Itinerary

Sego Manten, Nostalgia Menu Resepsi Pernikahan Era 1990-an

Saya bukan tipikal orang yang datang ke tempat makan hanya karena viral di media sosial. Namun, tempat makan yang satu ini terasa berbeda. Pasalnya saat saya melihat kiriman di akun teman yang makan di kedai ini, entah mengapa langsung timbul perasaan untuk ikutan mencicipi. Mungkin karena waktu itu saya sedang tinggal sendiri. Waktu melihat tempat makan yang mengusung suasana makan layaknya di rumah, saya merasa tergugah untuk segera singgah. 

Sempat beberapa pekan tinggal berjauhan dengan ibu membuat saya rindu masakan beliau. Kebetulan, Kedai Rukun—tempat yang saya tuju—ternyata juga menyediakan menu ramesan. 

“Wah, cocok!” batin saya dalam hati usai melihat akun media sosial tempat makan yang beralamatkan di Gang Darussalam, Kadipiro, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul tersebut. Sebuah tempat makan yang berlokasi di rumah seorang warga Kadipiro. Makanya dikenal pula dengan sebutan Kedai Rukun Kadipiro.

Saat menemukan akun Instagramnya (@kedairukun), saya agak kaget melihat sebuah menu yang ditulis pada papan berwarna putih tersebut. Hah, ada sego manten? Jadilah rencana mencicipi ramesan otomatis berganti usai menemukan menu lawas yang satu ini.

Sego Manten Kedai Rukun, Nostalgia Menu Resepsi Pernikahan Era 1990-an
Menu makanan dan minuman ditulis di papan tulis/Retno Septyorini

Keunikan Sego Manten

Sesuai namanya, sego manten merupakan menu utama yang disajikan di acara resepsi pernikahan gaya Jogja di era 1980 hingga 1990-an. Dulu kebanyakan resepsi pernikahan di kampung-kampung itu dilakukan dengan sistem piring terbang, bukan dengan model prasmanan seperti sekarang.

Dengan sistem piring terbang, semua menu dalam acara resepsi disajikan secara bergantian. Mulai dari kudapan dan segelas teh sebagai menu pembuka, lalu dilanjutkan sego manten sebagai menu utamanya. Bisa dibilang sego manten adalah gong pemuncak sajian makanan di acara pernikahan. Senang rasanya menemukan menu lawas tersebut di Kedai Rukun. Semacam jadi pengobat rindu pada kenangan saat diajak orang tua menghadiri acara resepsi pernikahan tahun 1990-an silam. 

Dalam bahasa Jawa, sego berarti nasi, sedangkan manten berarti pengantin. Dalam sepaket sego manten biasanya berisi nasi dengan lauk pauk yang ditata melingkar, terdiri dari kreni yang disajikan bersama kacang kapri utuh, semur telur, acar, dan kerupuk. Bedanya, di papan menu terdapat tambahan berupa sup rolade. 

Saat mengonfirmasikan ke ibu saya, sego manten yang sering beliau temui dulu tidak disajikan dengan sup. Saya sendiri lupa-lupa ingat. Namun, sependek memori saya, saat menghadiri pernikahan teman di Solo dan Sragen, sepertinya ada menu sup sebagai pelengkap sego manten tersebut. Pikir saya mungkin tergantung adat dan anggaran pernikahan. Dengan atau tanpa sup, saya tetap senang menemukan menu lawas yang lokasinya terbilang dekat dengan rumah. 

  • Sego Manten Kedai Rukun, Nostalgia Menu Resepsi Pernikahan Era 1990-an
  • Sego Manten Kedai Rukun, Nostalgia Menu Resepsi Pernikahan Era 1990-an

Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Persis jam makan siang, menu yang saya idam-idamkan sudah tersaji di atas meja. Saya senyum-senyum sendiri melihat nasi yang dicetak menyerupai bunga lengkap dengan beragam lauk yang ditata melingkar tersebut. Selain penyajiannya sama persis dengan sego manten yang pernah saya temui sewaktu kecil, semur telur di menu ini tidak hanya setengah, tapi disajikan utuh. Bedanya hanya dibelah dua saja.

Di lidah saya, semua lauknya terasa enak. Tekstur kreni ayam yang empuk, gurih pedasnya juga pas. Tidak berlebihan. Menu ini semakin terasa enak tatkala dinikmati dengan segarnya acar yang berisi timun, nanas, serta bawang merah dan cabai hijau. Nilai plus lainnya, semangkuk sup rolade pendamping menu dihidangkan dalam kondisi panas. Nuansa yang saya dapat persis seperti saat di kondangan manten zaman dulu. Bedanya kita cukup mengeluarkan uang sebesar Rp25.000 saja.

Bagi saya pribadi, sepaket menu sego manten yang dijual Kedai Rukun terbilang mengenyangkan. Pasalnya sup rolade juga disajikan dalam porsi yang cukup besar. Semacam menyantap dua menu dalam satu harga. Siang itu saya juga memesan es tape ketan hijau seharga Rp6.000. Catatan saya cuma satu: es tapenya agak kemanisan. Jadi, saya sempat minta tambahan es batu. Bagi yang kurang menyukai minuman manis bisa diakali dengan meminta gulanya setengah porsi saja. 

Variasi Menu Lainnya di Kedai Rukun

Menu di Kedai Rukun juga tidak monoton alias akan diganti-ganti setiap hari, seperti brongkos komplet, harang asem, ayam gepuk, bakmoy ayam hingga manut lele. Iya, namanya “manut lele” dan “harang asem”. Penamaan menu di sana memang begitu. 

Khusus sego manten yang saya ceritakan tadi hanya tersedia setiap hari Minggu saja. Selain sego manten dan sup rolade, menu favorit saya lainnya di sini adalah cumi cabe ijo. Bakmoy ayamnya juga enak. Rasanya yang ringan bisa jadi salah satu comfort food yang nikmat disantap kapan saja. 

Menariknya lagi, semua menu paket di sini sudah termasuk dengan seporsi nasi, yang penyajiannya bisa minta dipisah ataupun dicampur. Selain itu ada pula menu tambahan berupa ragam sayur dan oseng-oseng. Ada pula gorengan dan berbagai jajanan jadul, antara lain aneka kerupuk, ciki-cikian, wafer, wingko, dan yangko. Beberapa kali ke sini saya juga menemukan tape hijau yang dikemas dalam kotak plastik. 

Pilihan minuman di Kedai Rukun terbilang variatif. Tidak hanya air mineral saja, ada juga teh, jeruk, tape biasa, tape susu, aneka minuman kemasan lainnya hingga kombucha. Tinggal pilih sesuai selera. Kelebihan lainnya, bayarnya bisa nontunai atau QRIS. Tinggal beberapa kali klik dan beres. Oh, ya. Satu lagi. Kedai yang buka dari pukul 13.00 hingga 21.00 ini tidak menyediakan parkir mobil. Hanya ada parkir sepeda motor dan sepeda. 

Gimana, ada yang tertarik singgah di sini juga?


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penulis dari Bantul. Hobi jalan dan kulineran.

Penulis dari Bantul. Hobi jalan dan kulineran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Teh Gumilir dari Desa Wisata Purwosari