“Thomas Karsten merancang area permukiman di kawasan Candi Baru berdasarkan kelas ekonomi. Bukan berdasarkan zona etnis yang lazim diterapkan pada masa itu. Oleh sebab itu, kita akan menemukan banyak bangunan megah di daerah Candi Baru,” ujar Surya.
Pagi itu aku dan beberapa orang lainnya mengikuti kegiatan walking tour dengan rute kawasan Candi Baru. Surya bertugas sebagai pemandu, sekaligus teman perjalanan yang akan bercerita tentang hal-hal yang akan kami temui di kawasan Candi Baru. Sebuah kawasan permukiman elit yang sarat dengan cerita sejarah.

Awal Pembangunan Candi Baru
Surya memulai ceritanya dengan penetapan Semarang menjadi kota praja (gemeente) pada tahun 1906. Pada masa itu Semarang telah berkembang menjadi sebuah kota besar yang dihuni oleh berbagai macam etnis dan memiliki fasilitas yang yang lebih lengkap dibandingkan wilayah sekitarnya. Periode 1906–1942 menjadi fase modernisasi Kota Semarang.
Perkembangan kota yang pesat akhirnya meningkatkan kepadatan penduduk. Hal ini mengakibatkan wilayah Semarang menjadi lebih padat, kumuh, membuat sarana dan prasarana kebersihan tidak memadai, dan menurunnya kualitas lingkungan yang akhirnya menimbulkan wabah penyakit. Gemeente Semarang memutuskan untuk mengembangkan permukiman baru.
Kawasan Candi Baru akhirnya dipilih sebagai tempat untuk pengembangan permukiman baru. Thomas Karsten dipercaya untuk merancang pekerjaan ini. Kawasan ini terletak di daerah perbukitan, menghadap ke laut, memiliki udara yang sejuk dan bersih, serta masih banyak lahan kosong. Pada tahun 1916 kawasan Candi Baru mulai dikembangkan.
Sejak awal pembangunan kawasan ditujukan untuk para orang kaya pada masa itu. Tidak ada permukiman padat penduduk. Hanya ada vila-vila megah yang digunakan untuk tempat tinggal. Pengembangan kawasan Candi Baru memang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup.
Letak kawasan Candi Baru yang berada di sebelah selatan dan jarak yang jauh dari pusat kota pada saat itu tidak menjadi sebuah masalah. Bahkan para pengembang membangun reservoir untuk mengatasi permasalahan sumber air.
Area perbukitan Candi Baru seolah-olah menjadi batas antara Semarang bagian bawah (sebelah utara) dan Semarang bagian atas (sebelah selatan). Semarang bagian bawah merupakan wilayah yang dekat dengan pesisir Laut Jawa, yang menjadi awal mula perkembangan Kota Semarang.
Semarang bagian atas merupakan daerah perbukitan. Topografi berupa kawasan pesisir di bagian utara dan perbukitan di bagian selatan menjadi keunikan tersendiri bagi Kota Semarang. Banyak perbukitan di Kota Semarang yang bisa dimanfaatkan untuk melihat pemandangan Semarang bagian bawah dan pesisir Laut Jawa.


Bangunan Penting di Sekitar Taman Diponegoro
Kami memulai perjalanan walking tour dari Taman Diponegoro. Pada masa lalu taman ini bernama Raadsplein. Dibangun sekitar tahun 1925 dan menjadi alun-alun di Candi Baru. Taman ini memang dijadikan sebagai pusat kegiatan dan keramaian bagi orang-orang yang tinggal di kawasan Candi Baru.
Taman Diponegoro merupakan karya dari Thomas Karsten. Di masa lalu, saat belum ada banyak bangunan tinggi, warga bisa melihat Gunung Ungaran yang berada di sebelah selatan. Taman Diponegoro telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Pemerintah Kota Semarang.
Aku masih sering melihat orang-orang memanfaatkan Taman Diponegoro sebagai tempat olahraga—jalan kaki, lari, dan senam. Baik itu kala pagi maupun sore hari. Bahkan beberapa orang terlihat duduk santai menikmati teduh dan sejuknya udara di Taman Diponegoro.
Di sekitar Taman Diponegoro terdapat beberapa bangunan penting dan termasuk dalam bangunan cagar budaya. Mulai dari Rumah Dinas Kapolda Jateng, Rumah Dinas Panglima Kodam IV Diponegoro, Puri Wedari, dan Rumah Sakit St. Elisabeth.
Rumah Sakit St. Elisabeth dibangun pada tahun 1927 oleh Thomas Karsten. Proses pembangunan dimulai sejak tahun 1926. Pembangunan rumah sakit ini merupakan inisiatif dari para suster. Hal ini disebabkan pada masa itu dua rumah sakit yang ada di Semarang tidak mampu menampung banyaknya warga yang sakit. RS St. Elisabeth menjadi rumah sakit ketiga yang dibangun di Kota Semarang pada masa itu.
Pada masa pendudukan Jepang, rumah sakit ini dialihfungsikan menjadi markas militer. Kemudian kembali difungsikan sebagai rumah sakit setelah kemerdekaan. RS St. Elisabeth telah mengalami banyak perkembangan, tetapi bangunan utama tetap dijaga keasliannya. Sesuai dengan aturan konservasi bangunan cagar budaya.
Hotel Candi Baru
Kami melanjutkan perjalanan dengan menyusuri trotoar yang ada di Jalan Letjen S. Parman. Terasa teduh karena banyak pohon di tepi jalan. Menurut beberapa sumber yang aku baca, dahulu Jalan Letjen S. Parman bernama Jalan Dr. De Vogel.
Dr. De Vogel merupakan seorang dokter yang ikut menangani wabah penyakit yang menyebar di daerah Semarang bagian bawah. Dr. De Vogel dan Hendrik Tillema menginisiasi pengembangan kawasan Candi Baru guna menciptakan kawasan permukiman yang lebih sehat.
Setelah berjalan kaki sekitar 15 menit, akhirnya kami tiba di Hotel Candi Baru. Masih tampak megah dan gagah. Hotel Candi Baru dibangun sekitar tahun 1919. Hotel ini menjadi bagian penting di kawasan Candi Baru. Pada masa itu Hotel Candi Baru dimiliki oleh keluarga Van Demen Wars. Nama pertama hotel ini adalah Hotel Bellevue, yang berarti “pemandangan yang indah”.
Sesuai dengan namanya pada masa itu, hotel ini memang memiliki pemandangan yang indah. Hotel Candi Baru menghadap ke arah utara dan bisa melihat pemandangan Laut Jawa dan kawasan Semarang bawah secara langsung. Bentuk asli bangunan juga masih terjaga hingga sekarang.
Dua orang pegawai Hotel Candi Baru menyambut kami dengan ramah. Mereka juga mengizinkan kami untuk melihat area hotel. Pagi itu lobi hotel tampak lengang. Beberapa petugas sedang membersihkan ruang pertemuan dan kamar-kamar tamu.
Hotel Candi Baru menjadi bagian penting dalam pengembangan kawasan Candi Baru. Aku pun menemukan beberapa arsip lama yang memperlihatkan hotel ini berdiri kokoh dan cantik di atas sebuah perbukitan. Kini, ada beberapa hotel yang telah berdiri di kawasan Candi Baru. Pemandangan Laut Jawa dan area perkotaan Semarang bawah memang menjadi incaran para pengembang properti.
(Bersambung)
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Rivai Hidayat tinggal di Semarang. Memiliki hobi traveling, fotografi dan, menulis. Berusaha mendokumentasikan setiap perjalanan yang dilakukan





