mati itu, kulit tidak dimakan tanah,” ceritanya kepada saya mengenai ilmu-ilmu orang Bajo. “Kita kan mengaji, jadi tidak bisa pakai ilmu begitu. Hanya pakai untuk bela diri saja.”

Tasman Sayatung dan cucunya Fadhilan
Tasman Sayatung dan cucunya Fadhilan/Arah Singgah

Sama seperti Indar, Tasman Sayatung mewarisi pengetahuan kuntau ini dari neneknya. Ia menyayangkan generasi muda sekarang yang seperti enggan untuk belajar bela diri lokal. Padahal sewaktu ia muda, belajar bela diri lokal adalah suatu keharusan. Perbedaan zaman dan cara pandang mungkin sudah menganggap bela diri lokal sebagai suatu barang kuno yang tidak lagi terpakai tapi kekunoan ini dia juga yang menjadikannya komoditi berharga yang terancam punah.

Hidup di Mekko seperti masuk ke dimensi lain. Waktu berjalan lambat. Saya sering mengira pukul 11 siang seperti pukul 2 siang. Orang tidak terburu-buru untuk melakukan suatu hal. Tidak seperti kota besar yang menuntut kita harus serba cepat, dusun terpencil seperti Mekko menuntut kita sebaliknya, melambatkan ritme untuk perlahan mengatur tempo hidup.

Makam-makam mudah didapati di sekitaran rumah (2)
di Mekko semua seperti berjalan melambat/Arah Singgah

Sebagai suku yang berhubungan langsung dengan laut, saya bertanya, adakah ritual yang masih berlangsung di Dusun Mekko ini? Pak Said menjawab tidak ada. Orang-orang Bajo di Mekko sudah lama tidak melangsungkan ritual apapun. “Kalau melaut ya melaut aja. Sekarang tidak ada ritual apapun” tuturnya.

“Budaya Bajo ini sebenarnya banyak. Selama ini dianggap tidak ada tapi sebenarnya ada,” Pak Bakri menambahkan. Karena pelibatan orang Mekko yang kurang, akhirnya budaya Bajo yang ada di Mekko menjadi tidak terekspos. Mekko pun berandai-andai menjadi sebuah desa sendiri, terlepas dari Desa Pledo, supaya dapat berkembang dengan mandiri.

“Apa masalahnya Mekko tidak bisa menjadi sebuah desa? Waktu itu Lamaleka hanya punya 70 KK (kartu keluarga) kok dimekarkan? Mekko sudah 80 KK kok tidak bisa dimekarkan?”

Badan Pak Bakri yang gempal bergetar ketika suaranya mengeras. Ada raut keseriusan untuk membangun Mekko, untuk menjadi tempat yang lebih baik. Pengalaman 23 tahun merantau, membuatnya melihat dunia tidak selebar daun kelor. Ia pernah ikut terlibat dalam aksi penyelamatan lingkungan di Pantai Ambalat, Amborawang. “Pernah juga saya membuat Pantai Icing itu dari belum terkenal jadi terkenal,” kenangnya. Mungkin pengalaman itu semua yang membuatnya berpendapat, kalau di tempat lain bisa, kenapa Mekko tidak bisa?

Mekko yang sudah didiami lintas generasi, menggenggam harap ingin menjadi sebuah desa, yang mana kenaikan status ini tentu akan berpengaruh signifikan terhadap dana yang diterima dan fasilitas yang dibangun. 

Berdasarkan tutur dari mulut ke mulut, ada dua versi mengenai sejarah Dusun Mekko. Yang pertama kata “Mekko” disadur dari kata “Mekkah” karena konon dulu ada seorang saudagar Arab yang bermukim di sini bersama orang-orang Bajo. Versi kedua adalah Mekko berasal dari kata mokko yang bermakna mahar, karena dulunya orang Bajo pertama di sini menikah dengan orang Alor. Kemudian kapal orang Alor yang membawa mahar, karam di perairan sekitar sebelum sampai ke daratan, maka jadilah daratan di sekitarnya dinamai Mekko. Versi kedua adalah versi yang lebih populer berdasarkan dari cerita orang-orang di dusun.

