TRAVELOG

Mengungkap Makam Dua Anak Belanda yang Tersembunyi di Klaten

Keramahan warga mengiringi perjalanan saya menelusuri kompleks makam dua anak Belanda di Dukuh Pobayan, Desa Kranggan, Kecamatan Manisrenggo, Kabupaten Klaten. Gang jalan masuk ke rumah warga, menjadi satu-satunya akses menuju kompleks makam tersebut.

Kompleks makam tersebut tampaknya dahulu berpagar tembok dengan gapura masuk di utara. Kini menyisakan tembok dengan kondisi memprihatinkan, ditumbuhi semak belukar dan pohon bambu. Meski begitu, prasasti batu nisan berinskripsi nama mendiang masih terbaca jelas.

Warga tampak tidak terganggu dengan kehadiran saya dan mempersilakan untuk mengeksplorasi kompleks makam. Namun, karena keterbatasan pengetahuan, warga tidak bisa bercerita banyak tentangnya. 

Mengungkap Makam Dua Anak Belanda yang Tersembunyi di Klaten
Salah satu gang permukiman padat penduduk di Dukuh Pobayan/Ibnu Rustamadji

Melacak Lokasi Dukuh Pobayan dari Peta Leiden

Secara geografis, Dukuh Pobayan berada di perbatasan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, dan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Masa lalu Dukuh Pobayan, Desa Kranggan, Kecamatan Manisrenggo hingga kini simpang siur dengan dua versi cerita yang masih sangat diragukan keabsahannya. 

Letak Dukuh Pobayan tepat di sudut timur jalan simpang empat antara Jalan Manisrenggo, Jalan Kikis, dan Jalan Joholanang yang mengarah ke Kabupaten Sleman. Masjid Al Khotib Desa Kebonalas, yang berseberangan dengan Dukuh Pobayan, menjadi titik awal eksplorasi. 

Merujuk peta Kecamatan Manisrenggo keluaran Leiden tahun 1913, terdapat makam Belanda berseberangan di Dukuh Pobayan dan di Dukuh Kebonalas. Masing-masing berjarak sekitar 5 kilometer. Kedua kompleks makam Belanda tersebut, ketika saya eksplorasi masih terdapat prasasti nama mendiang. 

Kedua kompleks makam Belanda di Dukuh Kebonalas dan Dukuh Pobayan, berada di sisi barat kompleks makam Islam Jawa milik warga setempat. Ada dugaan, keluarga Belanda yang dikubur di kedua kompleks makam tersebut terikat kekeluargaan selama hidup di Manisrenggo.

Setelah berkeliling gang sekitar 30 menit, sampailah saya di Europeesche Begraafplaats atau Makam Eropa Belanda di gang ketiga selatan Dukuh Pobayan. Rumah tak berpenghuni warna hijau pupus dan reruntuhan tembok lama di sisi baratnya, menjadi fokus perhatian. 

  • Mengungkap Makam Dua Anak Belanda yang Tersembunyi di Klaten
  • Mengungkap Makam Dua Anak Belanda yang Tersembunyi di Klaten

Membuka Tirai Merah Keluarga Gerlagh

Benar saja, makam Belanda di Dukuh Pobayan berada tepat di selatan rumah tidak berpenghuni tersebut. Jejeran batu nisan rebah tertata rapi di dalam satu kompleks makam, yang diduga milik keluarga Jan A. Gerlagh. 

Sebuah pertanyaan lantas muncul, siapa mendiang Gerlagh dan kenapa ada satu prasasti batu nisan berinskripsi Mandarin dan Jawa milik Tionghoa? 

Tanpa pikir panjang, seluruh dokumentasi di kompleks ini saya kirim ke Hans Boer untuk mendapat informasi lengkap. Menurut Hans, di dalam satu kompleks makam, terdapat dua prasasti batu nisan berinskripsi nama Jan. A. Gerlagh dan Constant. J. Gerlagh. Namun, yang saya temukan hanya satu prasasti bernama Jan. A. Gerlagh. Mungkin satu prasasti lainnya terletak tidak jauh.

