Interval

Lenyapnya Pusaka Pertanian

The discovery of agriculture was the first big step toward a civilized life,” tulis cendekiawan Skotlandia, Arthur Keith.

Pertengahan September lalu, seusai mengikuti acara gowes bareng dan penanaman 700 pohon yang digelar oleh komunitas sepeda Nyasab dan Satgas Sektor 7 Citarum Harum, di daerah Bojong Asih, Dayeuh Kolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, sebelum pulang ke Cimahi, saya iseng gowes mlipir ke kawasan Banjaran.

Banjaran adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Bandung. Luasnya sekitar 42,9 kilometer persegi. Wilayah Banjaran secara geografis berada di sisi timur Kabupaten Bandung, dengan suhu rata-rata berkisar antara 18 sampai 30 derajat Celcius, dengan ketinggian sekitar 653 meter di atas permukaan laut. Jarak dari Dayeuh Kolot ke Banjaran adalah 12 kilometer.

Yang membuat saya tertegun dan sekaligus prihatin di saat gowes mlipir itu yakni hamparan-hamparan sawah produktif nan luas di daerah itu, yang pernah saya saksikan beberapa puluh tahun lalu, kini telah banyak berubah wujud menjadi bangunan-bangunan pabrik dan permukiman. Sementara sawah yang masih ada, cepat atau lambat, kemungkinan bakal segera musnah pula, berganti dengan bangunan-bangunan beton. Tinggal menunggu waktu saja.

Fenomena alih fungsi lahan pertanian seperti yang saya saksikan di daerah Banjaran itu terjadi pula di banyak tempat di negeri ini. Sejumlah sumber menyebut, tingkat alih fungsi lahan pertanian di negara kita saat ini rata-rata mencapai 150 ribu-200 ribu hektare per tahun, di mana sebagian besar diperuntukkan bagi pembangunan kawasan industri serta perumahan.

Kawasan persawahan yang mulai terdesak permukiman di Banjaran, Kabupaten Bandung/Djoko Subinarto

Sejatinya, di seluruh dunia ini, lahan pertanian dan sistem pertanian telah menjadi bagian penting bagi proses tumbuh dan berkembangnya peradaban umat manusia. Apa yang dikatakan Arthur Keith, sebagaimana yang saya kutip di bagian awal tulisan ini, agaknya benar adanya. Maka, boleh dibilang, setiap peradaban di muka bumi ini dimulai dari aktivitas pertanian.

Tatkala nenek moyang kita yang semula hidup berpindah-pindah (nomaden) memutuskan untuk menetap di sebuah kawasan dan kemudian mengembangkan sebuah sistem bercocok tanam guna memenuhi kebutuhan pangan mereka, dari sinilah sesungguhnya sebuah peradaban besar dilahirkan. Seiring perjalanan waktu, dusun dan kota pun mulai lahir dan tumbuh, diikuti kemudian dengan lahir dan tumbuhnya pengetahuan, seni, serta ilmu dan teknologi.

Sejarah sendiri membuktikan umat manusia tidak bisa dipisahkan dari lahan pertanian. Oleh karena itu, seberapa pun canggihnya sebuah masyarakat, sesungguhnya kita tidak boleh sekali pun mengabaikan pentingnya pertanian. Sayangnya, seiring dengan melajunya zaman, banyak dari kita yang lantas melupakan pentingnya aspek ini. Pertanian dianggap sebagai hal kuno dan usang. Buntutnya, terbuai dengan modernisasi di banyak bidang kehidupan, lahan dan sistem pertanian yang diwariskan dari leluhur kita sedikit demi sedikit mulai terpinggirkan dari kehidupan kita.

Faktanya, betapa banyak lahan pertanian di sekeliling kita yang—entah sengaja atau disengaja—dikonversi menjadi lahan-lahan nonpertanian. Kita semakin sulit saja, terutama di kawasan-kawasan urban, menjumpai sawah, ladang, maupun kebun. Bahkan, di daerah-daerah pinggiran pun sudah mulai banyak lahan pertanian yang kini beralih fungsi peruntukannya.

Keseimbangan ekologi

Selain mengancam ketahanan pangan, lenyapnya lahan-lahan pertanian membawa dampak yang tidak kecil bagi keseimbangan ekologi. Sebagaimana diketahui, lahan-lahan pertanian ikut membantu membersihkan udara. Aneka jenis tanaman yang ada di lahan pertanian menyerap karbon dioksida serta melepaskan oksigen yang dibutuhkan manusia ke udara. Semakin luas lahan-lahan pertanian di sebuah kawasan, semakin besar jumlah karbon dioksida yang diserap serta semakin besar pula pasokan oksigen ke udara.

Selain itu, keberadaan lahan-lahan pertanian berkontribusi bagi pelestarian keanekaragaman hayati. Berbagai flora serta fauna hidup di lahan-lahan pertanian. Masing-masing membentuk sebuah ekosistem yang saling bergantung dan saling mendukung. Menghilangnya lahan-lahan pertanian melenyapkan pula berbagai flora dan fauna yang pada gilirannya merusak keanekaragaman hayati.

Petani usai mengolah sawah di kawasan Majalaya, Kabupaten Bandung/Djoko Subinarto

Dari sisi budaya masyarakat, keberadaan lahan-lahan pertanian telah melahirkan berbagai pengetahuan lokal serta seni tradisi khas di dalam masyarakat. Pengetahuan tentang iklim serta cuaca, tata kelola air, pengetahuan tentang jenis-jenis tanaman lokal, cara-cara bercocok tanam sejak lama telah tumbuh dan berkembang dengan baik di tengah masyarakat agraris. Begitu pun berbagai seni tradisi khas yang lazim dipertujukkan sebelum maupun sesudah masa bercocok tanam.

Akan tetapi, seiring dengan semakin menciutnya lahan pertanian di negeri ini, berbagai pengetahuan lokal maupun seni tradisi khas masyarakat agraris itu pun kian terpinggirkan dan dikhawatirkan lambat laun suatu saat bakal punah tanpa sisa. Padahal, sejak beberapa tahun lalu, FAO (Food and Agriculture Organization), ICOMOS (International Council on Monuments and Sites) dan UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) telah menggelorakan semangat untuk melestarikan berbagai pusaka pertanian (agricultural heritage) di berbagai belahan bumi.

Secara sederhana, pusaka pertanian dapat didefinisikan sebagai lahan dan sistem pertanian, serta seni-budaya dan properti yang terkait dengan aktivitas pertanian yang memiliki hubungan signifikan dengan sejarah perkembangan sebuah suku bangsa.

Salah satu tujuan pelestarian pusaka pertanian adalah untuk menggugah kesadaran publik ihwal betapa pentingnya lahan pertanian dan sistem pertanian bagi proses tumbuh dan berkembangnya peradaban umat manusia.

Lenyapnya pusaka-pusaka pertanian bisa berarti lenyapnya pula ratusan tahun pengalaman dan pengetahuan lokal yang boleh jadi merupakan penentu jati diri serta karakter sebuah bangsa. Nah!

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.

Djoko Subinarto

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.
Artikel Terkait
Interval

Sepenggal Kisah tentang Komodo dan Ata Modo

Interval

Lahan-lahan Bermain yang Mendatangkan Generasi Sehat

Interval

Melihat Kampung Wisata Polowijen dan Pariwisata Berbasis Masyarakat

Interval

Demam "Gowes" dan Pengembangan Pariwisata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *