Interval

Lahan-lahan Bermain yang Mendatangkan Generasi Sehat

Jika kita kebetulan jalan-jalan menyusuri pelbagai sudut kawasan perkotaan di negeri ini, niscaya kita akan dapati kenyataan bahwa kota-kota kita cenderung minim ruang terbuka hijau maupun lahan bermain buat anak-anak dan remaja.

Padahal, ruang terbuka hijau berupa taman-taman nan asri maupun lahan-lahan bermain tempat anak-anak serta remaja bereskpresi dan berkreasi sangat dibutuhkan guna membentuk generasi yang sehat secara fisik, intelektual, emosional, sosial, serta spiritual.

Anak sejatinya adalah aset yang paling berharga bagi kehidupan sebuah bangsa dan negara. Maju dan mundurnya kehidupan berbangsa dan bernegara kita ke depan bakal sangat ditentukan oleh kualitas kehidupan anak-anak kita sejak sekarang.

Guna memenuhi hak-hak anak dan memberi peluang anak untuk berkreasi dan mengembangkan potensi yang dimilikinya, kota, sebagai salah satu bentuk umum dari organisasi sosial, mestinya harus senantiasa dilengkapi aneka fasilitas serta sarana bermain dan berkreasi yang diperlukan bagi anak-anak serta remaja. Para pengelola kota harus mau berkomitmen dan menjamin bahwa semua anak dan remaja bisa menikmati waktu luangnya secara aman serta nyaman.

Karenanya, selain menyediakan sebanyak mungkin ruang terbuka hijau, sebuah kota yang sehat perlu pula menyediakan sebanyak mungkin lahan bermain dan berkreasi bagi anak-anak dan remaja.

Beberapa anak bemain di tengah kesibukan lalu-lintas Jalan Soekarno-Hatta, Bandung/Djoko Subinarto

Secara garis besar, lahan bermain dan berkreasi ini mewujud dalam tiga kategori. Pertama, lahan bermain dan berkreasi bagi anak-anak berusia di bawah 8 tahun. Kedua, lahan bagi anak berusia antara 8-14 tahun. Dan ketiga, bagi anak/remaja di atas 14 tahun.

Semua lahan bermain dan berkreasi ini tentu saja harus dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung yang bakal membuat anak-anak dan remaja betah bermain serta berkreasi secara aman dan nyaman sehingga mereka dapat mengeluarkan segenap ekspresi dan potensi mereka sekaligus melakukan eksplorasi seluas-luasnya.

Lahan bermain dan berkreasi ini idealnya dibangun tidak jauh dari pusat-pusat permukiman warga. Jarak lahan bermain dan berkreasi bagi anak berusia di bawah 8 tahun sebaiknya tidak lebih dari 100 meter dari kompleks permukiman. Sedangkan untuk lahan bermain dan berkreasi bagi anak yang berusia 8-14 tahun jaraknya adalah sekitar 400 meter dari permukiman, sementara untuk anak/remaja di atas 14 tahun jaraknya kurang lebih 1 kilometer dari permukiman.

Di lahan inilah anak-anak dan remaja kita dapat bermain serta berkreasi bersama. Aneka bentuk dan jenis permainan, olahraga maupun kesenian, dapat mereka lakukan di lahan bermain dan bekreasi ini. Misalnya saja, mereka bisa bermain ayunan, main bola, main bentengan, main gundu, memanjat pohon, sepedahan, main engklek, main musik, bernyanyi, menari,maingobak sodor, kucing-kucingan, dan sebagainya.

Selain bermain dan berkreasi secara bebas sesuai keinginan mereka, bisa juga mereka bermain dengan cara diarahkan. Pada momen-momen tertentu, misalnya, mungkin saja digelar acara khusus dengan menyajikan permainan atau bentuk-bentuk kesenian serta dolanan tertentu yang disesuaikan dengan jenjang usia mereka.

Masyarakat sehat

Menyadari betapa pentingnya aspek bermain dan berkreasi, para pengelola kota di sejumlah negara terus berupaya memperbanyak jumlah lahan bermain dan berkreasi bagi anak-anak serta remaja. Tentu mereka harus rela merogoh kocek cukup dalam. Namun hal ini tidak menjadi soal buat mereka. Pasalnya, para pengelola kota itu yakin bahwa dengan menyediakan sebanyak mungkin lahan bermain dan berkreasi bagi anak-anak serta remaja sesungguhnya merupakan sebuah investasi masa depan yang nilainya tidak bisa diukur dengan nilai uang seberapa pun.

Investasi masa depan yang dimaksud adalah melahirkan generasi-generasi yang sehat secara fisik, intelektual, emosional, sosial, maupun spiritual. Lahirnya generasi demikian akan berkontribusi berarti bagi terciptanya sebuah masyarakat yang sehat pula. “What’s done to children, they will do to society,” tulis Karl Menninger sang psikiater dari Amerika Serikat.

Anak-anak bermain gelembung sabun di kompleks kampus ITB, Bandung/Djoko Subinarto

Sayangnya, ihwal betapa pentingnya menyediakan lahan bermain dan berkreasi bagi anak-anak dan remaja ini tampaknya masih belum sepenuhnya dipahami oleh para pengelola kota-kota kita. Yang terjadi adalah para pengelola kota di negeri ini cenderung lebih giat membangun hal-hal yang beraroma komersial demi mengeruk keuntungan finansial. Perhatikan saja, setiap jengkal ruang kota di negeri ini selalu diupayakan untuk dikomersialisasi.

Akibatnya jelas. Semakin sulit saja bagi anak-anak dan remaja kita untuk mendapatkan ruang. Padahal, adalah hak bagi semua anak dan remaja untuk bisa bermain dan berkreasi.

Maka, sudah saatnya para pengelola kota-kota kita mulai memikirkan kembali pola pembangunan kotanya. Mohon berilah ruang terbuka lebih banyak bagi anak-anak dan remaja kita untuk bisa bermain dan berkreasi dengan sebebasnya, sepuasnya dan senyaman-nyamannya. Dengan begitu, perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual mereka berjalan dengan baik.

Kita pasti tidak ingin anak-anak dan remaja kita tumbuh menjadi generasi yang sakit, yang akhirnya melahirkan sebuah masyarakat yang juga sakit.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.

Djoko Subinarto

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.
Artikel Terkait
Interval

Sepenggal Kisah tentang Komodo dan Ata Modo

Interval

Lenyapnya Pusaka Pertanian

Interval

Melihat Kampung Wisata Polowijen dan Pariwisata Berbasis Masyarakat

Interval

Demam "Gowes" dan Pengembangan Pariwisata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *