Travelog

Pendakian Pertama Ke Gunung Merapi

Rencananya aku hanya pergi berdua saja dengan temanku, Fahri. Saat mencari informasi tentang wisata Merapi kala itu, kami mendapati bahwa kawasan wisata sementara ditutup karena Merapi berstatus siaga III. Dengan berat hati kami memutuskan pergi bulan depan. Tak apa, ada hikmahnya karena setidaknya aku ada waktu untuk mempersiapkan fisik terlebih dulu. Sudah lama rasanya dari terakhir kali menjejakkan kaki ke alam.

Hari berganti bulan, akhirnya waktu yang dinanti tiba. Perlengkapan yang dibutuhkan sudah ku lengkapi dari jauh hari, tinggal masukkan ke dalam carrier. Mari kita absen satu per satu. Matras, jaket tebal, headlamp, sunblock, pakaian, obat-obatan pribadi, logistik lainnya. Ok, sudah masuk semua. Aku dan Fahri berangkat langsung menuju ke basecamp Merapi.

Petualangan dimulai.

Tak lupa kami berdoa supaya diberi kelancaran dalam perjalanan ini, semoga kami selalu dilindungi dan dijauhi dari mara bahaya. Saking lelahnya bercanda, aku sampai tertidur di dalam bus. Saat bangun, aku dan Fahri sudah tiba di Selo, Boyolali. Mobil berhenti tepat di depan basecamp para petualang, basecamp Barameru.

Basecamp Barameru/Sumber

Di situ Fahri bergegas untuk mendaftarkan pendakian kami. Lalu, pendakian kami lanjutkan ke New Selo sebelum memasuki hutan Gunung Merapi. Perjalanan menuju New Selo ini menyenangkan sebagai permulaan, jalan beraspal dihimpit perkebunan warga membuat semangatku makin menyala.

Tiba di New Selo, kami bertemu dengan pendaki yang turun. Mereka beristirahat di sini sambil menyantap camilan. Beberapa diantara mereka minum teh panas untuk menghalau dingin. Ada juga pendaki yang baru akan mendaki, seperti kami. Dua diantaranya sedang mengemas ulang perbekalan supaya lebih rapi dan nyaman dibawa naik, sama seperti kami.

Rombonganku berkumpul, Fahri memimpin doa agar Tuhan selalu mengiringi langkah kami. Waktu menunjukkan tepat pukul 13.00 WIB, kami mulai mendaki. Disepanjang track, kami selalu berpapasan dengan pendaki-pendaki yang lainnya turun dari gunung. Ada yang lari-lari, ada yang terlihat bahagia, ada yang terlihat lelah, banyak macamnya deh! Tidak lupa support semangat mereka berikan untuk kami yang baru naik, kadang ada yang nanya asal dari mana; kadang ada yang bilang semangat, puncak sudah dekat, dan semacamnya. Sudah menyerupai semut yang selalu bertegur sapa walaupun tidak saling kenal.

Untuk menuju shelter pertama, kami hanya memerlukan waktu kurang lebih 2 jam. Sesampai disana, kami beristirahat dan menunaikan ibadah sholat dzuhur. Sambal menunggu adzan ashar, kami ngobrol dengan sesama pendaki. Akhirnya adzan ashar berkumandang kami langsung bergegas ambil wudhu siap-siap sholat ashar. Selesai sholat, kami melanjutkan perjalanan sebelum matahari semakin terik.

Bincang-bincang manja canda tawa selama kurang lebih 2 jam, akhirnya kami sampai di pos 1. Fahri memintaku untuk istirahat sebentar. Oh ya! Aku hampir lupa untuk mengabadikan momen bersama. Jangan sampai terlewat dong, nanti menyesal ga ada yang bisa diingat lagi perjuangan menuju puncak Merapi. Jiwa-jiwa narsis kita membara disitu. Aku mengabadikan foto kami dan pemandangan alam yang luar biasa indah. Selesai itu aku duduk terdiam, melihat puncak Merapi di bawah senja yang samar mulai tertutup kabut tebal. Disini aku berpikir, aku hanya manusia yang sangat kecil dibandingkan ciptaan Tuhan lainnya. Aku belajar untuk tetap bersyukur bahwa saat ini kita masih diberi kesehatan dan kekuatan untuk menikmati ciptaannya dan mengagungkan sang Pencipta.

Setelah merasa cukup, kami melanjutkan perjalanan hingga tak terasa malam menyapa kedatangan kami. Aku meletakkan ransel dan langsung beristirahat di atas batu yang bisa digunakan untuk rebahan. Batu itu lumayan besar, cukup menampung kami berdua sembari menikmati bulan yang terang sambal menikmati lampu kota Boyolali, musik yang syahdu dari tenda sebelah, sorotan lampu senter, bisikan suara angin dan hewan, semua menjadi teman kami malam ini.

Ternyata angin malam yang begitu dingin mampu menerobos jaket tebalku. Semakin malam semakin terasa dingin. Sampai-sampai usahaku untuk memejamkan mata kalah dengan rasa dingin nya. Badanku semakin menggigil. Dibalik batu ada ruang untuk rebahan, aku langsung pindah dan berusaha memejamkan mata namun tetap tidak bisa. Aku bangun dan duduk disamping Fahri. Sepertinya ia kelelahan sampai tidur terlihat pulas. Nampak juga bahwa ia kedinginan, semakin tidak tega melihatnya. Aku menahan dingin hingga hidungku sakit karena terlalu dingin. Aku pilek dan langsung mengeluarkan minyak kayu putih dari peralatan obat dan langsung ku minum tolak angin. Fahri terbangun, aku memberikan tolak angin untuknya supaya tidak masuk angin.

Merapi malam hari/Sumber

Kami pergi mencari tempat yang aman yang bisa digunakan untuk mendirikan tenda. Angin semakin kencang mempercepat pergerakan mendirikan tenda. Tenda berdiri, perlengkapan serta logistik berada di dalam tenda. Fahri membuatkan coklat hangat yang menemani malam kami saat itu.

Alarm Fahri berbunyi menandakan subuh telah datang. Rasa malas dan enggan untuk bangun sangat kuat pagi itu. Diluar tenda terdengar klontang-klantung, entah apa yang dikerjakan Fahri.

Mau tidak mau, aku langsung terbangun dan keluar, hari terlihat masih gelap pemirsa. Kami langsung menunaikan sholat subuh. Tak lama kami membereskan peralatan sholat subuh, langit mulai terang. Mentari malu-malu menampakkan sinarnya. Sungguh indah, Tuhan. Nikmat mana lagi yang kau dustakan.

aku duduk di atas batu yang tidak terlalu jauh dari tenda, duduk diam sambal menikmati terbitnya mentari dengan secangkir coklat hangat. Tak lupa kami mengabadikan momen-momen di depan kamera dengan begitu banyak pose sampai akhirnya capek sendiri. Yahh semakin tinggi Mentari semakin banyak pendaki yang lalu lalang menuju puncak Merapi. Kami membereskan tenda sampai akhirnya kami berangkat menuju puncak bersama rombongan pendaki yang akan naik.

Setiap istirahat, banyak pendaki menyemangati yang bilang “ayo, 30 menit lagi sampai” atau “semangat sedikit lagi sampai puncak”. Kata-kata itu membuatku semakin bersemangat di setiap langkah demi langkah pijakan kami. Terutama saat ku melihat beberapa orang tua yang menjejakkan kakinya sampai ke puncak Merapi. Semakin dekat dengan puncak akan semakin terasa tercium bau belerang.

Banyak pendaki yang sudah ada disana begitu ramai. Diatas salah satu batu yang curam dan sangat berbahaya kalau kita lengah dan tidak berhati-hati menginjaknya tepat berada di samping kawah yang sangat curam. Kami duduk istirahat menikmati keindahan alam sembari berbincang-bincang dengan pendaki lainnya. Usaha yang kami keluarkan adalah sesuatu yang luar biasa. Kami bisa sampai disini. Dari jauh terlihat gunung Merbabu, Sumbing, Sindoro, Andong, Prau, dan gunung Slamet yang terlihat kecil membuatku mengakui, bahwa kuasa-Nya sangat indah.

Ini adalah perjalanan pertama kali Andra ke Gunung Merapi.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
Travelog

Menyusuri Titik Nol Kota Banjarmasin

Travelog

Pantai Pulodoro, Sebuah Kesunyian

Travelog

Mencoba Berjalan di Jembatan Gantung Terpanjang se-Asia Tenggara

Travelog

Perjalanan Menyusuri Pulau Rote

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *