INTERVAL

“Oreng Aghung”, Eufemisme Masyarakat Kangean Menghadapi Wabah

Tempo lalu seorang teman mengunggah potongan puisi saya yang berjudul Mengeja Sarone di status WhatsApp pribadinya. Puisi tersebut berangkat dari perhatian saya terhadap sarone, alat musik lokal Kangean yang dalam banyak muatannya kerap melantunkan kesedihan, kehilangan, serta kematian dalam bentuk yang “menyenangkan”. Pesta semalam, perayaan kesedihan banyak orang, tulis saya.

Teman saya mengomentari, “Begitu keren orang-orang tua kampung kita di masa lalu, kehilangan dan kematian ‘dirayakan’ dengan ‘pesta’, sementara manusia di masa sekarang ini hidup saja masih terus menangis dan merengek”. Ya, itulah eufemisme rakyat dengan segala keindahan bentuk-isinya.

Saya membalas dengan contoh eufemisme yang lain, semacam strategi linguistik masyarakat lokal Kangean dalam upaya melawan ketakutan atas wabah penyakit menahun guna mengurai kecemasan kolektif. Kata Naomi Judd, ”Jaga vitalitasmu! Tubuhmu mendengar semua yang dikatakan pikiranmu.”

“Oreng Aghung”, Eufemisme Masyarakat Kangean Menghadapi Wabah
Pemain sarone Kangean di Alun-alun Arjasa, tahun 1957/Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur

Bahasa sebagai Strategi Menghadapi Ancaman

Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, ia juga cermin dari cara suatu masyarakat memahami dan merespons realitas. Dalam konteks kesehatan dan penyakit, cara sebuah komunitas menamakan penyakit tertentu dapat mengungkapkan sistem kepercayaan, mekanisme psikologis, dan strategi sosial komunitas ketika menghadapi ancaman kesehatan.

Masyarakat Kangean, sebuah gugus kepulauan di timur jauh Madura, telah sejak lalu mengembangkan sistem penamaan unik untuk cacar (smallpox), salah satu penyakit paling mematikan dalam sejarah peradaban manusia. Dalam bahasa Kangean, penderita cacar disebut oreng aghung, yang secara harfiah berarti “orang agung” atau “orang yang ditinggikan”.

Penamaan ini menarik karena menggunakan istilah berkonotasi positif untuk menyebut kondisi sangat negatif, bahkan mematikan. Fenomena kebahasaan semacam ini bukan cuma sekadar quirk linguistic, melainkan cermin utuh strategi psikologis dan sosial dalam menghadapi wabah yang pada masanya tidak memiliki pengobatan efektif.

Cacar pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1644 dan menjadi salah satu epidemi paling mengerikan yang melanda Nusantara selama berabad-abad. Tingkat kematian yang tinggi dan dampak ekonomi yang merusak membuat cacar menjadi momok menakutkan. Indonesia akhirnya berhasil membasmi cacar pada tahun 1974 melalui kampanye vaksinasi massal dan pengawasan berkelanjutan.

Dalam konteks kepulauan seperti Kangean, dampak cacar bisa sangat menghancurkan. Penelitian Peter Boomgaard menunjukkan bahwa di pulau-pulau kecil dengan populasi terbatas, wabah cacar dapat menyebabkan kepunahan komunitas lokal atau penurunan populasi yang drastis.

Kamus Bahasa Belanda-Kambang, Kangean/Perpusnas RI

Eufemisme sebagai Fenomena Universal

Penggunaan eufemisme untuk menyebut penyakit adalah fenomena yang ditemukan di berbagai budaya di seluruh dunia. Eufemisme merupakan proses di mana tabu dilucuti dari nuansa yang paling eksplisit, memberikan alternatif untuk berbicara tentang hal yang ”tidak dapat diucapkan”.

