TRAVELOG

Menyusuri Pulau Suwangi, Daratan Sunyi di Ujung Sungai Batulicin

Jika melintas di jalan raya Batulicin dan berhenti sejenak di jembatan Sungai Batulicin, akan tampak sebuah pulau yang terletak di ujung sungainya. Namanya Pulau Suwangi, hamparan hijau yang diapit kawasan muara sungai.

Saya sudah berkali-kali melewati jembatan ini. Setiap kali melintas, Pulau Sewangi menjadi latar tetap dari perjalanan menuju Batulicin atau sebaliknya, seolah menjadi saksi perjalanan orang-orang yang melewatinya. Namun, saya belum pernah sekalipun menjejakkan kaki di sana. Pulau itu hanya menjadi pelengkap pemandangan dari kejauhan dan jarang dibicarakan, sekadar ornamen penghias kawasan Selat Laut. 

Kesempatan untuk benar-benar mengunjunginya datang lewat sebuah kegiatan bernama Anjangsana Literasi, sebuah jelajah alam sekaligus peluncuran buku yang diadakan komunitas literasi Kopi Ambar Tanah Bumbu. Selain tertarik dengan kegiatan komunitas, ada rasa penasaran lama yang akhirnya menemukan jalannya: seperti apa sebenarnya Pulau Suwangi dari dekat?

Menyusuri Pulau Suwangi, Daratan Sunyi di Ujung Sungai Batulicin
Pulau Suwangi dari dekat, tampak dermaga dan fasilitas ibadah/Bayu Andhini

Pulau Berpenghuni yang Perlahan Sunyi

Pagi itu, peserta berkumpul di dermaga kecil tidak jauh dari jembatan Sungai Batulicin. Dermaga sederhana itu terbuat dari papan kayu yang menjorok ke sungai, tepat di halaman depan rumah Pak Syarwani, ketua RT setempat sekaligus “juru kunci” Pulau Suwangi. Beliau adalah keturunan ketujuh dari keluarga penghuni asli pulau tersebut, sehingga menjadi orang yang paling tahu tentang sejarah dan kehidupan di Suwangi. Kini Ia tinggal di Kelurahan Batulicin.

Sekitar pukul 7 pagi, suasana dermaga sudah ramai. Peserta kegiatan datang dari berbagai latar belakang: anggota komunitas literasi, guru dan murid dari sekolah yang diundang, hingga kelompok tentara yang berencana berkemah di pulau. Di sudut lain, sekelompok anak muda sibuk menyiapkan alat musik akustik, sementara para penari memeriksa kostum mereka.

Perjalanan menuju pulau dilakukan menggunakan kelotok, sebuah kapal kayu yang biasa dipakai nelayan untuk melaut, mengangkut air minum dari pulau, dan menampung hasil tangkapan laut. Mesin kapal meraung pelan ketika kami meninggalkan dermaga, menyusuri muara Sungai Batulicin menuju pulau yang selama ini hanya terlihat dari kejauhan.

Perjalanan ditempuh sekitar 10–20 menit. Angin laut yang lembap menerpa wajah. Perlahan pulau itu semakin dekat. Dari kejauhan, hutan di pulau itu terlihat rapat dan hijau pekat. 

Ada dua rute menuju Pulau Sewangi. Selain melalui jembatan Batulicin, bisa lewat pelabuhan kapal cepat di Simpang Empat yang ditempuh sekitar 10 menit, yang biayanya lebih besar dibandingkan menggunakan kelotok.

Menyusuri Pulau Suwangi, Daratan Sunyi di Ujung Sungai Batulicin
Para peserta membelah padang rumput dan hutan Pulau Suwangi/Bayu Andhini

Ketika kapal merapat, air laut sedang surut. Lumpur di tepian pantai terlihat jelas, sesekali tampak ikan timpakul berlarian lalu bersembunyi di sarangnya. Dermaga kayu sederhana menjadi titik pendaratan kami. Saya akhirnya tiba di Pulau Suwangi.