Rimbunan rumput liar, yang senantiasa menaungi kompleks makam menjadi alasan saya tidak berani mengambil resiko lebih jauh. Saya khawatir ada hewan melata seperti ular di baliknya. Memasuki musim hujan, tentu sangat berbahaya jika memaksakan eksplorasi lebih jauh.

Rimbunan pohon bambu di kompleks makam keluarga Gerlagh (kiri bawah), prasasti mendiang Jan Arnold Gerlagh (kiri atas), dan dokumentasi Hans Boer yang menampakkan prasasti mendiang Constant Gerlagh.

Untungnya, Hans mengirimkan satu foto prasasti bernama Constant. J. Gerlagh. Sehingga dapat dipastikan jika kompleks makam ini khusus milik keluarga Gerlagh. Satu prasasti berinskripsi nama seorang Tionghoa, kami duga salah satu anak menantu Gerlagh. 

Berdasarkan informasi Hans, kedua anak tersebut adalah putra dari Johannes Hendrik Arnold Gerlagh (Klaten, 3 September 1882–Klaten, 24 Januari 1907) dan sang ibu Amelia Donkers (Surakarta, 22 Juni 1886). 

“Oh, ya! Ada dugaan makam keluarga Donkers di dukuh seberang (Dukuh Kebonalas Manisrenggo) Dukuh Pobayan, masih di Manisrenggo Klaten, Pak! Saya punya foto kompleks makamnya,” jelasku.

Dari data milik Hans, terungkap suatu fakta yang cukup mengejutkan. Kompleks makam keluarga Gerlagh dan sang istri berada di Dukuh Pobayan karena Gerlagh bekerja sebagai teknisi mesin di Pabrik Gula Prambonan, sedangkan keluarga sang istri dari Dukuh Kebonalas. 

“Dia (Gerlagh) dulunya machinist Pabrik Gula Prambonan, mungkin salah pengetikan yang sebenarnya Prambanan. Lokasinya di Desa Tanjungsari, utara Dukuh Pobayan,” jelasnya.

Machinist yang dimaksud Hans adalah ahli mesin atau teknisi mesin industri di Pabrik Gula Prambonan. Sayangnya, gedung Pabrik Gula Prambonan kini hilang berganti menjadi SMPN 1 Desa Tanjungsari, Manisrenggo, dan sisanya menjadi perkampungan. Sekitar lima menit berkendara dari Dukuh Pobayan. 

Cerita keberadaan makam keluarga Gerlagh sesuai dugaan saya. Hanya saja, kami belum menemukan informasi mengenai lokasi kediaman dan nama orang tua Gerlagh dan Amelia.

Ada dugaan keluarga Gerlagh di Dukuh Pobayan, sedangkan keluarga Donkers di Dukuh Kebonalas. Tetangga beda dukuh, begitu kira-kira. Dugaan lain, kedua keluarga saling mengenal ketika bekerja di Pabrik Gula Prambonan meski berbeda keahlian. 

Mengungkap Makam Dua Anak Belanda yang Tersembunyi di Klaten
Makam keluarga Gerlagh dilihat dari arah selatan/Ibnu Rustamadji

Mengacu inskripsi prasasti milik anak pertama, Jan Arnold Gerlagh lahir ketika sang ayah masih hidup. Sedangkan putra kedua, Constant Johannes Gerlagh, lahir setelah sang ayah wafat. Kala itu lazim menggabungkan nama anak Indonesia-Belanda.

Jan Arnold Gerlagh wafat di usia 2 tahun, sedangkan Constant Johannes Gerlagh wafat di usia 1 bulan. Ada dugaan keduanya wafat akibat terserang wabah virus, yang dipicu kondisi geografis kediaman di Dukuh Pobayan yang dekat dengan perkebunan. 

Mungkin mereka bisa bertahan hidup, jika tinggal di tanah kelahiran sang ibu di Kota Surakarta. Keterbatasan yang dialami keluarga mereka kala itu, memaksa pemakaman dilakukan di Dukuh Pobayan. Dapat dimaklumi jika keduanya tidak memiliki catatan masa lalu lebih jauh, karena mereka wafat usia belia. 

