TRAVELOG

Lebaran di Ujung Banyumas, Menengok Kenangan Masa Kecil

Mudik Lebaran selalu memiliki ruang tersendiri di hati saya. Bertemu dengan sanak saudara menghangatkan hati dan menenteramkan jiwa. Bagi saya, mudik tidak hanya sekadar berkumpul, tetapi juga perjalanan panjang penuh makna. 

Hal yang pasti dilakukan oleh keluarga saya saat Lebaran, yaitu silaturahmi ke rumah nenek. Bahkan, momen ini lebih pasti dari tersajinya opor ayam di rumah saya. Rumah nenek saya tidak berada di luar pulau atau provinsi, tetapi masih dalam satu kabupaten yang sama. Hanya saja, tetap ada tantangan tersendiri saat berlebaran di sana. Sebab, lokasinya berada di kecamatan paling barat sekaligus wilayah pinggiran di Kabupaten Banyumas. Jarak tempuhnya sekitar dua jam lebih dari rumah.

Lebaran di Ujung Banyumas, Menengok Kenangan Masa Kecil
Persawahan di tepi jalan menuju rumah nenek di Desa Dermaji/Aprilia Rizki Arifah

Perjalanan Berliku ke Rumah Nenek

Rumah nenek saya berada di Dusun Citunggul, Desa Dermaji, Kecamatan Lumbir. Rute ke dusun tersebut harus melalui perbukitan. Tentu saja tidak ada kendaraan umum menuju Citunggul. Mobil yang digunakan harus disiapkan dengan baik karena akan melintasi hutan dan bukit. Rumah juga saling berjauhan. Pemandangan yang bagus membuat mata saya enggan berpaling, enggan untuk memejamkan mata. 

Ketika sudah sampai di Desa Dermaji, kami langsung menghubungi sopir yang akan mengoperasikan mobil. Jalanan yang curam dan terjal sulit dijangkau untuk orang luar. Walaupun bapak saya berasal dari Citunggul, tetapi beliau belum bisa menaklukkan jalanan daerahnya sendiri. Tak jarang kami melihat rombongan orang yang akan bersilaturahmi menggunakan pikap. Belasan orang duduk di atas bak terbuka dengan wajah yang tenang. Tentu saya sulit untuk melakukan hal tersebut. 

Lebaran di Ujung Banyumas, Menengok Kenangan Masa Kecil
Jalan menanjak menuju rumah nenek/Aprilia Rizki Arifah

Nyali kami diuji ketika pergantian sopir telah dilakukan. Pergantian ini menandakan bahwa rute yang akan ditempuh sulit untuk dilalui. Bahkan, jalanan yang curam tersebut hanya mampu dilewati oleh satu mobil, sehingga diperlukan kehati-hatian jika berpapasan dengan mobil lain. Apalagi saat berada di tikungan tajam, klakson harus sering dibunyikan sebagai kode untuk pengendara lain.

Suasana akan lebih mencekam lagi jika kami berpapasan dengan truk. Salah satu penumpang harus turun untuk memberikan aba-aba. Komunikasi dengan pengendara lain juga sangat penting ketika melalui jalur ini, misalnya dengan pemotor. Biasanya mereka akan memberikan info jika ada mobil yang akan lewat. Meskipun setiap tahun melewati jalan yang sama, tetapi ketegangan tak pernah surut. Segala hal bisa terjadi, apalagi jika mendengar berita mengenai mobil yang jatuh di area tersebut. 

Kami akan merasa lega jika sudah berada di atas, nama tempatnya igir atau punggung bukit. Jika sudah berada di sini, medan selanjutnya tinggal menurun, tak begitu menakutkan. Igir juga menjadi tempat untuk beristirahat sejenak dan menikmati pemandangan di sisi kanan, sedangkan di sisi lain terlihat jurang penuh pohon pinus. 

Lebaran di Ujung Banyumas, Menengok Kenangan Masa Kecil
Hamparan pemandangan di igir/Aprilia Rizki Arifah

Mengenang Masa Kecil di Rumah Nenek

Jarak igir ke rumah nenek hanya beberapa menit saja. Ketika turun dari mobil, tentu tidak langsung sampai ke rumah. Rumah nenek berada di seberang sungai. Kami harus berjalan kaki melewati jembatan bambu dengan arus sungai yang sudah tidak deras. Dahulu air sungai masih bersih dan deras, ada banyak ikan dan tuk (sumber air). Di sanalah saya menghabiskan waktu saat liburan sekolah.

Setibanya di rumah, kami duduk sebentar menikmati semilir angin. Dahulu, saat masih ada pohon kantil, semerbak harumnya mengobati rasa lelah. Di samping rumah, pepohonan ubi berjejer, ada pula tanaman kumis kucing yang terkenal dengan khasiatnya. Ketika berjalan ke belakang rumah akan ada blumbang iwak (kolam ikan), spot favorit saya dan saudara. 

Saat masih kecil, sesampainya di rumah nenek, hal yang pertama dilakukan adalah mengambil alat pancing dan mulai duduk di area blumbang. Pagi harinya, kakek akan menangkap ikan menggunakan serokan. Saya menunggu di pinggiran, berteriak antusias jika ada banyak ikan yang masuk perangkap. Ikan-ikan tersebut selanjutnya dimasak oleh nenek di atas pawon. Kayu, blarak, dan bambu dikumpulkan agar api tetap menyala dan ikan cepat matang. Di dapur bagian atas rumahlah, kayu-kayu tersebut disimpan. 

Di belakang rumah juga ada kandang ayam. Nenek dan kakek merawatnya dengan tekun. Selain blumbang dan kandang di dekat rumah, ada juga blumbang di area sawah yang jarang saya kunjungi karena cukup jauh dari rumah. Akan tetapi, saya akan sangat bahagia jika diajak ke sana.

Ingatan masa kecil saya memutar memori saat ke blumbang di area persawahan, banyak orang yang akan membeli ikan. Fokus di sana bukan lagi ikan, melainkan kerang kijing. Perjalanan menuju sawah juga sangat menarik karena melewati sungai dan bisa melihat curug dari kejauhan. Dulu, alam dan manusia layaknya sahabat yang senantiasa saling menjaga.

Jalan setapak menuju rumah nenek, sungai kecil dan kolam ikan di dekat rumah nenek/Aprilia Rizki Arifah

Potret Kehidupan dan Budaya Masyarakat Dusun

Warga dusun didominasi oleh orang yang sudah tua. Kebanyakan anak muda pergi merantau, tak hanya luar kota, tetapi luar negeri. Mayoritas warga bekerja mengelola kebun, sawah, dan pekarangan. Tak jarang setiap rumah memiliki satu kolam ikan. Jika tidak, maka memiliki hewan ternak, sebagian besar ayam dan kambing.

Ada juga yang bekerja sebagai tukang nderes, menyadap nira dari pohon kelapa untuk diolah menjadi gula jawa. Ketika saya masih kecil, saya sering melihat orang yang memanjat pohon kelapa. Di samping tubuhnya sudah terikat bambu untuk menampung nira. Saat pagi, akan ada banyak warga yang pergi ke kebun, menggendong keranjang bambu dan mengenakan caping. Ketika sore tiba, mereka pulang dengan langkah pelan, tetapi wajahnya menyiratkan kelegaan.

Kekayaan budaya di sana juga membuat saya betah. Saat kecil, saya beberapa kali diajak melihat pertunjukan sintren dan ebeg. Saat menonton sintren, saya akan takjub ketika penari yang berpenampilan biasa berubah menjadi lebih memukau dalam waktu yang singkat. Pertunjukan tersebut biasanya dilakukan sebagai hiburan saat ada hajatan, seperti pernikahan.

Lebaran di rumah nenek juga menjadi semacam ritual untuk menjenguk masa kecil saya. Pergi ke balik bukit, susah sinyal, dan jalanan yang curam menjadi momen yang berkesan setiap tahun. Letaknya yang terpencil membuat orang tidak mengetahuinya, bahkan orang Banyumas itu sendiri. Meskipun begitu, hati terasa penuh karena ketulusan keluarga yang menunggu di ujung jalan terjal. Setiap rindu akan menemukan jalannya. 


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Aprilia Rizki Arifah

Senang berkelana untuk menemukan perjalanan penuh warna.

Aprilia Rizki Arifah

Senang berkelana untuk menemukan perjalanan penuh warna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Harmoni Alam dan Tradisi Kalitanjung melalui Ekosentrisme Leluhur