Dari perspektif linguistik, eufemisme memiliki beberapa fungsi utama: fungsi face-saving atau menjaga muka; fungsi protective magic, kepercayaan bahwa menyebut nama sebenarnya dari penyakit dapat mengundang atau memperburuk penyakit tersebut; fungsi psikologis untuk mengurangi kecemasan dan ketakutan; serta fungsi sosial untuk mempertahankan kohesi komunitas dengan menghindari stigmatisasi berlebihan terhadap penderita.

Strategi Eufemistik Kangean

Penamaan penderita cacar sebagai oreng aghung merepresentasikan strategi eufemistik yang sangat spesifik. Kata “agung” memiliki konotasi kehormatan, kemuliaan, dan status tinggi. Penggunaan istilah ini menciptakan inversi semantik yang menarik. Kondisi yang secara objektif negatif, menyakitkan, dan berpotensi mematikan dibingkai ulang dengan terminologi positif dan mulia.

Fenomena ini mengindikasikan beberapa kemungkinan motivasi kultural. Pertama, strategi apotropaik atau penggunaan bahasa ”baik” untuk menangkal penyakit ”buruk”. Dalam banyak tradisi lisan di Nusantara, terdapat kepercayaan bahwa roh atau entitas supranatural yang menyebabkan penyakit dapat dibujuk atau ditenangkan dengan perlakuan hormat.

Kedua, fungsi empati dan dignitas. Dengan menggunakan istilah yang mulia, masyarakat memberikan martabat kepada penderita yang mungkin mengalami disfigurasi fisik akibat cacar. Dengan memanggil penderita sebagai “orang agung”, masyarakat berusaha mengimbangi stigma fisik dengan elevasi status sosial simbolik.

Ketiga, mekanisme koping kolektif. Eufemisme ini berfungsi sebagai cara komunitas mengelola kecemasan kolektif terhadap penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Dengan membingkai cacar dalam terminologi positif, masyarakat menciptakan jarak psikologis dari realitas mengerikan penyakit tersebut.

Praktik eufemisme untuk penyakit cacar tidak hanya terjadi di Kangean, tetapi juga ditemukan dalam budaya Jawa. Dalam bahasa Jawa, penyakit cacar disebut lara ayu yang berarti “sakit cantik”. Penggunaan kata “ayu” untuk penyakit yang menyebabkan bintik-bintik dan bekas luka tampak paradoksal, tetapi bertujuan agar penderita tidak merasa terbebani.

Perbandingan antara oreng aghung Kangean dan lara ayu Jawa menunjukkan variasi dalam strategi eufemistik meskipun motivasi dasarnya serupa. Eufemisme Jawa berfokus pada aspek estetika, sementara eufemisme Kangean berfokus pada aspek status sosial. Kedua strategi ini mencerminkan nilai-nilai kultural yang berbeda. Jawa menekankan keindahan dan kehalusan, sementara Kangean menekankan kehormatan dan status.

Fungsi Psikologis dan Sosial

Eufemisme untuk penyakit memenuhi beberapa fungsi penting, mulai dari mengurangi kecemasan dengan memungkinkan pembicaraan topik menakutkan tanpa menghadapi dampak emosional penuh; melindungi identitas dan harga diri penderita; memfasilitasi diskusi tentang topik yang sulit tanpa melanggar tabu; serta memperkuat kohesi sosial dengan menunjukkan nilai-nilai dan kepekaan yang sama.

Pemahaman tentang eufemisme penyakit juga memiliki implikasi praktis untuk kesehatan masyarakat dan komunikasi medis. Petugas kesehatan perlu menyadari terminologi lokal untuk penyakit agar dapat berkomunikasi secara efektif dengan pasien. Pendekatan komunikasi kesehatan yang sensitif secara budaya memerlukan keseimbangan antara kejelasan medis dan penghormatan terhadap norma linguistik lokal.

Studi tentang eufemisme penyakit dapat memberikan wawasan tentang cara masyarakat memahami kesehatan, penyakit, dan tubuh, yang dapat menginformasikan pengembangan kampanye kesehatan masyarakat yang lebih efektif dan beresonansi dengan nilai-nilai kultural.

“Oreng Aghung”, Eufemisme Masyarakat Kangean Menghadapi Wabah
Koridor Puskesmas Arjasa, fasilitas kesehatan modern pertama di Kangean, didirikan sekitar tahun 1910-an/Farhan Naufal

Pelestarian Warisan Linguistik

Keberhasilan program vaksinasi global dalam mengeradikasi cacar menghadirkan paradoks untuk pelestarian budaya. Pemberantasan penyakit mematikan ini adalah pencapaian terbesar umat manusia, sekaligus mengakibatkan hilangnya pengetahuan kultural, termasuk istilah-istilah, praktik-praktik, dan kepercayaan-kepercayaan terkait dengan penyakit tersebut.

Dokumentasi istilah-istilah seperti oreng aghung Kangean dan lara ayu Jawa penting bukan hanya untuk sejarah linguistik, melainkan juga untuk memahami bagaimana masyarakat di masa lampau menghadapi tantangan kesehatan eksistensial. Istilah-istilah ini adalah jendela ke dunia psikologis dan sosial nenek moyang kita.

Pelestarian tidak berarti mempromosikan pemahaman pra-ilmiah atau menolak pengobatan modern. Sebaliknya, ini tentang mengakui bahwa cara masyarakat berbicara serta merespons penyakit adalah bagian integral dari identitas kultural mereka dan mengandung kebijaksanaan tentang aspek-aspek perawatan kesehatan seperti dukungan psikososial, pelestarian martabat pasien, serta kohesi komunitas.

Praktik masyarakat Kangean dalam menyebut penderita cacar sebagai oreng aghung merepresentasikan strategi linguistik dan psikososial yang canggih untuk menghadapi salah satu ancaman kesehatan paling mematikan dalam sejarah manusia. Dari perspektif antropolinguistik fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa bukan hanya alat untuk mendeskripsikan realitas, tetapi juga untuk membentuk dan memediasi pengalaman kita terhadapnya.

Studi tentang eufemisme penyakit seperti oreng aghung memiliki relevansi yang melampaui kepentingan akademis atau historis. Ia memberikan wawasan tentang cara-cara universal, tetapi kultural spesifik ketika manusia menghadapi penderitaan, mortalitas, dan ketidakpastian. Pemahaman ini dapat menginformasikan praktik kesehatan masyarakat kontemporer sekaligus mengingatkan kita tentang dimensi psikologis dan sosial dari perawatan kesehatan.

Akhirnya, pelestarian dan studi istilah-istilah seperti oreng aghung adalah bagian dari upaya lebih luas untuk mendokumentasikan keragaman budaya manusia dan kebijaksanaan yang terkandung dalam tradisi-tradisi lokal. Meskipun kemajuan medis telah menghilangkan kebutuhan praktis untuk eufemisme cacar, warisan linguistik dan kultural ini tetap berharga sebagai testimoni kreativitas dan ketahanan manusia dalam menghadapi adversitas.


Foto sampul: Kelompok masyarakat Kangean (Farhan Naufal)


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Syauqi Khaikal Zulkarnain

Syauqi Khaikal Zulkarnain, lahir di Kangean, berkegiatan di Yogyakarta. Alumni Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan. Kini memilih fokus untuk aktif menghimpun dan mendokumentasikan sisa-sisa khazanah kebudayaan manusia di kampung halamannya.

Syauqi Khaikal Zulkarnain

Syauqi Khaikal Zulkarnain, lahir di Kangean, berkegiatan di Yogyakarta. Alumni Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan. Kini memilih fokus untuk aktif menghimpun dan mendokumentasikan sisa-sisa khazanah kebudayaan manusia di kampung halamannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Bekisar, Simbol Budaya Masyarakat Kangean