Salah satu pemakaman umum yang ada di Mekko
Salah satu pemakaman umum yang ada di Mekko/Arah Singgah

Pemakaman kuno orang-orang Bajo di dusun ini terletak di bagian hutan bakau dan Pulau Keroko. “Di sana dimakamkan orang-orang terdahulu, dari sejak kapan saya kurang tahu. Tapi itu juga sudah tidak digunakan lagi semenjak sebelum saya lahir,” cerita Pak Said kepada saya. Sayangnya, makam-makam kuno ini tidak bisa dikunjungi orang luar. Sebab orang-orang tua dulu melarang selain suku Bajo untuk masuk ke sana.

“Meskipun untuk ziarah?” tanya saya.

“Iya, kecuali dengan izin orang-orang tua. Tapi jujur saya nggak berani bawa orang luar ke sana,” jawabnya.

Berdasarkan deskripsi Pak Said, makam-makam tersebut bernisan kayu dengan ukiran-ukiran yang berbeda. Ada yang berpahatkan nama, tapi kebanyakannya tidak tertulis nama sang empu. Pemakaman kuno ini juga dikultuskan oleh orang-orang Mekko, sering diziarahi untuk berbagai keperluan semisal ketika turnamen sepak bola mau berlangsung. Anak-anak muda berziarah untuk meminta restu pada orang-orang tua yang dimakamkan di sana. “Dulu masih begitu, sekarang sudah tidak ada lagi anak-anak muda yang mau begitu.”

Seperti kebanyakan rumah di NTT, makam-makam orang yang baru meninggal di kemudian hari banyak dimakamkan di sekitar rumah—meskipun pemakaman umum juga ada—, orang-orang tampaknya lebih suka jika kerabatnya dimakamkan di dekat rumah. Rumah di sebelah rumah Pak Said, terdapat dua makam yang menyatu dengan teras rumah, yang sudah dikeramik dan disemen hingga hanya menyisakan sedikit tanah untuk meletakkan nisan. Di depannya lagi, saya juga melihat dua makam yang dengan cungkup yang terpisah dari rumah.

Mesjid baru di Mekko yang pembangunannya masih belum selesai
Mesjid baru di Mekko yang pembangunannya masih belum selesai/Arah Singgah

Lantunan azan Magrib cukup membuat semua orang berhenti beraktivitas di luar ruangan. Anak-anak tampak paling semangat pergi ke surau darurat—yang didirikan sementara menunggu pembangunan masjid yang masih berlangsung. Baju koko dan mukena warna-warni mengisi surau dengan gelak tawa sebelum orang dewasa menegur mereka untuk tenang. Seorang pria tua mengumandangkan azan dengan khusyuk. Semua dengan tenang mendengarkan dan menyahuti kalimat sang muazin. Suasana Magrib di Mekko sepi. Orang-orang yang tidak ke surau sibuk di dalam rumah. Di surau kecil berdinding seng, kami berkhidmat memujiNya.

Selepas salat, seorang anak dengan sigap meletakkan Al-Quran dan buku iqra di tengah surau. Satu per satu anak mulai mengambilnya, sesuai porsi belajar masing-masing. Saya berbalik dan memperhatikan mereka. Alangkah bahagianya ketika sedari kecil sudah belajar mengaji. Momen Magrib memang sakral dan selalu ditunggu oleh anak-anak untuk berkumpul, sekedar mengaji atau bercerita memamerkan apa saja yang ia dapat pada siang tadi. 

***

Pada Agustus 2022, TelusuRI mengunjungi Bali, Kupang, Pulau Sabu, hingga Flores Timur dalam Arah Singgah: Menyisir Jejak Kepunahan Wisata, Sosial, Budaya—sebuah perjalanan menginventarisasi tempat-tempat yang disinggahi dalam bentuk tulisan dan karya digital untuk menjadi suar bagi mereka yang ceritanya tidak tersampaikan.

Tulisan ini merupakan bagian dari catatan perjalanan tersebut. Nantikan kelanjutan ceritanya di TelusuRI.id. 


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.
Artikel Terkait
Travelog

Kembali ke Fatubraun

Pilihan EditorTravelog

Singgah di Rumah Tenun Kampung Sabu

Perjalanan LestariTravelog

Berkebun Karang bersama Nuansa Pulau

Travelog

Yogyakarta: dari Tebing Breksi, hingga Malioboro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Worth reading...
Memulai Kebun Pertama di Mekko