Tulisan ini dari seorang yang sudah merantau hampir setengah dari hidupnya. Dari umur 18, aku sudah pergi jauh dari rumah demi pendidikan dan pekerjaan yang lebih baik, serta melihat lebih banyak tempat dan orang baru. Seiring tahun berganti, jarak dari tanah rantau ke kampung halamanku semakin jauh. Pada 2015–2021, aku merantau ke Kota Makassar, yang kalau aku pulang kampung harus menempuh delapan jam perjalanan darat dengan bus untuk sampai rumah. Kemudian beberapa kali aku merantau singkat ke Bogor, Wakatobi, Labuan Bajo, hingga perantauanku kini di Kota Bandung sejak 2024.
Sebelas tahun jauh dari rumah mengubah persepsiku tentang pulang. Sewaktu remaja, aku memandang rumahku dan kotaku membosankan. Kota tanpa gedung-gedung tinggi dan hiburan yang seseru di Makassar, sehingga ingin segera kutinggalkan saat dewasa nanti.
Hari ini, aku memandang tempat kelahiranku jauh berbeda dibanding sebelumnya. Hari ini, kampung halaman adalah akarku, bagian dari dalam diriku yang tidak akan pernah bisa kuhapus. Sejauh mana pun aku pergi, atau seburuk apa pun kotanya, kampung halamanku menyimpan kerinduan yang dalam dan tenang. Kota kecil tempatku lahir dan bertumbuh, tempat orang tuaku menungguku pulang. Setelah 11 tahun perantauan, pulang kampung adalah momen tahunan yang paling kutunggu.

Naik Kereta dari Bandung
Perjalanan mudik kali ini sedikit berbeda dari sebelumnya. Tahun lalu aku menempuh perjalanan cukup panjang: naik travel dari Jatinangor ke Bandara Soekarno-Hatta, lalu perjalanan darat dengan bus dari Makassar ke Palopo. Mudik di tahun 2026 ini kumulai dengan bersepeda motor dari Jatinangor ke Stasiun Bandung, lalu naik kereta selama 11 jam menuju Stasiun Pasar Turi, Surabaya. Setelah itu naik kapal laut dari Surabaya ke Makassar, kemudian lanjut dengan bus malam dan tiba di Palopo keesokan paginya. Sebuah rencana petualangan yang meriah dan dinanti-nanti, bahkan memikirkannya saja sudah membuat hatiku berdebar.
Perjalanan dimulai pada Jumat pagi. Sehabis sahur, aku ditemani Hardiana menuju Bandung dan beristirahat sebentar di rumahnya di sekitar Cicaheum, lalu berangkat ke stasiun pukul 08.00 WIB. Pagi itu tidak terlalu ramai. Kami mampir sebentar ke sekitar Purnawarman untuk menghitung sisa stok dan menambah stok baru dari bisnis aksesori kecil buatan tanganku. Kami sempat mampir daerah Pasir Kaliki, membeli beberapa oleh-oleh titipan kawanku di Makassar, lalu menuju stasiun yang cukup dekat dengan tempat belanja.
Stasiun Bandung sangat rapi dan tertata. Arsitekturnya khas seperti rumah-rumah tua peninggalan Belanda yang banyak ditemui di Bandung. Di stasiun, aku menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum berangkat. Menuntaskan panggilan Zoom, pekerjaan kantor, dan beberapa dokumen yang harus aku kirim sebelum liburan ini resmi dimulai.
Perjalanan kali ini menggunakan KA Harina dengan jadwal keberangkatan pukul 09.35 dan dijadwalkan tiba di Stasiun Pasar Turi pukul 20.10. Kami memesan kursi kelas ekonomi premium di gerbong 1. Tidak terlalu mewah, tapi setidaknya sandaran kursinya bisa dimiringkan, dan tidak berhadapan dengan penumpang lain.
Tidak banyak yang bisa diceritakan selama perjalanan. Masing-masing kursi disediakan colokan untuk mengisi daya baterai perangkat elektronik. Sinyal sepanjang Bandung–Surabaya cukup stabil sehingga aku menghabiskan lebih dari 10 jam perjalanan dengan mengerjakan pekerjaan kantor, mengikuti webinar, dan melihat pemandangan alam sepanjang perjalanan.
Aku duduk di kursi dekat jendela. Saat di Stasiun Padalarang, kursi yang tadinya kosong di sampingku akhirnya kedatangan pemiliknya, seorang perempuan muda dengan kerudung panjang yang menutupi sampai dada. Ia datang dengan barang bawaan yang cukup riweuh: sebuah koper ukuran sedang, tas bahu puff, dan sekantong jajanan yang menggiurkan.

