Travelog

Memaknai Toleransi Antarumat Beragama di Kota Kupang

Bicara tentang toleransi, Kota Kupang menyimpan beragam cerita baik yang terwujud dalam berbagai hal di dalamnya. Salah satu wujud toleransi itu sendiri tercermin melalui kerukunan antarumat beragama.

Dalam skala nasional, Kota Kupang memang telah beberapa kali menerima penghargaan terkait toleransi antarumat beragama. Belum lama ini, mendapatkan Harmony Award dan julukan Kota Toleran. Beberapa tahun sebelumnya, juga pernah meraih penghargaan yang sama. 

Selain Harmony Award, Kota Kupang juga berhasil menorehkan catatan baik melalui Indeks Toleran Award (ITW) sebagai Kota Toleran Indonesia 2020 bersama 9 kota lainnya, Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) tertinggi tingkat nasional tahun 2021, dan beberapa torehan lainnya. 

Terlepas dari pencapaian-pencapaian ini, toleransi antarumat beragama di sini memang telah menjadi potret indah yang mewarnai kehidupan orang-orang di dalamnya. Karena itu jugalah saya merasa sangat bersyukur bahwa Kota Kupang pernah menjadi bagian dari sejarah hidup saya, dan sekaligus menjadi tempat saya menimba banyak pelajaran berharga. 

Mengawali Oktober, kami melakukan kunjungan ke dua tempat ibadah yang berdampingan dan sekaligus menjadi salah satu ikon toleransi di Kota Kupang, yakni Masjid Al-Muttaqin dan Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). 

foto bersama
Bersama Bapak Muhamad Marhaban/Oswald Kosfraedi

Kedua rumah ibadah yang berdiri berdampingan ini cukup terkenal, banyak juga cerita baik yang dapat dengan mudah kita temukan lewat berbagai literatur. Keduanya telah menjadi potret toleransi yang patut dijaga dan diceritakan pula sebagai salah satu representasi kerukunan antarumat  beragama di Kota Kupang. 

Kami tiba di sana sekitar pukul 08.00 WITA sesuai kesepakatan waktu bersama pengurus masjid dan gereja yang kami temui sehari sebelumnya. Menariknya, sehari sebelumnya kami menemui pengurus masjid tepat setelah pelaksanaan salat Jumat. 

Siang hari itu, halaman masjid masih cukup ramai. Kami disambut ramah oleh beberapa pengurus dan remaja masjid. Setelah saya dan Rikar memperkenalkan diri, kami disuguhi kopi dan makanan ringan, lalu larut dalam obrolan yang cukup lama. 

Agenda kegiatan kami di sana bertajuk “Indahnya Toleransi Beragama”, yang dilaksanakan sebagai salah satu bagian dari kegiatan kebinekaan program Modul Nusantara.  Pagi hari itu, kami duduk bersama di teras Masjid Al-Muttaqin bersama Ketua Yayasan Al-Muttaqin, Muhammad Marhaban. Beliau juga merupakan anggota FKUB Provinsi NTT utusan Majelis Ulama Indonesia Provinsi NTT.

Bapak Muhammad Marhaban mengawali cerita dengan berbagi pengalaman saat menjabat sebagai Kepala Kantor Agama di Kabupaten Alor. “Begini-begini sudah pernah jadi kepala kantor,” katanya sambil tertawa. Kemudian beliau berbagi cerita tentang rentetan pencapaian Kota Kupang dalam hal penghargaan kota toleransi. 

Beliau bercerita tentang kerukunan antarumat beragama di NTT, termasuk bagaimana kisah kerukunan antara gereja dan masjid yang berdampingan ini. Di hadapan kami semua, beliau juga dengan yakin mengatakan NTT bisa dijadikan contoh membangun toleransi dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. 

sesi sharing
Sharing di Masjid Al-Muttaqin/Oswald Kosfraedi

Masih dalam diskusi di Masjid Al-Muttaqin, saya bertanya kepada Bapak Muhammad Marhaban perihal bagaimana kearifan lokal dan kehidupan budaya NTT berpengaruh terhadap kerukunan antarumat beragama. Menurutnya, kearifan lokal dan budaya di NTT memiliki andil besar terhadap terciptanya kerukunan antarumat beragama. Dengan mengambil contoh di Alor, beliau menjelaskan hal demikian dengan acuan buku yang pernah beliau tulis berjudul “Kearifan Lokal Umat Beragama di Kabupaten Alor Dalam Spirit Kerukunan”.

Beliau lalu menjelaskan bagaimana masyarakat Alor tumbuh dalam kerukunan antarumat beragama, yang juga tidak terlepas dari pengaruh budaya masyarakat di sana. Masyarakat Alor senantiasa bekerja sama dalam berbagai hal, seperti pembangunan rumah ibadah. 

“Orang Alor itu kalau mau bangun masjid, bukan orang Islam saja yang membangunnya, tapi yang bantu bangun itu [juga ada] orang Kristen,” jelasnya. Lebih lanjut, beliau juga menjelaskan bagaimana aspek-aspek kultural dan kehidupan kolektif masyarakat setempat menjadi fondasi kuat guna menciptakan kerukunan antarumat beragama. 

“Agama itu urusan pribadi, tapi dalam kehidupan sosial tidak pernah dibeda-bedakan agama,” tegasnya. Beliau pun mengutarakan faktor kekerabatan juga memainkan peran besar dalam mendukung kerukunan antarumat beragama di sini. Hubungan kekerabatan yang dibangun dengan kesadaran akan pentingnya menerima dan menghargai perbedaan agama turut menjembatani terciptanya kerukunan antarumat beragama. 

Dalam konteks survei indeks kerukunan umat beragama, tiga indikator umum mendasar yang dipakai Kementerian Agama mengacu pada aspek toleransi, kesetaraan, dan kerja sama. Beliau lantas menjelaskan ketiga hal ini dalam konteks kehidupan masyarakat NTT. Selain itu, beliau juga mengetengahkan peran dan dukungan pemerintah dalam menopang kerukunan antarumat beragama. Menariknya, hal ini dipraktikkan secara baik dalam kehidupan masyarakat NTT. 

Kembali dengan mengambil contoh di Alor, pemerintah memberikan dukungan secara maksimal melalui kebijakan yang adil terhadap semua agama, misalnya melalui pemberian anggaran yang sesuai dengan kebutuhan setiap agama maupun dengan langkah baik berupa kesempatan studi bagi setiap tokoh agama. 

Seusai diskusi dengan Bapak Muhammad Marhaban, teman-teman PMM juga diberikan kesempatan untuk sejenak berbagi pengalaman tentang potret kerukunan di daerah asalnya masing-masing. Seiring sesi yang kian akrab, hujan turun di pagi hari itu meski tak terlalu lama. Pagi  itu, Bapak Muhammad Marhaban juga rupanya memiliki agenda kegiatan lain yang membuat beliau pamit lebih awal.

Kami lalu mengunjungi Gereja HKBP yang terletak tepat di samping Masjid Al-Muttaqin. Di sana Pendeta Maradona Sibagariang yang telah kami hubungi sehari sebelumnya menyambut kehadiran.

Kami lantas kembali mendengarkan cerita kerukunan antarumat beragama dari perspektif beliau. Kali ini, Pendeta Maradona menekankan kepada kami semua bagaimana generasi muda perlu menjadi garda depan dalam menciptakan kerukunan antarumat beragama.

Dengan gaya bicaranya yang tenang, beliau menyinggung beberapa isu kontemporer yang perlu dihadapi secara bijak dalam konteks kerukunan antarumat beragama. Persoalan-persoalan intoleran yang saat ini sering bermunculan di media sosial perlu dihadapi secara baik dalam upaya menjaga kerukunan, terutama kerukunan antarumat beragama. 

  • Foto Bersama Pendeta
  • foto bersama

Setelah berbincang selama satu jam lebih, kami lantas mengakhirinya dengan mengambil foto bersama tepat di depan Gereja Huria Batak Protestan (HKBP) siang hari itu. Setelahnya, kami berpamitan pulang. 

Kembali dari sana, saya begitu bersyukur untuk kesempatan berbagi cerita sejak pagi hingga siang hari itu. Saya bersyukur bahwa saya hadir dan terlibat dalam semua kegiatan yang mungkin hanya berlangsung dalam skala kecil, tetapi punya pelajaran dan nilai yang sangat besar guna mendukung tumbuh dan lestarinya kerukunan antarumat beragama dalam kehidupan sehari-hari.

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Oswald Kosfraedi, saat ini berdomisili di Kupang. Gemar mengisi waktu luang dengan menulis dan mendengarkan lagu karya seorang musisi yang menginspirasi saya dalam menulis.

Oswald Kosfraedi, saat ini berdomisili di Kupang. Gemar mengisi waktu luang dengan menulis dan mendengarkan lagu karya seorang musisi yang menginspirasi saya dalam menulis.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Ke Perkebunan Teh Tegalega untuk Sekadar Menikmati Sunyi

    Travelog

    Cerita dari Atas KM Dobonsolo

    Travelog

    Menjajal Joging ‘Track’ Baru Lapang Merdeka

    Travelog

    Ambon Jawa dan Rumah Hobbit di Tengah Pulau

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Worth reading...
    Singgah di Rumah Tenun Kampung Sabu