Terkadang, sesuatu yang tidak direncanakan, mudah terwujud. Sebaliknya, sudah janjian dan menyamakan jadwal, ada saja halangan. Begitulah dinamika persahabatan.
Ahad pagi (30/8/2026), saya dikontak kawan lama: Ega Saputra Budiharjo (45). Setahun terakhir, ketua mahasiswa pencinta alam (Mapala) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) periode 2003–2004 itu dinas di Cirebon. Mesnya dekat dengan kediaman saya.
“Lagi di mes, nih,” ketiknya, memberi sinyal sedang santai dan siap diajak main.
Kebetulan saya juga belum ada agenda, lalu mengajaknya ke Dusun Palutungan, lereng Gunung Ciremai. Ini salah satu gerbang pendakian menuju atap Jawa Barat. Terletak di Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan.
“Nanti kita hiking ke Cigowong!” ajak saya.
“Boleh. Naik apa ke sana?”
Tadinya, karena hari libur saya berharap bisa pinjam mobil kantor Ega. Tapi, kata dia, mobilnya kini dipasangi GPS. Tidak boleh meluncur ke lokasi bukan urusan pekerjaan.
“Kita mau ke tempat wisata, pasti terdeteksi,” ujarnya.
Kami pun saling mengirim simbol tawa via WhatsApp.
“Kalau pakai vespa, pie?”
“Oke!”


Tentu saja, kami siap dengan risikonya, andai “si mesin kanan” tiba-tiba mogok. Termehek-mehek di tanjakan. Tapi, di situlah petualangannya. Nikmati saja jika benar terjadi. Toh, saya punya pengalaman naik vespa ke Kuningan bareng ayah dan ibu, semasa kecil dulu.
Pukul 08.00 WIB, Ega nyamper ke rumah. Kami pun berangkat.
Benar, Mogok!
Treng teng teng teng teng…
Si biru mrepet sepanjang jalan. Vespa plat H itu didapat Ega dari Sumbawa. “Kalau rute Cirebon–Pekalongan, sudah teruji,” sahutnya.
Tanjakan Gronggong jadi ujian pembuka. Menikung tajam. Melewati deretan hotel dan rumah makan. Lancar, aman. Namun, sampai depan restoran Klapa Manis, seketika si biru “KO”.
“Enggak biasanya mati mendadak, gini!” kata Ega.
Mesin dibiarkan dingin semenit, baru kapnya dibuka. Tak lupa mengecek tangki. Begitu tutupnya diangkat, “Waduh, ternyata habis bensin!”
Bukan kendala mesin, batin saya bersyukur.
Saya sigap menanyakan ke warga, di mana penjual bensin eceran. Seorang bapak mengarahkan ke SPBU terdekat di bawah.
Ega menitipkan trekking pole, lantas menyeberang dan menggelindingkan roda si biru di lintasan menurun. Jaraknya sekitar dua ratus meter. Full turunan. Jadi tak perlu ada yang bantu dorong. Saya menunggu di ujung restoran. Kendaraan wisatawan deras menuju Kuningan.
Dua puluh menit berlalu. Treng teng teng teng teng… “Si tawon” datang. Perjalanan menunggang besi klasik warisan Rinaldo Piaggio berlanjut.
Ah vespa, tua-tua keladi, memang!
Tanjakan? Mudah Saja
