ITINERARYNUSANTARASA

Kuliner Kota Bengawan: Soto dan Kare Bu Harini

Waktu menunjukkan sekitar pukul 10 lebih sedikit ketika saya melangkahkan kaki masuk ke Pasar Gede Solo. Pagi memang sudah berlalu, tetapi pasar belum benar-benar kehilangan denyutnya. Pedagang masih sibuk, pembeli lalu-lalang, derap langkah tak pernah benar-benar berhenti menciptakan irama. Aroma rempah bercampur bau khas pasar menyeruak di hidung. Lorong-lorong pasar tampak sempit, tetapi di sanalah kehidupan bergerak rapat.

Suasana ini seolah menjadi pengantar sebelum akhirnya saya duduk dan menikmati sepiring kehangatan yang telah lama saya kenal. Di sudut lorong, langkah kaki saya berhenti pada sebuah warung sederhana, Soto dan Kare Bu Harini.

Kuliner Kota Bengawan: Soto dan Kare Bu Harini
Lorong Pasar Gede/Patricia Elsa

Jejak Sejarah Pasar Gede 

Pasar Gede bukan sekadar pasar tradisional. Pasar ini berdiri di jantung Kota Solo, menjadi simpul pertemuan berbagai aktivitas ekonomi, sosial, dan budaya. Tak jauh dari pasar, berdiri Kelenteng Tien Kok Sie, salah satu kelenteng tua yang menjadi pusat aktivitas warga Tionghoa di Solo. Di sisi lain, terdapat gereja yang jaraknya saling berdekatan, menandai wajah Solo sebagai kota yang sejak lama hidup dalam keberagaman dan toleransi. 

Secara historis, Pasar Gede dibangun pada masa pemerintahan Pakubuwono X, dengan rancangan seorang arsitek Belanda, Thomas Karsten. Pasar ini diresmikan tahun 1930. Sejak awal abad ke-20, Pasar Gede dirancang sebagai pusat ekonomi modern pada masanya yang tetap menyatu dengan kehidupan masyarakat lokal. 

Bangunan tua dengan ciri arsitektur kolonial ini tak hanya menyimpan fungsi ekonomi, tetapi juga ingatan kolektif warga Solo. Setiap sudutnya seolah menyimpan cerita, tentang perubahan zaman, tentang generasi yang silih berganti, dan tentang tradisi yang masih bertahan. Hingga kini, Pasar Gede masih berdiri kokoh sebagai saksi bisu perguliran zaman.

Kuliner Kota Bengawan: Soto dan Kare Bu Harini
Kuliner soto dan kare khas Bu Harini di Pasar Gede/Patricia Elsa

Sepiring Kehangatan dan Ingatan Masa Kecil di Warung Bu Harini

Bagi saya, Soto dan Kare Bu Harini bukan sekadar warung sederhana yang terletak di Pasar Gede, melainkan bagian dari hidup saya sendiri. Kesederhanaan warung ini justru menghadirkan rasa kedekatan, seolah setiap pengunjung yang datang adalah tamu lama yang kembali pulang.

Pertama kali saya mencicipinya saat masih di bangku sekolah dasar. Waktu itu saya berkunjung ke Solo dalam rangka libur semester. Sepulang gereja pagi di Purbayan, bude mengajak saya sarapan di warung itu. Sembari menikmati udara dan angin segar Solo, kami berdua berjalan kaki dari gereja menuju pasar. Sejak itu, ingatan tentang seporsi nasi kare masih terus melekat setiap kali saya menyambangi warung Soto dan Kare Bu Harini. 

Meski bukan waktu santap sarapan, warung tetap ramai. Beberapa orang silih berganti mengisi bangku panjang. Sebagian lainnya menunggu antrean pemesanan. Panci-panci usang mengepulkan asap. Beberapa karyawan sibuk menyiapkan hidangan nikmat nan memikat.