Pulau Suwangi (kadang juga disebut Sewangi atau Sawangi) memiliki luas sekitar 694 ha. Sejak 2019, pulau ini menjadi bagian dari kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Burung dan Pulau Suwangi di bawah pengelolaan BKSDA Kalimantan Selatan.

Saat ini jumlah penduduknya tinggal sedikit, sekitar 17 kepala keluarga yang masih bertahan di sini. Banyak penduduk asli yang meninggalkan pulau demi pendidikan anak atau pekerjaan yang lebih menjanjikan di Batulicin dan Simpang Empat. Migrasi ini sudah berlangsung sejak dekade 1960 hingga 1970-an, ketika aktivitas ekonomi di daratan seberang mulai berkembang.

Kini rumah-rumah yang tersisa tersebar jarang di antara pepohonan. Sebagian penduduk yang memilih tinggal melanjutkan hidup dari berkebun, mengelola tambak, atau menjual air tawar dari sumber mata air yang ada di pulau ini.

Bagi mereka yang pernah tinggal di sini, pulau ini menyimpan banyak kenangan. Misalnya, setiap musim durian tiba, beberapa keturunan warga lama kembali datang dan berkumpul untuk menikmati durian khas Suwangi, yang dipercaya hanya tumbuh di pulau ini. Rasanya seperti durian makatupe, tetapi lebih legit.

Menyusuri Pulau Suwangi, Daratan Sunyi di Ujung Sungai Batulicin
Kolam penampungan air tawar yang mengalir sepanjang tahun/Bayu Andhini

Kaya Air Tawar dan Penuh Cerita

Di sisi pulau yang menghadap Batulicin, terdapat dermaga kayu kecil tempat kapal bersandar. Sepelemparan batu dari dermaga, berdiri sebuah langgar sederhana yang menjadi satu-satunya tempat ibadah di Suwangi. Selain itu, juga ada fasilitas penunjang tamu yang berkunjung, seperti gazebo kecil di bagian utara pulau, mercusuar di sisi timur, dan lapangan rumput luas yang cocok untuk kegiatan berkemah.

Namun, fasilitas yang paling menarik perhatian saya adalah kolam penampungan air tawar. Di tengah pulau terdapat mata air yang mengalir tanpa henti, bersumber dari bukit kecil. Air dialirkan melalui pipa menuju kolam beton, lalu ditampung sebelum dijual kepada kapal-kapal nelayan dan gudang es batu di seberang pulau.

Air tawar adalah kebutuhan penting bagi nelayan selama melaut. Dari Pulau Suwangi, air dijual dalam jeriken, toren, bahkan dialirkan melalui pipa bawah laut ke Simpang Empat sebagai bahan baku pembuatan es balok.

Kami bahkan diajak meminum air langsung dari sumber tersebut. Rasanya dingin dan segar, seperti air pegunungan yang baru keluar dari tanah. Unik, sebuah pulau yang dikelilingi laut justru menjadi sumber air tawar bagi wilayah sekitarnya.

Pulau Suwangi juga hidup dalam cerita legenda yang diwariskan dari generasi ke generasi. Menurut kisah yang disampaikan Pak Syarwani, dahulu tempat ini hanyalah sebuah gosong pasir dan batu karang. Suatu hari seekor ular sawa (sejenis sanca atau piton) besar terdampar di sana setelah bertarung dengan buaya di Sungai Batulicin. Ular itu mati dan tubuhnya tertimbun oleh ranting serta sampah tumbuhan. Seiring waktu, timbunan itu membentuk daratan. Anehnya, bangkai ular tersebut justru mengeluarkan aroma harum. Dari kata “sawa” dan “wangi” itulah konon nama Suwangi berasal.

Cerita tersebut mungkin sulit dipastikan kebenarannya. Namun, legenda ini sering menjadi cara masyarakat untuk menjaga hubungan dengan alam. Dampaknya “reputasi” pulau akan terasa magis dan secara tidak langsung melindunginya dari kerusakan.

