TRAVELOG

Menapak, Merasa, dan Menyesap Gresik dalam Tiga Hari

Hawa panas menerpa wajah saya begitu tiba di Stasiun Gubeng, Surabaya. Setelah keluar dari kereta, saya menunggu seorang teman di pintu keluar Stasiun Gubeng Baru. Kami belum lama kenal dan belum pernah bertemu sebelumnya. Komunikasi kami berawal saat dia mengomentari kiriman Instagram saya dan berlanjut hingga hari itu, saat kami akan menghadiri sebuah residensi penulis di Gresik. 

Setelah menunggu sekian menit, dia tiba dan kami langsung tancap gas ke Gresik. Perkiraan waktu tempuhnya sekitar satu jam. Sebenarnya bisa saja lebih cepat, tapi karena jalanan sesak oleh truk-truk kontainer, maka kami harus pelan-pelan dan pintar mencari celah untuk menyalip. 

Setibanya di Gresik, kami sempat kesulitan menemukan tempat registrasi peserta. Kami sampai di depan sebuah kafe dengan papan nama bertuliskan Sualoka, sama persis seperti gambar yang dibagikan panitia. Namun, tidak adanya banner atau tanda apa pun yang menunjukkan bahwa itu adalah tempat registrasi, membuat kami maju mundur untuk masuk. Beruntung salah satu peserta yang sudah tiba lebih dulu meyakinkan kami bahwa memang itu tempatnya.

Setelah registrasi, para peserta diantar menuju penginapan. Sebuah rumah tua yang sebelumnya telah diberdayakan menjadi sebuah rumah makan. ‘Rumah Nyai’ begitu bunyi plang yang terpasang di atas pintu masuk rumah itu. Warnanya merah kuning sehingga langsung mengunci perhatian siapa saja yang berlalu di depannya. 

Penginapan laki-laki dan wanita tentu saja. Ada enam laki-laki dan lima perempuan yang terpilih untuk mengikuti residensi ini. Setelah meletakkan barang bawaan dan mencuci muka, kami para lelaki berjalan menuju Gresiknesia, sebuah kafe yang juga dikelola Yayasan Gang Sebelah, penyelenggara residensi. Kami disuguhi nasi krawu sebagai sajian makan siang. 

Menapak, Merasa, dan Menyesap Gresik dalam Tiga Hari
Rumah Nyai, tempat peserta laki-laki menginap/Sigit Candra Lesmana

Makam Sunan Giri dan Pencak Macan

Hari pertama residensi kami awali dengan ziarah ke makam Sunan Giri dan beberapa makam tokoh lain di Gresik. Orang-orang dari luar Gresik berbondong-bondong datang dengan berbagai macam kendaraan. Kami datang sehari sebelum acara Haul Sunan Giri digelar.

Di sana kami sempat menyantap kupat keteg, sebuah kuliner yang bagi saya sebagai orang luar Gresik, unik. Meski tampilannya sama seperti ketupat pada umumnya, berbentuk wajik dan dibungkus janur, tetapi rasanya tidak familiar. Jika saya tidak salah menebak, kupat keteg terbuat dari beras ketan. Sebab, teksturnya lebih pulen dan lebih lengket dari ketupat biasa. Warnanya juga agak kekuningan.

Malamnya kami diajak untuk menonton pencak macan di Desa Lumpur. Antusiasme warga sekitar sudah sangat tampak bahkan sebelum acara dimulai. Mereka sudah berkerumun di sekitar tempat pelelangan ikan yang menjadi panggung pencak macan. Suasana mulai riuh ketika pertunjukan dimulai. Orang-orang berkostum macan, genderuwo, dan lain-lain mulai beraksi diiringi alunan musik gamelan. Acara pencak macan berakhir sekitar pukul 21.30.

