Interval

Melihat Kampung Wisata Polowijen dan Pariwisata Berbasis Masyarakat

Polowijen yang berada di Kecamatan Blimbing, Kota Malang, punya sejarah panjang. Dalam Pararaton, nama kampung ini adalah Panawidyan atau Panawijen. Di sini ada sebuah sumur tua, dikenal sebagai Sumur Windu, yang konon dulu jadi petilasan Ken Dedes.

Selain sejarahnya, kampung ini juga dikenal karena kesenian topengnya, yakni topeng malangan, yang jika ditarik akan menemukan akar di daerah Pakisaji dan Tumpang. Adalah seorang leluhur desa, Mbah Reni, yang diyakini sebagai penggagas topeng malangan.

Kedua hal itulah—selain keinginan untuk meningkatkan perekonomian warga setempat—yang membuat seorang seniman Malang bernama Isa Wahyudi, dikenal pula sebagai Ki Demang, dan masyarakat Polowijen menggagas Kampung Budaya Polowijen. Kini, Polowijen telah berkembang menjadi sebuah tujuan wisata.

Lampu sorot wisata Kampung Budaya Polowijen adalah pembuatan topeng malangan dan motif batik Ken Dedes. Siapa pun dapat mengikuti kedua pelatihan itu, entah penduduk setempat maupun wisatawan. Untuk menyemarakkan kampung budaya itu, anak-anak dan remaja Polowijen diajarkan menari. Tari-tari yang diajarkan tersebut kemudian dipertunjukkan pada wisatawan yang datang.

Sekali mengayuh dua-tiga pulau terlampaui. Di satu sisi, pariwisata Polowijen bergerak. Di sisi lain, masyarakat perlahan-lahan menyelami (kembali) identitas mereka sekaligus mengenal tradisi yang diturunkan oleh para leluhur. Fenomena Kampung Polowijen ini tak jarang menarik minat para akademisi dan peneliti.

Konsep pariwisata berbasis komunitas (CBT)

Konsep pariwisata yang digerakkan oleh masyarakat sendiri, ketika masyarakat menjadi aktor dari turisme di tujuan wisata itu, seperti yang dipraktikkan Kampung Budaya Polowijen, dikenal sebagai pariwisata berbasis komunitas atau community-based tourism (CBT).

Purmada dkk. (2016) menjelaskan bahwa CBT adalah pengembangan pariwisata dalam wujud partisipasi aktif masyarakat sebagai pengelola dan memberikan kesejahteraan serta pelestarian lingkungan sosial budaya masyarakat lokal. CBT memiliki konsep yang berbeda dengan pariwisata massa, karena … merupakan wujud pembangunan pariwisata yang basisnya berasal dari masyarakat (Purbasari dan Asnawi, 2014).

Pariwisata seperti ini—dengan masyarakat sebagai basis, yang berinisiatif, berinovasi, dan membangun—mencoba mengangkat kearifan lokal masyarakat, baik untuk mengenalkan cara hidup ataupun nilai sosial-budaya masyarakat lokal pada pengunjung. Daya tarik lokal dapat dimunculkan melalui pembentukan tradisi yang berdasar pada sisi historis (invented tradition).

Dalam upaya pelestarian kebudayaan di tengah kencangnya arus pariwisata, Polowijen juga mendapatkan tantangan. Banyaknya wisatawan yang datang tentu membuat budaya luar masuk ke Polowijen, sejalan dengan arus urbanisasi yang membuat penduduk asli digantikan oleh pendatang. Maka, perlu penguatan identitas.

Salah satu cara yang mereka lakukan adalah membangun narasi tentang topeng malangan agar dapat menjadi ciri khas sekaligus identitas Polowijen. Pada akhirnya, Kampung Budaya Polowijen diharapkan dapat menjadi salah satu penanda kultural masyarakat Malang, sebagai patok pembeda dari budaya-budaya lain. Kesadaran akan pentingnya sebuah identitas yang menjadi pembeda tersebutlah barangkali yang akan memberikan energi bagi gerakan-gerakan pelestarian kebudayaan berbasis komunitas atau masyarakat di berbagai tempat.

Kampung Budaya Polowijen kiranya dapat dijadikan contoh oleh kampung-kampung atau komunitas lain dalam hal pelestarian budaya lokal. Selama ini, sering kali kita temukan pemikiran bahwa kebudayaan masyarakat Indonesia luntur karena digilas roda zaman dan globalisasi. Barangkali itu berlaku jika masyarakat tidak memahami identitas sendiri, atau sekadar tahu tanpa memahami. Kampung Budaya Polowijen berusaha menolak luntur dan hilang disapu zaman dengan cara membangun (ulang) narasi kebudayaan mereka. Sebagai “bonus”, pariwisata di kampung mereka berkembang dan taraf hidup masyarakat meningkat. Sekali mengayuh, dua-tiga pulau terlampaui oleh orang-orang Polowijen.


Sumber

Purbasari, N. & Asnawi, A. (2014). “Keberhasilan Community Based Tourism di Desa Wisata Kembangarum, Pentingsari dan Nglanggeran.” Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota)3(3), 476-485.

Purmada, D. K., Wilopo, & Hakim, L. (2016). “Pengelolaan Desa Wisata Dalam Perspektif Community Based Tourism (Studi Kasus pada Desa Wisata Gubugklakah, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang).” Jurnal Administrasi Bisnis32(2), 15-22.

Mahasiswa Antropologi Universitas Brawijaya. Tertarik dengan isu-isu sosial-budaya dan pariwisata.

Rizka Diana

Mahasiswa Antropologi Universitas Brawijaya. Tertarik dengan isu-isu sosial-budaya dan pariwisata.
Artikel Terkait
Interval

Sepenggal Kisah tentang Komodo dan Ata Modo

Interval

Lahan-lahan Bermain yang Mendatangkan Generasi Sehat

Interval

Lenyapnya Pusaka Pertanian

Interval

Demam "Gowes" dan Pengembangan Pariwisata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *