Pulau Um, Sorong
Pulau Um dikenal karena fenomena pergantian ruang hidup kelelawar dan burung camar yang unik. Kelelawar aktif mulai petang dan mencari makan sepanjang malam sampai pagi, sedangkan camar akan menempati hutan di tengah pulau untuk istirahat setelah beraktivitas selama hari terang. Begitu juga sebaliknya.
Meski kecil, ternyata keragaman burung di Pulau Um cukup beragam. Selain dua spesies besar tadi, ada beberapa burung lain yang ditemui selama kami berkemah di pulau berpasir putih tersebut. Kebanyakan bukan berhabitat asli di pulau yang dilindungi aturan adat suku Moi bernama egek—larangan mengambil hasil alam apa pun.
Gagak orru atau torresian crow (Corvus orru). Sebagaimana umumnya gagak, burung ini mudah dikenal karena dua hal, yaitu bulunya dominan hitam pekat dan suara kicau yang serak dan melengking. Namun, burung ini cenderung memiliki warna abu-abu di bagian tubuhnya. Gagak orru tergolong burung terestrial yang menyukai habitat terbuka, seperti kawasan pesisir.
Kipasan kebun atau willie-wagtail (Rhipidura leucophrys). Ukuran burung ini kecil sekali, meski memiliki morfologi yang cukup mudah dikenal lewat warna hitam di hampir sekujur tubuh, kecuali bagian dada yang berwarna putih. Biasanya burung ini sering terlihat di area taman atau padang rumput. Namun, kami juga menemukannya di Pulau Um, kerap terbang dan bertengger berpasangan.
Cekakak suci atau sacred kingfisher (Todiramphus sanctus). Biasa disebut juga cekakak australia, daerah asalnya, yang kemudian bermigrasi ke Indonesia saat musim kemarau untuk mencari udara hangat. Warnanya khas, dengan bulu kepala dan sayap biru kehijauan. Bagian dada-perut tidak sepenuhnya putih bersih, karena ada sapuan kuning seperti karat atau kusam. Sedikit berbeda dengan cekakak sungai, cekakak suci berukuran sedikit lebih mungil dan biasa berburu di kawasan pantai atau hutan mangrove. Mangsanya rata-rata serangga, serta kepiting dan udang kecil.

Layang-layang asia atau barn swallow (Hirundo rustica). Burung pemakan serangga yang biasanya berhabitat di sawah, kebun, hutan, atau permukiman. Namun, saat pagi di Pulau Um kami melihat burung dengan warna kombinasi biru laut pada tubuh atas serta oranye pada tenggorokan dan dahi itu. Sama seperti cekakak suci, kemungkinan layang-layang asia tersebut juga sedang bermigrasi.
Burung madu sriganti atau garden sunbird (Cinnyris jugularis). Burung yang kami lihat sedang memakan nektar gagabusan (tumbuhan naupaka pantai) di Pulau Um ini disinyalir berjenis kelamin betina. Sebab, bagian dada-perutnya sepenuhnya kuning, sedangkan jantan memiliki warna biru gelap pada tenggorokan. Kesamaan keduanya pada bagian tubuh atas berwarna hijau zaitun. Meski umum ditemukan di habitat urban, perkebunan, taman, atau semak belukar, burung madu sriganti juga bisa mencari makan ke kawasan hutan mangrove atau pantai.