Udara lembap khas kawasan karst menyambut langkah kami ketika memasuki perbukitan kapur di wilayah Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Jalur tanah yang menurun, pepohonan jati yang tumbuh rapat, serta hamparan batuan kapur yang menjulang di beberapa sisi menjadi pemandangan awal sebelum penelusuran dimulai.
Di balik bentang alam yang tampak tenang, tersimpan lorong-lorong bawah tanah yang menyimpan cerita panjang tentang proses alam, aliran air, hingga jejak sejarah yang pernah tercatat di kawasan ini. Pada 27–28 Desember 2025, kami, Tim Andhakara Vetta dari Mahasiswa Pecinta Alam (MAHAPALA) UPN “Veteran” Jawa Timur, melakukan kegiatan pendidikan dan pelatihan speleologi dengan menelusuri dua gua yang berada dalam satu kawasan, yaitu Gua Nguwik dan Gua Seplawan.
Penelusuran ini merupakan bagian dari kegiatan pendidikan dan pelatihan speleologi yang bertujuan menginventarisasi data gua untuk organisasi, melakukan dokumentasi lapangan, serta mempelajari sistem hidrologi dan karakter lorong gua secara langsung. Dengan formasi lima anggota tim penelusur, satu pendamping di dalam gua, serta satu pendamping yang bertugas sebagai anchorman, kegiatan ini menjadi kesempatan penting bagi kami untuk memperdalam pengalaman lapangan, sekaligus memahami kondisi gua secara lebih sistematis melalui pemetaan dan pengamatan langsung.


Bentang Alam dan Awal Penelusuran Gua Nguwik
Kawasan karst Kaligesing dikenal dengan perbukitan kapur yang membentuk lanskap khas pegunungan selatan Jawa Tengah. Vegetasi semak, pohon jati, serta tanah berbatu menjadi bagian dari jalur menuju mulut Gua Nguwik. Kami harus berjalan menyusuri medan yang cukup terjal dengan beberapa titik menurun yang licin akibat tanah lembap. Suara serangga dan angin yang berembus di antara pepohonan menjadi latar alami perjalanan menuju lokasi penelusuran, seolah mengantar kami memasuki ruang bawah tanah yang belum sepenuhnya terjamah.
Sesampainya di mulut Gua Nguwik, suasana langsung berubah. Lubang gua yang tidak terlalu besar membuka jalan menuju ruang gelap yang dingin dan sunyi. Persiapan dilakukan dengan teliti, mulai dari pengecekan atribut yang dipakai, alat komunikasi, hingga alat pemetaan. Leader memastikan medan gua aman sebelum satu per satu anggota memasuki lorong gua.
Langkah pertama di dalam gua selalu menghadirkan sensasi yang berbeda. Cahaya lampu kepala menjadi satu-satunya penerangan, sementara dinding batu kapur memantulkan bayangan yang bergerak mengikuti langkah kami. Permukaan lantai yang tidak rata dan licin membuat setiap langkah harus diperhitungkan dengan cermat. Sedikit saja kehilangan keseimbangan, kami bisa tergelincir di antara batuan yang basah oleh tetesan air. Serta aliran air yang sangat deras di beberapa lorong membuat langkah kami terasa lebih berat.




Mulut Gua Nguwik (kiri) dan kegiatan pemetaan yang dilakukan di dalam Gua Nguwik untuk mendokumentasikan bentuk lorong dan struktur ruang gua/Zahra Oktaviana
Lorong Berair dan Pemetaan Hidrologi Gua Nguwik
Semakin masuk ke dalam Gua Nguwik, lorong semakin menyempit dan kondisi semakin menantang. Salah satu bagian yang menjadi fokus utama adalah lorong berair yang menunjukkan adanya sistem hidrologi aktif di dalam gua. Air yang mengalir di sepanjang lorong menjadi indikasi bahwa gua ini terhubung dengan sistem aliran bawah tanah di kawasan karst.
Kami bergerak perlahan menyusuri lorong berair tersebut. Beberapa bagian mengharuskan kami berjalan sambil menjaga keseimbangan di antara batuan licin, sementara di bagian lain kami harus menunduk karena langit-langit gua yang rendah. Suasana sunyi hanya diiringi suara deras aliran air, menciptakan irama alami yang menemani penelusuran.
Selain eksplorasi, kegiatan pemetaan dilakukan secara sistematis. Tim pemetaan mencatat arah lorong, panjang alur, serta kondisi ruang gua untuk menghasilkan data yang akurat. Setiap titik penting ditandai dan didokumentasikan agar dapat digunakan sebagai referensi inventaris organisasi serta bahan pembelajaran speleologi di masa mendatang.


Pengamatan hidrologi juga menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Aliran air yang ditemukan di dalam gua menunjukkan bahwa Gua Nguwik memiliki potensi sebagai jalur aliran air bawah tanah yang berperan dalam sistem karst Purworejo. Studi seperti ini membantu kami memahami hubungan antara gua, air, dan lingkungan di sekitarnya.
Setelah keluar dari lorong-lorong gelap Gua Nguwik, perjalanan berlanjut menuju gua lain yang berada tidak terlalu jauh dari kawasan tersebut. Jika Gua Nguwik menghadirkan pengalaman petualangan di bawah tanah, gua berikutnya justru dikenal karena temuan sejarah penting yang pernah ditemukan di dalamnya.
Gua tersebut adalah Gua Seplawan. Sebuah gua yang tidak hanya menarik dari sisi bentang alamnya, tetapi juga memiliki nilai arkeologis yang cukup penting di kawasan ini.