Semangkuk nasi kare hangat akhirnya tersaji. Uap tipis di atas piring menyapa hidung dengan lembut, menawarkan aroma yang tak terlupakan. Kuahnya kuning, tampak kaya akan rempah. Kare Bu Harini bukan kari kental yang berat, melainkan kare khas Jawa Tengah dengan kuah yang lebih cair, gurih, dan ringan. Rempahnya terasa nyaman, tidak saling mendominasi di lidah. Aroma kunyit, ketumbar, dan santan berpadu dengan harmonis. Nasi sudah lebih dulu menyatu di dalam mangkuk, bersama irisan daging ayam dan taburan daun seledri.

  • Kuliner Kota Bengawan: Soto dan Kare Bu Harini
  • Kuliner Kota Bengawan: Soto dan Kare Bu Harini

Ya, dalam kesempatan kali ini saya tidak memesan soto. Bukan karena menu soto di sini kalah pamor, melainkan nasi kare inilah yang selalu saya rindukan tiap kali singgah ke sini. Justru sebaliknya, soto Bu Harini menjadi menu andalan yang tidak pernah sepi pemesan. Tampak sederhana, tetapi sajian ini mampu memikat hati para penikmat soto. Ciri khas kuahnya bening dengan rasa yang juga ringan. Di atasnya bertabur tauge segar yang menambah sensasi renyah, berpadu dengan taburan seledri dan daging ayam. 

Sebenarnya, warung Bu Harini tidak hanya mengandalkan soto dan kare sebagai menu utama. Di balik kepulan asap panci-panci besar itu, tersaji pula hidangan lain nan menggoda. Pengunjung juga bisa mencicipi sup, asem-asem daging yang segar, serta terdapat pula nasi tumpeng dari bahan utama tempe semangit.

Ragam kuliner yang ditawarkan oleh warung Bu Harini memberi ruang yang luas bagi para penikmat kuliner. Sebagai tambahan lauk, pengunjung dapat mencicipi babat. Babat goreng milik Bu Harini bertekstur empuk dengan bumbu yang merasuk. Jika tidak doyan babat, terdapat tahu, tempe goreng, bakwan, dan sosis solo yang masih tersaji hangat. 

Dengan harga terjangkau, sekitar Rp8.000–13.000, kita sudah bisa menikmati seporsi nasi di sini. Proses pengolahan hidangan-hidangannya terbilang masih tradisional. Anglo dan arang digunakan untuk menambah aroma dan cita rasa khas yang sulit ditiru. Api arang yang stabil menghadirkan kehangatan yang meresap perlahan ke dalam masakan. 

Kuliner Kota Bengawan: Soto dan Kare Bu Harini
Sosok Bu Harini (duduk bersandar di area dapur) yang setia bekerja di balik meja kasir/Patricia Elsa

Konsistensi Rasa dan Warisan Lintas Generasi

Bu Harini masih setia di balik meja kasir. Gerakannya mantap, seolah tubuhnya sudah hafal ritme kerja yang sama selama puluhan tahun.

Warung Soto dan Kare Bu Harini merupakan usaha lintas generasi, diwariskan dari buyut, nenek, hingga orang tua. Kini, warung ini dijaga dengan ketekunan yang sama. Mungkin itulah sebabnya cita rasa yang dimiliki nyaris tak berubah sejak saya kecil dulu. Ada konsistensi yang tak luntur, lahir dari kebiasaan yang terus terulang.

Di tengah gempuran dunia kuliner yang menghadirkan hal-hal baru, Soto dan Kare Bu Harini justru bertahan dengan kesetiaan cita rasa yang lampau dan melegenda. Barangkali, di sanalah letak keistimewaannya, dengan menjaga dan merawat rasa dalam sepiring nasi berkuah hangat dari generasi ke generasi. Melalui sepiring nasi kare, dapat kita saksikan sebuah ketekunan dan kesetiaan yang tak pudar.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penikmat kuliner dan kelengangan.

Penikmat kuliner dan kelengangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Mencicipi Cita Rasa Es Brasil, Kuliner Legendaris dari Purwokerto