TRAVELOG

Mengungkap Makam Belanda Keluarga Donkers di Klaten

Kompleks makam Belanda di Dukuh Banjarsari, Desa Leses, Kecamatan Manisrenggo, Klaten, ini diduga milik keluarga Donkers. Makam keluarga Donkers berada 100 meter di barat Masjid Darussalam Banjarsari.

Kompleks makam keluarga Donkers dan makam warga di dukuh tersebut ditandai dengan gapura makam berinskripsi “Sasonoloyo Tegalweru Desa Leses”. Batu nisan rebah yang membujur barat dan timur menjadi perhatian saat mengamati kompleks makam. Benar dugaan saya, makam Belanda keluarga Donkers berada di kompleks makam tersebut. 

Mengungkap Makam Belanda Keluarga Donkers di Klaten
Rimbunan semak menutupi seluruh kompleks makam/Ibnu Rustamadji

Sasonoloyo Tegalweru, Peristirahatan Terakhir Keluarga Donkers

Tidak semua makam Belanda di Indonesia berada dalam satu kompleks khusus seperti di Kebun Raya Bogor atau Taman Prasasti Jakarta. Hanya keluarga Belanda berpengaruh, seperti tuan tanah atau priayi, yang biasanya memiliki kompleks makam lengkap dengan mausoleum. Sementara makam Belanda di pedalaman Jawa tersebar dan bercampur dengan pemakaman Islam Jawa. 

Warga Belanda yang dimakamkan di kompleks makam Islam Jawa, tidak dapat dilepaskan dari hubungan masa lalunya dengan wilayah kediaman mereka. Cukup banyak makam Belanda tersebut yang tidak terpetakan oleh pemerintah Hindia Belanda kala itu. Kalaupun terpetakan, makam Islam Jawa tersebutlah yang menjadi tanda. 

Karena tidak terpetakan, saya pun mengalami kesulitan melacak keberadaan makam keluarga Donkers di Dukuh Banjarsari. Berbekal informasi dari Hans Boer, saya menelusuri jejak keluarga Donkers meski sempat ragu pada awalnya. Namun, karena rasa penasaran tinggi, akhirnya saya putuskan menyambangi sepintas beberapa makam Islam Jawa di dukuh tersebut.

Sesampainya di makam Tegalweru, mata lensa tidak sengaja membidik seekor kucing betina berjalan dari arah barat di dalam kompleks makam. Kucing manja yang saya beri nama “Nobu Si Petualang” inilah yang membantu menunjukkan jalan, sehingga saya menemukan keberadaan makam keluarga Donkers. Beranjak ke mana pun, Nobu selalu mengikuti dan mendampingi eksplorasi.

Uniknya, Nobu mengerti kalau saya membawa kamera. Nobu berpose tidak di atas batu nisan, tetapi di depan kaki saya berdiri. Seakan ia mengerti, jika batu nisan tidak boleh diinjak-injak. Jika mendoakan atau memotret, cukup berada di samping. Puas mengabadikan kompleks makam dan Nobu, saya sempat menikmati roti dan air minum untuk melapas dahaga.

Mengungkap Makam Belanda Keluarga Donkers di Klaten
Nobu berada di samping pemakaman/Ibnu Rustamadji

Melacak Masa Lalu Donkers

Identifikasi kompleks makam tersebut milik keluarga Donkers, didasarkan atas prasasti berinskripsi “Mas Adjeng Donkers” dan “Mas Adjeng Gerlagh”. Benarkah prasasti Mas Adjeng Donkers ini milik mendiang Amelia Donkers, istri dari Johannes Hendrik Arnold Gerlagh? Belum ditemukan data valid mengenai kepastian pemilik prasasti tersebut. 

Hans pun mengaku kesulitan memastikan data mengenai siapa pemilik dan bagaimana hubungan antara prasasti tersebut dengan Amelia Donkers. Namun, ada satu fakta yang tidak terbantahkan, makam keluarga Donkers di Dukuh Banjarsari berseberangan dengan makam keluarga Gerlagh di Dukuh Pobayan, Manisrenggo.

“Nama Donkers di Surakarta cukup banyak dan tersebar. Salah satunya di Dukuh Banjarsari ini, Mas,” ungkap Hans. 

Ia menambahkan, meski banyak nama, tidak ada yang berawalan Mas Adjeng di depan nama. Awalan tersebut sepertinya sengaja ditulis sebagai wujud penghormatan kepada mendiang selama hidup hingga wafat. Penyebutan Mas Adjeng, khususnya bagi masyarakat Jawa Tengah, digunakan untuk menghormati priayi perempuan muda dan tua bumiputera, Belanda, Indo-Belanda, dan Tionghoa.

“Oh, jadi, Mas Adjeng ini penyebutan untuk menghormati priayi perempuan di Jawa Tengah, saya pikir gelar bangsawan keraton,” jawab Hans.

  • Mengungkap Makam Belanda Keluarga Donkers di Klaten
  • Mengungkap Makam Belanda Keluarga Donkers di Klaten

Diduga, keluarga Mas Adjeng Donkers cukup berpengaruh dan lebih berbudaya Jawa daripada Belanda di Banjarsari. Seperti halnya keluarga Johannes Agustinus Dezentje di Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali. Sehingga, sebagai wujud penghormatan, pada prasastinya disematkan “Mas Adjeng” di depan nama Donkers. Kami menduga, keluarga Donkers juga terikat dengan keluarga Gerlagh dan keluarga Smith di Klaten. Ada satu nama yang menarik perhatian kami, yakni Frederik Constant Donkers.