Namun, yang masih menjadi pertanyaan, apakah Gerlagh hanya bekerja sebagai teknisi mesin industri di Pabrik Gula Prambonan, yang saat itu berusia 20 tahun? Ternyata, menurut Hans, selama bekerja sebagai teknisi mesin industri, Gerlagh sempat dipindahtugaskan ke Pabrik Gula Mojo, Sragen. Saat bekerja di Sragen, ia bertemu pujaan hati yang kelak menjadi istri, yakni Amelia Donkers. Di usia 22 tahun, Gerlagh menikahi Amelia di Surakarta pada Sabtu, 9 Juli 1904.

Usai menikah, mereka kembali ke kediaman Gerlagh di Dukuh Pobayan. Ia melanjutkan bekerja sebagai teknisi mesin industri di Pabrik Gula Prambonan hingga Amelia melahirkan dua anak laki-laki tersebut.

Gerlagh wafat pada usia sekitar 25 tahun karena dugaan malaise, menyusul putra pertamanya. Lima bulan kemudian, putra kedua menyusul ayah dan kakaknya. Tidak diketahui nasib sang istri sekaligus ibu dari dua anak tersebut.

Keluarga Amelia kemungkinan priyayi terkemuka di Klaten. Tak ayal, beberapa prasasti di kompleks makam keluarga Donkers di Dukuh Kebonalas pada bagian awal nama tertulis Mas Adjeng. Salah satu dugaan prasasti Mas Adjeng Donkers, merupakan batu nisan Amelia Donkers. Mungkin lain kesempatan, akan menulis episode khusus makam Donkers di Dukuh Kebonalas.

Makam Belanda Pobayan, Wujud Kasih Sayang kepada Anak

Sebagai keluarga minoritas, kompleks makam Belanda keluarga Gerlagh bisa dikatakan cukup istimewa. Lebih istimewa lagi masih memiliki dua prasasti, sebagai tetenger atau tanda eksistensi kedua putranya di Dukuh Pobayan. Meski masih belum ditemukan catatan hubungan keluarganya dengan Dukuh Pobayan, tetapi paling tidak, kedua prasasti menjawab pertanyaan mengenai eksistensi keluarga Belanda di sana.

Kompleks makam tersebut tampak sengaja disiapkan Gerlagh untuk keluarga. Sebuah kebetulan, Gerlagh dan kedua putranya wafat lalu dimakamkan berdampingan. Peristiwa malang keluarga Gerlagh sama seperti yang dialami dua anak bersaudara keluarga Marshall di Dukuh Bakulan, Desa Jelok, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali. 

Jan Marshall wafat, yang berselang tak lama kemudian disusul sang adik, akibat penularan wabah pes di Desa Jelok. Mereka dimakamkan berdampingan di pemakaman Belanda di Dukuh Bakulan. Lazim terjadi saat itu, di mana mereka tinggal, di situ pulalah mereka dikuburkan. Kecil kemungkinan mereka dimakamkan di Belanda, kecuali sudah tinggal di Belanda sebelumnya.

Tidak jarang, dalam satu kompleks terdapat makam bumiputera atau Tionghoa. Mereka adalah anak menantu dari keluarga tersebut. Hal ini dilakukan keluarga sebagai wujud sayang dan perhatian ke mendiang. Saya memungkasi penjelajahan kali ini dengan mengirimkan doa kepada keluarga Gerlagh.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Ibnu Rustamaji

Biasa dipanggil Benu. Asli anak gunung Merapi Merbabu. Sering nulis, lebih banyak jalan-jalannya. Mungkin pengin lebih tahu? Silakan kontak di Instagram saya @benu_fossil.

Ibnu Rustamadji

Biasa dipanggil Benu. Asli anak gunung Merapi Merbabu. Sering nulis, lebih banyak jalan-jalannya. Mungkin pengin lebih tahu? Silakan kontak di Instagram saya @benu_fossil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Menyelisik Jejak Johannes Albertus Wilkens di Museum Radya Pustaka