Travelog

Sejenak Singgah ke Dendy Sky View

Memasuki libur akhir tahun, PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) di daerahku mulai longgar seiring dengan menurunnya kasus penyebaran COVID-19. Beberapa tempat wisata kembali membuka diri. Aku dan ketiga temanku—yang dengan uang pas-pasan tapi ingin berwisata—bersepakat untuk menghabiskan waktu bersama ke Dendy Sky View.

Dendy Sky View terbilang ramai kunjungan sejak hari pembukaan pertamanya. Lokasinya berada di Jalan Raya Waduk Wonorejo, Bantengan, Mulyosari, Pagerwojo, Kabupaten Tulungagung. Masih berada di dalam lingkar Waduk Wonorejo.

Rencana kami untuk berangkat pukul 2 siang terpaksa mundur dikarenakan langit yang sedari pagi cerah tiba-tiba meredup. Air hujan pun mulai mengguyur. Mau tidak mau kami harus bersabar untuk menunggu hujan berhenti. Sekitar pukul 3 sore setelah Asar, hujan berhenti dan kami memutuskan untuk berangkat saat itu juga. 

Suasana mendung masih tertinggal. Takut kalau hujan akan turun lagi, sempat membuat kami ragu untuk berangkat. Kami mengendarai motor sore itu, melakukan perjalanan singkat dari rumahku yang berlokasi di pusat Kota Tulungagung.

Dendy Sky View
Pemandangan dari rumah kaca Dendy Sky View/Nur Ainun

Memasuki kawasan Kecamatan Pagerwojo, kami disambut dengan udara yang terasa cukup berbeda dengan ketika berada di dataran rendah. Jalan berkelok-kelok dan tidak jarang menemui aspal berlubang menjadi tantangan tersendiri bagi saya yang bisa dibilang masih pemula dalam mengendarai motor. 

Tak perlu khawatir tersesat, Google Maps akan memandu perjalanan menuju ke sana. Selain itu juga terdapat papan-papan penunjuk arah menuju Dendy Sky View yang sangat membantu sampai tujuan. 

Alam menyuguhi kami dengan pemandangan yang indah. Sepanjang perjalanan. Udara sejuk khas selepas hujan juga menenangkan. Meskipun Dendy Sky View terletak di desa namun jalan yang dilalui ini tidak pernah sepi, selalu ada kendaraan yang lalu-lalang di karena daerah ini merupakan kawasan wisata. 

Jalanan yang mulai melandai dan di sisi kanan kiri yang bermunculan tempat parkir menandakan perjalanan akan segera tiba. Setelah tiba di lokasi dan memarkirkan motor, kami disambut dengan patung-patung kuda yang berjejer dan gapura bertuliskan “Dendy Sky View”. 

Pengunjung tidak perlu membayar tiket masuk untuk memasuki area wisata Dendy Sky View. Mengingat pandemi yang masih belum usai, syarat masuknya adalah seluruh pengunjung wajib mematuhi protokol kesehatan yang berlaku dan melakukan pengecekan suhu tubuh sebelum memasuki area wisata. 

Yang terlintas di kepalaku saat pertama kali memasuki Dendy Sky View adalah vibes atau suasana perkampungan ala Texas. Sebelum memilih tempat duduk kami antre untuk memesan minuman dan makanan. Tidak hanya berpusat di satu tempat, masih banyak stan yang menjual minuman, makanan, dan kudapan lainnya seperti sosis bakar, gorengan, es krim, dan popcorn.

Setelah selesai memesan makanan, pramusaji memberikan sebuah alat dengan alarm kecil yang berdering dan bergetar sebagai penanda bahwa pesanan sudah siap untuk diambil. Semua makanan dan minuman yang dijual di sini tergolong murah, tidak banyak merogoh kocek. Mulai dari tujuh ribu rupiah saya sudah bisa menikmati minuman es coklat ikonik milik Bu Dendy.

Pelbagai macam sudut, mulai dari lesehan dilengkapi bantal duduk, kursi-kursi yang mengarah langsung ke pemandangan Waduk Wonorejo, hingga yang berada di paling ujung yakni kursi-kursi di dalam rumah kaca bisa dipilih. Sentuhan live music yang berlangsung semakin mendukung suasana healing kami.

Tempat ini menjadi lebih ramai ketika akhir pekan. Ada fasilitas penunjang seperti musala dan toilet yang memadai membuat tempat ini family friendly. Pengunjung tidak hanya anak muda saja namun juga mereka yang sudah berkeluarga.

Dendy Sky View
Lampu di salah satu sudut Dendy Sky View/Nur Ainun

Cuaca mendung yang masih tersisa membuat suasana sore itu sangat sejuk dan menenangkan. Setelah mengambil pesanan, kami memutuskan untuk duduk di bagian paling ujung yaitu rumah kaca. Kami bercengkrama mengenai banyak hal ditemani dengan makanan dan minuman pesanan kami serta pemandangan Waduk Wonorejo.

Beberapa saat kemudian hujan perlahan kembali turun. Para pengunjung yang duduk di area “terbuka” perlahan meninggalkan tempat dan mencari tempat untuk teduh. Dan tentu saja rumah kaca tempat kami duduk menjadi ramai seketika.

Para karyawan tempat wisata yang bertugas segera membereskan bantal-bantal duduk dan mengumpulkannya menjadi satu untuk kemudian ditutup menggunakan [semacam] kain/terpal agar tidak basah. 

Setelah puas mengobrol dan menikmati santapan, mengingat waktu yang juga semakin larut, menjelang Maghrib kami memutuskan untuk pulang. Terakhir sebelum pulang, aku dapat melihat dengan jelas sunset, langit yang mulai merah merekah.

Dendy Sky View buka mulai dari pukul 9 pagi hingga pukul 9 malam. Jangan lupa jaga protokol kesehatan ketika berkunjung ya!


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Berbagi cerita dan rasa melalui tulisannya.

Berbagi cerita dan rasa melalui tulisannya.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Solo — Jogja: Naik KRL, Berangkat dari Stasiun Gawok

    Travelog

    Menyusuri Lawang Sewu di ‘Kota Atlas’

    Travelog

    Mencari Sejarah yang Terkubur di Kuburan Londo, Sukun

    Travelog

    Menyambangi Gedung Sate Menjelang Momen Puncak Reformasi 1998

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Makan-makan di Geblek Pari Nanggulan