Pertunjukan pencak macan (kiri) dan “Mars Rover” karya Das Genesis/Sigit Candra Lesmana

Setelah menonton pencak macan, kami kembali ke Sualoka. Awalnya saya mengira kegiatan hari ini akan berakhir. Namun, di lantai dua ternyata sedang diadakan pameran karya seni rupa oleh Das Genesis. Saya awam tentang seni rupa, tapi jika boleh berkomentar, pameran ini sepertinya mengangkat tema fiksi ilmiah dan distopia. Mereka memajang berbagai karya bertema robotik dan alien. 

Satu karya yang menarik perhatian saya yaitu “Mars Rover sebagai Golem Modern”. Inti pesan yang ingin disampaikan sang seniman adalah sesuatu yang seharusnya tak ada, tapi nyatanya muncul di sana. Sama seperti Mars Rover yang seharusnya ada di Mars, tapi malah ada di lantai dua Sualoka, Gresik.

Puas melihat-lihat karya seni dan mendengarkan penjelasan dari seniman dan kurator, kami para penulis diminta naik ke lantai paling atas Sualoka. Di rooftop itu kami kembali dijamu dengan semangkuk bakso dan aneka jajanan pasar. 

Menapak, Merasa, dan Menyesap Gresik dalam Tiga Hari
Karya Mbak Fatwa yang dipamerkan di Pameran Seni Hantu Laut/Sigit Candra Lesmana

Mengunjungi Pameran Seni dan Giri Kedaton

Sebelum kegiatan hari kedua, kami disuguhi lontong embus atau kare embus. Lontong yang disajikan dengan kuah kari daging dan didampingi kerupuk embus. Kerupuk embus memiliki tekstur yang agak berbeda dengan kerupuk biasa. Jika boleh dikatakan lebih mirip roti canai, tapi lebih tipis dan krispi. 

Kami memulai hari kedua dengan mengunjungi makam beberapa tokoh yang sesuai dengan tema residensi: Hikayat Giri Kedaton. Di antara kunjungan ke makam-makam tersebut, panitia kembali mengejutkan kami. Tak disangka, kami diajak untuk mendatangi salah satu pameran seni yang sedang digelar. Kali ini temanya tentang lingkungan. Tentang laut Gresik yang tercemar sampah dan limbah pabrik. Yang lebih mengejutkan lagi, salah satu seniman yang sedang memamerkan karyanya adalah Mbak Fatwa Amalia, salah satu peserta residensi juga.

Setelah kami berkenalan lebih jauh, ternyata Mbak Fatwa memang sangat aktif dan memiliki bakat lintas bidang. Dia adalah penulis, pelukis, sekaligus pendongeng. Karyanya yang dipamerkan kali ini berupa kain putih yang telah dilukis dengan cat merah. Lukisannya menggambarkan adegan tentang laut Gresik hari ini. Karya yang mengagumkan sekaligus membuat kami merenung.

Perjalanan kami di hari kedua diakhiri dengan memandang langit senja dari ketinggian Giri Kedaton. Memandangi kota Gresik secara menyeluruh dengan lanskap perkotaan, pelabuhan, serta lautnya di bawah naungan langit jingga.

Menapak, Merasa, dan Menyesap Gresik dalam Tiga Hari
Suasana sore di puncak Giri Kedaton/Sigit Candra Lesmana

Hari Terakhir, Berlayar di Laut Gresik

Hari ketiga, sekitar pukul delapan pagi kami diantar menuju sebuah balai nelayan yang terletak tepat di bibir pantai. Saya ingat perkataan salah seorang panitia mengenai balai-balai itu. Di Gresik terdapat banyak balai yang digunakan para nelayan. Setiap balai punya anggota dan kepengurusannya masing-masing. 

Sesampainya di salah satu balai itu, kami kembali disuguhi sarapan khas Gresik, yaitu lontong roomo. Lontong yang disajikan bersama kerupuk dan diguyur kuah kental berwarna oranye. Menurut panitia, kuah kental itu terbuat dari tepung yang dibumbui beberapa rempah.

Jujur, dari sekian banyak makanan khas Gresik yang disuguhkan panitia sejak hari pertama, yang paling saya suka adalah lontong roomo ini. Kuah kental yang gurih dan menyelimuti lontong dan kerupuk membuat lidah saya menari kegirangan. Apalagi tekstur lembek dari kerupuk setelah diguyur kuah itu menambah keunikan rasanya.

