Itinerary

Semerbak Mawar di Desa Gunungsari

“[Tahun] 2004-2008 [kami bisa] panen 15.000 tangkai bunga mawar dalam satu hari. Namun sekarang [kami] hanya dapat menghasilkan 1.000-1.500 per hari. Jumlah produksi itu menurun karena banyak petani di dusun tetangga meniru keberhasilan petani mawar potong di Brumbung,” papar Pak Roni pada saya.

Pak Roni adalah salah seorang warga Dusun Brumbung, produsen utama bunga mawar di Desa Gunungsari, Kota Batu. Ia sudah menjadi petani mawar sejak 2002. Dengan modal awal Rp150 juta, selama sekitar 17 tahun terakhir ini ia sudah terbiasa dengan pasang-surut usaha pertanian bunga mawar.

desa gunungsari
Memetik bunga mawar di kebun/Syahrul Hindarto

Tingkat produktivitas pertanian bunga mawar Desa Gunungsari berkisar 11.671.156 tangkai per tahun (Dinas Pertanian Jawa Barat, 2013, dalam Donuisang, 2017). Fakta inilah yang membuat Desa Gunungsari, merujuk Jatimtimes.com, menjadi salah satu dari dua desa penghasil mawar utama di Kota Batu. Tahun 2011 lalu, desa ini bahkan sudah ditetapkan sebagai Desa Wisata Petik Mawar. Pengukuhan sebagai desa wisata itu membuat pertanian bunga mawar tampak makin menarik.

Sebelum memulai usaha pertanian mawar dua tahun lalu, Bu Tini dan Pak Suud menjalankan usaha pertanian sayur. Namun, karena hasil dari sayur kurang menguntungkan, bermodal pinjaman Rp15 juta dari sebuah bank, Pak Suud membeli bibit dan mulai menanam mawar. Sebelum bisa memanen bunga mawar, Pak Suud mesti merawat batang-batang mawar itu dan menunggu sekitar 8 bulan sampai 1 tahun.

Dari cerita dengan Bu Tini dan Pak Suud, saya jadi menyadari bahwa mawar ternyata juga sama dengan manusia: perlu perawatan. Sekurang-kurangnya ada tiga hal yang mesti diperhatikan untuk menghasilkan mawar yang berkualitas. Pertama, pastikan untuk melakukan penyiraman sehari sekali, entah setiap pagi atau sore hari. Kedua, berikan tanaman mawar obat (pestisida) dan pupuk (pupuk kandang dari kotoran sapi) setiap 4-7 hari sekali. Ketiga, jika sudah cukup usia, lakukan panen tiga kali dalam seminggu agar bunga tidak membusuk di tangkai.

Jadi, para petani dengan lahan terbatas seperti Pak Suud bisa mengonversi kuntum-kuntum mawar ke rupiah tiga kali dalam seminggu. (Ia memanen setiap Senin, Kamis, dan Sabtu.) Namun, petani-petani yang punya lahan banyak seperti Pak Roni bisa memanen mawar setiap hari.

“Karena masa tanam … setiap lahan berbeda … saya bisa melakukan panen setiap hari tanpa harus menunggu seminggu tiga kali,” jelas Pak Roni.

Sebelum dijual ke pengepul, bunga mawar disortir sesuai bentuknya. Proses penyortiran inilah yang kemudian akan menentukan harga.

Umumnya, ada tiga klasifikasi bunga mawar. Pertama, mawar yang memiliki bentuk sempurna, yang kelopak bunganya setengah mekar dan daunnya tidak memiliki bercak atau terkena penyakit. Mawar yang sempurna biasanya dihargai Rp250/tangkai (tangkai pendek) dan Rp500/tangkai (tangkai panjang). Kedua, bunga yang memiliki kondisi cacat, dengan kelopak mekar sempurna namun ukuran batang tidak sebesar mawar kelas pertama. Mawar kelas kedua ini, menurut cerita Bu Tini, bisa ia jual seharga Rp5.000/25 ikat ke pengepul bunga tabur setiap Jumat Legi. Ketiga, bunga mawar rusak atau terlepas dari tangkai. Biasanya, tak banyak mawar yang rusak dalam sekali panen, hanya sekitar 5-10 batang saja.

desa gunungsari
Penyortiran mawar “peacock”/Syahrul Hindarto

Proses penyortiran inilah yang akhirnya menghasilkan “limbah,” yakni daun-daun yang dipotong dari tangkai. Pak Roni, misalnya, dalam sehari bisa memproduksi lebih dari satu goni (karung beras ukuran 25 kg) daun mawar.

Sampai saat ini, daun-daun itu masih belum dikelola dengan baik oleh para petani, entah dibakar atau dibuang begitu saja ke sungai, sebab mereka belum mengetahui bagaimana cara mengolahnya. Menurut Pak Suud, Dusun Brumbung pernah dapat teguran dari Pemerintah Kota Malang soal limbah bunga mawar itu.  

Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Gunungsari tentu perlu melakukan upaya yang lebih optimal untuk menyelesaikan persoalan pengelolaan limbah bunga mawar, agar desa ini tak hanya wangi tapi juga rapi.


Referensi

Donuisang, R.M. (2017). Konsep Pengembangan Ekonomi Lokal dalam Pengembangan Desa Wisata Petik Mawar Desa Gunungsari Kecamatan Bumiaji Kota Batu (Skripsi). Institut Teknologi Nasional, Malang.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Related posts
Itinerary

4 Jurus Jitu buat Traveling Keliling Indonesia

Itinerary

7 Ide untuk Mengisi Libur Panjang

Itinerary

5 Alasan Kenapa Kamu Mesti Traveling dengan “Backpack”

Itinerary

5 Hal yang Bisa Kamu Lakukan di Sekitar Pantai Parangtritis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *