Turisme, Cahaya, dan Pencarian yang (Tak) Sederhana
Interval

Turisme, Cahaya, dan Pencarian yang (Tak) Sederhana

Tulisan ini adalah sekelumit ide yang tersempal, dan kemudian terefleksi, dari dua riset yang sedang saya lakukan secara paralel. Riset pertama tentang agen perjalanan di Yogyakarta; yang kedua tentang senja dalam perspektif more-than-human anthropology. Pada suatu proses transkripsi, saya mendapati soal Borobudur sunrise…
Sepakbola dan Perjalanan: Fragmen-fragmen
Travelog

Sepakbola dan Perjalanan: Fragmen-fragmen

I Di sebuah losmen 50 ribu per malam, di Labuan Bajo, saya duduk termangu memandangi menara gereja nun jauh di sana lewat celah lebar pintu kamar. Kemungkinan gereja Protestan. Entahlah. Tiba-tiba saja, segerombolan anak-anak datang dan bermain bola plastik di halaman losmen. Di tanah gersang itu, dengan debu-debu yang…
Empat Babak Corona
Pilihan EditorSemasa Corona

Empat Babak Corona

I Awal Februari, Siargao, Filipina. Debur angin laut melenakan kami yang sedang berdiskusi nikmat tentang relasi dan empati terhadap elemen-elemen yang-bukan-manusia: pohon, semut, ombak? Saya sedang mengikuti sebuah residensi riset selama sepekan di Siargao, ketika Filipina mendapati kasus corona pertamanya. Seorang warga…
Bahaya Laten Heritagisasi
IntervalPilihan Editor

Bahaya Laten Heritagisasi

Saya duduk santai sambil menikmati sore yang kian tua di Kampung Adat Prai Ijing, Sumba Barat. Di sebelah, seorang bapak dan anaknya menemani saya. Sementara kawan-kawan seperjalanan sedang asyik mengambil footage. Di hadapan kami adalah rumah-rumah adat Sumba, dengan atap-atap jerami yang runcing ke atas. Posisi kami ada…
“Dark Tourism”: Merayakan yang Kelam
Interval

“Dark Tourism”: Merayakan yang Kelam

“[K]ami tinggal di Pripyat, dekat reaktor. Sampai hari ini, aku masih mengingat cahayanya, pendar merah raspberry … [W]arna yang sangat indah. Bukan api biasa, tapi tampak menyala. Sangat cantik. Jika kamu melupakan segala hal lainnya, itu sangat indah … [B]eberapa orang menyetir atau bersepeda lusinan kilometer untuk…
Memagari Ombak: Cerita Selancar Sumba
Pilihan EditorTravelog

Memagari Ombak: Cerita Selancar Sumba

Nihiwatu adalah semacam legenda di Pulau Sumba. Kita kadung membacanya sebagai hiperbola: terbaik, termahal, termewah. Ketika mengunjungi Sumba lima tahun silam, tepatnya saat berdiri di karang raksasa di tepian Pantai Kerewee, tukang ojek yang menemani saya menyebut bahwa Nihiwatu tidak sembarangan dikunjungi siapa saja.
Solilokui Jalan Tol
Interval

Solilokui Jalan Tol

I Saya suka lari sore di jalan tol yang belum beroperasi. Itu terjadi beberapa bulan lalu. Sekarang, ruas jalan tol Cimanggis-Kukusan (atau sebaliknya) itu sudah diisi mobil-mobil yang melintas kencang dari/ke Jakarta atau Bogor. Saya jadi tak bisa berlari di sana, juga orang-orang lain yang suka menghabiskan sore akhir pekan…
Sejam di Museum KAA: Pedagogi Dekolonial?
Pilihan EditorTravelog

Sejam di Museum KAA: Pedagogi Dekolonial?

Pada suatu siang akhir pekan yang cerah, saya berkunjung ke Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung. Ceritanya saya mesti menunggu jadwal kereta selama tiga jam. Jadi, daripada bengong-bengong di stasiun, saya berangkat ke kawasan Braga. Sebenarnya, saya tak terlalu suka pergi ke museum. Museum pada umumnya disusun…