Dari Lorong Bawah Tanah ke Jejak Peradaban Gua Seplawan
Pada hari kedua, penelusuran dilanjutkan menuju Gua Seplawan yang berada tidak jauh dari Gua Nguwik. Berbeda dengan Gua Nguwik yang masih alami, Gua Seplawan telah dikenal sebagai destinasi wisata sekaligus situs bersejarah di Kabupaten Purworejo. Akses menuju gua ini lebih tertata dengan jalur yang jelas serta penerangan di dalam gua yang memudahkan aktivitas penelusuran.
Di balik kemudahan akses tersebut, Gua Seplawan menyimpan cerita sejarah yang cukup penting dalam perkembangan kebudayaan di kawasan Pegunungan Menoreh. Gua Seplawan tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga memiliki nilai sejarah yang kuat.
Berdasarkan catatan Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah, pada 15 Agustus 1979 ditemukan arca Siwa-Parwati yang menjadi bukti adanya pengaruh kebudayaan Hindu di kawasan ini. Penemuan arca emas tersebut juga diberitakan dalam sumber literatur yang menyebutkan bahwa arca Siwa-Parwati merupakan peninggalan Hindu. Saat ini arca Siwa-Parwati disimpan di Museum Nasional sebagai benda bersejarah.1
Keberadaan arca tersebut menunjukkan bahwa gua pernah menjadi bagian dari aktivitas manusia di masa lampau. Gua bukan hanya ruang alami yang terbentuk oleh proses geologi, melainkan juga ruang yang memiliki nilai budaya dan sejarah. Hal inilah yang membuat Gua Seplawan memiliki karakter yang berbeda dibandingkan Gua Nguwik yang lebih menonjol pada sistem lorong dan hidrologinya.
Penelusuran di Gua Seplawan memberikan pengalaman yang berbeda bagi kami. Jika Gua Nguwik menghadirkan tantangan eksplorasi alam liar, Gua Seplawan menghadirkan suasana gua yang lebih terbuka dan mudah diakses, tetapi tetap menyimpan cerita sejarah yang kuat.


Penelusuran dan Pemetaan Gua Seplawan
Meskipun telah menjadi gua wisata, kegiatan speleologi di Gua Seplawan tetap dilakukan dengan pendekatan ilmiah. Kami melakukan dokumentasi serta pemetaan untuk melengkapi data gua sebagai bagian dari inventaris organisasi. Struktur lorong, kondisi ruang gua, serta jalur penelusuran dicatat untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang kondisi gua.
Perbedaan karakter antara Gua Nguwik dan Gua Seplawan menjadi pengalaman yang menarik. Gua Nguwik menawarkan lorong alami dengan sistem hidrologi yang aktif, sedangkan Gua Seplawan menunjukkan bagaimana gua dapat dikelola sebagai destinasi wisata sekaligus situs sejarah. Kedua gua ini memberikan perspektif yang berbeda tentang dunia bawah tanah, tetapi sama-sama penting untuk dipelajari dan didokumentasikan.
Kegiatan pemetaan di Gua Seplawan menjadi bagian dari proses pendidikan speleologi yang kami jalani. Data yang diperoleh akan digunakan sebagai bahan pembelajaran serta referensi untuk kegiatan eksplorasi berikutnya. Dokumentasi yang dilakukan juga menjadi arsip penting untuk memperkenalkan potensi kawasan karst Purworejo kepada masyarakat luas.


Antara Petualangan dan Sejarah
Penelusuran Gua Nguwik dan Gua Seplawan menjadi pengalaman yang mempertemukan kami dengan dua karakter gua yang berbeda dalam satu kawasan karst. Gua Nguwik menghadirkan tantangan eksplorasi melalui lorong alami dan sistem hidrologi yang masih aktif, sementara Gua Seplawan menyimpan jejak sejarah yang memperkaya pemahaman tentang hubungan antara gua dan peradaban manusia. Kegiatan ini tidak hanya menghasilkan data inventaris gua dan dokumentasi speleologi, tetapi juga memberikan pengalaman lapangan yang memperdalam permahaman kami tentang pentingnya menjaga kawasan karst.
Melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan speleologi yang kami lakukan, penelusuran ini menjadi langkah kecil untuk mengenal lebih dekat dunia bawah tanah sekaligus memahami nilai alam dan sejarah yang terkandung di dalamnya. Gua Nguwik dan Gua Seplawan bukan sekadar ruang gelap di bawah permukaan tanah, melainkan juga ruang belajar yang menyimpan cerita tentang alam, air, dan perjalanan manusia yang terus menunggu untuk ditelusuri dan dijaga keberadaannya.
- Kompas.com, “Goa Seplawan, Peninggalan Hindu yang Kaya Makna Kehidupan”, Juni 26, 2022, https://travel.kompas.com/read/2017/02/19/210200227/goa-seplawan-peninggalan-hindu-yang-kaya-makna-kehidupan. ↩︎
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Zahra Oktaviana Syifa Ramadhan merupakan mahasiswa Linguistik Indonesia Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur. Aktif dalam kegiatan mahasiswa pencinta alam dan memiliki minat pada penulisan travelog, eksplorasi alam, serta kajian bahasa dan film.