Menyusuri Pulau Suwangi, Daratan Sunyi di Ujung Sungai Batulicin
Situs Batu Badinding yang diselimuti kelambu kuning/Bayu Andhini

Potensi Wisata Pulau Suwangi

Setelah acara diskusi literasi selesai, para peserta pun diajak menjelajah pulau, menuju sebuah lokasi yang dikenal sebagai Batu Badinding. Perjalanan dimulai dengan berjalan kaki, menyusuri rute dari tepian pulau lalu masuk hutan. Tampak vegetasi di Pulau Suwangi masih sangat rapat. Pohon-pohon besar menjulang tinggi, sementara rotan liar menjalar di antara semak.

Jalur yang kami lalui bukan jalur wisata resmi. Sehingga, warga lokal harus turun membantu untuk membuka jalan sambil memandu rombongan. Kami melewati tanah yang tertutup daun kering sehingga terasa licin, sementara akar-akar pohon membuat langkah harus lebih hati-hati. Sesekali kami berhenti untuk mengatur napas sebelum melanjutkan perjalanan. 

Sekitar 30 hingga 40 menit kemudian, kami tiba di Batu Badinding. Lokasinya berupa undakan batu alami dengan tebing di sebelahnya. Di salah satu sudut terdapat tumpukan batu yang ditutup kelambu kuning.

Menurut cerita Pak Syarwani, kelambu itu dipasang oleh seorang pengunjung yang pernah bernazar setelah bermimpi tentang pulau ini. Bagi sebagian warga, tempat ini dianggap sakral, bahkan dipercaya sebagai pintu menuju dunia gaib. Terlepas dari kepercayaan itu, tempat ini memang terasa sunyi dan teduh. Angin hutan bertiup pelan di antara pepohonan.

Tidak menunggu sore tiba, kami kembali ke dermaga setelah siang hari dengan alasan menghindari surutnya air laut. Dari sini, Batulicin sudah terlihat jelas di seberang. 

Menyusuri Pulau Suwangi, Daratan Sunyi di Ujung Sungai Batulicin
Berjalan kaki menyusuri hutan Pulau Suwangi/Bayu Andhini

Saya menyadari satu hal, Pulau Suwangi sebenarnya memiliki potensi wisata yang besar. Sayangnya, potensi itu belum sepenuhnya tergarap.

Jika suatu hari Pulau Suwangi benar-benar dikembangkan sebagai destinasi wisata alam, tantangan pertama yang perlu diperhatikan adalah fasilitas dasar. Dermaga kokoh dan rute berjalan kaki yang aman sudah cukup untuk membuat perjalanan terasa nyaman. Namun, status pulau sebagai kawasan cagar alam membuat pembangunan fasilitas harus dilakukan dengan hati-hati sesuai kebijakan dari pemangku kepentingan.

Akses transportasi juga menjadi hal penting. Rute menuju Pulau Sewangi bukan tujuan umum dan tanpa petunjuk yang memadai seperti tarif dan jam keberangkatan. Padahal, jika akses transportasi lebih jelas dan informasi perjalanan mudah ditemukan, peluang wisatawan untuk datang tentu semakin besar.

Di balik tantangan tersebut, Pulau Suwangi memiliki kekuatan lain, yaitu wisata pengalaman. Setiap bulan Oktober, masyarakat Bugis yang menjadi penduduk asli pulau menggelar ritual adat Ade Massorong, sebuah tradisi syukur atas berkah laut. Dalam ritual ini, miniatur kapal berisi sesaji dilarung ke laut diiringi tabuhan gendang dan mantra. Perayaan ini juga diramaikan pula dengan lomba balogo dan balapan perahu. Dengan pendekatan wisata berbasis pengalaman seperti ini, Pulau Suwangi berpeluang tumbuh menjadi destinasi alternatif yang unik, alami, dan tetap dekat dengan kehidupan masyarakat setempat.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Sesekali menulis, sesekali jalan-jalan, sesekali menulis tentang jalan-jalan

Sesekali menulis, sesekali jalan-jalan, sesekali menulis tentang jalan-jalan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
3 Destinasi Wisata yang Wajib Dikunjungi di Kampung Merabu Kalimantan Timur