Mudik dan Antusiasme Orang Indonesia
Ia menyapaku beberapa menit setelah duduk. Kami bertukar senyum, lalu percakapan panjang selama beberapa jam itu pun dimulai.
“Mau ke mana, Mbak?” tanyanya.
“Surabaya, Mbak. Kalau Mbak gimana?”
“Oh, saya Semarang, Mbak. Mau mudik ke rumah orang tua di sana.”
Percakapan kami pun berlanjut ke banyak hal. Soal pekerjaan, anak, kehidupan sebagai guru, dan banyak lagi sepanjang perjalanan itu. Ia orang yang ceria dan banyak bercerita. Aku mengingat sebagian besar percakapan kami. Namun, momen mendekati Stasiun Semarang Tawang menjadi yang paling berbekas selama perjalanan dengan kereta waktu itu.
“Nanti sebelum Stasiun Semarang, rute kita akan melewati daerah pinggir pantai,” ucapnya. Matanya berbinar dan intonasi bicaranya pun penuh semangat.
Aku mengangguk dengan semangat, “Nanti kabarin ya, Kak, kalau sudah dekat.”
Ia menepuk lenganku saat rute yang diceritakannya tadi sudah dekat. Sudut matanya menunggu dengan antusias, dan beberapa detik setelahnya kereta kami melewati rute yang dekat sekali dengan pesisir pantai. Ini kali pertamaku melihat air laut begitu dekat dari kereta.
“Wow!” seruku. Ia merasa senang, puas setelah menunjukkan momen yang paling ia nanti ketika menaiki kereta dari tempat perantauannya di Karawang ke Kota Semarang selama belasan tahun ini.
Kami berpisah saat ia harus turun di stasiun tujuannya. Kami bertukar kontak. Semoga nanti ada kesempatan untuk saling berkunjung di masa mendatang. Setelahnya, kursi di sampingku kosong selama sisa perjalanan dari Semarang ke Surabaya.

Surabaya selama Dua Hari
Jauh sebelum menginjakkan kaki di kota termaju Jawa Timur, aku berkali-kali mendengar Surabaya diceritakan oleh band Silampukau dalam lagu-lagunya yang banyak meromantisasi Surabaya dan perantauan. Malam ini, aku tiba di kota yang baru, menghirup udara malam yang kering dan terasa jauh lebih gerah dibandingkan malam-malam di Bandung dan Jatinangor.
Dari Stasiun Pasar Turi, kami menyewa taksi online menuju daerah pinggiran Surabaya, dekat Bandara Juanda. Penantian yang awalnya sehari berubah menjadi hampir dua hari setelah pihak operator kapal laut memberitahukan perubahan jadwal keberangkatan. Alhasil, kami tinggal lebih lama di Surabaya.
Akhirnya, tepat pada Minggu malam, kami memulai perjalanan laut satu-satunya dalam agenda mudik tahun ini. Dari pengumuman via teks, jadwal kapal yang awalnya berangkat pada Minggu, 15 Maret pukul 06.00 itu, mundur menjadi pukul 23.00. Kami pun berangkat pukul 20.00, mengingat tempat menginap kami cukup jauh dari pelabuhan.
Arus mudik mulai terasa padat, meskipun masih beberapa hari sebelum puncak arus mudik tanggal 18 Maret. Kami berdesak-desakan masuk kapal dan mengambil tiket offline. Untungnya, kamar yang kami tempati melebihi ekspektasi kami. Sebuah kamar kelas II yang nyaman dan cukup luas. Selain itu, kami juga memperoleh makanan enak dan waktu yang menyenangkan selama pelayaran ini.

Kontemplasi di Tengah Laut Jawa
Kurang dari sebulan sebelum rencana mudik ini, aku berkunjung ke salah satu rumah kerabat seorang teman di Cigadung, Bandung. Aku tidak begitu mengenal orangnya. Kami hanya bertemu beberapa kali tanpa menyapa sewaktu acara rutinan Pasar Minggu Bandung di Perpustakaan Ajip Rosidi.
Sore itu, aku dan beberapa teman mengunjungi rumahnya dalam bela sungkawa yang dalam atas berpulangnya sang ibunda beberapa hari lalu. Dalam pertemuan hangat itu, kami menemukan satu fakta baru. Dulu sewaktu aku menulis di salah satu platform budaya, ia adalah editor langsung yang memegang tulisanku.
Sebuah kebetulan yang menyenangkan membawa pesan begitu dalam. Sebuah langkah jauh dari keberanian yang besar untuk pergi dari rumah, serta kejadian-kejadian yang terjadi di antaranya, adalah takdir yang telah disiapkan untuk kita. Lalu di antaranya, akan ada benang-benang yang bertaut dan hadiah-hadiah kecil seperti sore itu.

Aku menulis cerita ini di atas kapal Dharma Kencana dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, menuju Pelabuhan Soekarno-Hatta, Makassar. Di antara laut tanpa sinyal dan gawai yang baterainya mati, aku menyelesaikan tulisan perjalanan pertama pada 2026.
Kata Pak Ivan, seorang fotografer yang nyambi jualan jajanan pasar—atau sebaliknya—di Pasar Minggu Bandung, “Menulis itu seperti naik sepeda.” Ya, kita bisa lama tidak menulis, tapi soal tulisan dan gayanya, konon seperti orang yang bisa naik sepeda, tetapi lama tidak menaikinya. Otak dan motorik tubuh telah akrab dengan pola dan caranya.
Menulis agenda pulang di tahun kedua sebagai seorang perantau di Kota Bandung membawa perasaan sentimental tersendiri. Dulu, aku mati-matian berusaha meninggalkan kota kelahiranku. Kupikir di sana tidak ada masa depan. Aku mati-matian mengejar pendidikan di luar kota, mencari pekerjaan apa pun asal tidak di kampung, dan pulang ketika aku sempat saja.
Hari ini, setelah belasan tahun merantau, aku sampai pada kerinduan yang dalam akan kampung halaman dan waktu-waktu yang kuhabiskan di sana. Kasur lamaku, kamarku yang paling pojok dekat dapur, juga makanan yang begitu kurindukan. Hari ini, kampung bukan sesuatu yang mati-matian ingin kutinggalkan. Sebaliknya, kampung adalah kerinduan dan penanda sejauh mana aku telah bertumbuh.
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Menumbuhkan sayur di halaman rumah dan menulis sebagai Nawa Jamil.


