“ Karena Indonesia yang kita dambakan tak semata turun dari langit. Ia lahir dari jerih payah dan harapan. Dari keberanian untuk melihat bahwa kita pernah salah arah.”
— Yusuf Priambodo
Indonesia hari ini tak ubahnya sebuah rumah yang rapuh—berdiri, tetapi dengan fondasi yang retak oleh persoalan lama yang tak kunjung terselesaikan, bahkan kian memburuk. Kerusakan alam, ketimpangan sosial, korupsi, serta relasi kuasa yang memprihatinkan.
Namun, Indonesia belum sepenuhnya roboh. Harapan itu masih ada dari pancaran wajah-wajah frustrasi generasi milenial dan generasi Z—mereka yang digadang-gadang sebagai cikal bakal generasi emas Indonesia. Meski demikian, harapan saja tidak cukup. Diperlukan keberanian besar untuk mengubah arah, menata ulang fondasi, dan membayangkan Indonesia baru yang lebih baik.
Melalui buku Reset Indonesia: Gagasan tentang Indonesia Baru, Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu mengajak pembaca menempuh perjalanan yang meresahkan sekaligus membuka mata. Mereka melintasi Nusantara dengan penuh harapan, melihat Indonesia lebih dekat dan ‘menemukan’ gagasan menata Indonesia lebih berpihak kepada rakyat. Dari Sabang hingga Merauke, mereka menghadirkan potret Indonesia lewat catatan-catatan kondisi sosial di berbagai daerah dengan pendekatan jurnalisme naratif yang tajam dan empatik.
Semua itu terangkum secara apik dan sistematis dalam buku ini. Reset Indonesia tidak hadir sekadar sebagai kritik, tetapi ajakan untuk berhenti sejenak—menengok akar persoalan, menata ulang arah, dan membayangkan Indonesia yang lebih adil, manusiawi, dan berkelanjutan serta berpihak kepada rakyat.

Perjalanan Panjang Melihat Wajah Indonesia yang Sebenarnya
Buku Reset Indonesia merupakan semacam “oleh-oleh” dari perjalanan panjang menelusuri wajah Indonesia yang didasari dari Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa (2009), Ekspedisi Indonesia Biru (2015), dan Ekspedisi Indonesia Baru (2022–2023). Perjalanan ini tidak sekadar merekam realitas, tetapi juga menghadirkan gagasan tentang Indonesia yang lebih berpihak kepada rakyat dan berkelanjutan.
Dibanding dua ekspedisi sebelumnya, Ekspedisi Indonesia Baru menghadirkan pembaruan yang menarik. Farid Gaban dan Dandhy Laksono tidak hanya melakukan perjalanan lintas wilayah, tetapi juga lintas generasi dengan mengajak dua anak muda untuk turut serta. Dengan demikian, perjalanan ini merepresentasikan perspektif Baby Boomer, Generasi X, Milenial, hingga Gen Z dalam satu lintasan pengalaman yang sama.
Realitas yang ditemui di sepanjang perjalanan tidak hanya direkam melalui gambar ataupun video. Dan, buku Reset Indonesia merupakan laporan jurnalisme berbentuk tulisan yang sarat emosi—marah, sedih, prihatin sekaligus penuh harapan. Semua itu menguatkan satu pesan penting: Indonesia butuh direset.
Narasi awal buku ini langsung menghadirkan “tamparan” lewat fenomena air kemasan. Air, yang sejatinya merupakan kebutuhan dasar dan dapat diakses secara gratis, justru mengalami kapitalisasi. Air tidak lagi sekadar sumber kehidupan, melainkan komoditas yang diperjualbelikan.
Komersialisasi air, sebagaimana diungkapkan dalam buku ini, tidak semata disebabkan oleh pencemaran lingkungan. Persoalannya jauh lebih kompleks. Perjalanan air bukan hanya perjalanan hidrologi, tetapi juga perjalanan ideologi dan ekonomi politik.
Sebagai generasi Milenial dan bertumbuh di pelosok daerah transmigrasi Provinsi Jambi, saya terakhir merasakan air rebusan dari sumur lebih dari satu dekade lalu. Sama seperti halnya para penulis di buku ini, saya dan keluarga tak lagi percaya dengan kualitas air tanah. Untuk kebutuhan minum kami bergantung kepada air galon merek ternama asal Prancis tersebut dengan harga terbilang mahal dibandingkan daerah perkotaan.
Dari isu air, pembaca kemudian diajak meninjau ulang makna kemajuan sebuah negara—yang ironisnya justru menghadirkan kesengsaraan bagi sebagian rakyatnya. Narasi lalu bergerak ke isu industri sawit, membuka mata terhadap kerusakan lingkungan yang nyata dan kerap dianggap sebagai konsekuensi wajar pembangunan.
Pembahasan soal sawit di buku ini adalah hal yang paling relate bagi saya. Saya merasakan kondisi kabut asap, sempat mengalami tidak bisa melanjutkan perjalanan karena dihadapkan oleh banjir di tengah hutan sawit. Dari atas ketinggian pesawat saya menyaksikan pemandangan kerusakan hutan yang memprihatinkan. Dan yang menyedihkan adalah menyaksikan suku Anak Dalam (kami menyebutnya dengan kubu) harus tergusur.
Diakui keberadaan sawit di desa kami membawa pertumbuhan ekonomi yang memanjakan sebagian orang dengan uang yang dimiliki dari hasil kebun tersebut. Namun, sebagaimana dibahas dalam buku ini, eksploitasi sawit berlebihan mempercepat hilangnya hutan, lebih cepat dari yang bisa kita manfaatkan. Padahal, dengan keragaman hayatinya, hutan adalah modal untuk mengembangkan industri hilir yang sangat beragam, baik dalam pengolahan pangan, farmasi, biokimia, dan kosmetika.

Dari Keresahan Menuju Harapan
Melalui buku ini, Farid Gaban dan kawan-kawan menyoroti berbagai persoalan krusial: ketimpangan agraria, kerusakan lingkungan, krisis keterjangkauan harga rumah bagi generasi Milenial dan Gen Z, hingga lemahnya akses politik rakyat. Semua dirangkai menjadi satu potret besar Indonesia yang sedang kita hadapi.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Farid Gaban, bahwa jurnalisme punya kewajiban menyuarakan orang-orang yang tak bersuara atau mereka yang suaranya jarang didengar. Namun, dalam media massa kita, berita cenderung secara keliru hanya didefinisikan sebagai suara pejabat atau politisi.
Dan, sejatinya buku bisa dikatakan sebagai refleksi dari keresahan-keresahan suara rakyat yang suaranya tenggelam. Namun, di sisi lain memberi gagasan untuk menata kembali Indonesia yang lebih adil, berkelanjutan, dan berpihak kepada rakyat.
Pilihan ada di tangan kita, begitu Benaya mengakhiri tulisan dalam buku tersebut. Apakah kita tetap membiarkan jalan keserakahan dan kebodohan yang merusak, atau jalan kemandirian yang menjaga? Pilihan itu ada di tangan kita sejak sekarang.
Judul: RESET INDONESIA, Gagasan Tentang Indonesia Baru
Penulis: Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo dan Benaya Harobu
Penerbit: Indonesia Tera/Patjarmerah
Tahun Terbit: 2025
Tebal: 448 Halaman
ISBN: 978 -979- 775 -348-1
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Biasa dikenal dengan Ekahei. Penikmat cerita, pengemar transportasi kereta api dan penyuka makan nasi Padang yang memutuskan untuk jadi masyarakat Padang.