Ega rajin merawat vespanya. Busi dan karburator rutin dicek. Agar performa mesin oke. Tak mudah ngadat. Terbukti si biru lincah melibas tanjakan demi tanjakan. Bikin menarik lagi, setiap berpapasan dengan pevespa lain, selalu bertukar klakson. Bahkan ada yang melambai, dikira kami jauh dari Semarang.
”Persaudaraan penunggang vespa itu erat,” sebut Ega. “Ke mana pun, pasti ada klub dan bengkel vespa. Jadi, jika mogok di jalan, tenang saja!”
Memasuki Pasar Jalaksana, langit berubah mendung. Tumben. Padahal hari-hari itu mentari digdaya. Kemarau menerjang. Panas Cirebon dan Kuningan sama saja. Masuk terminal Cirendang, langit kian redup. Jalur menanjak terjal. Selamat datang di dataran tinggi Cigugur!
“Videokan pas kita lewat tanjakan di depan, ya!” teriak Ega di antara deru mesin. Persneling masuk gigi dua. Tanjakan jalur baru ke Desa Cisantana dari pertigaan Tugu Angklung, menguji ketangguhan si biru.
“V-belt (rantai karet motor matik) Vario saya, putus di sini,” kata saya menceritakan pengalaman sarat tantangan yang diulas dalam Jalan Pagi ke Cigowong.
Keseruan naik vespa di tanjakan jalan baru menuju Dusun Palutungan, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan/Mochamad Rona Anggie
Nostalgia Ciremai dan Semarak Cigowong
Pukul 09.49, kami sampai di Base Camp (BC) Cadas Poleng, Palutungan. Parkiran penuh. Kami diarahkan ke bagian teratas. Sempat khawatir si biru nyerah, lagi-lagi saya keliru. Setapak berdebu dilindas, bahkan nyaris ke ujung tanjakan. Lokasi parkir terlewati.
“Setop, Bro!” sahut saya.
Ega ngerem. Saya lekas turun. Biar vespa tak tergelincir. Aman. Kami tertawa-tawa. Tak lupa bersyukur. Selamat sampai tujuan. Tukang parkir menyilakan si biru rehat mendinginkan mesin.
Kami menuju loket registrasi dan berjumpa Ketua BC Cadas Poleng, Endun Abdullah (60). “Izin, Wak. Mau ke Cigowong,” ucap saya.
“Siap! Lanjut..,” kata beliau ramah.
Setelah mendokumentasikan momen kedatangan, saya dan Ega bergerak ke Pos 1 Cigowong. Langit teduh. Semilir angin menyejukkan.
“Baru hari ini mendung. Kemarin, panas menyengat,” terang ibu pemilik warung, tempat kami membeli makanan ringan.
Tahun 2008, Ega pernah mendaki Ciremai via Palutungan bareng Oki “Pati”. Oki meneruskan kepemimpinan Ega di Mapala UMY tahun 2005. Saya mengantar keduanya ke rumah senior kami, sebelum menuju kaki gunung, 18 tahun lalu.
Begitulah, di mana pun dan kapan pun, persaudaraan anggota Mapala UMY tak lekang zaman.
Tanjakan Beunta membuat Ega yang asli Pekalongan, melek. Dia coba mengatur napas dan langkah. Tidak sampai seratus meter, tanjakan “selamat datang” jalur Palutungan ini dijamin bikin pendaki ngos-ngosan.
“Santai saja, ya! Biar otot kaki adaptasi,” ujar lelaki yang mengalami cedera hamstring, karena aktif bermain bola.