Namun, masalah lidah memang sensitif dan subjektif. Nyatanya beberapa peserta malah sangat tidak suka penganan ini. Salah satu yang menolak mentah-mentah adalah Mbak Nurillah. Penulis yang sudah menerbitkan beberapa buku di penerbit mayor dan sama-sama berasal dari Jember. Menurutnya, rasa lontong roomo tidak masuk di lidahnya. Mungkin, dia sudah pernah mencicipinya tahun lalu saat terpilih sebagai peserta residensi yang pertama. Namun, saya tetap menganggap bahwa lontong roomo adalah makanan khas Gresik yang paling enak.

  • Menapak, Merasa, dan Menyesap Gresik dalam Tiga Hari
  • Menapak, Merasa, dan Menyesap Gresik dalam Tiga Hari
  • Menapak, Merasa, dan Menyesap Gresik dalam Tiga Hari

Setelah makan, kami diajak naik perahu. Perahu kami berkeliling melewati dermaga-dermaga beton pabrik-pabrik besar yang menjulur hingga ke tengah. Kami juga melewati beberapa kapal besar dan crane yang mengangkut kontainer-kontainer raksasa—yang entah apa isinya—ke atas dek kapal. Kami seperti seekor semut yang merayap di samping kaki manusia saat berada di dekat kapal-kapal itu.

Laut Gresik sangat ramai. Namun, karena keramaian itu nelayan harus memacu perahu jauh ke tengah untuk mendapatkan ikan, tak seperti dulu saat ikan melimpah dan laut belum tercemar. Dengan berbagai penjelasan dari panitia, saya merasa baru melihat Gresik hari ini yang sebenarnya saat berada di atas perahu itu. Sebuah pengalaman yang cukup kontras setelah selama dua hari kami sibuk menyelami masa lalunya.

Perahu kami berkeliling cukup jauh dan lama sebelum akhirnya kembali bersandar dan kami kembali ke Gresiknesia. Sebelum acara berakhir, kami diberi pembekalan mengenai apa yang akan kami tulis nanti sepulang dari acara residensi ini. Saya memesan kopi susu dengan biji kopi lokal Gresik untuk mengusir kantuk. Sebelumnya panitia sudah mengatakan bahwa kopi Gresik itu ‘keras’ dan saya langsung mengakuinya pada sesapan pertama.

Kopi Gresik lebih keras daripada kopi mana pun yang pernah saya coba. Perut saya tetap bergejolak walaupun saya memesan kopi susu. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana badai yang akan melanda lambung saya jika nekat memesan kopi hitam. Mungkin saya akan menginap lebih lama di Gresik, tapi dalam perawatan. 

Rangkaian perjalanan menapak, merasa, dan menyesap Gresik dalam tiga hari ini diakhiri dengan foto bersama para peserta dan panitia. Sebuah perjalanan yang amat menyenangkan dan membuat saya mensyukuri telah memilih menulis sebagai salah satu kegiatan saya.

Dalam naungan Gresik di kala sore, kami akhirnya berpisah untuk pulang ke kota masing-masing. Pertemuan yang singkat, tapi nilai dan kenangannya abadi.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Sigit Candra L

Sigit Candra Lesmana, kelahiran Jember, 12 Maret 1992. Penulis lepas, beberapa tulisannya tersebar di berbagai media cetak maupun digital. Aktif berkegiatan di FLP Jember dan Prosatujuh. Dapat dihubungi melalui [email protected]

Sigit Candra L

Sigit Candra Lesmana, kelahiran Jember, 12 Maret 1992. Penulis lepas, beberapa tulisannya tersebar di berbagai media cetak maupun digital. Aktif berkegiatan di FLP Jember dan Prosatujuh. Dapat dihubungi melalui [email protected]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Mengelilingi Jakarta sebagai Seorang Kutu Buku