Merujuk Surat Tjatatan Memilih No. 1/1951 milik Frederik Constant Donkers, diketahui jika ia merupakan Inspektur Pembantu di Kepolisian Purwodadi. Putra dari Johan Ferdinand Donkers (Klaten, 31 Januari 1891–Pati, 29 Januari 1931) dan Karina ini, lahir di Magelang  7 Maret 1915, dan menetap di Grobogan, tepatnya Jalan Brambangan No. 3, Purwodadi. 

Johan Ferdinand Donkers merupakan putra dari Constant Donkers (Klaten) dan Wagijah (Klaten). Constant Donkers adalah putra dari Soerowidjojo (Magelang) dan Bok (Ny.) Soerowidjojo (Magelang), dengan tempat, tanggal lahir dan kematian tidak diketahui.

Frederik Constant Donkers menikah dua kali. Pernikahan pertama dengan Corrie Lammerding dan bercerai pada 2 Mei 1947. Keduanya dikaruniai seorang putra, yakni Alfons Ferdinand yang lahir 20 Juni 1940. Pascacerai, Frederik Constant Donkers menikah lagi dengan perempuan bumiputera bernama Soedarmi pada 1 Desember 1949, disaksikan penghulu Masjid Purwodadi. Pernikahan ini melahirkan dua putra, yakni Bambang Windradhy Aidid (21 September 1950) dan Bambang Winani Alkadry (30 Oktober 1951). Keduanya lahir di Grobogan.  

Mengungkap Makam Belanda Keluarga Donkers di Klaten
Surat catatan memilih atas nama Frederik Constant Donkers/Koleksi Hans Boer

Hans menambahkan, Johan Ferdinand Donkers diketahui adalah seorang fusilier KNIL (Tentara Kerajaan Belanda) di Yogyakarta sejak 21 Juli 1906 hingga 22 Juli 1915 bersama sang adik ipar, Paulus Cesar. Sepupunya bernama Theophile, yang notabene putra Paulus Cesar, juga anggota KNIL tetapi hanya selama beberapa bulan.

“Ada informasi, makam keluarga Donkers berada di pemakaman muslim. Benar, meski makam lainnya tidak bisa diidentifikasi secara jelas karena kondisinya,” ungkap Hans.

Ada dua prasasti dalam kondisi baik, lengkap dengan inskripsi nama mendiang, yakni Mas Adjeng Donkers dan Mas Adjeng Gerardus Smith. “Semua sudah saya cari, siapa Mas Adjeng yang saya duga awalnya gelar bangsawan yang meninggal pada 24 Desember 1926. Tetapi sayang sekali, tidak ketemu,” jelas Hans.

Eksistensi keluarga Donkers berakhir sekitar tahun 1942 saat tentara Jepang datang di Hindia Belanda (Indonesia). Puncaknya ditandai dengan dititipkannya Alfonds Ferdinand Donkers kepada keluarga Cornelia Lammerding. Sebab, Johan Ferdinand Donkers dan sang istri, Corrie Lammerding, tidak mampu merawat akibat perang melawan tentara Jepang.

Prasasti milik Mas Adjeng Donkers (kiri) dan Mas Adjeng Gerardus Smith/Ibnu Rustamadji

Belajar Nasionalisme dari Donkers

Kita bisa belajar dari masa lalu keluarga Mas Adjeng Donkers. Pelajarannya antara lain menjadi warga nasionalis tidak hanya diucapkan, tetapi juga harus aksi nyata. Dewasa ini tidak perlu bersumbar atas pencapaian diri kepada negara. Mengamalkan ideologi negara terhadap lingkungan sudah lebih dari nasionalis.

Selama hidup, keluarga Donkers lebih memilih menjadi orang Jawa Tengah daripada Belanda, meski mereka terlahir dari orang tua keturunan Belanda dan Jawa. Budaya yang mereka anut adalah akulturasi budaya Eropa (Belanda) dan Jawa. Buktinya ada pada pemberian sebutan “Mas Adjeng” untuk perempuan dan Surat Tjatatan Memilih milik keluarga Donkers.

Kontribusinya di militer KNIL sudah tidak diragukan lagi sebagai batu loncatan Donkers untuk menjadi warga Indonesia seutuhnya setelah kemerdekaan. Namun, takdir berkata lain. Meski sudah menjadi WNI, tetapi karena masih menggunakan nama Donkers, ia pun akhirnya tertangkap dan masuk kamp interniran Jepang di Magelang. Terpisah dari sang istri. Hingga ajal menjemput, mereka sengaja memilih hidup di Indonesia dan tidak ingin pulang ke Belanda.

Setelah kemerdekaan, keturunan keluarga Donkers meninggalkan Indonesia dan terpisah ke beberapa negara. Tidak sedikit dari mereka masih menyematkan Donkers di akhir nama, meski tidak lagi digunakan secara formal. Walaupun begitu, keturunan Donkers yang masih hidup di luar negeri, dan sudah berkeluarga dengan warga Belanda atau negara lain, hingga saat ini tidak pernah melupakan keluarga Donkers dari Klaten. 


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Ibnu Rustamaji

Biasa dipanggil Benu. Asli anak gunung Merapi Merbabu. Sering nulis, lebih banyak jalan-jalannya. Mungkin pengin lebih tahu? Silakan kontak di Instagram saya @benu_fossil.

Ibnu Rustamadji

Biasa dipanggil Benu. Asli anak gunung Merapi Merbabu. Sering nulis, lebih banyak jalan-jalannya. Mungkin pengin lebih tahu? Silakan kontak di Instagram saya @benu_fossil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Melacak Kampung Lawas Belanda di Boyolali (1)