Sepatu jadul kami menjejak setapak yang dinaungi pohon-pohon pinus. Debu mengepul setiap langkah terangkat. Musim kemarau membuat tanaman meranggas dan bumi kehausan. Kering. Untungnya, kami mendaki belakangan. Tidak start bareng petualang lainnya, yang pasti sejak pagi mengular ke Cigowong.
Di sebuah tanjakan berbatu, Ega minta difotokan. Ingin laporan ke kantor via aplikasi internal. “Pegawai dihasung aktif berolahraga. Ada poin plus, ketika kebugaran tubuh terjaga. Kinerja pasti meningkat,” jelasnya.
Tampak wisatawan asing asal Tiongkok turun. Mudah ditebak dari tampilan, dan aksen Inggrisnya saat mengucap, “Hello…”
Sementara atlet trail run, memanfaatkan jalur sepanjang 3,4 km ke Cigowong sebagai medan latihan. Bolak-balik, mereka menggenjot ketahanan jantung dan otot kaki. Bersiap menyongsong event lari lintas alam di dalam dan luar negeri.


Sambil mendaki santai ala bapak-bapak, kami ngobrol dengan pengunjung lain yang didominasi pelajar. Mereka ke Cigowong untuk menikmati suasana hutan. “Bosan dan panas di kota!” cerocos seorang remaja.
Tak ada mesin absen di Cigowong. Jejak langkah datang dan pergi. Menorehkan banyak cerita. Tentang bisik daun, gemericik air, dan teguk kopi.
Pencapaian ke Cigowong, membuat Ega merasa terlahir kembali sebagai seorang petualang. “Memang, kalau jalan bareng sahabat lama, lebih termotivasi. Cedera hamstring saya tidak kambuh, senang rasanya! Jadi kepikiran ingin muncak lagi,” kata ayah tiga anak itu.
Merayakan kegembiraan, Ega mentraktir santap siang di warung. Menunya: telur dadar, aneka gorengan, dan kopi hitam. “Tidak sampai satu setengah jam, berarti stamina oke juga,” sahutnya.
Saya turut senang. Dan, karena semangatnya bergelora, saya “komporin” meneruskan kunjungan. “Turun nanti kita cari susu murni, terus mampir ke Pasir Bungkirit, ya?”
Ega mengangguk mantap.


Mampir Pasir Bungkirit
Kebiasaan saya kalau ke Palutungan, selalu ingin menikmati susu murni. Daerah ini sentra penghasil susu sapi di Jawa Barat selain Lembang, Kabupaten Bandung Barat.
Jam tertentu (08.00 dan 15.00), kita bisa membeli langsung di koperasi susu yang tersebar di sepanjang jalan. Harga per liternya lebih murah. Di luar waktu tersebut, susu murni dan olahannya (yoghurt) bisa dibeli di beberapa gerai.
Kami lanjut menuju pertigaan Cigugur. Vespa lantas mengarah ke timur. Kalau lurus terus ke utara: Waduk Darma, Ciamis, dan Tasikmalaya. Persawahan sisi jalan pertanda Pasir Bungkirit sudah dekat. Terlihat di puncaknya sebuah pendopo: cikal-bakal kelahiran Wanadri.
Kami belok ke setapak berbatu, menanjak, dan tiba di tujuan. Di sini tercetus gagasan tentang sebuah perhimpunan pendaki gunung dan penempuh rimba yang di kemudian hari diberi nama “Tjiremai”, sebelum berganti Wanadri.
Pasir Bungkirit adalah kediaman masa kecil Harrie Hardiman Soebari (W 001 PEN). Keempat saudara sedarah pendiri Wanadri lainnya, kerap kumpul mendengar wejangan Mama Soebari, ayahanda Harrie.




Bersama sahabat Mapala UMY, Ega Saputra Budiharjo, di Pasir Bungkirit/Mochamad Rona Anggie
Saya kabari Om Harrie, sedang bersama sahabat Mapala UMY di Bungkirit. Beliau merespons antusias, “Wah, terima kasih sudah mampir.”
Sementara Ega mengirim foto bervespa di depan pendopo ke Djukardi “Bongkeng” Adriana (W 306 AL). Hubungan Mapala UMY dan Wanadri erat. Beberapa kali berkegiatan bersama. Di antaranya menggelar Sekolah Pendaki Gunung (SPG) Wanadri 2018 di Bukit Mongkrang, Karanganyar, Jawa Tengah.
Saya kontak pula Arie Afandi “Otex” (W 858 HR), yang seorang pevespa lintas pulau. Siapa tahu besok, dia yang ke Bungkirit. “Mantap…,” balasnya.
Bincang santai sambil menenggak yoghurt. Saya dan Ega betah berlama-lama di Bungkirit. Udaranya sejuk. Tak lama, azan Asar berkumandang. Mentari kian ke barat. Si biru mengajak pulang.
Kami pun pamit. Begitu diengkol, treng teng teng teng teng… “Mesin kanan” melaju di turunan. Saya gerakan tangan kanan dan kiri, sebagai pengganti lampu sein.
Satu vespa sejuta saudara. Khas, memang.
Foto sampul: Turun dari BC Cadas Poleng-Palutungan, vespa biru bergerak ke Pasir Bungkirit, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan (Mochamad Rona Anggie)
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Tinggal di Kota Cirebon. Kerap mengulas isu lingkungan, budaya, dan pariwisata. Ayah lima anak ini hobi mendaki gunung sejak 2001, dan tak bosan memanggul carrier hingga sekarang.


